
Di sebuah bangku panjang yang berada di teras rumahnya. Senja duduk sambil menatap tetesan gerimis yang jatuh membasahi bunga-bunga di halamannya. Di sampingnya, Ken sedang duduk sembari menyesap kopi hitam yang baru saja ia suguhkan.
Ken datang mengunjunginya sejak beberapa jam yang lalu, dan ia belum pulang hingga saat ini. Kala itu Alvin, dan Nina sedang pergi keluar.
"Makanlah buahnya Aya, kau mau jeruk, atau apel, biar aku kupaskan." ucap Ken sambil menatap Senja yang duduk tenang di sampingnya.
Memang sangat tenang, Senja sama sekali tidak bicara, dan juga tidak banyak bergerak.
"Aku masih kenyang Ken." jawab Senja sambil menatap Ken sekilas.
"Begitu ya." ucap Ken. Padahal kala itu, ia sangat berharap Senja mau memakan buah yang dibawanya.
Senja menunduk, matanya menatap sandal jepit yang melekat di kakinya. Semakin hari hubungannya dengan Ken semakin membaik. Namun bukan itu saja, kesalahan dimalam itu juga semakin terpatri erat dalam ingatannya. Kehadiran Ken memang selalu mengingatkannya pada luka lamanya.
"Aya!" panggil Ken.
"Hmmm."
"Sebenarnya makanan apa yang ingin kau makan? Katakan saja Aya, kau tahu aku sangat ingin membelikan sesuatu yang kau sukai. Tapi wanita hamil itu katanya berbeda, kesukaannya tidak sama seperti hari biasa. Jadi aku tidak bisa menebak apa yang kau inginkan, jadi tolong katakan Aya, agar aku bisa mengerti." kata Ken sambil menatap Senja lekat-lekat.
"Aku...aku..." ucap Senja dengan gugup, melihat raut wajah Ken yang memendam kecewaan, ia merasa sedikit bersalah.
"Katakan apa yang kau inginkan."
"Aku tidak menginginkan apa-apa Ken. Buah itu sebenarnya aku suka, hanya saja sekarang aku masih kenyang. Nanti aku akan memakannya." kata Senja sambil tersenyum.
"Kau tidak membohongiku Aya?"
"Tentu saja tidak, kau bisa menanyakannya pada Kak Alvin kalau tidak percaya. Setiap kali kau membawa buah, aku selalu memakannya." jawab Senja.
"Benarkah?" tanya Ken sambil menatap Senja lekat-lekat.
"Kau tidak percaya?" jawab Senja balik bertanya.
"Bukannya tidak percaya, hanya saja..."
"Baiklah, kalau begitu kupaskan jeruknya!" sahut Senja sambil menatap Ken.
"Jangan memaksakan diri Aya, jangan karena aku berbicara seperti itu, jadi kau mau memakannya." kata Ken sambil menggaruk kepalanya.
"Jangan kekanak-kanakan, kau membuatku dilema Ken." sahut Senja sambil tertawa renyah. Tingkah Ken sangat lucu menurutnya.
"Rasanya aku tidak percaya dengan hari ini Aya, kau tertawa dengan begitu renyahnya. Setelah kita berpisah, untuk pertama kalinya aku bisa membuatmu tertawa seperti ini. Semoga penantianku ini tidak sia-sia Aya." ucap Ken dalam hatinya.
__ADS_1
"Ken! Ken!" teriak Senja seraya tangannya mengguncang lengan Ken.
"Kenapa?"
"Kau diam saja, aku mengajakmu bicara, tapi kau tidak menjawab. Ada apa?" tanya Senja sambil menatap Ken.
"Tidak ada apa-apa, aku hanya memikirkanmu." jawab Ken sambil tersenyum, seraya jemarinya menggenggam tangan Senja yang sedang memegang lengannya.
"Aku senang bisa membuatmu tertawa Aya." ucap Ken dengan pelan. Ia menilik wajah Senja yang berada tepat di hadapannya.
Senja terdiam, jantungnya berdetak dengan cepat. Tatapan Ken kala itu, mengingatkannya pada masa lalu, masa dimana ia dan Ken saling mengisi hati masing-masing.
Senja menunduk, mencoba mengontrol detak jantungnya yang semakin tidak karuan. Ada apa dengan dirinya? Secepat itukah hatinya berubah haluan?
"Aya!" panggil Ken.
Senja tidak menjawab, namun ia mengangkat wajahnya, dan menatap Ken yang sedang tersenyum di depannya.
"Sekarang kau yang diam, kenapa? Kau memikirkan aku ya?" goda Ken.
Senja kembali menunduk, menyembunyikan pipinya yang mulai merona. Ken benar-benar tidak berubah, sejak dulu Ken sangat andal membuat dirinya tersipu malu.
"Kau benar-benar memikirkan aku ya?" goda Ken sambil tertawa, seraya tangannya menangkup pipi Senja, dan memaksa wanita itu untuk menatap matanya.
