Kesucian Cinta Yang Ternoda

Kesucian Cinta Yang Ternoda
Mengatakan Kebenaran


__ADS_3

"Ma tenang Ma, jangan berteriak seperti ini. Mama harus tenang, kita hadapi semua ini dengan tabah. Sabar Ma, tenangkan fikiran Mama." kata Pak Hery menenangkan istrinya yang berteriak, dan menangis histeris.


"Tapi Pa..."


"Papa benar Ma, Mama harus tenang. Kita berdoa bersama-sama ya Ma, semoga Kak Fajar baik-baik saja." ucap Senja ikut menenangkan Ibu mertuanya.


Mendengar suara Senja, Bu Rani langsung tersentak kaget. Beliau mengangkat wajahnya, dan menatap Senja dengan tajam.


"Semua ini pasti gara-gara kamu! Kamu kan yang menularkan penyakit laknat itu kepada Fajar! Selama ini kamu pasti mencari uang dengan melayani tamu-tamu yang datang di klub sampah, milik Kakak kamu itu! Fajar benar-benar sial telah menikah dengan kamu, seharusnya dia memilih Adara. Fajar pasti bahagia jika menikah dengan Adara!" teriak Bu Rani sambil menunjuk-nunjuk muka Senja.


"Ma cukup! Jaga ucapan Mama." kata Pak Hery sambil menatap istrinya.


"Diam Mas, apa kamu rela melihat Fajar menderita gara-gara dia." jawab Bu Rani.


"Sekarang aku tahu kenapa kandungan kamu tidak subur, dan butuh waktu yang lama untuk hamil. Karena kamu memang wanita malam, kamu wanita murahan. Kamu benar-benar tidak pantas untuk Fajar. Kamu..."


"Cukup!" bentak Alvin memotong ucapan Bu Rani.


Ia melangkah maju, dan berhenti tepat di hadapan Bu Rani. Alvin tampak mengepalkan tangannya, dan dadanya naik turun menahan emosi.


"Jangan pernah menjelekkan masa lalu Senja, dia adalah gadis baik-baik. Jika Tante Rani ingin tahu yang sebenarnya, aku bisa mengatakannya. Fajar mendapatkan penyakit itu dari Adara, wanita yang selama ini selalu Tante sanjung. Dan Adara sudah meninggal satu setengah tahun yang lalu, dia meninggal karena penyakit HIV." kata Alvin dengan tatapan tajamnya.


"Itu tidak mungkin, Fajar lelaki baik-baik, pergaulannya tidak akan sebebas itu." jawab Bu Rani.


"Itu adalah kenyataannya Tante, jika Tante tidak percaya padaku, tanyakan saja pada dokter yang menanganinya." kata Alvin sambil memicingkan matanya.


"Maaf Bu Rani, apa yang dikatakan Pak Alvin itu memang benar. Pak Fajar mendapatkan penyakit itu dari Adara, dan Adara sudah tiada sejak satu setengah tahun yang lalu. Kebetulan Adara juga pasien saya." sahut Arrion sambil mengusap wajahnya.


"Penyakit Kak Fajar sudah terungkap, tidak lama lagi rahasia kehamilanku juga akan terungkap. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan nantinya." ucap Senja dalam hatinya.


"Tapi ini tidak mungkin." ucap Bu Rani sambil menutup mulutnya, beliau terus menangis, meratapi nasib anaknya.


"Ma tenang Ma. Sabar ya, kita doakan Fajar, semoga Allah memberikan kesembuhan untuk dia." kata Pak Hery sambil mengusap-usap lengan istrinya.


Untuk beberapa menit lamanya mereka saling diam, tidak ada yang bersuara. Hanya tangisan Bu Rani yang terdengar di telinga mereka.


"Senja!" panggil Pak Hery dengan tiba-tiba.


"Iya Pa." jawab Senja.

__ADS_1


"Sejak kapan kamu tahu kalau Fajar menderita HIV? Dan bagaimana keadaan kamu sekarang, apakah kamu sudah pernah periksa?" tanya Pak Hery sambil menatap Senja.


Bu Rani tersentak kaget, pertanyaan Pak Hery begitu mengejutkannya. Beliau tersadar akan beberapa kemungkinan buruk yang bisa saja terjadi.


"Cucuku, bagaimana keadaan cucuku. Dokter cucuku baik-baik saja kan dokter!" teriak Bu Rani disela-sela isakannya.


Arrion tidak menjawab, dia hanya menatap Senja. Seolah ia menyuruh Senja untuk menjawab pertanyaan Bu Rani.


Senja memajamkan matanya sambil menunduk, hatinya kembali sesak mengingat kenyataan yang terjadi pada dirinya, suaminya, dan juga pernikahannya.


"Senja!" panggil Pak Hery, karena Senja masih diam untuk beberapa saat lamanya.


"Aku baik-baik saja Pa." jawab Senja dengan sangat pelan.


"Kamu sudah pernah periksa?" tanya Pak Hery.


Senja ragu untuk mengangguk, tapi ia juga tidak berani untuk menggeleng. Dan dia hanya diam mematung di tempatnya.


"Senja! Kenapa kamu diam, jawab pertanyaan Papa kamu!" sahut Bu Rani dengan nada tinggi. Beliau sudah tidak sabar untuk mendengar jawaban dari mulut Senja, beliau sangat takut jika cucunya juga terancam.


"Aku...aku..."


"Jaga ucapan Anda Tante! Jangan merendahkan Senja hanya demi membela Fajar!" bentak Alvin.


