
Senja semakin meredup, dan malam perlahan mulai datang membayang. Kerlip bintang samar-samar tampak bertaburan di langit luas. Berpadu dengan cahaya lampu yang berpendar indah dari ujung timur hingga ke ujung barat.
Alvin, dan Nina duduk berhadapan di atas tikar yang digelar di lantai. Mereka menikmati makanannya disalah satu warung yang berjajar di dekat pantai.
"Ini enak sekali Kak." ucap Nina sambil menyuap ikan bakar yang baru saja diambilnya, disusul dengan nasi putih, dan juga mentimun segar.
"Aku senang kau menyukainya. Jadi tidak sia-sia aku mengajakmu kesini." jawab Alvin sambil tersenyum.
"Kak Alvin tahu darimana, kalau ada tempat yang sekeren ini di sini?" tanya Nina.
"Dari teman, dia punya kenalan orang sini, jadi sering berkunjung ke tempat ini." jawab Alvin.
"Hmm begitu." gumam Nina sambil mengunyah makanannya.
Sekitar setengah jam kemudian, mereka sudah menghabiskan makanannya. Kini mereka tinggal menikmati minuman hangat yang masih tersisa di gelas masing-masing. Alvin menyesap kopi hitamnya yang tinggal setengah. Sedangkan Nina, ia meneguk teh manisnya yang tinggal sedikit.
"Sudah?" tanya Alvin.
"Sudah Kak." jawab Nina sambil mengangguk.
"Kalau begitu tunggu sebentar ya!" kata Alvin sambil beranjak dari duduknya. Ia berjalan mendekati pemilik warung, dan membayar tagihannya.
Setelah selesai, Alvin kembali menghampiri Nina.
"Ayo!" ajak Alvin.
Nina tersenyum, lalu ia beranjak dari duduknya, dan mengikuti langkah Alvin yang mengajaknya keluar dari warung.
"Apa kita langsung pulang Kak?" tanya Nina.
"Kali ini aku harus berhasil, aku tidak boleh gagal lagi. Aku harus berani menyatakan perasaanku, dan melamarnya detik ini juga." ucap Alvin dalam hatinya.
"Kita kesana sebentar yuk!" ajak Alvin sambil menunjuk batu karang yang tak jauh dari tempat mereka sekarang.
"Ayo." jawab Nina.
Lalu mereka berdua berjalan menuju batu karang yang berbentuk datar. Mereka duduk di atasnya, sambil menatap deburan ombak yang masih bergulung berkejaran. Jantung Alvin mulai berdetak cepat, dan rasa gugup kembali menghampirinya. Dengan perlahan ia merogoh saku celanyanya, dan mengambil cincin permata yang sudah ia beli sejak beberapa hari yang lalu.
__ADS_1
"Nina!" panggil Alvin.
"Iya Kak."
"Ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu." ucap Alvin.
"Kelihatannya Kak Alvin sangat serius, memangnya apa yang ingin Kak Alvin katakan?" tanya Nina sambil menatap Alvin.
"Sebenarnya aku..." ucapan Alvin terputus, karena dering ponselnya yang terdengar cukup nyaring.
"Ahh sial!" umpat Alvin sambil merogoh ponselnya, dan ternyata Dika yang menghubunginya.
Tanpa basa-basi Alvin langsung mematikan ponselnya, dan kembali menyimpannya di saku.
"Kenapa tidak diangkat Kak, siapa tahu penting." kata Nina sambil mengernyit heran.
"Ada yang jauh lebih penting dari itu." jawab Alvin dengan cepat.
"Apa?"
"Aku memang tidak romantis, dan aku juga tidak tahu bagaimana caranya merayu wanita. Tapi yang jelas aku sangat mencintai kamu, aku ingin menjaga kamu, dan ingin membahagiakan kamu. Aku tidak tahu kau akan menerima cintaku, atau tidak. Tapi terimalah cincin ini, aku membelinya khusus untukmu. Jika kau tidak suka, setidaknya simpanlah untukku. Kalau seandainya nanti kamu menolakku, aku harap hubungan kita tidak berubah. Cinta memang tidak bisa dipaksa, kalau kamu memang tidak punya perasaan apa-apa untukku, aku mengerti. Aku berusaha rela kalau memang hatimu untuk pria lain, aku bahagia selama kau bahagia. Yang penting aku sudah menyatakan perasaanku, aku tidak peduli bagaimana jawabanmu. Tolong jangan marah, aku hanya mengatakan apa yang seharusnya kukatakan." kata Alvin dengan cepat, seraya meraih tangan Nina, dan meletakkan cincin permatanya di sana.
Nina semakin mengernyitkan keningnya. Pernyataan cinta yang sangat unik menurutnya. Jika biasanya orang lain akan menyatakan cintanya dengan pelan, dan dengan kata-kata yang singkat, romantis, juga puitis. Namun lain halnya dengan Alvin, ia menyatakan cintanya dengan cepat, dan tanpa jeda. Kalimatnya yang panjang lebar, sedikit berantakan, dan tidak ada unsur romantisnya sama sekali.
