
Tepat pukul 11.00 malam Dika tiba di halaman klub. Ia memarkirkan mobilnya, dan kemudian melangkah masuk. Suara hingar-bingar musik mulai memekakkan telinganya. Namun Dika tak peduli, ia terus berjalan, dan mendekati Alvin yang sedang meracikkan minuman untuk para tamu.
"Hai Vin!" sapa Dika sambil menepuk bahu Alvin. Lalu ia meraih sebotol vodka, dan langsung menyesapnya.
"Kamu darimana?" tanya Alvin sambil menatap Dika yang sedang duduk di sebelahnya.
"Dari rumah."
"Kenapa mukamu kusut begitu?" tanya Alvin.
"Suntuk Vin, habis lembur." jawab Dika berbohong.
"Seharusnya kamu tidur, dan istirahat. Kenapa malah kesini?"
"Otak juga butuh refreshing Vin." jawab Dika sambil tersenyum.
Lalu ia meneguk minumannya hingga habis tak tersisa.
"Beri aku satu lagi Vin." ucap Dika sambil memegangi pelipisnya.
"Kamu mau mabuk lagi?" tanya Alvin. Sejak tiga hari yang lalu, Dika selalu datang ke tempatnya, dan minum hingga mabuk.
"Cepat beri aku satu Vin!" kata Dika sambil menunjuk botol vodka yang berada di depan Alvin.
"Kalau kamu ada masalah, bicara saja! Siapa tahu aku bisa membantumu. Jujur ya Dik, aku itu tidak rela melihat temanku mabuk-mabukan seperti kemarin. Kamu sudah dewasa, jika ada masalah selesaikan baik-baik, jangan menjadikan alkohol sebagai pelarian." kata Alvin sambil menatap Dika.
Ia tahu jika sahabatnya sedang ada masalah, namun ia tidak tahu masalah apa yang sedang menimpanya.
"Kamu membantuku, tidak akan bisa Vin." ucap Dika sambil menggelengkan kepalanya, seraya bibirnya mengulas senyuman hambar.
"Kenapa begitu?"
"Sudahlah jangan bertanya lagi, beri aku satu Vin! Aku malas mau berjalan kesana." kata Dika sambil menghembuskan nafasnya dengan kasar.
"Masalah tidak akan bisa diselesaikan dengan mabuk Dik. Mungkin kau bisa melupakannya sejenak, tapi setelah pengaruh alkohol itu hilang, kau akan ingat lagi, dan itu akan semakin menyakitkan." jawab Alvin dengan panjang lebar.
"Lalu?"
"Belajarlah untuk berbagi, meskipun aku bukan pembisnis hebat sepertimu, tapi aku juga tidak bodoh. Coba cerita, siapa tahu aku bisa memberimu solusi!" kata Alvin sambil menatap Dika.
"Kau yakin bisa memberi solusi?" tanya Dika.
"Mungkin."
"Kau benar-benar ingin tahu apa masalahku?" tanya Dika.
"Jika kau mau berbagi, aku siap mendengarkan. Tapi jika masalahmu terlalu privasi, ya sudah jangan bercerita. Aku tidak memaksamu, tapi tolong dengarkan aku. Jangan mabuk!" kata Dika dengan tegas.
Sebenarnya Dika adalah lelaki yang baik, namun sayang lelaki itu selalu menjadikan alkohol sebagai pelarian.
"Sebenarnya bukan privasi, hanya saja aku merasa sulit untuk berbagi denganmu." ucap Dika sambil menunduk.
"Kenapa, kau pikir aku tidak bisa menjaga rahasia?"
"Bukan soal itu."
"Lalu?" tanya Alvin.
"Masalahnya aku begini, karena adikmu." jawab Dika dengan pelan.
Alvin tersentak kaget, ternyata Dika masih mencintai Senja.
__ADS_1
Alvin pikir, setelah Senja menikah, Dika akan menghapus perasaannya, namun ternyata tidak.
"Apa kau bisa membantuku Vin?" tanya Dika sambil mengangkat wajahnya, dan menatap Alvin.
Alvin terdiam, ia tidak tahu harus menjawab apa. Jika masalahnya tentang Senja, Alvin sama sekali tidak bisa membantunya. Ia tidak mungkin memaksakan perasaan adiknya.
