Kesucian Cinta Yang Ternoda

Kesucian Cinta Yang Ternoda
Melepas Kepergianmu


__ADS_3

Malam yang dingin, dan mencekam. Hujan turun dengan derasnya, diiringi guntur yang sesekali menyambar memekakkan telinga. Tak ada bulan, dan tak ada bintang. Angkasa raya hanya diselimuti mega hitam yang kelam.


Di dalam sebuah rumah mewah, disalah satu sudut Kota Surabaya. Di antara suara derasnya air hujan, terdengar suara tahlil, dan juga tangisan. Banyak saudara, tetangga, dan juga rekan-rekannya yang berkumpul di rumah Pak Hery. Mereka ikut berkabung atas musibah yang menimpa keluarga Pak Hery.


Almarhum Fajar disemayamkan di rumah orang tuanya, jenazah akan dikebumikan esok hari, karena sepulangnya dari rumah sakit, hari sudah terlalu petang. Jenazah sengaja dibawa pulang ke rumah Pak Hery, karena jaraknya dengan rumah sakit lebih dekat. Dan tempatnya juga lebih mudah, karena tidak perlu naik lift seperti di apartemen.


Di antara banyaknya orang, tidak ada Senja di sana. Senja masih dirawat di rumah sakit, dan sampai saat ini ia belum sadarkan diri.


"Sabar ya Bu, semua ini sudah takdir." ucap Kinan, sekertaris Bu Rani yang saat ini juga ikut hadir di sana.


"Aku masih tidak percaya ini, anakku telah pergi." ratap Bu Rani sambil menangis.


Di sudut ruangan, tampak Farah juga menangis tersedu-sedu. Berkali-kali ia menyeka air matanya dengan ujung kerudung yang sedang dipakainya.


"Sabar ya Fa, kita doakan saja Kak Fajar, semoga dia mendapatkan tempat yang indah di sisi-Nya." kata Nayla, salah satu teman dekatnya Farah.


"Rasanya aku tidak sanggup Nay, semua ini terlalu berat untukku." ucap Farah disela-sela tangisnya.


"Aku yakin kamu bisa Fa, kamu adalah wanita yang tangguh." kata Nayla sambil merangkul Farah dengan erat.


Farah menjawabnya hanya dengan anggukan. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Nayla, sambil tetap menangis meratapi nasib Kakaknya.


Di dekat jenazah yang dibaringkan di atas meja pendek. Tampak tiga orang lelaki sedang duduk bersimpuh sambil menunduk. Mereka adalah Dika, Viky, dan juga Gerry. Mereka baru saja selesai membacakan Yaasin, dan tahlil untuk Fajar. Sebagai sahabat karib, mereka merasa sangat kehilangan atas kepergian Fajar yang terlalu cepat. Sedikitpun mereka tidak menyangka, jika kebersamaannya bersama Fajar akan sesingkat ini.


Dika menatap jenazahnya Fajar yang berada tepat di hadapannya. Matanya mulai berkaca-kaca, hatinya bergejolak sakit mendapati kenyataan pahit yang telah terjadi.


"Kenapa kau pergi secepat ini? Mungkin aku sempat kecewa padamu, tapi jauh didasar hatiku, kau tetaplah sahabatku. Fajar, kenapa kau meninggalkan kami, kenapa kau meninggalkan Senja? Kau tahu, sekarang dia sakit, dia pingsan dan belum sadar sampai saat ini. Dia sangat kehilangan kamu Jar, dia begitu sangat mencintai kamu. Kenapa secepat ini kamu pergi meninggalkan dia?" batin Dika sambil menyeka air matanya yang mulai menetes.


"Sejak kamu menikah, kita sudah jarang bersama. Dan sekarang kamu malah pergi untuk selama-lamanya. Aku tidak tahu lagi harus bagaimana, semua ini sangat menyakitkan Jar." batin Viky sambil menunduk.

__ADS_1


"Hatiku sakit melihatmu yang sudah tiada. Kenapa harus seperti ini takdirmu, kita semua berat melepaskan kepergianmu." batin Gerry sambil mengusap sudut matanya yang mulai basah.


Di ruangan yang sama, di sudut yang berbeda. Seorang lelaki sedang duduk bersimpuh sambil menyandarkan punggungnya di dinding. Ia menunduk, sambil menautkan jemari tangannya. Dia adalah Ken, dia kini sedang larut dalam kesedihan, dan juga penyesalannya. Bayangan tentang hari-hari lalu, melintas begitu saja dalam ingatannya. Kesalahan satu malam yang ia lakukan bersama Senja. Lalu pesan yang Fajar ucapkan saat menemui dirinya.


"Maafkan aku Fajar, maafkan aku yang telah membuatmu terluka. Aku bodoh, seharusnya aku tidak pernah mengusik Aya. Sekarang apa yang harus aku lakukan, untuk menebus kesalahanku padamu. Aku telah menodai istrimu, bahkan dia sampai mengandung anakku. Aku tahu semua itu pasti sangat melukai perasaanmu. Maafkan aku Fajar, maafkan aku!" ucap Ken dalam hatinya.


