
Empat bulan kemudian, banyak yang berubah dari kehidupan Senja sejak kehadiran Rashya di sampingnya. Sejak bayi itu lahir, Senja jarang sekali menitikkan air mata. Lambat laun ia bisa melupakan rasa sakit, karena kehilangan sosok penting dalam hidupnya.
Rashya tumbuh menjadi bayi yang aktif, kini ia sudah tengkurap, dan sudah belajar bicara, meskipun masih belum jelas apa yang diucapkannya. Sejak Rashya lahir hubungan Senja, dan Ken semakin membaik. Mereka sering bercanda bersama, tertawa bersama, seolah tiada lagi kecanggungan diantara keduanya.
Bu Ratih, dan Pak Jeffry juga sering mengunjungi Senja. Mereka memperlakukan Senja seperti anaknya sendiri, padahal sampai saat ini Senja belum memberikan jawaban atas niat Ken.
Saat ini Senja sedang duduk di ayunan, di samping rumahnya. Sebuah ayunan yang dibelikan Bu Ratih. Dan bukan hanya itu saja, Bu Ratih juga menyuruh satu pelayan untuk tinggal di rumah ini, guna membantu Senja dalam mengasuh bayinya.
Senja menatap Rashya yang sedang tertidur pulas. Seakan ada gambaran wajah Ken yang tersirat dalam wajah anaknya.
Senja menghela nafas panjang, kini hatinya mulai berubah haluan. Perlahan tapi pasti, perasaan cinta untuk Ken kembali bersemi, namun lagi-lagi bayangan Fajar yang menbuatnya ragu untuk menerima niat baik Ken.
Tak berapa lama kemudian, Senja dikejutkan oleh suara motor yang memasuki halaman rumahnya. Ternyata Alvin, dan Nina yang datang. Mereka baru pulang dari klinik, sejak kemarin Nina sakit perut, dan muntah-muntah, entah apa yang terjadi padanya.
"Nina!" panggil Senja, saat mereka sudah turun dari motornya. Lalu mereka berjalan menghampiri Senja.
"Bagaimana hasilnya?" tanya Senja.
Nina dan Alvin saling pandang, lalu mereka tersenyum bersama.
"Nin!" panggil Senja.
"Aku tidak sakit Nja," jawab Nina.
"Lalu?"
"Sebentar lagi Rashya akan punya teman, aku hamil Nja," ucap Nina sambil tersenyum lebar.
"Benarkah? Aku sangat bahagia mendengarnya Nin," teriak Senja dengan kegirangan.
"Doakan semoga semuanya lancar sampai lahiran Nja," sahut Alvin.
"Itu pasti Kak, ah aku benar-benar tidak sabar menantikan hari itu," kata Senja masih dengan tawa renyahnya.
"Ya sudah kalau begitu kita masuk dulu ya, Nina masih mual dan pusing, dia butuh istirahat," ucap Alvin sambil beranjak dari duduknya.
"Iya Nja, tidak apa-apa kan aku tinggal?" sahut Nina.
"Iya tidak apa-apa, istirahatlah! Mmm Kak, boleh aku bicara sebentar, ini...ini tentang Ken," ucap Senja sambil menatap Alvin.
"Temani dia Kak, mungkin dia butuh pendapat kamu," bisik Nina sambil tersenyum.
"Terus kamu?"
"Aku akan tidur sebentar, aku masuk dulu ya," kata Nina sambil melangkah pergi meninggalkan Alvin dan Senja.
Setelah Nina pergi, Alvin duduk di ayunan, di depan adiknya.
"Apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Ken.
"Menurut Kakak aku harus bagaimana?" jawab Senja balik bertanya.
__ADS_1
"Dulu aku tidak mendengarkan nasihat Kak Alvin, dan akhirnya pernikahanku berujung duka. Sekarang aku akan meminta pendapatnya, aku akan menuruti apapun yang disarankannya," ucap Senja dalam hatinya.
"Perasaanmu sendiri bagaimana Nja? Aku tidak bisa memberikan saran, jika aku tidak tahu bagaimana perasaanmu," kata Alvin sambil menatap Senja.
Semilir angin berhembus perlahan, menggoyangkan daun pucuk merah, dan bunga matahari yang tumbuh di sekitar mereka.
Senja terdiam sejenak, ia menata hatinya terlebih dahulu, sebelum menjawab pertanyaan kakaknya.
"Sekarang aku mulai mencintainya Kak, perasaan ini sama persis seperti dahulu, saat dimana aku dan dia masih menjalin hubungan," ucap Senja berterus terang.
"Lalu apa yang membuatmu ragu? Dia mencintaimu, bahkan dia setia menunggumu, dan kalian juga sudah punya Rashya. Bukankah itu sudah cukup untuk menentukan pilihanmu Senja?" tanya Alvin.
"Tidak juga Kak, masih ada beberapa hal yang membuatku ragu." Senja menghela nafas panjang, lagi-lagi bayangan Fajar mengusik benaknya.
"Apa itu?"
"Kak Fajar, aku masih tidak bisa melupakan dia. Dan lagi, kehadiran Ken selalu mengingatkanku pada kesalahan dimalam itu," jawab Senja sambil menunduk.
Ia menatap Rashya, sang buah hati yang ada karena kesalahan.
"Sepertinya ada beberapa hal yang belum kau mengerti Senja, dan sekarang aku akan membantumu untuk mengerti," kata Alvin dengan tegas.
