
Di dalam sebuah rumah yang cukup mewah, dan elegan. Seorang wanita cantik sedang duduk di sofa sambil menikmati secangkir teh hangat. Di luar hari sudah gelap, ditambah guyuran hujan yang turun dengan derasnya. Membuat suasana malam terasa semakin kelam.
"Kamu kapan balik ke Jakarta Sel?" tanya Bu Dina sambil duduk di depan anaknya.
"Belum ada rencana Ma, si tua itu belum menyuruhku kesana, dia masih mengijinkan aku tinggal di sini," jawab Sella sambil menghela nafas panjang. Sesungguhnya ia keberatan menjadi simpanannya Jhon Victory, bagaimanapun juga dirinya masih muda, sedangkan pria itu, umurnya lebih tua dari ayahnya. Namun karena tuntutan ekonomi, Sella terpaksa malakukan ini.
"Kalau bisa segera kuasai asetnya, setelah itu kamu bisa pergi meninggalkan dia," kata Bu Dina.
"Iya Ma, aku juga berencana demikian. Setelah aku mengeruk habis hartanya, aku akan meninggalkan dia, siapa yang akan betah menjadi pasangan pria tua seperti dia," jawab Sella sambil memutar bola matanya.
Disaat mereka masih sibuk berbincang, tiba-tiba Bibi pelayan datang menghampiri mereka.
"Nyonya, di depan ada tamu, dia mencari Non Sella," ucap Bibi itu.
"Siapa Bik?" tanya Sella sambil mengernyit heran. Ia merasa tidak ada janji hari ini, siapa yang datang menemuinya, malam-malam seperti ini.
"Saya tidak tahu Non, sudah paruh baya, mungkin seumuran Nyonya," jawab bibi itu.
"Siapa Sel?" tanya Bu Dina.
"Tidak tahu Ma, aku temui dulu ya," kata Sella sambil beranjak dari duduknya.
"Iya."
Sella melangkah pergi menuju ke ruang tamu, meninggalkan ibunya yang sedang duduk di ruang tengah.
Namun tak lama kemudian, langkah Sella terhenti seketika, saat menatap siapa yang bertandang ke rumahnya. Nyonya Carolyna, istri dari Jhon Victory.
"Untuk apa dia datang kesini," batin Sella dengan jantung yang berdetak cepat.
Mungkinkah skandalnya terbongkar?
"Bisa habis aku kalau dia tahu hubunganku dengan Om Jhon," batin Sella sambil kembali melangkahkan kakinya.
Sella tersenyum kikuk, saat menatap Nyonya Carolyna. Ia berusaha bersikap sangat tenang, seolah tidak terjadi apa-apa.
"Selamat malam Nyonya, senang sekali mendapat kunjungan dari Anda," ucap Sella sambil duduk di depan Nyonya Carolyna.
__ADS_1
"Selamat malam, bagaimana kabar kamu?"
"Saya baik Nyonya," jawab Sella sambil berusaha tersenyum.
"Bagaimana bisnis keluarga kamu, masih lancar kan? Saya berencana menginvestasikan dana yang lebih, jika kerjasama proyek kita berjalan sesuai dengan harapan," kata Nyonya Carolyna sambil tersenyum ramah.
"Saya sangat berterima kasih atas kebaikan Nyonya, dan juga Tuan Jhon. Tanpa kalian, mungkin bisnis Papa sudah hancur sejak beberapa waktu lalu," jawab Sella.
"Apa dia kesini hanya untuk membicarakan bisnis, syukurlah kalau begitu. Jangan sampai dia tahu apa yang aku lakukan dengan suaminya," batin Sella sambil menggigit bibirnya.
"Tidak perlu berterima kasih, kinerja ayah kamu sangat luar biasa. Sayang jika perusahaan seperti itu menjadi terbengkalai," kata Nyonya Carolyna.
Sejak Jhon Victory menjadi investor di perusahaannya, keluarga Sella menjadi lebih sejahtera. Bisnisnya semakin berkembang dengan pesat, karena mendapatkan dukungan dari perusahaan Delmon, perusahaan terbesar di Kota Jakarta, dan merupakan perusahaan yang punya pengaruh penting di Negara Indonesia.
"Saya sangat tersanjung mendapatkan pujian seperti ini dari Nyonya.
Bi, tolong panggilkan Mama sama Papa ya, bilang kalau ada Nyonya Carolyna," kata Sella pada Bibi pelayan yang mengantarkan minuman untuk mereka.
"Iya Non," jawab Bibi sambil melangkah pergi.
"Orang tua kamu ada di rumah?"
"Kebetulan kalau begitu, sebenarnya saya tadi kesini, karena ada sedikit hal penting yang ingin saya bicarakan, dengan orang tua kamu," ucap Nyonya Carolyna dengan senyuman yang masih mengembang.
