
Alvin mengernyitkan keningnya. Ucapan Fajar terdengar sangat serius, tampaknya ia tidak berbohong kali ini.
Lalu Alvin beralih menatap Senja, kala itu adiknya sedang menunduk, dan menyembunyikan wajahnya.
"Senja!" panggil Alvin.
Senja tetap menunduk, ia terlalu takut untuk mengangkat wajahnya. Dalam hal pergaulan, Alvin cukup keras dalam mendidiknya. Ia pasti sangat marah saat tahu Senja melakukan hal bodoh dengan lelaki yang bukan suaminya.
"Senja!" bentak Alvin.
"Maafkan aku Kak." ucap Senja dengan pelan, bahkan suara isakannya terdengar lebih keras, daripada ucapannya.
"Katakan siapa yang melakukannya Senja!" kata Alvin dengan nada yang tinggi.
"Maafkan aku Kak." lagi-lagi Senja hanya mengucapkan kata maaf.
"Katakan siapa dia Senja! Jangan terus meminta maaf, yang aku butuhkan jawabanmu!" bentak Alvin sambil memegang kedua bahu Senja.
Namun wanita itu tidak menjawab apapun, hanya tangisnya saja yang kini terdengar lebih keras.
"Jangan terlalu keras Vin! Itu salahku bukan salahnya dia." sahut Fajar sambil melangkah mendekati Senja, dan Alvin.
"Apa maksudmu?"
"Aku tidak bisa melakukannya untuk Senja, dan waktu itu aku juga belum jujur bagaimana keadaanku. Jadi tidak salah jika Senja melakukan kekhilafan." jawab Fajar dengan santainya.
"Kamu gila, itu dosa Fajar, itu perbuatan terlarang. Jangan samakan kehidupannya Senja dengan kehidupan kamu. Katakan Senja, dengan siapa kau melakukannya!" teriak Alvin sambil menatap Fajar, dan Senja dengan tajam.
"Sudahlah Vin, yang penting kau sudah tahu bahwa adikmu baik-baik saja. Dia aman, dia sama sekali tidak tertular penyakitku. Untuk urusan yang lainnya kau tidak perlu ikut campur, aku sudah memaafkannya." kata Fajar dengan santainya.
"Kau gila, itu dosa besar! Kau..."
"Aku yang paham bagaimana situasinya, lagipula aku sudah memaafkannya.
Dan kau, sekarang kau sudah tahu bahwa adikmu baik-baik saja. Jadi pulanglah! Ini sudah larut malam." sahut Fajar memotong ucapan Alvin.
"Aku tidak akan pulang, jika Senja belum menjawab pertanyaanku!" kata Alvin dengan tegas.
"Kau memang keras kepala. Duduklah, dan kita bicarakan baik-baik! Jangan terus membentaknya, dia sedang hamil." ucap Fajar sambil melangkah mendekati sofa, dan kemudian duduk di sana.
__ADS_1
Alvin, dan Senja mengikuti langkah Fajar. Mereka bertiga kini duduk berkumpul di sofa ruang tamu.
"Jawab Senja! Siapa Ayah dari anakmu?" tanya Alvin sambil menatap Senja yang duduk di depannya.
"Maafkan aku Kak, aku melakukannya dengan Ken." jawab Senja dengan pelan, nyaris seperti bisikan.
"Ken! Mantan kamu?"
"Maaf Kak."
"Apa yang kau fikirkan Senja, dimana akal kamu, kenapa bisa melakukan hal sebodoh itu. Untuk pertama kalinya aku benar-benar kecewa padamu Senja!" kata Alvin sambil mengusap wajahnya.
Dari dulu Alvin sudah berkali-kali mengingatkan Senja akan pilihannya. Benarkah ia mencintai Fajar? Ataukah dia hanya mencari pelarian? Benarkah Ken mengkhianatinya, sudahkah Senja membicarakan hal itu baik-baik? Alvin tahu hubungan Senja, dan Ken sudah berlangsung lama. Ia tidak ingin adiknya menyesal, karena salah mengambil keputusan. Dan lagi, Alvin juga tahu bagaimana hubungan Fajar, dan Adara. Alvin takut jika adiknya juga hanya dijadikan pelarian. Dan sekarang, pernikahan mereka berjalan rumit ini, secara tidak langsung ada hubungannya dengan masa lalu.
"Maafkan aku Kak, aku memang salah. Saat aku mencari Kak Alvin, malah Ken yang ada disampingku, aku tidak sengaja Kak. Semuanya terjadi begitu saja, aku kacau, aku tidak bisa berfikir dengan akal sehatku." jawab Senja disela-sela tangisnya.
"Sekacau apapun fikiran kamu, tapi tidak seharusnya kamu melakukan hal itu. Kamu sudah lupa dengan nasihat Kakak selama ini, iya! Kamu benar-benar bodoh Senja!" bentak Alvin.
"Maaf Kak." ucap Senja.
"Kamu fikir semuanya bisa diperbaiki hanya dengan kata maaf. Kamu tidak memikirkan bagaimana nasib anak itu nantinya, bagaimana perasaannya, saat tahu dia terlahir karena hubungan zina! Dan jika dia lahir perempuan, baik Fajar maupun Ken, mereka tidak bisa menjadi wali nikahnya. Kau bisa fikirkan itu Senja!" kata Alvin sambil menatap Senja dengan tajam.