"Tapi itu masuk akal, karena klub malam itu dunia bebas. Sedangkan Fajar dan Adara, mereka terlahir di tengah keluarga yang terhormat. Mereka pasti menjaga pergaulannya, karena mereka memiliki martabat!" kata Bu Rani dengan nada tinggi.


Karena kenyataan yang terlalu mengguncang jiwanya, beliau tak bisa lagi mengendalikan emosinya.


"Cukup! Cukup Tante! Jangan menjadikan harta sebagai tolak ukur pada akhlak seseorang. Aku tahu aku miskin, dan tidak kaya seperti kalian, tapi aku juga punya keyakinan, dan pendirian.


Jangan pernah sekalipun mengatakan Senja yang penyakitan, karena faktanya Fajar lah yang mengidap penyakit itu. Jika kalian tidak percaya, suruh dokter memeriksanya, aku pastikan hasilnya akan negatif." ucap Alvin dengan penuh emosi. Ia benar-benar marah saat Senja dituduh menularkan penyakitnya.


"Cukup! Sudah jangan saling berteriak. Kita tenangkan fikiran masing-masing, dan kita doakan Fajar, itu akan lebih baik." kata Pak hery menengahi.


"Tapi Mas..."


"Ma apa kamu tidak ingin melihat Fajar, apa kamu lebih suka berteriak di sini, daripada melihat anakmu." sahut Pak Hery dengan cepat.


"Aku...aku akan melihatnya Mas. Dokter boleh saya masuk?" kata Bu Rani.

__ADS_1


"Silakan!" jawab Arrion sambil membukakan pintu ruangan. Dan Bu Rani langsung melenggang masuk ke dalam.


"Dokter kapan kira-kira Fajar akan sadar?" tanya Pak Hery pada Arrion.


"Maaf Pak saya tidak bisa memberikan kepastian. Tapi yang jelas saya akan berusaha semaksimal mungkin. Untuk hasilnya, kita serahkan saja kepada Allah." jawab Arrion sambil menghela nafas panjang.


"Dokter bilang Fajar sudah stadium akhir, kira-kira sejak kapan dia terjangkit virus itu dokter?" tanya Pak Hery.


"Menurut pemeriksaan saya, Fajar terjangkit virus itu sekitar 6 tahun yang lalu. Hanya saja Fajar terlambat menyadarinya. Dia mulai berobat sekitar satu setengah tahun yang lalu, dan saat itu sudah stadium akhir. Andai saja dia menyadari hal ini lebih awal, dan segera mendapatkan penanganan medis. Virus itu tidak akan berkembang secepat ini." jawab Arrion menjelaskan.


"Satu setengah tahun yang lalu, berarti hampir bersamaan dengan hari pernikahannya." gumam Pak Hery dengan pelan.


"Betul Pak, Fajar menyadari penyakitnya setelah Adara meninggal. Dan itu terjadi dua hari setelah dia menikah." ucap Arrion.


"Ohh tidak, aku benar-benar tidak menyangka!


Senja sejak kapan kamu tahu Fajar sakit HIV? Aku benar-benar kagum padamu, kamu bisa menerima kekurangan yang ada dalam diri Fajar. Bahkan kamu berani mengambil resiko dengan mengandung anaknya. Kamu istri yang luar biasa Senja." kata Pak Hery sambil memegang bahu Senja.


Senja menunduk sambil menangis, ia malu berhadapan dengan Ayah mertuanya. Beliau percaya padanya, dan bahkan memujinya. Padahal dirinya sangat hina, dirinya sangat tidak pantas untuk mendapatkan pujian.


"Aku juga baru tahu Pa, aku tahu sakitnya Kak Fajar sekitar satu bulan yang lalu." ucap Senja dengan pelan.


"Biarlah semua terungkap, aku tidak bisa menyembunyikan semua ini selamanya. Apapun yang terjadi nanti, aku harus terima. Itu adalah resiko dari perbuatan yang telah aku lakukan." batin Senja sambil menggigit bibirnya.


"Satu bulan yang lalu. Jadi selama ini kalian tidak berusaha melakukan pencegahan? Fajar sudah stadium akhir, itu sangat berbahaya, virusnya pasti sudah menyebar dalam darahnya. Dokter tolong periksa Senja, tolong pastikan jika dia baik-baik saja." kata Pak Hery dengan panik.


"Tidak Pa." sahut Senja sambil menggeleng.


Alvin menatap mereka sambil mengacak rambutnya dengan kasar. Seprtinya semuanya akan terungkap detik ini juga, fikir Alvin kala itu.


"Apa maksud kamu Senja, jangan takut ini demi keselamatan kamu." ucap Pak Hery sambil menatap Senja.


"Maafkan aku Pa, tapi Kak Fajar tidak pernah menyentuhku." ucap Senja sambil menangis, ia memejamkan matanya, ia siap menerima tamparan ataupun amukan dari ayah mertuanya.


"Apa maksud kamu Senja?" tanya Pak Hery dengan tegas.


"Kak Fajar tidak pernah menyentuhku, dan tidak pernah memberikan alasan yang jelas. Kak Fajar tidak pernah mengatakan tentang penyakitnya, jadi aku tidak tahu apa yang terjadi padanya, malah aku berfikir yang macam-macam tentangnya. Sedangkan disisi lain, aku sangat menginginkan anak, aku hamil tidak dengan Kak Fajar Pa." jawab Senja menjelaskan.


"Apa!!" teriak Bu Rani yang saat itu baru saja keluar dari ruangan.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2