
"Apa!!" teriak Bu Rani yang saat itu baru keluar dari ruangan.
Sontak semua yang ada di sana langsung menoleh, termasuk juga Senja. Ia sedikit kaget kala mendengar suara mertuanya yang cukup keras.
"Apa maksud kamu Senja? Katakan jika semua itu tidak seperti yang aku dengar!" teriak Bu Rani.
"Maaf Ma, yang Mama dengar adalah benar. Maafkan aku, aku memang salah Ma. Aku sudah menodai pernikahanku." ucap Senja dengan pelan.
"Kamu benar-benar keterlaluan Senja! Fajar sakit, dan kamu malah bersenang-senang dengan lelaki lain. Kamu benar-benar wanita murahan Senja, aku menyesal telah merestui Fajar untuk menikahimu. Kamu adalah wanita yang tidak tahu diri!" bentak Bu Rani dengan penuh emosi. Beliau benar-benar tak menyangka, jika anak yang ada dalam perut Senja bukanlah cucu kandungnya.
"Ma, tenang Ma!" kata Pak Hery.
"Mana mungkin aku bisa tenang Mas. Menantumu itu sudah melakukan perbuatan hina, dia sudah mencoreng nama baik keluarga kita." jawab Bu Rani masih dengan nada tinggi.
"Maaf Ma, aku benar-benar minta maaf!" ucap Senja sambil tetap menunduk.
"Aku tidak butuh maaf kamu! Dan aku juga tidak butuh menantu seperti kamu!" bentak Bu Rani seraya melayangkan tangannya, dan hendak menampar Senja. Namun gerakannya terhenti, karena Alvin menahannya.
"Jangan pernah memukul Senja!" kata Alvin sambil memegang tangan Bu Rani.
"Dia bersalah, seharusnya tamparan saja tidak cukup untuknya! Seperti inikah adik yang kamu bangga-banggakan, sama sekali tidak punya akhlak!" geram Bu Rani sambil menepiskan tangan Alvin dengan kasar.
"Dasar keluarga miskin, miskin harta, dan miskin moral. Kau bilang dia wanita baik-baik, tapi dia melakukan hal yang sangat hina. Keluargaku benar-benar sial menjalin hubungan dengan keluarga rendahan seperti kalian!" kata Bu Rani sambil menatap Alvin dengan tajam.
"Sudah Tante, sudah selesai bicaranya? Kalau sudah sekarang biar aku yang berbicara. Senja memang bersalah, aku pun tidak mengatakan jika dia benar. Tapi juga bukan berarti Fajar, dan Anda berada di posisi yang benar." ucap Alvin sambil melangkah mendekati Bu Rani.
"Fajar menikahi Senja tanpa pernah menyentuhnya, dan dia tidak jujur dengan penyakitnya. Dia tidak pernah memberikan alasan yang jelas atas sikapnya, dan itu berlangsung selama satu setengah tahun. Dan disisi lain, Anda selalu memojokkannya, dan mengatakannya mandul. Wanita mana yang tidak sakit hati berada di posisi yang seperti itu.
Aku terima Tante menyalahkan Senja, karena kenyataannya dia memang bersalah. Tapi aku tidak terima, jika Tante membenarkan Fajar, dan juga sikap Tante sendiri. Aku tidak terima jika kesalahan hanya dibebankan kepada Senja, karena pada dasarnya kalian bertiga sama-sama bersalah!" sambung Alvin dengan panjang lebar.
"Tapi..."
"Jika membicarakan tentang moral. Aku akui keluargaku memang kurang bermoral. Aku mencari uang dengan jalan yang tidak benar, dan adikku juga melakukan kesalahan fatal yang sangat jauh dari kata moral. Tapi bagaimana dengan keluarga Tante, bagaimana dengan Adara?" sahut Fajar memotong pembicaraan Bu Rani.
__ADS_1
"Fajar mendapatkan penyakitnya, karena hubungannya dengan Adara yang melampaui batas. Dan menurut keterangan Fajar, Adara mendapatkan penyakitnya dari trik kotor yang ia lakukan demi merintis kariernya. Lalu dimana letak moral yang Tante katakan? Apa sebenarnya hanya uang, dan karier yang Tante jadikan tolak ukur dalam menilai seseorang?" sambung Alvin sambil menatap Bu Rani.
"Aku tidak butuh ceramah kamu! Apapun penjelasan yang kamu katakan, Senja tetaplah bersalah!" kata Bu Rani sambil memicingkan matanya.
"Aku tahu, bahkan aku sangat tahu kalau Senja itu bersalah Tante. Tapi selain menyalahkan Senja, salahkan juga Fajar, dan juga diri Anda sendiri." jawab Alvin.
"Aku tidak bersalah, aku hanya menginginkan cucu. Dan anakku sudah menikah, apa itu salah?"
