Kesucian Cinta Yang Ternoda

Kesucian Cinta Yang Ternoda
Kembali Seperti Dahulu


__ADS_3

Seorang lelaki paruh baya sedang melangkahkan kakinya menuju apartemen milik anaknya.


Beliau adalah Pak Hery, beliau sengaja datang ke apartemen ini, karena tahu bahwa Senja akan mengambil barang-barangnya.


Sesungguhnya beliau sangat menyayangkan sikap istrinya, namun beliau juga tak bisa berbuat banyak. Kehilangan Fajar membuat istrinya terpuruk dalam kesedihan, beliau tidak ingin menambah beban pikirannya.


Pak Hery membuka pintu apartemen, lalu melenggang masuk ke dalam. Beliau langsung berjalan menuju kamar Fajar, yang saat itu pintunya sedang terbuka.


Pak Hery berdiri di ambang pintu, beliau menatap Senja yang sedang memasukkan barang-barangnya ke dalam tas besar.


"Senja!" panggil Pak Hery.


Senja tersentak kaget, ia menoleh, dan menatap mertuanya.


"Papa." sapa Senja sambil mengusap matanya yang sembab.


"Boleh Papa masuk?" tanya Pak Hery.


"Silakan Pa." jawab Senja sambil tersenyum.


Pak Hery menghela nafas panjang, seraya melangkahkan kakinya, dan kemudian duduk di sofa.


"Senja!"


"Iya Pa."


"Maafkan sikap Mamamu, sebenarnya bukan seperti ini yang aku inginkan. Tapi aku juga tidak bisa berbuat banyak." kata Pak Hery.


"Tidak apa-apa Pa, Mama tidak salah. Sebelum itu aku memang berkeinginan untuk pergi. Aku tidak sanggup tinggal sendiri di sini, jadi aku memilih untuk pulang ke rumah Kakak. Di sana Kakak juga tinggal sendiri." jawab Senja sambil berusaha tersenyum.


"Kamu memang wanita yang tangguh. Senja, boleh Papa bertanya?" tanya Pak Hery.


"Silakan Pa."


"Maaf jika ini mengusik privasi kamu, tapi Papa hanya ingin tahu, karena bagaimanapun juga, Papa sudah menganggap kamu seperti anak sendiri. Siapa ayah dari bayi yang kamu kandung?" tanya Pak Hery.


Senja memejamkan matanya, pada masanya semua rahasia pasti akan terungkap. Lalu Senja membuka matanya, dan menghela nafas panjang. Ia menata hatinya sebelum menjawab pertanyaan mertuanya.


"Dia adalah Ken, Kenzo Antonio Putra." ucap Senja dengan pelan.


"Ken, anaknya Jeffry Antony?"


"Iya Pa." jawab Senja.


"Kamu mengenal dia?" tanya Pak Hery.


"Dulu kami berteman sejak SMA, dan kami juga pernah menjalin hubungan cukup lama. Maafkan aku Pa." jawab Senja sambil menunduk.


"Sudah jangan meminta maaf, Papa tahu bagaimana kesulitan kamu. Senja, terimalah ini! Semoga bisa membantu kebutuhan kamu di hari-hari nanti." kata Pak Hery sambil memberikan amplop coklat yang cukup tebal.


"Tidak Pa, aku tidak bisa menerimanya." jawab Senja sambil menggelengkan kepalanya.


"Senja, tolong terimalah! Bagaimanapun juga kamu masih istrinya Fajar. Papa masih punya kewajiban untuk membantu kebutuhan kamu." ucap Pak Hery.


"Maaf Pa, aku benar-benar tidak bisa. Aku masih punya Kak Alvin, dia yang akan membantuku Pa." kata Senja sambil menatap Pak Hery.

__ADS_1


"Senja, jangan menolak! Jika kamu masih menganggap Fajar itu suamimu, tolong terima ini!" ucap Pak Hery.


"Kalau soal Kak Fajar, dia masih tetap suamiku Pa, dulu, sekarang, dan juga nanti. Tapi aku benar-benar tidak bisa menerima ini, tolong jangan paksa aku Pa!" kata Senja.


"Apa sikap Mamamu, yang membuatmu menolaknya Senja?"


"Bukan Pa."


"Lalu?" tanya Pak Hery.


"Aku...aku..."


"Apa karena anak kamu?" tanya Pak Hery.


Senja tidak menjawab, ia hanya menunduk sambil menautkan jemari tangannya.


"Siapa pun ayahnya, Fajar sudah menerimanya. Dan sekarang kalian berpisah karena takdir, bukan karena perceraian. Kamu masih istrinya Fajar, tolong terima ini Senja." ucap Pak Hery sambil meletakkan amplop itu di samping Senja.


"Maaf Pa, aku benar-benar tidak bisa menerimanya. Tolong mengertilah Pa!" kata Senja sambil mengembalikan amplop itu.


"Aku senang Papa masih peduli padaku, tapi maaf aku...aku..." sambung Senja.


"Baiklah! Papa mengerti, tapi nanti jangan sungkan untuk menelfon Papa, jika kamu membutuhkan bantuan." ucap Pak Hery. Beliau menerima kembali amplop itu. Senja adalah wanita yang berbeda. Meskipun dia berasal dari keluarga sederhana, tapi dia tidak silau dengan harta. Dia lebih baik, daripada Adara.


"Kamu sudah selesai?" tanya Pak Hery mengalihkan pembicaraan.


"Tinggal sedikit Pa." jawab Senja sambil tersenyum.


