
Disaat mereka sedang larut dalam pikirannya masing-masing, tiba-tiba dua orang paruh baya datang mendekati mereka dengan setengah berlari.
"Bagaimana keadaan Senja?" tanya Bu Ratih dengan cepat.
"Masih di dalam Ma, belum ada kabar dari dokter." jawab Ken.
"Tolong bantu doa ya Tante, semoga Senja berhasil melewati semua ini." ucap Ken sambil menatap Bu Ratih.
"Saya pasti mendoakannya Nak, saya berharap Senja, dan anaknya akan baik-baik saja. Ken bicara pada dokter, suruh mereka memberikan pelayanan yang terbaik bagi Senja." kata Bu Ratih sambil menatap Ken.
"Mama kamu benar Ken, jangan sampai Senja terabaikan." sahut Pak Jeffry.
"Sudah Pa, tinggal menunggu saja." jawab Ken.
Sikap Bu Ratih, dan Bu Rani memang bertolak belakang. Bu Ratih begitu sangat menyayangi Senja, meskipun belum tentu dia akan menjadi menantunya. Tak pernah sekalipun Bu Ratih merendahkan, apalagi menghina Senja. Justru beliau sangat memujinya, beliau selalu menyukai apapun yang ada dalam diri Senja.
Cukup lama mereka menunggu, terkadang mondar-mandir dengan panik, terkadang juga duduk sambil melantunkan doa. Semuanya menjadi sangat khawatir saat dokter tak kunjung keluar dari dalam ruangan.
Sekitar satu jam kemudian, pintu ruangan terbuka. Tampak di sana dokter sedang berdiri sambil tersenyum tipis.
Mereka semua langsung terhenyak, spontan mereka beranjak dari duduknya, dan menghambur menghampiri ibu dokter.
"Selamat ya, buah hatinya lahir dengan selamat, dia laki-laki, sangat tampan." ucap Bu dokter sambil menatap mereka secara bergantian.
"Bagaimana keadaan ibunya?" tanya Ken dengan cepat.
Mendengar buah hatinya lahir dengan selamat dia memang bahagia, namun hatinya masih resah sebelum tahu bagaimana keadaan Senja. Yang dia inginkan dua-duanya selamat, bukan hanya salah satu.
"Bu Senja masih pingsan, tapi kami sudah memberikan pertolongan untuknya. Sebentar lagi dia akan sadar, dia hanya kelelahan. Persalinannya berjalan dengan lancar, dan normal." jawab ibu dokter sambil tersenyum.
"Dokter serius kan Aya akan segera sadar, dia baik-baik saja kan dokter?" tanya Ken.
"Dia baik-baik saja. Dia hanya kelelahan, karena kondisinya memang lemah. Perutnya kosong, mungkin hari ini dia tidak nafsu makan." jawab dokter.
__ADS_1
"Alhamdulillah, aku sangat senang mendengarnya. Aku lega jika Aya baik-baik saja. Dokter boleh kita melihatnya?" tanya Ken.
"Boleh, tapi bergantian ya. Jangan masuk bersamaan! Serta usahakan agar tidak berisik!" kata dokter.
"Baik dokter." jawab Ken.
"Silakan, ada suster di dalam. Saya akan keluar sebentar, nanti saya segera kembali." ucap dokter.
"Iya dokter, terima kasih ya dokter."
Dokter itu menanggapinya dengan anggukan, dan senyuman. Lalu beliau melangkah pergi meninggalkan mereka.
"Silakan Kakak dulu!" kata Ken sambil menatap Alvin.
Meskipun ia sudah tidak sabar untuk melihat Senja, dan anaknya. Namun ia sadar, Alvin yang lebih berhak untuk menjadi yang pertama, dia adalah kakaknya, sedangkan dirinya bukanlah siapa-siapa.
"Iya." jawab Alvin sambil membuka pintu ruangan.
"Cepatlah sadar Nja, anak kamu sudah lahir. Semoga dia bisa menjadi cahaya dalam hidup kamu. Semoga luka, dan derita yang pernah kamu rasa, berganti kebahagiaan karena kehadiran dia. Aku sangat menginginkan kenahagiaanmu Nja. Melihat kamu menderita, aku merasa gagal menjadi seorang kakak. Aku merasa gagal menjalankan amanat yang sudah dititipkan Ibu, dan Ayah. Cepat sadar Nja!" kata Alvin sambil mengusap kening Senja.
Lalu ia beranjak dari duduknya, dan melangkah mendekati bayi yang berada dalam inkubator. Bayi mungil itu sedang larut dalam tidurnya. Alvin menatapnya lekat-lekat, hidungnya mancung, dan bibirnya kemerahan. Jika besar dia pasti tumbuh menjadi sosok yang sangat tampan.
"Aku percaya sama kamu nak, suatu saat nanti kamu lah yang akan menjadi pelita bagi ibumu. Jaga dia, dan bahagiakan dia!" kata Alvin pada bayi mungil itu, ia berbicara dengan tegas, seolah lawan bicaranya akan mengerti apa yang dikatakannya.
