
Ken dan Senja masih tetap berjalan di antara kerumunan orang-orang. Mereka tak menyadari tatapan kebencian dari seseorang yang hadir di dekatnya. Dengan senyuman lebar yang terus mengembang di bibirnya, Ken dan Senja berjalan mendekati Dika dan Anna.
"Selamat ya Dik, aku turut berbahagia atas pernikahan kamu. Anna adalah wanita yang baik, dia sangat cocok menjadi pendamping hidupmu," ucap Ken sambil merangkul Dika.
"Terima kasih, aku senang hubungan kita semakin membaik," jawab Dika sambil menepuk punggung Ken dengan pelan.
"Anna, selamat ya. Aku senang, akhirnya kau bisa menikah dengan orang yang tepat. Semoga rumah tangga kalian, selalu diberi kelancaran dan kemudahan. Semoga kalian selalu bahagia," ucap Ken sambil menyalami Anna.
"Terima kasih Pak, saya sangat senang Anda berkenan hadir di acara kami. Saya juga minta maaf, setelah ini saya tidak bisa membantu pekerjaan Anda. Tapi saya tidak akan melupakan kebaikan Anda, Pak Kenzo adalah atasan terbaik yang pernah saya temui," kata Anna sambil tersenyum.
"Tidak perlu meminta maaf, ini adalah pilihan yang terbaik. Meninggalkan pekerjaan demi rumah tangga, bukanlah sesuatu yang salah, justru merupakan pemikiran yang sangat bijak. Kau luar biasa," ucap Ken.
"Terima kasih, Pak."
"Kak Dika, selamat ya. Aku sangat bahagia, akhirnya Kak Dika menemukan cinta yang sebenarnya. Semoga pernikahan ini, menjadi awal yang indah bagi Kak Dika. Maaf, selama ini ada banyak hal yang kulakukan, yang tidak mengenakkan hati Kak Dika. Aku benar-benar minta maaf," ucap Senja sambil menatap Dika.
"Tidak perlu meminta maaf, sekarang aku tahu, soal hati memang tidak bisa dipaksakan. Setiap insan sudah memiliki takdir masing-masing, dan takdirku ternyata adalah Anna. Hal ini membuatku sangat bahagia," jawab Dika sambil tersenyum.
"Aku juga turut bahagia."
"Anna, selamat ya. Aku ikut senang atas pernikahan kalian," ucap Senja sambil merangkul Anna dengan erat.
"Terima kasih ya Mbak, sudah berkenan hadir di hari bahagiaku. Semoga kedepannya, kita bisa menjadi teman," kata Anna.
"Bukankah dari sekarang kita sudah berteman?"
"Emm iya, kamu benar Mbak," sahut Anna sambil tertawa, dan Senja, ia juga ikut tertawa.
"Oh ya, apa Kak Alvin belum datang?" tanya Senja sambil menatap Dika dan Anna.
"Sudah tadi, mungkin dia sedang menyapa yang lainnya." Jawab Dika.
"Oh begitu ya."
"Ayo kita mencarinya, Aya!" ajak Ken.
"Ayo!"
"Kita mencari Kak Alvin dulu ya, sekali lagi selamat untuk kalian," pamit Ken kepada Dika dan Anna. Ia sengaja menjauh, karena banyak tamu lain yang menghampiri mereka, hendak memberikan ucapan selamat.
"Iya, terima kasih." Jawab Dika dan Anna secara bersamaan.
Ken dan Senja melangkah kesana kemari, mencari keberadaan Alvin. Dan tak lama kemudian, mereka menemukan Alvin sedang berbincang di sudut ruangan.
Mata Senja berbinar senang, kala menatap Alvin, dan Nina, karena memang cukup lama mereka tidak bersua.
"Kak Alvin, Nina!" teriak Senja sambil mendekati mereka.
"Hai Nja, apa kabar? Lama kita tidak
bertemu, bagaimana bulan madunya?" tanya Nina menggoda Senja.
"Apa sih Nin, tidak usah bertanya-tanya, kamu sudah pernah," sahut Senja sambil tertawa.
"Sialan kamu." Ucap Nina.
__ADS_1
"Dia apa kabar, sehat-sehat saja kan?" tanya Senja sambil mengusap perut Nina yang mulai membuncit, saat ini kandungannya sudah menginjak usia lima bulan.
"Alhamdulillah Nja, sehat. Dia juga tidak rewel, aku sudah tidak sabar menantikan kehadirannya." Jawab Nina.
"Syukurlah, aku ikut senang mendengarnya."
"Oh ya, di mana Rashya?" tanya Nina sambil menatap Senja dan Ken, dia antara keduanya, tidak ada yang menggendong Rashya.
"Dia di rumah sama Papa dan Mama." Jawab Senja.
"Hmmm dasar pengantin baru, anaknya apa kata mertua," goda Nina sambil tertawa.
"Ramai Nin, dan kita nanti juga pulang malam, kasihan kalau dia ikut." Sahut Senja dengan cepat.
Nina menanggapinya hanya dengan tertawa keras.
"Kak Alvin, lama tidak bertemu," ucap Senja sambil memeluk kakaknya.
"Dasar manja, ada suamimu tuh, malu," kata Alvin sambil mengusap-usap rambut Senja.
Adiknya ini masih tidak berubah, tetap manja seperti dahulu. Tak peduli sudah menikah, atau bahkan sudah menjadi ibu, Senja masih saja bersikap manja padanya.
