Kesucian Cinta Yang Ternoda

Kesucian Cinta Yang Ternoda
Persiapan Prewedding


__ADS_3

Tiga hari setelah Ken meminta restu dari orang tuanya, ia kembali datang menemui Senja.


Pagi-pagi sekali ia sudah menapakkan kakinya di depan rumah wanita, yang sebentar lagi akan menjadi Nyonya Antony.


Ken turun dari mobilnya, dan melangkah menuju ruang tamu, kala itu pintunya terbuka dengan lebar. Ken berjalan masuk, dan ternyata di sana ada Rashya yang sedang bermain dengan Senja dan Nina.


"Selamat pagi!" sapa Ken sambil tersenyum lebar.


"Pagi Papa," jawab Senja, seraya melambaikan tangan anaknya.


"Tumben dia bangun pagi." Ken bergumam, sambil duduk di kursi ruang tamu.


"Kak Alvin mana?" tanya Ken.


"Masih tidur," jawab Nina.


"Suamimu masih tidur, kenapa kau sudah bangun?" tanya Ken sambil menatap Nina.


"Terus?" sahut Nina.


"Temani dong," goda Ken dengan tawa renyahnya.


"Aku bukan kamu," cibir Nina.


"Kok aku?"


"Buktinya pagi-pagi buta sudah berada di sini, padahal belum halal lho, apalagi kalau sudah halal, ah tidak terbayang deh. Pasti seharian cuma di kamar saja, aduh kasihan sekali Tante Ratih." Nina bicara panjang lebar, sambil tersenyum miring.


"Nina jangan sembarangan!" sahut Senja.


Dan Nina hanya menanggapinya dengan senyuman lebar.


"Kita ada acara Nin," ucap Ken.


"Acara apa?"


"Mau pergi ke suatu tempat," jawab Ken.


"Kemana?"


"Rahasia," jawab Ken dengan cepat.


"Ah dasar kamu," ucap Nina sambil melotot tajam.


"Kita mau ke makamnya Kak Fajar Nin," sahut Senja.


"Oh, ya sudah mandi sana, Rashya biar sama aku," kata Nina sambil menatap Senja.


"Sama aku saja, aku sudah rindu sama dia, waktu aku kesini kemarin, dia sedang tidur," kata Ken seraya beranjak dari duduknya.


Lalu ia melangkah mendekati Senja, dan meraih tubuh Rashya.


"Gendong Papa ya sayang, Bunda biar mandi dulu, biar segar, biar cantik," ucap Ken sambil menciumi pipi Rashya.

__ADS_1


"Anak Papa sudah besar, ahh pipinya ini lho, bikin gemes. Senyumnya mana sayang, sudah gendong Papa, masa tidak tersenyum. Senyum dong, sedikit saja!" begitu banyak ucapan yang keluar dari mulut Ken, guna mengajak Rashya bercanda.


"Kalau begitu aku mandi dulu ya," kata Senja.


"Iya," jawab Ken sambil mengangguk.


Setelah Senja melangkah pergi menuju ke kamar mandi, Nina menatap Ken sambil tersenyum.


"Aku bahagia, Senja bisa kembali sama kamu Ken," ucap Nina.


"Kenapa begitu?"


"Karena keluarga kamu bisa menerima kehadiran dia. Sedangkan dulu, kau tahu sendiri bagaimana sikapnya Tante Rani," jawab Nina.


"Sebagai orang tua, Mama ingin aku bahagia, itu sebabnya Mama tidak pernah ikut campur urusan pribadiku. Tidak peduli dia kaya atau miskin, cantik atau jelek, jika aku memang cinta, ya sudah nikahkan saja. Mama dan Papa tidak pernah mempersulit hal itu," kata Ken.


"Tapi tidak semua orang bisa berfikir demikian, bahkan menurutku sekarang sudah sangat jarang, orang yang bisa seperti itu, Ken," ucap Nina.


"Iya juga sih."


"Tolong bahagiakan Senja ya Ken," kata Nina setelah hening dalam beberapa detik.