Kemudian Alvin melangkah keluar, ia membuka pintu ruangan, dan menyuruh Ken untuk masuk ke dalam.
"Silakan!" kata Alvin sambil menatap Ken.
"Terima kasih Kak." jawab Ken sambil melangkah masuk ke dalam ruangan.
Ken berjalan mendekati Senja yang masih setia memejamkan matanya. Tanpa dipinta, buliran bening mulai menetes dari sudut matanya. Ken duduk di sebelah Senja, ia menggenggam jemarinya dengan penuh cinta.
"Maafkan aku Aya, aku sudah membuatmu merasakan sakit. Sakit hati, dan juga sakit fisik. Maafkan kebodohanku yang sangat merugikanmu. Aya di sini aku berjanji padamu, aku akan bertanggungjawab atas hidupmu. Jika kau bersedia aku akan menikahimu, jika kau tidak bersedia, dan tetap memilih sendiri, aku pun akan melakukan hal yang sama. Aku tidak akan menikah selain dengan kamu Aya. Aku sangat mencintaimu, aku sudah meninggalkan noda untukmu, aku tidak akan sanggup meninggalkan kamu." kata Ken sambil menatap wajah Senja yang sedikit pucat.
__ADS_1
"Terima kasih sudah merawat anakku, terima kasih sudah membantunya menatap dunia. Aya aku berhutang nyawa padamu. Ijinkan aku menebus semua kesalahanku Aya, beri aku kesempatan untuk membahagiakan kamu." ucap Ken sambil mengusap-usap rambut Senja dengan lembut.
Setelah puas berbicara dengan Senja, Ken beranjak dari duduknya. Ia melangkah mendekati inkubator. Ia menangis haru saat melihat tubuh mungil itu sedang membuka matanya. Bola matanya yang hitam bening, seolah menatapnya dengan penuh kasih.
"Kamu melihat Papa nak." kata Ken sambil menangis.
Beginikah rasanya memiliki anak? Ah andai saja semua ini terjadi saat ia dan Senja sudah menikah. Pasti ia akan menjadi lelaki yang paling bahagia.
"Iya nak ini Papa, maafkan Papa yang belum bisa membahagiakan ibu kamu. Maafkan Papa yang belum bisa menjaga kalian dengan sepenuhnya. Doakan Papa ya nak, doakan semoga ibu kamu menerima niat baik Papa." ucap Ken sambil mengusap kaca inkubator, seolah ia sedang membelai kulit anaknya.
"Ya Allah berikanlah kemudahan untuk hubungan kami. Hamba tahu semua ini berawal dari kesalahan, dan nafsu belaka. Tapi perasaan ini begitu tulus, hamba benar-benar ingin hidup bersamanya, dan membahagiakan dia. Ya Allah hanya Engkau yang paham bagaimana perasaan hamba, tolong jangan jadikan ini dosa. Jadikan cinta ini sebagai sesuatu yang halal Ya Allah." ucap Ken sambil menengadahkan tangannya.
***
Di luar terik mentari sangat menyengat, sang surya menampakkan keperkasaannya di tempat yang paling tinggi. Langit biru cerah membentang, tanpa hiasan awan barang sejengkal.
Senja mulai mengerjapkan matanya, setelah berada di alam bawah sadar untuk beberapa jam lamanya, kini ia kembali menatap terangnya dunia. Meskipun diluar begitu panas, namun di sini Senja merasa kedinginan. Seluruh tubuhnya terasa sakit, dan nyeri, bahkan untuk bergerak saja ia merasa kesulitan.
"Kamu sudah sadar Nja, Alhamdulillah Ya Allah, akhirnya engkau turunkan hidayah-Mu untuk anakku." ucap Bu Ratih sambil mengusap wajahnya dengan kedua tangannya. Beliau menitikkan air matanya kala menatap Senja yang sedang tersenyum padanya.
"Apa yang kamu rasakan Nak, lapar, atau haus?" tanya Bu Ratih.
"Lelah Tante, tubuhku rasanya sangat sakit." jawab Senja dengan pelan.
Bu Ratih tidak menjawab, namun beliau langsung memeluk tubuh Senja, dan mengusap rambutnya dengan lembut. Kelopak matanya terpejam, buliran bening semakin merembas membasahi kedua pipinya.
"Maafkan Ken ya Nak, gara-gara dia kamu merasakan semua ini. Bahkan, bahkan sekarang dia belum bisa memberikan apa-apa untuk kamu." kata Bu Ratih disela-sela tangisnya.
"Jangan minta maaf Tante, aku juga sangat bersalah dalam hal ini." jawab Senja seraya mengangkat tangannya, dan membalas pelukan Bu Ratih.
"Aku sudah sangat lama tidak merasakan pelukan seorang wanita. Kehadiran Tante Ratih, mengingatkanku pada Ibu. Aku sangat merindukan Ibu." batin Senja sambil memejamkan matanya. Membayangkan sosok sang ibu yang berada dalam dekapannya.
Bersambung...
__ADS_1