"Tapi aku tidak menyangka, justru kamu yang sudah punya pasangan, dan tidak pernah kekurangan. Malah melakukan hal yang sehina itu. Sejak kecil sudah kutanamkan akhlak dalam diri kamu, tapi apa yang kau lakukan! Kau membuatku kecewa Senja!" bentak Alvin dengan penuh emosi.
"Cukup Vin! Jangan terus memarahinya! Kau tidak kasihan melihat dia menangis seperti itu!" teriak Fajar sambil beranjak dari duduknya.
"Kau bodoh Fajar! Benar-benar bodoh. Dia istrimu, dia melakukan kesalahan yang fatal, dan kau begitu tenang menghadapinya. Dimana hati kamu!" bentak Alvin sambil menunjuk-nunjuk wajah Fajar.
"Karena aku tahu alasannya, kenapa dia melakukan itu." jawab Fajar dengan pelan.
"Aku juga kecewa Vin, tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku tahu menjadi istriku itu memang sulit, jalan hidupku begitu pahit." batin Fajar dalam hatinya.
"Arrgghh!!" geram Alvin sambil mengepalkan tangannya. Melihat Senja yang menangis terisak-isak, Alvin tidak tega untuk terus memarahinya.
"Lalu bagaimana keadaanmu sekarang? Dan kenapa kamu tidak mengatakannya pada Senja. Andai saja kamu jujur dari awal, mungin semua ini tidak terjadi Jar." kata Alvin.
"Kau tidak mengerti bagaimana sulitnya posisiku, kau fikir ini penyakit yang bermartabat Vin. Ini aib, banyak orang memandang penyakit ini dengan sebelah mata. Kau fikir untuk mengatakannya pada Senja itu mudah, tidak Vin itu sangat sulit. Aku mencintainya, aku takut dia akan meninggalkan aku saat tahu semuanya. Salahkan saja aku! Aku memang selalu berada diposisi yang salah, sejak aku melakukannya dengan Adara aku sudah salah Vin." teriak Fajar sambil memegangi kepalanya. Dadanya tampak naik turun menahan emosi.
"Kau tahu apa yang akan terjadi saat orang luar tahu keadaanku. Bisnis Papa akan hancur, nama baik orang tuaku akan tercoreng. Rasanya otakku sudah tidak sanggup menyimpan beban yang terlalu banyak." sambung Fajar sambil menggigit bibirnya.
__ADS_1
"Fajar aku tidak bermaksud menyalahkanmu, aku hanya..."
"Sudahlah, aku juga tahu kalau yang salah adalah aku." sahut Fajar.
"Bagimana keadaanmu sekarang? Wajahmu tampak pucat, dan kau sedikit lebih kurus. Apa kata dokter?" tanya Alvin sambil menatap Fajar.
"Aku baik-baik saja, aku pucat karena akhir-akhir ini pekerjaanku cukup banyak, aku sedikit lelah." jawab Fajar dengan asal.
"Kau yakin?"
"Tentu saja yakin." jawab Fajar.
"Syukurlah kalau begitu, mmm Fajar, bagaimana orang tuamu, apa mereka juga belum tahu apa yang terjadi padamu?" tanya Alvin.
"Belum." jawab Fajar sambil menggeleng.
"Lalu?"
"Entahlah, aku tidak tahu bagimana cara menjelaskannya. Jadi biarkan waktu saja yang berbicara." jawab Fajar sambil fikirannya menerawang jauh.
Sekarang Senja hamil, dia dalam dilema untuk mengatakannya, atau tidak. Jika ia tidak mengatakannya, lambat laun orang tuanya juga akan tahu. Dan mereka akan kecewa jika terlambat mengetahuinya.
Tapi jika ia mengatakannya, kesalahan Senja akan terkuak. Orang tuanya akan tahu kalau itu bukan cucu kandungnya.
"Sekarang apa yang akan kalian lakukan?" tanya Alvin, sambil menatap Fajar dan Senja secara bergantian.
"Apa maksudmu? Tentu saja kita akan menjalani pernikahan ini dengan baik. Kita berdua saling mencintai, kita berdua saling memaafkan, dan saling menerima kekurangan. Bukankah itu terdengar sangat manis Vin?" kata Fajar seraya tangannya merangkul Senja, dan menyandarkannya di bahunya.
"Iya kedengarannya memang manis, tapi sebenarnya rasanya sangatlah rumit, dan pahit. Maafkan aku Kak, gara-gara aku hamil, kamu jadi tidak bisa jujur pada Mama dan Papa. Aku telah banyak menyulitkanmu Kak." batin Senja sambil menautkan kedua tangannya.
"Aku tidak tahu lagi harus bicara apa." ucap Alvin dengan pelan. Ia memegangi kepalanya yang terasa pening, karena memikirkan kenyataan yang baru saja ia ketahui.
"Lalu bagaimana nasib Senja nanti, cepat atau lambat Tante Rani akan tahu kebenarannya. Dan Fajar, melihat kondisinya saat ini, mampukah ia menemani Senja sampai tua. Ya Allah kenapa harus Senja yang mengalami semua ini, kenapa bukan aku saja. Aku fikir pernikahan adalah awal kebahagiaannya Senja, tapi ternyata aku salah." batin Alvin dalam hatinya.
"Satu persatu orang mulai tahu tentang penyakitku. Ternyata aku tidak bisa menyembunyikan aib ini selamanya." batin Fajar sambil tetap memeluk Senja.
"Aku sudah membuat Kak Fajar, dan Kak Alvin kecewa. Maafkan aku, maafkan aku Kak." batin Senja sambil menyeka air matanya.
Bersambung....
__ADS_1