Kesucian Cinta Yang Ternoda

Kesucian Cinta Yang Ternoda
Niat Jahat Sella


__ADS_3

Sella menunduk, kakinya semakin berat untuk ia langkahkan. Sesekali ia menoleh, menatap rumah megah yang masih tertutup rapat, ia berharap ada ayah atau ibunya yang berdiri di sana. Namun tidak, sampai Sella sudah berdiri di depan pintu taxi, tetap tidak ada seorang pun yang keluar dari rumah itu.


"Kemana aku harus mencari mereka?" batin Sella seraya membuka pintu taxi.


Namun belum sempat Sella naik ke dalam taxi, tiba-tiba ada mobil warna hitam yang berdiri di dekatnya. Sella menoleh, mobil siapa itu, mungkinkah mobil seseorang yang sekarang tinggal di rumahnya?


Tak lama kemudian, seorang wanita turun dari mobil itu. Sella membelalakkan matanya lebar-lebar, memastikan jika wanita yang berdiri di hadapannya benar-benar ibunya.


"Sella!" teriak Bu Dina sambil melangkah mendekati Sella. Bu Dina tak menghiraukan hujan yang mengguyur tubuhnya, beliau terus melangkah mendekati anak semata wayangnya.


"Sella, ini benar-benar kamu, Nak? Mama sudah lama mencari tahu bagaimana kabarmu," ucap Bu Dina sambil merangkul Sella dengan erat.


"Aku sangat merindukan Mama." Kata Sella. Air matanya mengalir semakin deras, ia sangat bahagia ternyata orang tuanya masih tinggal di rumah yang sama.


"Kamu semakin kurus, Sella."


"Sella, Papa sangat mengkhawatirkan kamu, Nak," kata Pak Reno sambil merangkul tubuh anaknya.


"Ayo masuk! Hujan turun semakin deras. Kita bicara di dalam saja!" kata Bu Dina.


"Iya Ma, tapi sebentar ya, aku bayar dulu taxinya," jawab Sella sambil membuka tas kecilnya, dan mengambil beberapa lembar uang, lalu menyerahkannya pada supir taxi.


***


Di luar, hujan masih mengguyur dengan derasnya, diiringi bunyi halilintar yang terdengar samar-samar. Sella dan kedua orang tuanya duduk bersama di ruang tengah, mereka saling berbincang sambil menikmati teh hangat.


"Apa yang terjadi Sella? Sejak Nyonya Carolyna memutuskan hubungan kerjasamanya, Papa berusaha keras mencari tahu kabarmu, tapi Papa tidak berhasil. Kau di mana? Dan bagaimana hubunganmu dengan Jhon Victory?" tanya Pak Reno mengawali pembicaraannya.


"Wajar kalau Papa tidak berhasil mencari tahu tentang diriku. Wanita tua itu menempatkan aku di desa yang terpencil. Entah dimana ponselku, setelah tiba di sana, aku tidak bisa menemukannya. Dan pria tua itu, entah di mana dia, kita sudah berpisah." Kata Sella, ia sengaja berbohong. Ia tidak mau orang tuanya tahu tentang sikap kerasnya Pak Jhon, dan juga tentang dirinya yang sudah dijual.


"Wanita itu menjebakmu Sella, maafkan Papa, Papa sudah memberikan pilihan yang buruk untukmu," ucap Pak Reno.


"Mama juga sangat menyesal, tahu begini Mama tidak akan mengizinkanmu menjadi simpanannya Jhon. Kau mengorbankan masa depanmu, demi perekonomian keluarga. Maafkan Mama Sella." Sahut Bu Dina.


"Ini bukan salah Papa, juga bukan salah Mama. Dulu aku sendiri yang menyetujui pilihan ini. Semua ini gara-gara Ken, dia yang membongkar skandalku dengan Om Jhon, aku harus membuat perhitungan dengannya," geram Sella sambil mengepalkan tangannya.


"Sella, sudahlah! Jangan mengusiknya lagi, dia adalah orang yang berbahaya," kata Pak Reno.