Ken tersenyum lebar, ia merasa lucu melihat tingkah istrinya yang kekanak-kanakan.
"Bagaimana kabarnya, Kak?" tanya Ken saat Senja sudah melepaskan pelukannya.
"Alhamdulillah baik." Jawab Alvin.
"Syukurlah." Sahut Ken.
"Bagaimana kabar Om Jeffry, dan Tante Ratih, sehat kan?" tanya Alvin.
Cukup lama mereka berbincang bersama-sama. Setelah itu, Ken pamit pergi menyapa rekan bisnisnya yang berada di sudut yang berbeda. Senja menunggu di tempat Alvin, dan Nina.
"Kau yakin akan menunggu di sini, Aya?" tanya Ken sebelum ia melangkah pergi.
"Iya, aku terlalu bosan kalau berbicara tentang bisnis, Ken. Lebih baik aku di sini saja, berbincang sama Kakak dan Nina." Jawab Senja.
"Baiklah kalau begitu, nanti kalau mau menyusul, langsung saja ke sana. Aku hanya menyapa mereka, tidak kemana-mana," ucap Ken sambil menunjuk ke arah depan.
"Iya." Jawab Senja.
Kemudian Ken melangkah pergi, meninggalkan Senja dan kedua kakaknya. Ia berjalan menuju sudut ruangan, ke tempat rekan bisnisnya berkumpul.
Setelah Ken pergi, Senja kembali bercanda bersama Alvin dan Nina.
Lima belas menit kemudian, Vicky dan Gerry datang menghampiri mereka.
"Hai Vin, sudah lama?" tanya Gerry sambil menepuk bahu Alvin.
"Lumayan, kalian baru datang?" Alvin balik bertanya.
"Iya, menunggu dia nih. Mandinya kayak perawan, sewindu belum kelar," jawab Gerry sambil menunjuk Vicky.
"Dibelain mandi lama saja masih jomblo, lihat tuh sekarang Dika sudah sold out, Alvin sebentar lagi jadi bapak, tinggal kita berdua. Harus usaha lebih maksimal, memangnya kamu mau, jadi bujang lapuk?" sahut Vicky sambil tertawa lebar.
__ADS_1
"Justru mandi lama itu wanita malah menjauh, memangnya kamu pikir wanita itu makhluk yang penyabar? Bayangin ya, si doi ngajak belanja, terus kamu mandinya seabad, hemm siap-siap saja mendengarkan omelannya yang tembus tujuh hari tujuh malam," kata Gerry.
"Daripada ribut terus, mumpung banyak orang nih, cepat sana cari satu cewek yang menarik hati kalian. Setelah itu tembak, lamar, ajak nikah, kelar kan? Kenapa harus dibuat rumit?" sahut Alvin sambil tersenyum miring.
"Hemm belagu dia, mentang-mentang sekarang sudah jadi bini. Lupa ya kalau dulu selalu keringetan, setiap kali ditelfon sama Nina?" goda Gerry.
"Mana ada, tidak pernah!" sahut Alvin.
Senja ikut tertawa mendengarkan perbincangan mereka, namun ia merasa kurang nyaman, karena tidak bisa berbicara dengan leluasa bersama Nina.
Lalu Senja memutuskan untuk menyusul Ken.
"Kak, aku mau ke tempat Ken!" ucap Senja sambil menatap Alvin.
"Iya, hati-hati," jawab Alvin, dan Senja menanggapinya dengan anggukan.
"Nin aku ke sana dulu ya. Kak Vicky, Kak Gerry aku duluan," kata Senja.
"Iya, salam ya buat Ken," jawab Gerry.
"Iya."
Lalu Senja melangkah pergi, meninggalkan kakaknya. Ia berjalan sambil menatap Ken yang sedang berbincang bersama rekannya.
Belum sempat Senja sampai di tempat Ken, tiba-tiba ada pelayan yang menabraknya. Segelas minuman hangat tumpah membasahi gaunnya.
"Maaf Nona, saya benar-benar minta maaf, saya tidak sengaja Nona, mohon maafkan saya," kata pelayan itu dengan penuh penyesalan.
Senja tersenyum, sambil mengusap-usap gaunnya yang basah, dan sedikit lengket.
"Tidak apa-apa, ini bisa dibersihkan." Jawab Senja.
"Saya benar-benar minta maaf, ya."
"Sudahlah, tidak apa-apa." Jawab Senja sambil tetap tersenyum.
Sekitar setengah jam kemudian, Ken menjauh dari rekannya. Ia kembali ke tempat Alvin, untuk menemui istrinya. Sebelum tiba di sana, Ken sempat mengambil dua gelas minuman. Ia membawanya, dan akan memberikannya kepada Senja.
"Aya mana, Kak?" tanya Ken setelah ia tiba di hadapan Alvin.
Alvin tampak mengernyitkan keningnya, ia menatap Ken lekat-lekat.
"Bukannya tadi dia menyusulmu?" Alvin balik bertanya.
"Menyusulku?"
"Iya, sudah cukup lama, sekitar setengah jam yang lalu." Jawab Alvin.
"Tapi, tapi Aya sama sekali tidak menemuiku Kak," ucap Ken dengan jantung yang mulai berdetak cepat. Kemana istrinya?
"Kamu serius?" tanya Alvin dengan cepat.
"Iya."
"Lalu kemana dia?" tanya Alvin.
__ADS_1
"Aku akan mencarinya." Jawab Ken dengan tegas.
Dengan cepat Ken melangkahkan kakinya, untuk mencari istrinya.