Ken tidak menyangka jika Fajar akan pergi secepat ini. Dia begitu kaget saat mendapatkan telfon dari Nina, dan mengabarinya bahwa Fajar telah tiada. Nina juga mengabarinya bahwa saat ini Senja sedang dirawat di rumah sakit, keadaannya cukup buruk, sejak beberapa jam yang lalu ia belum sadar dari pingsannya.


Ken mengangkat wajahnya, ia menatap tubuh Fajar yang sudah terbujur tanpa nyawa. Lagi-lagi perasaan bersalah mulai berkemelut dalam hatinya. Dan lagi-lagi ia hanya bisa merutuki kebodohannya, dan menyesali semua perbuatannya.


"Maafkan aku Fajar!" batin Ken sambil menghela nafas panjang. Entah sudah keberapa kalinya ia mengucapkan kata itu.


"Kala itu kau memintaku untuk menjaga Aya, tapi sungguh aku tidak menyangka, jika waktumu hanya sesingkat itu. Fajar, aku akan berusaha menjalankan amanatmu." ucap Ken dalam hatinya.


Diwaktu yang sama, di tempat yang berbeda. Alvin sedang duduk di kursi, di sebelah ranjang tempat Senja terbaring. Ia menatap adiknya yang masih setia menutup matanya.


Alvin mengusap rambut Senja dengan lembut. Gadis kecilnya itu pernah terpuruk saat kehilangan orang tuanya, dan sekarang ia kehilangan suaminya. Sanggupkah kiranya dia melewati semua ini?


"Bangun Nja, aku tahu ini berat untuk kamu. Tapi ingatlah! Ada nyawa yang bersemayam dalam perut kamu, dia butuh kamu Nja, tolong jangan buat dia kenapa-napa.


Ada aku di samping kamu Nja, aku akan selalu menemanimu. Tak peduli apapun yang terjadi, aku akan selalu ada di dekat kamu Nja." ucap Alvin sambil menggenggam tangan Senja.


"Ya Allah andaikata boleh memilih, lebih baik aku saja yang mengalami semua ini, jangan adikku. Dia pernah rapuh, aku takut dia tidak sanggup melewati semua ini. Ya Allah tolong berikanlah kemudahan untuk jalan hidupnya." kata Alvin sambil mengusap sudut matanya yang mulai basah.


Alvin menatap perut Senja yang masih rata. Bagaimana nasib anaknya kelak? Mampukah dia menerima kenyataan, bahwa dirinya terlahir sebagai anak haram.


Oh tidak, kenapa jalan hidup Senja harus serumit ini.


***

__ADS_1


Sinar yang surya yang menghangat, berpadu dengan semilir angin yang berhembus perlahan. Menyaksikan kedukaan yang terlukis di wajah-wajah sendu, dari mereka yang sedang berkumpul di TPU Kota Surabaya.


Detik ini juga Fajar telah diantarkan ke tempat terakhirnya. Suara isakan masih terdengar samar-samar, dari keluarganya yang masih berat untuk melepaskan kepergiannya.


Alvin juga ikut berdiri di antara mereka. Ia menyuruh Nina untuk menjaga Senja di rumah sakit, sementara dirinya ikut hadir dalam pemakamannya Fajar.


Alvin mengusap air matanya yang mulai menetes. Ia tak sanggup memendam rasa sedih yang bersarang dalam hatinya. Fajar Mahardika, lelaki yang menjadi sahabatnya, sekaligus adik iparnya, kini sudah damai dalam tidur panjangnya.


Beberapa menit kemudian, jenazah Fajar sudah selesai dikebumikan. Satu persatu dari mereka mulai meninggalkan pemakaman. Tak terkecuali keluarganya. Karena Farah, dan Bu Rani terus menangis, jadi Pak Hery mengajak mereka untuk pulang.


Alvin mendekat, dan duduk berjongkok di atas gundukan merah yang penuh dengan kelopak mawar. Tangannya mengusap batu nisan yang bertuliskan nama Fajar.


"Ya Allah berikanlah dia tempat yang indah di sisi-Mu. Fajar, dengan berat hati aku akan berusaha mengikhlaskan kepergianmu." ucap Alvin sambil menunduk.


Ia menatap nanar pada gundukan tanah yang ada di hadapannya. Fajar sudah ada di dalam sana. Dia tidak akan pernah lagi bertemu dengannya.


"Ini sangat pahit!" ucap Alvin sambil menghembuskan nafasnya dengan kasar.


Di belakang Alvin, berdiri seorang lelaki dengan pakaian hitamnya. Lelaki itu juga menitikkan air matanya, rasa sesak, rasa sedih, dan juga rasa bersalah berkecamuk di dalam hatinya.


Dia adalah Ken, ia masih berdiri di bawah pohon kamboja. Ia menatap pilu pada gundukan tanah yang menjadi tempat terakhirnya Fajar.


"Maafkan aku Fajar!" ucap Ken dengan pelan.


Ken menunduk, membiarkan angin menerpa rambutnya yang sedikit memanjang, meriap, dan menyapu wajahnya.


Dirinya kini benar-benar terkurung dalam rasa sesal yang tiada ujungnya.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2