"Aku sangat mencintai dia Vin, tapi dia tidak pernah mempertimbangkan aku. Dulu dia lebih memilih Fajar. Dan sekarang dia malah memilih sendiri, dan menyuruhku untuk berhenti mencintainya. Seburuk itukah aku di matanya Vin?" tanya Dika sambil tetap menatap Alvin.
"Aku sudah berjanji akan menyayangi anaknya seperti anakku sendiri. Tapi kenapa dia tidak mau, kenapa dia malah memilih sendiri. Sebesar itukah perasaannya untuk Fajar." ucap Dika, karena Alvin masih saja terdiam.
Alvin menunduk, ia ingat kembali dengan apa yang terjadi pada pernikahannya Senja. Wajar jika sekarang adiknya memilih sendiri, karena kesalahan, dan penyesalan itu pasti sangat menyiksa batinnya.
"Banyak hal yang tidak kau tahu Dik." ucap Alvin dengan pelan.
"Apa maksudmu?" tanya Dika sambil mengernyit heran.
"Kehidupannya Senja tidak seindah yang kau bayangkan, hidupnya penuh beban Dik. Dia punya alasan kenapa memilih sendiri." jawab Alvin sambil menatap Dika.
"Vin aku tidak paham dengan ucapanmu, tolong jelaskan!" kata Dika.
"Ada banyak hal privasi yang mungkin tidak perlu kau tahu. Tapi berhenti mencintainya, mungkin itulah yang terbaik untukmu." ucap Alvin sambil menepuk bahu Dika.
"Apa ini ada hubungannya dengan kematiannya Fajar?" tanya Dika.
"Kenapa kau berpikir demikian?"
"Jantung lemah, aku tidak percaya itu Vin. Aku sudah sangat lama mengenalnya, tapi aku tidak pernah mendengar dia sakit jantung. Vin kau pasti tahu sesuatu tentang itu, tolong katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi." kata Dika dengan cepat.
"Aku tidak punya hak untuk mengatakannya Dik. Tolong mengertilah!" jawab Alvin.
"Jadi sebenarnya Fajar tidak sakit jantung, lalu sakit apa dia? Apa ini ada hubungannya dengan Adara yang tiba-tiba tidak diakui oleh keluarganya." batin Dika dalam hatinya.
"Kau menyebalkan!" gerutu Dika. Ia merasa kesal, karena Alvin tidak memberinya minum, dan juga tidak memberinya informasi tentang Fajar.
***
Dua bulan kemudian.
Usia kandungan Senja sudah memasuki bulan kedelapan. Hubungannya dengan Ken cukup baik, meskipun ia belum membuka hatinya, namun ia tak lagi menjauhinya seperti dulu.
Seperti halnya hari ini, pagi-pagi sekali Ken menghubunginya, dan mengajaknya untuk belanja perlengkapan bayi. Kebetulan hari ini adalah hari Minggu. Ken tidak bekerja, dan dia memanfaatkan waktunya untuk pergi bersama Senja.
Saat ini jarum jam sudah menunjukkan pukul 08.00 pagi, mungkin sebentar lagi Ken akan datang menjemputnya. Senja menatap pantulan dirinya di cermin. Kala itu ia memakai dress longgar warna hijau muda, yang panjangnya jauh di bawah lutut. Perutnya sekarang sudah semakin membuncit, namun tidak mengurangi kadar kecantikannya.
Rambut panjangnya ia biarkan tergerai begitu saja. Ia terlalu malas untuk menguncirnya.
Tatapan Senja beralih pada sebingkai foto yang ia letakkan di atas meja. Foto pernikahan dirinya dengan Fajar. Dengan pelan, Senja meraih foto itu. Ia menatapnya, dan mengusapnya dengan lembut.
"Kak Fajar!" panggil Senja sambil tersenyum.
"Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku tidak tahu keputusanku ini benar, atau salah. Aku memberikan kesempatan untuk Ken. Aku tidak tahu mana yang harus kupilih, menjaga cinta kamu, atau memberikan masa depan untuk anakku." ucap Senja dengan pelan.
"Kenapa takdir mempersatukan kita dengan begitu singkatnya. Andaikan saja kamu masih ada di sini, aku pasti memilih untuk menghabiskan sisa hidupku bersamamu Kak. Tapi kenyataannya kau sudah pergi, aku sulit melewati semua ini tanpamu Kak!" kata Senja sambil menatap senyuman Fajar yang terlukis indah dalam foto itu.