Nina sangat ingin, jika Senja bisa hidup bahagia, dan harapannya sekarang adalah Ken. Kemarin kedua orang tuanya Ken datang menemui Alvin. Mereka meminang Senja untuk menjadi pasangannya Ken. Dan mereka juga meminta pendapat pada Senja, tentang tema pernikahannya nanti, namun Senja tidak banyak menuntut, dia setuju dengan apapun yang dirancang oleh mertuanya.


"Itu pasti Nin, kau tidak perlu khawatir, aku pasti akan membahagiakan Aya. Kau tahu, pernikahan ini adalah satu hal yang sangat aku impi-impikan sejak dulu, jadi sudah pasti aku tidak akan mengabaikannya." Ken menjawab ucapan Nina dengan sangat tegas.


Tak berapa lama kemudian, Senja keluar dari kamarnya, dan kembali menuju ruang tamu. Ia terlihat sangat cantik, dengan balutan kemeja putih yang dipadukan dengan celana panjang. Kerudung hitam, tampak menutupi rambut panjangnya.


"Sudah siap Aya?" tanya Ken sambil menatap Senja.


"Kita berangkat sekarang?"


"Ayo!" jawab Senja, seraya meraih tubuh Rashya, dan membawanya ke dalam gendongannya.


"Nin, kami berangkat dulu ya," kata Senja sebelum melangkah keluar.


"Iya, hati-hati. Ken, jaga Senja!" jawab Nina sambil menatap Ken, dan Senja secara bergantian.


"Pasti," jawab Ken.


Lalu mereka berdua melangkah bersama menuju mobil. Mereka sengaja berangkat pagi, karena setelah ini, mereka akan langsung fitting baju, untuk acara pernikahannya nanti.


***


Desir angin yang menguarkan aroma kamboja, menyeruak masuk kedalam hidung, saat Ken dan Senja menapakkan kakinya di area pemakaman Kota Surabaya. Mereka berjalan pelan, menuju tempat terakhirnya Fajar. Rashya berada dalam gendongannya Ken, sedangkan Senja, ia membawa seikat bunga yang dibungkus plastik, dengan hiasan pita berwarna-warni, sangat manis.


Tak berapa lama kemudian, mereka menghentikan langkahnya. Mereka duduk berjongkok, sambil menatap tulisan Fajar Mahardika, yang tertera di atas batu nisan. Kemudian Ken dan Senja mulantunkan doa untuk Fajar.


"Kak Fajar!" ucap Senja sambil meletakkan bunga yang ia bawa. Bibirnya mengulas senyuman, seolah yang ia temui benar-benar Fajar.


"Aku datang Kak, aku kesini bersama Ken, dan juga Rashya. Maafkan aku yang tidak bisa menjadikan kamu sebagai satu-satunya suami dalam hidupku, tapi aku akan selalu mengingatmu Kak, namamu akan tetap memiliki tempat khusus didalam hatiku. Aku sudah menentukan pilihanku Kak, aku dan Ken akan menikah. Semoga kamu juga merestui pilihanku ini Kak," batin Senja sambil mengusap batu nisan yang ada di hadapannya.


"Fajar, maafkan aku yang pernah menyakiti kamu. Sekarang aku akan memenuhi amanat kamu, aku akan menjaga Aya, dan membahagiakan dia. Aku akan menikah dengannya, semoga kamu bisa merestui kami, Fajar," batin Ken sambil memejamkan matanya.

__ADS_1


Setelah cukup lama duduk berjongkok di depan pusara, sambil mengucapkan beberpa kalimat dalam benak mereka. Kini Ken dan Senja mulai beranjak. Mereka melangkah pergi meninggalkan Fajar yang sudah damai di alam sana.


Ken berjalan, dengan Rashya yang masih tetap dalam gendongannya. Sedangkan Senja, ia berjalan di belakangnya.


