
Semilir angin malam berhembus perlahan menerpa tubuh Senja yang masih duduk di teras rumahnya. Rambutnya meriap, dan berantakan di wajahnya. Kepalanya menunduk, matanya menatap keramik putih yang menjadi tempatnya berpijak.
Pikirannya menerawang jauh, memikirkan segala hal yang terjadi dalam hidupnya. Baru saja ia mengecewakan seorang lelaki yang mencintainya. Namun mau bagaimana lagi, ia memang ingin bertahan dengan kesendiriannya.
"Woi!" teriak Nina sambil tertawa.
Senja tersentak kaget, entah sejak kapan Nina datang. Tiba-tiba saja wanita itu sudah duduk di sebelahnya sambil tertawa lepas.
"Jangan melamun, ada syaitan lewat kesambet kamu." cibir Nina sambil tertawa.
"Aku tidak melamun. Kamu kapan datang, sama siapa?" tanya Senja sambil celingukan kesana kemari. Tidak ada taxi, tidak ada motor. Mungkinkah Nina jalan kaki?
"Katanya tidak melamun, tapi kenapa tidak tahu?" cibir Nina.
"Kamu datangnya tiba-tiba." sahut Senja.
"Mana ada, aku pulang naik taxi Nja. Tadi taxinya berhenti di sana, terus aku jalan kesini. Aku panggil kamu berkali-kali, tapi kamu diam saja." ucap Nina sambil menunjuk ke pinggir jalan.
"Begitukah?"
"Iya, kamu melamun kan?"
"Tidak." jawab Senja sambil menggeleng.
"Cerita saja ada apa, aku siap mendengarkan, dan kalau aku bisa, nanti aku beri solusi. Sebagai sahabat, dan juga sebagai kakak, aku tidak akan membiarkan kamu memendam bebanmu sendirian. Ayo cerita!" kata Nina sambil merangkul Senja, dan menepuk-nepuk bahunya.
Senja menatap Nina sambil tersenyum. Nina memanglah sahabat yang terbaik baginya.
"Ayo cerita!" ucap Nina mengulangi perkataannya.
"Tadi Kak Dika kesini." kata Senja mengawali pembicaraannya.
"Oh ya, terus?"
"Apanya yang terus." ucap Senja.
"Lhah kamu bagaimana sih, memangnya yang mau kamu ceritakan apa?" tanya Nina sambil mengernyit heran.
"Aku sudah menolak Kak Dika, aku menyuruhnya untuk berhenti mencintaiku. Apa aku salah Nin?"
"Soal hati memang tidak bisa dipaksakan Nja. Jika kamu tidak bisa mencintainya, mungkin memang lebih baik jika kamu mengatakannya lebih awal. Semakin jauh dia berharap sama kamu, akan semakin sakit jika harapannya tidak sesuai dengan kenyataan." ucap Nina sambil tersenyum.
"Itu juga yang kurasakan Nin, aku tidak mau memberikan harapan palsu padanya. Tapi sepertinya dia sangat kecewa." ucap Senja sambil menunduk.
"Nanti dia pasti akan mengerti bagaimana perasaan kamu Nja." kata Nina.
"Terima kasih ya Nin."
__ADS_1
"Tidak perlu berterima kasih, kita sahabat Nja. Oh ya boleh aku bertanya?" tanya Nina.
"Tanya saja."
"Kalau Ken bagaimana, kau ada harapan untuk kembali padanya?" tanya Nina.
"Tidak." jawab Senja sambil menggeleng.
"Kau yakin, dia masih mencintai kamu lho Nja." ucap Nina.
"Mana mungkin aku bisa menerima cintanya Nin. Karena kesalahanku dengannya, Kak Fajar harus pergi secepat ini. Kehadirannya membuatku teringat akan kejadian dimalam itu. Meskipun dia adalah ayah dari anakku, tapi aku tidak bisa menerima dia dalam hidupku." ucap Senja dalam hatinya.
"Yakin." ucap Senja dengan singkat.
"Kamu sudah memikirkannya dengan baik Nja, kalian dulu pernah menjalin hubungan cukup lama lho." ucap Nina. Namun tidak ada jawaban dari Senja, wanita itu hanya diam dengan pandangan mata yang datar.
"Nja!" panggil Nina sambil mengguncang bahu Senja.
"Eh iya." jawab Senja dengan gugup.
"Kamu malah melamun." kata Nina sambil menatap Senja.
"Nina, ayo masuk saja, aku mulai mengantuk!" ucap Senja sambil bernajak dari duduknya.
"Ehm baiklah." jawab Nina sambil mengikuti langkah Senja yang mulai meninggalkannya.
"Aku harus meluruskan satu hal lagi." ucap Senja sambil menatap layar ponselnya.
***
Semilir angin sore berhembus pelan, menggoyangkan dedaunan yang diterpanya. Sang surya mulai merangkak turun di kaki langit barat. Seorang wanita cantik sedang berjalan menuju taman yang tidak jauh dari rumahnya.
Dia adalah Senja, tubuh mungilnya dibalut dress longgar warna kuning gading. Rambut panjangnya dibiarkan tergerai begitu saja, menutupi lehernya yang putih, dan jenjang.
"Syukurlah aku tidak terlambat, jadi Ken tidak perlu menungguku." ucap Senja sambil melirik jarum jam yang melingkar di tangannya. Masih ada waktu 15 menit, dari jam yang telah dijanjikan semalam.
Senja terus berjalan menuju bangku panjang yang berada di tengah taman. Langkahnya mulai melambat kala matanya menatap sosok lelaki yang sedang duduk di atas bangku. Meskipun hanya dari belakang, namun Senja tahu jelas bahwa yang duduk itu adalah Ken.