Belum sempat Senja menjawab ucapan Ken, tiba-tiba ada seseorang yang datang menghampiri mereka. Dia adalah Dika, entah sejak kapan dia datang. Ken, dan Senja sama sekali tidak menyadarinya.
Sontak Senja, dan Ken langsung menoleh. Senja menarik tangannya dengan cepat, dan kemudian beringsut sedikit menjauh. Sedangkan Ken, dia hanya tersenyum sambil menaikkan alisnya.
"Berani bersaing denganku, harus berani menerima kekalahan." batin Ken dalam hatinya.
"Kak Dika." sapa Senja.
Dika tidak menjawab, namun ia langsung mendaratkan pantatnya di bangku, di depan Ken dan Senja.
Dika duduk sambil melipat tangannya di dada, dengan sorot matanya yang tetap tajam.
"Dimana Alvin?" tanya Dika.
"Kak Alvin sedang keluar." jawab Senja.
"Kemana?"
"Belanja."
__ADS_1
"Apakah lama?" tanya Dika.
"Aku juga tidak tahu Kak." jawab Senja.
"Aku akan menunggunya." kata Dika sambil tersenyum miring.
Dan Senja menjawabnya hanya dengan anggukan.
"Senja, kau tidak membuatkan kopi untukku?" tanya Dika setelah hening dalam beberapa saat.
"Aku akan membuatnya." ucap Senja seraya beranjak dari duduknya. Lalu ia melangkah pergi meninggalkan Ken, dan Dika.
Kini hanya tinggal Ken, dan Dika yang duduk berhadapan, dan saling menatap tajam. Keduanya mengerti, jika masing-masing saling memendam rasa cemburu.
"Apa yang kau lakukan bersama Senja? Kau hanya masa lalunya, seharusnya kau tidak perlu hadir kembali dalam hidupnya!" kata Dika dengan tegas.
"Kau tidak berhak mengatakan hal itu padaku. Seharusnya kau yang pergi menjauh dari kehidupan Aya, karena masa depannya adalah aku." jawab Ken dengan santainya.
"Jangan terlalu percaya diri! Kau hanya masa lalunya, kau tidak punya hak apa-apa. Aku adalah sahabatnya Fajar, aku yang lebih berhak menjaga dia. Fajar akan lebih rela jika Senja bersamaku, bukan bersamamu!" bentak Dika sambil beranjak dari duduknya.
"Jangan membawa-bawa nama Fajar, karena kau akan kecewa jika tahu kenyataannya. Kau tahu, Fajar sudah menitipkan Aya padaku, dia percaya padaku untuk menjaga istrinya." ucap Ken sambil tersenyum.
"Kau jangan berbicara sembarangan, Fajar tidak mungkin melakukan hal itu!" bentak Dika.
"Mungkin, atau tidak mungkin tapi itulah kenyataannya. Terima atau tidak terima, masa depan Aya adalah diriku, bukan dirimu." kata Ken masih dengan nada yang santai.
"Jangan bermimpi terlalu tinggi, akan sangat sakit jika kenyataan tak sesuai dengan mimpimu." ucap Dika sambil memicingkan matanya.
"Begitukah?"
"Senja sedang hamil, Tante Rani tidak akan setuju jika cucunya punya ayah tiri seperti kau. Karena aku juga tahu, bagaimana buruknya hubungan keluarga kalian. Tapi, Tante Rani akan sangat mendukung, jika aku yang menjadi ayah tirinya, karena aku adalah sahabat anaknya. Dan asal kau tahu, Senja masih sangat mencintai Fajar. Dia akan mendengarkan apa yang dikatakan mertuanya. Kau sama sekali tidak memiliki kesempatan!" kata Dika dengan senyum penuh kemenangan.
Ken semakin melebarkan senyumannya, lalu ia beranjak dari duduknya, dan melangkah mendekati Dika.
"Teorimu sangat masuk akal, tapi bagaimana jika ternyata yang dikandung Senja itu adalah anakku. Kau ada jawaban?" bisik Ken tepat di telinga Dika.
"Kau pikir aku akan percaya dengan trik kotormu. Aku tidak sebodoh itu!" geram Dika.
"Aku tidak memaksamu untuk percaya, karena hal itu sangat tidak penting bagiku. Kau lihat saja nanti, bila anak itu lahir, dia akan menyandang nama Antony, bukan Mahardika." ucap Ken sambil tersenyum miring.
Tubuh Dika seakan membeku saat itu juga. Senja hamil anaknya Ken, bagiamana mungkin bisa seperti ini? Apa yang sebenarnya terjadi?
"Kak ini kopinya." ucap Senja yang tiba-tiba saja sudah berdiri di belakang mereka.
__ADS_1
Mau tidak mau, Ken dan Dika langsung menghentikan pembicaraannya.
Bersambung.....