"Hal penting apa ya?"
"Nanti saja, menunggu orang tua kamu."
"Oh, baiklah!" jawab Sella.
"Apa yang sebenarnya ingin dia bicarakan," batin Sella sambil menilik wajah Nyonya Carolyna.
Beberapa menit kemudian, Pak Reno, dan Bu Dina tiba di ruang tamu. Mereka menyalami Nyonya Carolyna, lalu duduk di depannya. Senyuman lebar tak lepas dari bibir keduanya.
"Selamat malam Pak Reno, Bu Dina," sapa Nyonya Carolyna sambil tersenyum.
"Selamat malam Nyonya, sungguh tak menyangka, jika yang datang adalah Anda," jawab Pak Reno.
__ADS_1
"Iya, sungguh suatu kehormatan bagi kami," sahut Bu Dina.
Mereka memang pandai menjilat, mereka selalu bersikap baik di hadapan Nyonya Carolyna, padahal di belakangnya, mereka menjadikan Sella sebagai simpanannya Jhon Victory.
"Sebenarnya kedatangan saya kesini, karena ingin membicarakan hal penting dengan Anda," ucap Nyonya Carolyna dengan raut wajah yang berubah sendu.
"Hal penting apa Nyonya, katakan saja!" jawab Pak Reno.
"Sebelumnya saya minta maaf, tapi saya memang harus mengatakannya. Saya ingin melamar Sella untuk suami saya, apakah boleh?" tanya Nyonya Carolyna dengan serius.
"Hah!"
Bukan hanya Sella, namun Pak Reno dan juga Bu Dina, mereka tersentak kaget saat mendengar perkataan Nyonya Carolyna.
Dia melamar Sella, untuk suaminya, apa maksudnya?
Mungkinkah dia sudah tahu tentang skandal yang Sella lakukan?
"Maksud, maksud Nyonya apa?" tanya Pak Reno dengan sedikit gugup.
"Begini," ucap Nyonya Carolyna sambil menghela nafas panjang.
"Sejak dulu Mas Jhon sangat menyukai anak, tapi sejak Alex lahir, rahimku diangkat karena ada kanker yang bersarang di sana, sejak saat itu aku tidak bisa lagi memiliki keturunan. Kala itu Mas Jhon biasa saja, namun sejak Adara tiada, Mas Jhon sedikit terpukul. Dia meminta ijin padaku untuk menikah lagi. Aku mengiyakan permintaannya, asalkan istri keduanya adalah wanita baik-baik. Dulu aku sempat menolak satu wanita yang menjadi calonnya, karena kulihat dia sangat ketus, aku takut dia akan banyak menuntut," sambung Nyonya Carolyna.
"Namun kemarin, dia bilang tertarik dengan Sella. Aku sangat setuju jika calonnya itu kamu, karena kamu adalah wanita yang baik, cerdas, anggun, dan lemah lembut. Aku tahu umur kalian terpaut cukup jauh, tapi percayalah Mas Jhon pasti akan membahagiakan kamu. Dia sudah menyiapkan sebuah rumah lengkap dengan isinya, untuk istri keduanya. Sekali dia memilih pasangan, dia pasti akan menjamin masa depannya, dia adalah lelaki yang sangat bertanggungjawab." Nyonya Carolyna melanjutkan ucapannya, sambil menatap Sella.
"Tapi...tapi..." Sella tak mampu lagi melanjutkan kalimatnya, kenyataan yang sungguh sulit untuk dipercaya.
"Lalu bagaimana dengan Anda, Nyonya?" tanya Bu Dina.
"Saya akan tetap menjadi istrinya, saya berusaha ikhlas melepas Mas Jhon menikah lagi, karena kenyataannya, saya memang tidak bisa lagi memberikan keturunan untuk dia," jawab Nyonya Carolyna sambil menunduk.
"Tapi apakah Anda tidak sakit hati, atau..."
"Mungkin perasaan itu memang ada, tapi apa yang bisa saya lakukan? Saya hanya sebatang kara, tidak ada saudara, dan orang tua sudah tiada. Saya tidak punya apa-apa, saya hanya bisa menggantungkan hidup saya pada Mas Jhon. Selama dia tidak berniat menceraikan aku, itu sudah lebih dari cukup bagiku," ucap Nyonya Carolyna sambil menunduk. Ada kesedihan yang terpancar jelas dari raut wajahnya.
"Untuk itu saya meminta Sella, dia adalah wanita yang baik, dan kami sudah saling mengenal. Jujur saya tidak sanggup jika istri keduanya adalah orang yang suka semena-mena. Saya ingin istri kedua yang bisa menerima keberadaan saya. Jadi bagaimana jawaban kamu, Sella?" tanya Nyonya Carolyna.
__ADS_1
Bersambung....