"Kenapa dia sudah datang." batin Senja dalam hatinya.
Senja kembali melangkahkan kakinya, dan menghampiri Ken yang sedang merokok.
"Kamu sudah datang, ini belum ada jam empat." sapa Senja sambil duduk di sebelah Ken.
"Aku tidak mau membuatmu menunggu." jawab Ken sambil tersenyum, seraya ia membuang rokok yang baru saja disulutnya.
"Kenapa dibuang, aku tidak masalah kamu merokok." ucap Senja sambil menatap Ken.
__ADS_1
Kala itu Ken sedang memakai celana panjang yang dipadukan dengan kemeja pendek warna biru, dua kancing bagian atasnya dibiarkan terbuka, memperlihatkan liontin kalungnya yang terbuat dari cangkang kerang.
Gaya rambutnya tetap gondrong seperti dulu, memang tidak ada yang berubah darinya. Baik penampilannya, maupun perasaannya.
"Asap rokok tidak baik untuk wanita hamil Aya." kata Ken sambil tersenyum.
Senja menunduk, ia tidak menjawab perkataan Ken, karena sepertinya perkataannya juga tidak membutuhkan jawaban.
"Bagaimana kabar kamu Aya? Maaf akhir-akhir ini aku sedikit sibuk, aku tidak bisa mengunjungimu, aku hanya menanyakan kabarmu lewat ponsel." kata Ken sambil menatap Senja.
Senja semakin menunduk, entah sudah berapa kali Ken menelfon, dan juga mengirimkan pesan padanya. Namun Senja sama sekali tak menghiraukannya. Hanya semalam ia membalas pesannya, dan itu untuk mengajaknya bertemu di sini. Ken masih sama perhatiannya seperti dulu, namun lagi-lagi Senja harus membuatnya kecewa.
"Maafkan aku Ken, kali ini aku harus mengecewakanmu. Aku benar-benar tidak bisa menerima kamu. Rasa bersalah, dan rasa menyesal ini semakin menyesakkanku setiap kali aku melihatmu. Ken kau tidak akan pernah mengerti bagaimana perasaanku." ucap Senja dalam hatinya.
"Aya!" panggil Ken, karena Senja hanya terdiam.
"Aku...aku baik-baik saja Ken. Maaf jika selama ini aku tidak pernah membalas pesanmu." kata Senja sambil menoleh, dan menatap Ken.
"Tidak apa-apa, tidak perlu meminta maaf. Mmm Aya, sebenarnya kenapa kau mengajakku bertemu di sini? Adakah hal yang ingin kau katakan padaku?" tanya Ken sambil membalas tatapan Senja.
"Iya." jawab Senja sambil mengangguk.
"Apa itu?"
"Sebelumnya aku minta maaf, mungkin ucapanku nanti akan membuatmu kecewa. Ken, sudah saatnya kamu mengejar kebahagiaan kamu. Berhentilah mencintaiku, karena aku tidak bisa membalas perasaanmu itu." ucap Senja dengan pelan.
"Aku akan menunggumu Aya. Aku tidak memaksa kamu untuk menerimaku sekarang. Biarkan aku menjaga kamu, sampai hatimu bisa kembali seperti dulu." kata Ken sambil menatap Senja lebih dalam.
"Jangan Ken, kau jangan menungguku, kau akan kecewa!" sahut Senja.
"Kenapa?"
"Aku sudah memutuskan untuk sendiri. Aku tidak akan membuka hati untuk cinta yang lain. Aku ingin menjaga cinta ini sampai nanti, aku tidak mau menodainya lagi Ken." jawab Senja.
"Kau tidak boleh seperti itu Aya. Aku tidak akan membiarkan kamu mengurus anakku sendirian. Dia berhak mendapatkan kasih sayang dari ayahnya." kata Ken dengan cepat.
"Dia akan tetap menjadi anak kita, aku tidak akan menyembunyikan siapa ayahnya. Tapi aku tidak bisa menerimamu Ken." ucap Senja dengan pelan.
"Kamu jangan egois Aya, pikirkan perasaan anak kita! Aku tahu malam itu aku salah, tidak seharusnya aku melakukan hal itu padamu. Tapi sekarang sudah terlanjur, jadi biarkan aku menebus kesalahanku. Biarkan aku menjaga kalian, dan bertanggungjawab atas hidup kalian." kata Ken sambil menggenggam kedua tangan Senja.
"Aku tidak bisa Ken." bisik Senja.
"Sebesar itukah cinta kamu kepada Fajar? Aku yang lebih dulu mengenalmu Aya, tapi kenapa aku tidak mendapatkan cinta yang sebesar itu darimu. Dulu kau langsung meninggalkan aku, tanpa memberi aku kesempatan untuk menjelaskan. Dan sekarang kau masih menolakku, padahal aku sanggup menunggumu sampai kapanpun itu. Pernahkah kau memikirkan perasaanku Aya, kau tahu di sini rasanya sangat sakit Aya." kata Ken sambil menyentuh dadanya sendiri.
Senja menunduk, ia tidak tahu lagi harus berkata apa. Ken adalah lelaki pertama yang berhasil mencuri hatinya. Dalam waktu yang lama dia melabuhkan hatinya pada lelaki itu. Namun entah kenapa, perasaan itu begitu cepat sirnanya kala Fajar hadir dalam hidupnya.
Dan sekarang sulit baginya untuk menerima kehadiran Ken. Lelaki itu mengingatkannya pada kesalahan terfatal dalam hidupnya.
__ADS_1
Bersambung....