"Maksud Kak Alvin?"
"Dengarkan Kakak! Tentang Fajar, kau tidak perlu melupakannya, dia pernah menjadi suamimu, hal yang wajar jika kau terus mengingatnya. Ingat bukan berarti cinta Senja, kau pasti mengerti dengan maksudku ini," kata Alvin.
"Dan tentang kesalahan, terkadang kita memang harus mengingatnya, agar tidak mengulang untuk yang kedua kalinya. Jika kau melupakan kesalahanmu, takutnya kau akan mengulanginya dimasa depan," sambung Alvin karena Senja masih terdiam.
"Menurutku begitu, ingat Senja pengalaman adalah guru yang paling berharga. Kau dan Ken pernah melakukan kesalahan fatal, dan kalian juga tahu akibat dari ketidak jujuran. Jika kalian menjalin ikatan, kalian akan mengerti betapa pentingnya kejujuran, dan kesetiaan. Dengan begitu kalian tidak akan melakukan kesalahan yang sama, besar kemungkinan rumah tangga kalian akan berakhir bahagia," ucap Alvin menjelaskan.
Senja terdiam, ia mencerna barisan kalimat yang Alvin lontarkan padanya.
"Jadi aku harus menerimanya Kak?" tanya Senja.
"Jika kamu mencintainya kenapa tidak, lagipula kalian sudah punya anak, dia juga berhak bahagia Nja," jawab Alvin.
"Aku mengerti Kak, terima kasih untuk sarannya. Sekarang aku tidak ragu lagi untuk menentukan pilihanku," kata Senja sambil tersenyum lebar.
"Bagus, semoga keputusan yang kau pilih, akan membawamu dalam kebahagiaan Senja," ucap Alvin sambil menatap Senja.
"Aamiin, doakan aku ya Kak," kata Senja.
"Aku selalu mendokan yang terbaik untukmu Senja."
***
Jarum jam menunjukkan pukul 01.00 siang, Senja membaringkan Rashya di ranjang kamarnya. Lalu Senja berjalan menuju meja, dan meraih ponsel yang tergeletak di sana.
Senja tersenyum saat menatap satu nama yang ada dalam daftar kontaknya.
"Kamu berhasil Ken, aku kembali luluh dengan cinta kamu," gumam Senja dengan pelan, seraya mengusap tombol dalam layar ponselnya, ia menghubungi nomor Ken.
__ADS_1
Beberapa detik kemudian, panggilan telfon mulai terhubung. Jantung Senja berdetak cepat saat telinganya menangkap suara lelaki yang lagi-lagi bertahta dalam hatinya.
"Hallo Aya," sapa Ken dari seberang sana.
"Hallo Ken," jawab Senja.
"Tidak biasanya kamu menelfonku disiang hari Aya, ada apa? Kamu dan Rashya baik-baik saja, kan?" tanya Ken dengan cepat.
"Tidak."
"Apa yang terjadi Aya, cepat katakan!" kata Ken.
"Hatiku yang sedang tidak baik Ken," ucap Senja sambil tersenyum.
"Eh, ehm maksud kamu bagaimana Aya? Kamu sedang marah atau..."
"Tidak, bukan seperti itu," sahut Senja dengan cepat.
"Lalu?"
"Ken, aku..." Senja menggantungkan kalimatnya.
"Kamu kenapa Aya, bicara saja, ada apa?" tanya Ken.
"Sebenarnya aku ingin membicarakan hal penting Ken, apa tidak apa-apa kalau bicaranya lewat telfon?" jawab Senja balik bertanya.
"Tidak apa-apa, katakan saja Aya! Jangan membuatku penasaran," kata Ken.
"Bismillahirrahmanirrahim," batin Senja.
"Aku mau menikah denganmu Ken, aku bersedia menghabiskan sisa hidupku bersama kamu," ucap Senja sambil memejamkan matanya, semoga pilihannya ini tidak salah.
"Kamu, kamu serius Aya? Kamu tidak bercanda, kan? Yang kamu katakan ini benar kan, Aya?" tanya Ken dengan cepat.
Kala itu dia langsung beranjak dari duduknya, ia tersentak kaget saat mendengar ucapan Senja.
"Aku serius Ken, aku sudah memikirkannya dengan baik. Aku kembali mencintaimu, perasaan ini sama persis seperti perasaanku yang dulu. Tapi Ken, masih ada beberapa hal yang ingin kubicarakan denganmu, jika nanti kau mengunjungi Rashya, aku akan mengatakan apa yang masih mengganjal dihatiku," jawab Senja dengan panjang lebar.
"Aku akan kesana sekarang, tunggu aku Aya, aku akan datang menemuimu," kata Ken dengan tegas.
"Bukankah kau masih bekerja, Ken? Jangan terburu-buru, aku tidak akan kemana-mana," ucap Senja sambil tertawa renyah.
"Soal pekerjaan, masih ada esok hari Aya, masa depanku yang jauh lebih penting. Tunggu di sana ya, aku akan segera tiba," kata Ken.
"Baiklah kalau begitu, hati-hati ya."
"Iya, aku tutup ya."
"Iya."
Senja meletakkan ponselnya dengan senyuman yang terus mengembang di bibirnya. Cinta, ternyata cinta yang dulu sempat padam, kini kembali menyala dalam khalbunya. Senja berharap, semoga cintanya kali ini, tidak berakhir dengan air mata.
__ADS_1
Bersambung....