"Iya Nak, fokus saja dengan kehidupan kamu sendiri. Meskipun Carolyna memutuskan kerjasamanya, tapi perusahaan kita sekarang sudah membaik. Mama yakin, sebentar lagi perusahaan kita akan kembali berkembang, kita tidak akan bangkrut lagi Sella." Sahut Bu Dina.


"Tapi Ma."


"Mama kamu benar, sudahlah, lupakan Ken! Lelaki itu terlalu nekat, kamu jangan macam-macam. Kamu pernah menyinggungnya dengan menyebarkan berita buruk tentang Senja, dan dia menjebak kamu dalam situasi yang sulit. Jadi sekarang jangan diulangi lagi ya, Papa tidak mau kamu kenapa-napa," kata Pak Reno sambil menatap anaknya.

__ADS_1


"Baiklah Pa," jawab Sella mengalah.


"Aku mengalami banyak hal buruk gara-gara Ken, aku mencintainya, tapi dia membalas perasaanku dengan cara seperti ini. Jadi mana mungkin aku bisa melupakan dia Pa. Tidak ada lagi yang bisa kuperbuat untuk memperbaiki masa depanku Pa, hidupku sudah terlanjur hancur. Tapi, masih ada satu hal yang bisa kulakukan, yaitu membawa Ken dalam kehancuran. Aku pastikan dia akan menderita, dia harus merasakan apa yang aku rasakan. Putus asa, dan tidak ada lagi semangat untuk melanjutkan hidup." Batin Sella dalam hatinya.


***


Satu minggu kemudian.


Ken dan Senja sedang berada di dalam kamarnya. Mereka sudah kembali dari puncak sejak dua minggu yang lalu.


Malam ini mereka sedang bersiap-siap untuk pergi ke acara pernikahannya Dika dan Anna.


Senja sedang duduk di kursi, di depan cermin. Ia merias wajahnya dengan beberapa make up yang tersedia di sana, sekaligus menata rambutnya agar terlihat lebih indah. Sedangkan Ken, ia sedang bermain dengan Rashya di atas ranjang. Tubuhnya sudah dibalut celana panjang, dan kemeja pendek warna putih, dengan dua kancing atas yang ia biarkan terbuka, memperlihatkan liontin kerang yang menggantung manis di lehernya.


"Penampilannya tidak pernah berubah, walaupun sekarang dia sudah menjadi ayah, tapi tetap saja seperti remaja," batin Senja sambil melirik bayangan Ken dari pantulan cermin di hadapannya.


"Senang sekali mencuri pandang, apakah aku memang setampan itu, Aya?" goda Ken sambil menatap Senja.


"Aku tidak menatapmu," sahut Senja dengan cepat, seraya menundukkan wajahnya, ia tidak ingin Ken melihat pipinya yang mulai merona.


"Kau masih harus banyak belajar, jika ingin membohongiku, Aya."


"Aku hanya heran, Ken."


"Heran kenapa?" tanya Ken sambil mengernyitkan keningnya. Apakah ada yang salah dengan dirinya?


Ken menunduk, menatap sekilas ke arah kencing kemeja yang ia biarkan terbuka. Lalu Ken mengulas senyuman lebar di bibirnya.


"Aku lebih suka seperti ini Aya, agar semua orang tahu, kalau aku adalah pemilik liontin yang paling indah di dunia." Ucap Ken.


"Kau berlebihan Ken."


"Aku benar Aya, liontin ini adalah yang paling indah."


"Itu menurutmu, tapi menurut orang lain, sama sekali tidak indah."


"Aku tidak peduli seperti apa pendapat orang lain tentangku. Yang penting aku nyaman, dan bahagia, untuk apa mengurusi pendapat mereka." Kata Ken tidak mau kalah.


"Kau memang tidak berubah!" Ucap Senja.


"Memang tidak ada yang berubah dari diriku, Aya, entah itu sifatku atau perasaanku. Aku masih tetap seperti yang dulu, seperti Ken yang menjadi cinta pertamamu." Kata Ken.


"Baiklah, terserah apa katamu!" ucap Senja dengan bibir yang manyun. Pintar bicara, dan pintar merayu, adalah dua sifat yang tak pernah lepas dari seorang Kenzo Antonio Putra. Lalu ia melangkah menuju almari, mengambil celana dan juga kemeja untuk Rashya.