Namun hal itu berhasil membuat bibir Nina mengukir senyuman. Sebuah senyuman lebar yang tulus dari dasar hatinya.
"Nina, kenapa kamu tersenyum? Aku lucu ya, aku tahu aku memang payah." kata Alvin sambil memalingkan wajahnya.
"Sepertinya aku akan kecewa malam ini. Ahh sekian lama dekat, aku kira dia bisa menganggapku lebih dari Kakak." batin Alvin dalam hatinya
"Bukan Kak kamu jangan salah paham. Aku tersenyum karena bahagia, aku senang mendengar pengakuan kamu." ucap Nina sambil menggenggam cincinnya.
"Bahagia, senang, apa maksudmu?" tanya Alvin dengan cepat.
"Aku juga mencintaimu Kak."
"Kamu serius?"
__ADS_1
"Iya." jawab Nina sambil mengangguk.
"Terima kasih Nina, aku...aku tidak percaya kau mau menerima cintaku." ucap Alvin sambil tersenyum lebar.
"Sekian lama bersama, aku merasa nyaman denganmu Kak. Aku tidak butuh pria romantis, yang aku butuhkan adalah pria yang baik. Yang tulus mencintaiku, dan mau menerima semua yang ada pada diriku. Entah itu kekurangan, ataupun kelebihan." kata Nina.
"Aku sangat bahagia malam ini. Akhirnya aku berhasil menyatakan perasaanku padamu."
"Aku sudah lama menunggunya. Oh ya, tolong pakaikan!" kata Nina sambil menyerahkan cincinnya.
Alvin mengambil cincin itu, dan kemudian menyematkannya di jari manis Nina. Pipi Nina semakin merona saat tangan hangat Alvin menggenggam tangannya.
"Apakah ini termasuk lamaran Kak?" goda Nina.
"Anggap saja begitu." jawab Alvin sambil menaikkan alisnya. Lalu mereka berdua tertawa bersama-sama.
***
Ditengah keheningan malam, disalah satu sudut Kota Surabaya. Seorang lelaki sedang duduk sendiri di balkon kamarnya. Menatap langit malam yang kelam, sambil menikmati aroma nikotin yang menyeruak masuk kedalam tenggorokannya.
Rambutnya yang sedikit panjang tampak berantakan, karena berkali-kali ia mengacaknya dengan kasar. Dilihat dari raut wajahnya, sepertinya lelaki itu sedang menyimpan beban yang cukup menyesakkan. Dia adalah Ken, lelaki yang beberapa hari lalu menikmati malam, bersama mantan kekasihnya.
Ken meraih ponselnya, yang ia letakkan di sebelahnya. Ia menatap kembali satu pesan yang kemarin Senja kirimkan padanya. Entah untuk yang keberapa kalinya Ken membaca pesan itu. Rasa sakit, dan sesak selalu berkemelut dalam hatinya, setiap kali ia menatap tulisan itu.
Dari : Senja
Ken, terima kasih sudah banyak membantuku kemarin. Sekarang aku sudah tahu apa yang terjadi dengan Kak Fajar. Maafkan aku Ken, mulai saat ini aku akan menjaga pernikahanku. Kau lelaki yang baik, aku yakin kau bisa mendapatkan pasangan yang baik pula. Carilah kebahagiaanmu, dan raihlah masa depanmu Ken, aku yakin kau bisa.
Belum sempat Ken membalas pesan itu, nomor Senja sudah tidak bisa dihubungi. Dan dari pesan itu, Ken sangat tahu apa makna sebenarnya yang ingin Senja katakan. Senja tak ingin lagi berhubungan dengan Ken, dan akan fokus mencintai suaminya. Senja ingin Ken melupakannya, dan mencari cinta yang lain.
Meskipun Ken tahu mencintai, dan mengharapkan Senja itu sangat salah. Namun entah kenapa sulit sekali bagi dirinya untuk melupakan Senja.
"Kenapa jalan hidupku harus seperti ini. Apa yang harus aku lakukan? Aku tahu mendapatkan Aya itu tidak mungkin, karena dia sudah menikah. Tapi kenapa aku tidak bisa melupakannya, aku sama sekali tidak bisa menghapus perasaanku padanya." kata Ken dengan pelan, lalu ia kembali menyesap rokoknya kuat-kuat.
"Ya Allah, jika Aya memang bukan jodohku. Tolong gerakkan hatiku, dan hapuskan perasaanku untuknya. Jika takdir kebahagiaannya memang bersama Fajar, tolong berikan juga takdir kebahagiaanku bersama wanita yang lain. Aku tidak sanggup jika terus-terusan terbelenggu dalam perasaan yang menyakitkan." ucap Ken sambil menunduk.
Bersambung....
__ADS_1