"Tapi kenyataannya tidak sesederhana itu Tante. Anda memaksa, bukan hanya meminta. Anda tidak percaya saat Fajar menjawab, bahwa ia masih menunda untuk memiliki anak. Bahkan Anda menuduh Fajar hanya menutupi kekurangannya Senja. Anda selalu mengatakan Senja mandul. Anda juga wanita Tante, bayangkan jika Anda yang ada di posisi Senja, bagaimana perasaan Anda Tante?" jawan Alvin.
"Tapi bukan berarti dia bisa selingkuh, dia bisa mengatakannya padaku, jujur saja jika Fajar memang tidak pernah menyentuhnya. Semua beres kan." kata Bu Rani masih tidak mau kalah.
"Beres? Dengan sikap Tante selama ini, kira-kira apa yang akan Tante lakukan, kalau tahu Fajar tidak pernah menyentuhnya.
Menunggu Senja yang tidak segera hamil saja, Anda sudah memaksa Fajar untuk menikah lagi." jawab Alvin.
"Jangan mencari alasan hanya untuk membenarkan perselingkuhan adik kamu. Senja kamu dengar baik-baik ya, mulai saat ini kamu bukan lagi menantuku! Aku tidak akan sudi, menganggapmu sebagai keluargaku!" kata Bu Rani sambil menatap Senja dengan tajam.
"Dia bukan wanita baik-baik, Fajar pasti akan menceraikannya." jawab Bu Rani.
"Maaf Ma, tapi aku dan Kak Fajar sudah berjanji untuk saling memaafkan, dan saling menerima kekurangan. Kita sudah sepakat untuk memperbaiki diri bersama-sama." sahut Senja, ia memberanikan diri mengangkat wajahnya, dan menatap Ibu mertuanya.
"Aku tidak peduli seperti apa mereka akan memarahiku, dan merendahkanku. Tapi aku akan tetap bertahan dengan Kak Fajar. Aku tidak akan pernah meninggalkannya, kecuali memang dia yang menginginkan kepergianku." batin Senja dalam hatinya.
"Kau pasti bohong, lelaki mana yang akan menerima istrinya hamil dengan lelaki lain. Fajar tidak sebodoh itu!" bentak Bu Rani.
"Maaf saya ikut berbicara!" sahut Arrion dengan tiba-tiba.
"Silakan dokter!" kata Pak Hery.
"Sebenarnya ini urusan keluarga, dan bukan hak saya untuk ikut campur. Tapi saya sebagai dokter, sekaligus juga temannya Fajar. Saya tahu sedikit hal tentang Fajar. Maaf Bu selama ini Fajar sudah tahu kehamilannya Senja, dan dia memang menerimanya, dengan alasan karena dia sendiri tidak bisa melakukannya. Jadi soal cerai, atau tidak, itu bukan hak kita untuk menentukannya. Biarkan Fajar sendiri yang memilih keputusannya." kata Arrion dengan panjang lebar.
"Dokter Arrion benar Ma, biarkan Fajar yang mengambil keputusan, kita tidak usah ikut campur." ucap Pak Hery sambil menatap istrinya.
__ADS_1
"Tapi Mas..."
"Ma, belajarlah dari kesalahan. Dulu Mama terlalu ikut campur dengan rumah tangga mereka, Mama memaksa mereka untuk segera memberikan cucu, lalu apa hasilnya? Tolonglah Ma, buang jauh-jauh sifat egois Mama." kata Pak Hery.
"Aku tidak egois Mas, aku hanya..."
"Ma, sudah tenanglah! Kita tidak bisa menyelesaikan masalah dengan emosi." sahut Pak Hery.
"Senja!" panggil Pak Hery.
"Iya Pa." jawab Senja.
"Sekarang katakan, dengan siapa kamu melakukannya?" tanya Pak Hery sambil menatap Senja.
Senja diam terpaku, apa yang harus ia katakan sekarang. Bohong, itu tidak mungkin, ia tahu kebohongan bisa berakibat fatal.
Namun untuk jujur ia juga merasa ragu, haruskah ia menyeret Ken dalam masalah ini?
Memang benar, dia adalah ayah dari bayi yang dikandungnya. Tapi semua ini juga bukan murni kesalahannya Ken. Andai saja Senja tidak membuka celah, Ken juga tidak akan menodainya.
"Senja!" panggil Pak Hery.
"Aku...aku..."
"Katakan saja Senja, jangan takut!" kata Pak Hery.
"Cepat jawab!" bentak Bu Rani, karena Senja masih terdiam.
Belum sempat Senja menjawab, tiba-tiba seorang perawat keluar dari ruangan. Ia tampak tergesa-gesa, dan raut wajahnya terlihat panik.
"Dokter! Dokter!" panggil perawat itu dengan cepat.
Bersambung....
__ADS_1