__ADS_1


"Apakah Rashya akan ikut?" tanya Ken, saat menatap istrinya yang ikut duduk di atas ranjang.


"Memangnya tidak?" Senja balik bertanya.


"Nanti kita akan pulang malam sayang, apa Rashya tidak ngantuk?"


Belum sempat Senja menjawab ucapan Ken, tiba-tiba pintu kamar diketuk dari luar.


Senja turun dari ranjang, dan melangkah menuju pintu.


"Mama," ucap Senja saat pintu sudah terbuka dengan lebar.


"Kalian sudah siap?" tanya Bu Ratih.


"Sudah Ma, tinggal mengganti bajunya Rashya," jawab Senja sambil melangkah menuju ranjang, dan Bu Ratih juga mengikuti langkahnya.


"Apakah kalian akan mengajak Rashya, bukankah lebih baik jika di rumah saja, bersama Mama? Kasihan lho kalau nanti pulang malam, apalagi di sana pasti ramai, nanti dia tidak nyaman," kata Bu Ratih sambil duduk di tepi ranjang. Beliau meraih tubuh Rashya, dan membawa ke pangkuannya. Rashya tampak tertawa bahagia, ia sangat menyukai neneknya.


"Aku sependapat dengan Mama, biarkan Rashya di rumah saja Aya," ucap Ken sambil menatap istrinya.


"Di rumah sama Oma ya, nanti bermain sama Oma, tidur sama Oma. Nanti Oma ceritakan dongeng yang paling indah, ya," ucap Bu Ratih sambil menciumi pipi Rashya.


"Baiklah kalau begitu, nanti kalau Rashya nangis, telfon saja ya Ma, kami akan langsung pulang," ucap Senja.


"Iya, tapi Mama jamin, Rashya tidak akan menangis. Sama Oma sama Opa, tidak boleh menangis ya sayang."


"Ya sudah ayo berangkat, Aya!"ajak Ken sambil beranjak dari duduknya.


"Rashya, Mama dan Papa pergi dulu ya, hanya sebentar. Di rumah sama Oma dan Opa, tidak boleh nakal ya," ucap Senja sambil mencium pipi Rashya.


"Rashya pinter Ma, Rashya tidak akan nakal," jawab Bu Ratih sambil tersenyum.


"Kami pergi dulu ya Ma."


"Iya hati-hati."


***


Gemerlap bintang yang bertabur di angkasa raya, menjadi saksi atas kebahagiaan dua insan yang menjalin hubungan dalam ikatan halal. Dika dan Anna sudah sah menjadi sepasang suami istri, akad nikah telah mereka langsungkan tadi siang. Dan malam ini adalah pesta besar untuk merayakan hari bahagia mereka. Para tamu undangan sudah banyak yang hadir, masing-masing memberikan selamat kepada kedua mempelai.


Ken dan Senja baru saja tiba di sana. Setelah memarkirkan mobilnya, Ken menggandeng tangan Senja, dan mengajaknya masuk ke dalam. Beberapa orang yang hadir, menyapa mereka dengan ramah. Ken dan Senja terus berjalan beriringan, membuat beberapa pasang mata menatapnya dengan kagum. Bagaimana tidak, Ken yang begitu tampan bersanding dengan Senja yang cantik jelita, sangat serasi.


Namun di antara banyaknya orang yang merasa kagum, ada salah satu orang yang melihat mereka dengan perasaan iri dan benci. Dia menatap mereka dengan tajam, terlihat jelas jika hatinya dipenuhi amarah.

__ADS_1


"Aku tidak punya bukti yang kuat untuk membeberkan aibmu Ken, dengan sifatmu yang sangat licik, bukannya rencanaku berhasil, tapi malah gagal total, karena kau pasti akan memutar balikkan fakta. Tapi dengan cara ini, tidak peduli kau licik atau tidak, aku tidak akan gagal. Tidak peduli apa yang akan kau lakukan padaku nanti, yang penting aku merasa puas karena berhasil menghancurkanmu," ucap Sella dengan pelan. Matanya menatap nanar ke arah Ken dan Senja.


Bersambung....


__ADS_2