
"Dokter!" panggil Senja, karena Arrion masih belum menjawab pertanyaannya.
"Yang penting kita berusaha, dan berdoa, untuk hasilnya kita serahkan kepada Allah, itu akan lebih baik." jawab Arrion sambil menatap Senja sekilas.
"Semoga kamu paham dengan maksudku." batin Arrion.
Senja tak menjawab ucapan Arrion, sedikit banyak ia paham dengan ucapannya. Senja menatap jemari pucat yang ada dalam genggamannya, buliran air mata kembali berderaian membasahi pipinya.
"Kamu lelaki hebat Kak, aku yakin kamu pasti bisa bertahan. Maafkan aku yang telah menodai cinta tulusmu, tapi tolong, jangan hukum aku dengan cara seperti ini Kak. Aku tidak tahu bagaimana caranya melangkah, jika tidak ada kamu yang menunutunku. Bangun Kak, aku merindukan senyuman kamu." ucap Senja dalam hatinya.
Tak berapa lama kemudian, Senja dan Arrion dikejutkan oleh garis gelombang hijau di monitor yang mulai bergerak lurus. Dengan cepat Arrion langsung beranjak dari tempatnya.
"Tolong keluar dulu Senja, aku akan memeriksa keadaan Fajar!" kata Arrion dengan cepat, lalu ia bergegas mempersiapkan alat-alatnya.
"Baik!" jawab Senja sambil beranjak dari duduknya, dan kemudian melangkah keluar ruangan.
"Semoga Kak Fajar baik-baik saja, Ya Allah tolong selamatkanlah Kak Fajar." batin Senja sambil menutup pintu ruangan.
Senja duduk di kursi tunggu sambil menunduk. Air matanya kembali menitik tanpa permisi, bibirnya tak henti-hentinya melantunkan doa untuk suaminya.
Disaat Senja sedang larut dalam kesedihannya, tiba-tiba seorang lelaki datang memanggil namanya.
"Senja!" panggil Alvin sambil melangkah menghampiri Senja, dan duduk disebelahnya.
Senja mengangkat wajahnya, ia menoleh dan menatap Kakaknya.
"Kak Fajar Kak!" kata Senja dengan tangis yang semakin pecah.
Alvin meraih tubuh adiknya, ia merangkulnya dengan erat sambil mengusap-usap lengannya.
"Jangan menangis! Tenangkan hati kamu, dan doakan dia. Memohonlah pada Sang Pencipta, semoga memberikan keselamatan untuk Fajar." ucap Alvin dengan pelan.
"Kak Fajar kritis Kak, bahkan dokter saja tidak bisa mengira kapan dia akan sadar." jawab Senja sambil tetap terisak.
"Kamu yang sabar ya. Dokter itu hanya manusia biasa, serahkan saja semuanya kepada Allah. Tabahkanlah hati kamu, berdoalah untuk Fajar, itu lebih baik daripada menangis seperti ini Senja." kata Alvin sambil menyeka air mata Senja.
Senja mengangguk, kemudian ia melepaskan rangkulan Alvin. Senja mengusap sisa-sisa air matanya, dan kemudian ia beranjak dari duduknya.
"Kak Alvin benar, aku akan ke masjid sekarang Kak." ucap Senja dengan pelan.
"Itu bagus. Ingat Senja, jangan memaksakan apa yang kamu inginkan. Percayakan saja semuanya kepada Allah. Memohon sesutu memang boleh, tapi ingat Allah yang lebih tahu apa yang baik untuk kita. Jangan mengeluh saat doamu belum dikabulkan. Yakinlah, apapun yang Allah gariskan untuk kita, itulah yang terbaik." kata Alvin sambil menepuk bahu Senja.
"Aku mengerti Kak." jawab Senja.
"Aku memang mengerti apa yang kau maksudkan Kak. Tapi hatiku ini yang menolak untuk mengerti. Meski aku tahu takdir Tuhan selalu indah, tapi aku tetap menginginkan Kak Fajar tetap di sampingku hingga nanti. Jika saja boleh memilih, aku rebih rela tiada terlebih dahulu, agar aku tidak usah merasakan sakitnya kehilangan." batin Senja sambil melangkah meninggalkan Alvin.
Senja terus berjalan menuju masjid yang berada di area rumah sakit.
__ADS_1
Senja mengambil air wudhlu, dan kemudian masuk ke dalam masjid, kebetulan kala itu sudah masuk waktu Ashar.
Senja meraih mukenah yang ada di sana, kemudian ia memakainya, dan mulai menghadap pada Sang Penciptanya.
Beberapa menit kemudian, Senja sudah menyelesaikan shalatnya. Ia duduk bersimpuh sambil menengadahkan kedua tangannya. Air mata perlahan mulai menetes dari sudut matanya, membasahi mukenah putih yang membalut tubuhnya.
"Ya Allah ampunilah semua dosa-dosaku, dan juga dosa-dosa suamiku. Ampuni hamba yang telah menodai pernikahan ini dengan sesuatu yang hina. Dan ampuni juga kesalahan suami hamba dimasa lalu. Ya Allah tolong sembuhkanlah Kak Fajar, selamatkan dia, dan izinkanlah kami kembali bersama. Berikanlah kami waktu untuk memperbaiki semua kesalahan yang pernah kami lakukan. Hamba mohon Ya Allah, hamba mohon izinkanlah Kak Fajar untuk tetap menuntun hamba." ucap Senja disela-sela tangisnya.
Senja mengusap wajahnya, dan kemudian ia tertunduk lesu. Kesalahan satu malam yang pernah ia lakukan, terlintas begitu saja dalam ingatannya. Rasa sakit, dan sesak mulai berkecamuk dalam hatinya.