"Kisah kita benar-benar seperti fajar, dan senja Kak. Saling melengkapi, saling menyempurnakan, saling beriringan, namun berada di titik yang berbeda. Kita pernah saling mengisi, dan saling menyempurnakan cerita dalam hidup kita. Perasaan kita juga masih beriringan, sama-sama menyimpan nama dalam hati masing-masing, namun kita berada di tempat yang berbeda. Kau sudah damai disisi Illahi, sedangkan aku, aku masih bernafas di dunia. Mungkin memang seperti ini, jalan hidup yang telah digariskan takdir untuk kita. Semoga kau bahagia di sana Kak, dan aku juga akan selalu bahagia di sini," batin Senja sambil menoleh, menatap pusara Fajar yang mulai ia tinggalkan.


"Terima kasih untuk cinta, dan waktu yang pernah kau berikan padaku Kak," kata Senja dalam hatinya, lalu ia kembali meneruskan langkahnya.


***


Detik yang terus berdetak, semakin lama bergulir menjadi menit, dan juga jam. Hari demi hari telah berlalu menjadi minggu.


Pak Jeffry, dan Bu Ratih sibuk mempersiapkan pesta pernikahan untuk Ken dan Senja. Mulai dari dekor, jamuan, undangan, fotografer, serta MUA profesional yang menjadi langganan keluarga mereka.


Untuk prewedding, Ken memilih tema indoor, dan tempatnya adalah rumahnya sendiri, yang tentu saja sudah didesain sedemikian rupa. Hari pernikahannya kurang tiga minggu lagi, dan hari ini adalah hari dimana ia dan Senja, melakukan foto prewedding.


Sejak pagi Ken sudah menjemput Senja, dan kini wanita itu sedang duduk manis di ruang makan. Sedangkan Rashya, ia sedang bermain di kamar, bersama bibi pelayan.


"Ayo sarapan dulu Senja, sambil menunggu Mbak Kellyn, dia masih dalam perjalanan," kata Bu Ratih sambil tersenyum ramah.


Kellyn adalah MUA yang dipercaya untuk merias wajah Senja.


"Semua ini adalah makanan kesukaan kamu Aya," sahut Ken sambil duduk di sebelah ibunya.


"Makan yang banyak, jangan sungkan. Sekarang kita adalah keluarga kamu, jadi tidak perlu merasa malu." Pak Jeffry ikut menyela.


"Iya, terima kasih Mama, Papa," jawab Senja sambil tersenyum.


Sejak ia menyatakan kesediaannya untuk menikah dengan Ken, mertuanya tak mau lagi dipanggil om dan tante, mereka menyuruh Senja untuk memanggilnya mama dan papa.


"Bagaimana keadaan Nina?" tanya Bu Ratih sambil mencentongkan nasi untuk Ken, Pak Jeffry, dan juga Senja.


"Alhamdulillah Ma sudah membaik, dia sudah tidak mual lagi, hanya saja nafsu makannya masih berkurang," jawab Senja.


"Hamil muda terkadang memang seperti itu," sahut Bu Ratih.


"Iya Ma."


"Nanti kalau kamu dan Ken sudah menikah, dan kamu hamil lagi, Mama akan mengurus kamu Senja. Maafkan Ken ya, gara-gara kecerobohannya, hamil yang kemarin Mama tidak membantu apa-apa," kata Bu Rani.


"Jangan begitu Ma, Mama sudah banyak membantuku."


"Oh ya, bagaimana dengan tempat yang kau rencanakan itu?" tanya Pak Jeffry sambil menatap Ken.


"Beres Pa," jawab Ken dengan senyum manisnya.


"Ken sudah menyiapkan tempat untuk bulan madu, semoga kau nanti menyukainya, Senja," sahut Bu Ratih.


"Seharusnya tidak usah berlebihan Ma, aku..."


"Senja ini tidak berlebihan, itu memang sudah seharusnya, ya." sahut Bu Ratih sambil mengedipkan sebelah matanya.


Senja tertunduk malu, ah kebaikan keluarga ini sungguh membuatnya terharu.

__ADS_1


"Keluarganya Ken benar-benar menerimaku, ini sangat bertolak belakang dengan Tante Rani. Semoga dipernikahanku yang kedua ini, aku bisa bahagia," ucap Senja dalam hatinya.


Bersambung...


__ADS_2