Lalu Senja meletakkan kembali foto itu, dan ia menatap gelang jam yang melingkar di tangannya.
"Ulang tahun yang menyakitkan!" ucap Senja sambil menggenggam gelang jam itu dengan sangat erat.
Senja memejamkan matanya, pikirannya menerawang jauh, mengingat masa-masa indahnya bersama Fajar. Dari saat mereka pacaran, sampai mereka menikah. Samar-samar Senja mengulas senyuman manis di bibirnya.
"Kau tinggal kenangan Kak, hadirmu hanya menjelma dalam bayangan. Namun percayalah, namamu selalu bertahta dalam ruang hatiku." bisik Senja sambil tersenyum.
__ADS_1
"Nja!" panggil Nina sambil membuka pintu kamar Senja.
"Eh iya Nin." sahut Senja sambil menoleh, menatap Nina yang sedang berdiri di ambang pintu.
"Ada Ken di luar, kau ada janji dengannya?" tanya Nina sambil melangkah menghampiri Senja.
Melihat Senja yang sudah rapi, sepertinya dia akan keluar bersama Ken.
"Iya, dia mengajakku belanja perlengkapan bayi." jawab Senja sambil meraih tas selempangnya.
"Oh begitu."
"Iya, ya sudah aku berangkat sekarang ya Nin." kata Senja.
"Iya, hati-hati Nja." jawab Nina. Dan Senja menanggapinya dengan anggukan.
Nina tersenyum lebar, saat menatap tubuh Senja yang sudah menghilang di balik pintu.
"Aku berharap kamu bisa bahagia Nja." gumam Nina dengan pelan.
Sementara itu Senja melangkah menuju ruang tamu, di sana sudah ada Ken yang sudah menunggunya sambil duduk di kursi.
Ken tersenyum manis, saat menatap Senja yang baru saja tiba di ruang tamu.
"Sudah siap Aya?"
"Sudah." jawab Senja sambil mengangguk.
"Kak Alvin dimana?" tanya Ken.
"Sedang keluar."
"Oh, kita berangkat sekarang?" tanya Alvin.
"Ayo!" jawab Senja sambil melangkah menuju pintu.
"Aya apa itu?" tanya Ken sambil menatap kantong plastik besar yang dibawa Senja.
"Ini kue kering pesanan orang, tidak apa-apa kan kalau mengantarkan ini dulu. Alamatnya searah kok dengan tujuan kita." jawab Senja.
"Tidak apa-apa, sini biar aku yang bawa." kata Ken sambil tersenyum, seraya meraih kantong itu, dan membawanya masuk ke dalam mobil.
Kini mereka sudah duduk bersebelahan di bangku depan. Ken menghidupkan mesin mobilnya, dan mulai melajukannya dengan pelan.
Sesekali Ken melirik wanita yang sedang duduk di sampingnya. Melihat perutnya yang membuncit, Ken merasa hatinya mulai bergejolak. Ahh andai saja mereka sudah benar-benar menikah, dan anak itu hadir bukan karena kesalahan, pasti dia akan menjadi orang yang paling bahagia saat ini.
Sedangkan Senja, ia memalingkan wajahnya. Ia menatap gedung-gedung tinggi yang berdiri kokoh di sepanjang jalan.
Kota Surabaya masih tetap sama, tidak ada yang berubah sama sekali. Kota ini masih tetap padat, dan sibuk.
"Tempatku berpijak memang tidak berubah, namun jalan hidupku semakin berubah." batin Senja dalam hatinya. Belum sempat ia membayangkan kenangan-kenangannya bersama Fajar, tiba-tiba suara Ken mengagetkannya.
"Aya!" panggil Ken.
"Iya." jawab Senja sambil menoleh.
"Menataplah ke depan, jangan menatap ke samping, apalagi ke belakang. Karena hidup untuk mengejar masa depan, bukan bertahan pada masa sekarang, apalagi terbelenggu dengan masa silam." kata Ken sambil tersenyum. Itu adalah kalimat yang sering Senja ucapkan dimasa lalu.
Saat mereka berada di dalam mobil, dan Ken terus menatapnya, Senja pasti akan melontarkan kalimat itu.
Bersambung......
__ADS_1