Senja memejamkan matanya sambil memegangi dadanya. Ia sangat menyesali kekhilafannya, namun semua itu kini telah percuma. Segalanya sudah terjadi, dan waktu tak mungkin bisa diputar kembali.
Beberapa menit kemudian, Senja beranjak dari duduknya. Ia melepas mukenahnya, dan meletakkan kembali di tempatnya. Perlahan ia melangkah keluar dari masjid, dan kembali menuju ke ruang ICU.
Setelah berdoa, dan berkeluh kesah kepada Sang Pencipta, hati Senja sedikit lebih tenang.
***
Tiada guna tulusnya cinta
Tiada arti murninya janji
Kala rasa telah ternoda
Kala hati telah dikhianati
Berbalut luka berlumur duka
Tiada lagi berkata
Habis bait tuk lukiskan rasa
Cukup diam dalam kecewa
Menunggu takdir berbicara
Fajar Mahardika
***
Jarum jam sudah menunjukkan pukul 10.00 siang. Alvin, dan Senja masih duduk bersama di kursi, di depan ruang ICU. Sesekali mereka masuk bergantian untuk menemani Fajar. Sejak kemarin Fajar belum juga sadar, bahkan keadaannya semakin memburuk. Detak jantungnya jauh lebih lemah, daripada kemarin.
Senja masih terus menangis, bahkan sejak kemarin ia belum tidur, dan juga belum makan. Berkali-kali Alvin membujuknya untuk mengisi perutnya, namun ia selalu saja menolak.
"Senja ini sudah siang, aku belikan sarapan ya." kata Alvin sambil menatap adiknya.
"Aku belum lapar Kak." jawab Senja.
__ADS_1
"Tapi kamu belum makan Nja. Boleh saja kamu tidak lapar, tapi fikirkan bayi kamu. Dia butuh makanan, kamu ingin dia baik-baik saja kan?"
"Aku...aku..."
"Sudah, diam di sini aku akan membelikan sarapan untukmu. Lapar atau tidak lapar, kau harus makan Senja!" kata Alvin dengan tegas. Kali ini ia tak menerima penolakan dari adiknya.
"Baiklah Kak." jawab Senja mengalah.
Alvin beranjak dari duduknya, namun belum sempat ia melangkah, tiba-tiba Bu Rani, dan Pak Hery datang menghampiri mereka. Mereka datang sedikit terlambat, karena kemarin mereka masih berada di Medan.
Dan Farah, ia sedang berada di rumah mertuanya yang juga di luar kota, dan kemarin nomornya tidak bisa dihubungi. Hingga sampai saat ini, ia belum mendengar kabar tentang kakaknya.
"Mama!" sapa Senja dengan jantung yang berdetak cepat. Tidak lama lagi semuanya akan terungkap. Bagaimana reaksi mereka saat tahu penyakit apa yang diderita Fajar.
"Apa yang terjadi dengan Fajar, kenapa dia tiba-tiba kritis?" tanya Bu Rani dengan nada yang sedikit tinggi.
"Ma, tenang!" ucap Pak Hery pada istrinya.
Senja menghela nafas panjang, ia paham bagimana perasaan Bu Rani. Ia pasti sangat panik, dan khawatir saat mendengar kabar bahwa anaknya kritis, karena selama ini anaknya terlihat baik-baik saja.
"Kak Fajar sakit Ma." jawab Senja dengan pelan.
"Sakit apa dia, sekarang bagaimana keadaannya?" tanya Bu Rani.
Belum sempat Senja menjawab pertanyaan Bu Rani, tiba-tiba pintu ruangan terbuka. Arrion tampak berdiri di sana, sambil mengusap wajahnya yang berkeringat.
"Dokter, sakit apa anak saya, dan bagaimana keadaanya? Bolehkah saya melihatnya dokter?" tanya Bu Rani dengan cepat, seraya beliau melangkah mendekati Arrion.
"Anda boleh melihatnya, tapi bergantian, jangan masuk bersama. Sebenarnya anak Ibu menderita..." Arrion masih menggantungkan kalimatnya. Ia melirik Senja, dan kemudian menghela nafas panjang. Jika ia mengatakan yang sebenarnya, pasti kesalahan Senja akan terungkap. Tapi jika tidak mengatakannya dengan jujur, itu juga tidak mungkin. Sebagai orang tua mereka juga berhak tahu apa yang terjadi pada anaknya.
"Ada apa dengan Fajar dokter? Sakit apa anak saya? Katakan dokter!" kata Bu Rani dengan cepat.
"Anak Ibu menderita HIV AIDS, sekarang keadaannya kritis, dia sudah stadium akhir." jawab Arrion dengan tegas.
"Maafkan aku Senja, aku harus mengatakan kebenarannya. Sebagai dokter yang menanganinya, aku tidak mungkin merahasiakan semua ini selamanya." batin Arrion sambil melirik Senja.
"Apa!!" teriak Bu Rani, dan Pak Hery secara bersamaan.
Mereka benar-benar kaget mendengar jawaban, yang baru saja Arrion lontarkan.
"Tapi selama ini Fajar sehat, mana mungkin dia menderita penyakit itu. Katakan jika ini semua hanya kesalahan dokter! Ini tidak benar kan dokter!" teriak Bu Rani sambil memegangi dadanya.
"Maaf Bu semua ini benar. Fajar sudah lama menderita penyakit itu." jawab Arrion sambil menatap Bu Rani.
"Tidak mungkin! Ini tidak mungkin!" teriak Bu Rani dengan suara yang lebih keras.
Bersambung.....
__ADS_1