"Kamu datang sendirian?"


"Tidak Pa, aku bersama Kak Alvin. Hanya saja sekarang dia sedang belanja." jawab Senja.


"Iya Pa." jawab Senja.


Pak Hery melangkah keluar, namun beliau tidak berjalan menjauh. Beliau berdiri di dekat pintu, menatap Senja yang sedang mengemasi barang-barangnya.


Pak Hery menghela nafas panjang, dadanya terasa sesak saat melihat Senja memasukkan semua foto pernikahannya. Lalu parfum, dan shampoo milik Fajar, dan Senja juga memasukkan beberapa helai baju yang biasa Fajar pakai.


"Aku tahu jauh di dalam hati kamu pasti sangat sakit nak. Senja kau adalah wanita tangguh, Papa yakin kau bisa melewati semua ini." ucap Pak Hery dalam hatinya.


Lalu Pak Hery berjalan menuju ruang tamu. Belum sempat Pak Hery sampai di ruang tamu, tiba-tiba pintu apartemen diketuk dari luar.


Pak Hery mempercepat langkahnya, dan kemudian membuka pintunya.


"Om Hery!" sapa Alvin.


"Iya." jawab Pak Hery sambil tersenyum.


"Sudah lama Om?" tanya Alvin sambil melangkah masuk.


"Tidak, baru beberapa menit yang lalu. Aku sengaja menemui Senja." jawab Pak Hery sambil duduk di sofa.


"Ada kepentingan, atau..."


"Tidak, hanya sekadar menemuinya. Katanya hari ini dia akan pindah, aku pikir mungkin butuh bantuan, ternyata dia sudah selesai mengemasi barang-barangnya." sahut Pak Hery.

__ADS_1


"Oh begitu."


Tak lama kemudian Senja keluar dari kamarnya, dan berjalan menuju ruang tamu sambil menenteng dua tas besar.


"Sudah semua Nja?" tanya Alvin sambil membantu membawakan tas milik Senja.


"Sudah."


"Kita pulang sekarang?"


"Iya." jawab Senja.


"Kalian langsung pulang?" tanya Pak Hery.


"Iya Pa." jawab Senja.


"Biar Papa antar ya?"


"Tidak perlu repot-repot Pa, kebetulan kita sudah menyewa taxi." jawab Senja sambil tersenyum.


"Oh begitu."


"Ya sudah kita pamit dulu ya Pa. Assalamu'alaikum." ucap Senja.


"Waalaikumsalam."


"Kami pergi dulu ya Om." ucap Alvin.


"Iya hati-hati." jawab Pak Hery sambil menatap kepergian mereka.


Senja berjalan di belakang Alvin, ia melangkah keluar dari apartemennya dengan hati yang sakit, dan sesak. Bukan karena apartemennya, melainkan karena seseorang yang pernah menghuni apartemen itu.


"Untuk selanjutnya aku tidak akan pernah datang kesini lagi Kak. Tapi percayalah, aku akan selalu mengingatmu. Aku tidak akan pernah bisa melupakan kenangan kita bersama. Aku akan kembali pada hidupku yang lama. Sendiri, dan hanya bersandar pada Kak Alvin seorang." batin Senja sambil terus berjalan meninggalkan apartemennya.


***


Di dalam sebuah ruangan yang cukup luas. Seorang lelaki sedang duduk di kursi kerjanya, sambil menghisap sebatang rokok yang baru saja disulutnya.


Fikirannya menerawang jauh, mengingat masa-masa yang telah lalu, entah masa yang indah, atau masa yang kelam. Dia adalah Ken, dia larut dalam kenangan yang pernah ia ukir bersama Senja. Saat mereka pacaran, juga saat mereka melakukan kesalahan dalam satu malam.


"Aya! Bagaimana kabarmu sekarang?" gumam Ken dengan pelan.


Terakhir kali ia menemui Senja, sewaktu dia masih dirawat di rumah sakit. Dan dia belum menemuinya lagi hingga hari ini.


"Fajar menitipkanmu padaku, tapi bagaimana dengan hatimu? Akankah nanti kau kembali membuka hati untukku? Akankah kita bisa kembali seperti dulu?


Tapi kenapa aku merasa ragu Aya." ucap Ken sambil menyandarkan punggungnya.


Ken menggenggam liontin kerang yang masih menggantung di lehernya. Dulu dia, dan Senja mengukir cerita yang begitu indah. Namun tanpa disangka, dan tanpa diduga ikatannya kandas hanya karena kesalah pahaman.


"Ya Allah aku sangat mencintai Aya, salahkah jika sekarang aku masih berharap untuk bisa memilikinya." ucap Ken dengan pelan.


Dulu dia sudah berusaha untuk mengikhlaskan Senja, karena dia pikir Senja sudah bahagia dengan pernikahannya. Namun tanpa ia duga, ternyata Senja menjalani pernikahan yang cukup pahit. Keadaan menguji mereka, dan menjerumuskan mereka dalam kesalahan yang fatal.


Setelah itu, rahasia Fajar terungkap, dan Senja meminta dirinya untuk melupakannya. Ken berusaha menghapus perasaannya, dan membuka hati untuk cinta yang baru. Namun lagi-lagi takdir berkata lain. Senja hamil, dan Fajar menitipkan Senja padanya. Dan selang beberapa hari, Fajar malah menghembuskan nafas terakhirnya. Apakah takdir memang sengaja menggariskan yang demikian?

__ADS_1


Mungkinkah Senja itu memang tulang rusuknya?


Bersambung.....


__ADS_2