Kesucian Cinta Yang Ternoda

Kesucian Cinta Yang Ternoda
Sakitnya Kehilangan


__ADS_3

Keesokan harinya.


Sang surya baru saja mengintip di ufuk timur. Semilir angin pagi yang masih dingin, berhembus perlahan, menjatuhkan buliran-buliran embun yang sebening kristal. Susana pagi yang masih sepi, belum banyak kendaraan yang berlalu lalang di jalanan. Namun Alvin, dan Senja sudah berada di dalam taxi yang membawanya menuju TPU Kota Surabaya.


Sebenarnya kondisi Senja masih sedikit lemah, begitu pula dengan janinnya. Namun Senja bersikeras untuk keluar dari rumah sakit, ia ingin segera pergi ke pemakamannya Fajar. Alvin tak punya pilihan lain, meski dengan berat hati, ia terpaksa menuruti permintaan adiknya.


Dokter mengijinkan Senja untuk pulang, dengan catatan harus segera kembali ke rumah sakit, jika kondisi kesehatannya semakin memburuk.


Senja menunduk, menatap jarum jam yang melingkar di tangannya. Untuk pertama kalinya Fajar memberinya hadiah sebuah jam tangan, dan ternyata itu juga menjadi yang terakhir kalinya.


"Kak Fajar, aku tak pernah menyangka, jika pernikahan kita akan berakhir seperti ini. Kau menyerah, karena kecewa dengan pengkhianatan yang kulakukan. Dan kau pergi disaat aku belum sempat mendapatkan kata maaf darimu. Sakit rasanya Kak!" ucap Senja dalam hatinya.


Senja memejamkan matanya, mencoba menahan air mata yang sudah menggenang di sana.


"Senja!" panggil Alvin sambil menggenggam tangan Senja.


"Iya Kak." jawab Senja sambil menoleh.


"Sebentar lagi sampai." kata Alvin.


Senja menatap keluar, ternyata ucapan Alvin memang benar. Tempat tujuan mereka hanya tinggal beberapa meter lagi. Senja terlalu larut dalam lamunannya, hingga ia tak sadar dengan perjalanannya.


Beberapa menit kemudian, taxi berhenti di depan pintu masuk TPU. Senja membuka pintunya, dan melangkah keluar dari taxi yang ditumpanginya. Jantungnya berdetak cepat, lelaki yang beberapa waktu lalu masih memeluknya dengan hangat, kini sudah terbujur di dalam tanah.


"Terima kasih Pak." kata Alvin sambil menyerahkan beberapa lembar uang kepada supir taxi.


Lalu ia keluar dari taxi, dan melangkah mendekati Senja.


"Ayo!" ajak Alvin.


"Iya Kak." jawab Senja sambil mengikuti langkah Alvin yang mulai berjalan memasuki area pemakaman.


Semakin jauh Senja melangkah, jantungnya semakin berdetak cepat, bahkan kini tubuhnya mulai gemetaran. Semilir angin yang meriapkan rambutnya, menguarkan aroma kamboja yang khas. Membuat hati Senja semakin sesak, ia semakin sadar, bahwa dirinya, dan Fajar kini telah berada di tempat yang berbeda.


Beberapa menit kemudian, Alvin menghentikan langkahnya. Ia menatap Senja yang sedang berdiri di sampingnya. Alvin mengangguk, mengisyaratkan bahwa mereka telah tiba di tempat tujuan.


Senja menunduk, menatap gundukan tanah yang masih basah. Perlahan kakinya melangkah mendekatinya, lalu ia terduduk lemas di sana.


Senja mencengkeram tanah itu dengan erat. Air matanya berderai, membasahi kelopak mawar yang mulai mengering. Senja tak pernah menyangka, jika hari ulang tahunnya, akan menjadi akhir dari segala-galanya.

__ADS_1


Pagi itu, untuk terakhir kalinya Senja merasakan hangatnya pelukan Fajar. Untuk terakhir kalinya Senja mendengarkan suara, dan bisikan cinta dari Fajar. Untuk terakhir kalinya Senja melihat senyuman Fajar, dan menatap bola matanya yang teduh. Dan untuk terakhir kalinya Senja merasakan cinta tulus darinya.


"Kak Fajar!" ucap Senja sambil mengangkat wajahnya. Perlahan tangannya bergerak, menyentuh nisan yang bertuliskan nama suaminya.


"Bagaimana caranya aku melewati semua ini Kak. Aku mencintai kamu, aku membutuhkan kamu Kak." ucap Senja sambil terisak.


Lelaki yang biasanya merengkuhnya dengan penuh kasih sayang, kini telah tiada. Senja tak bisa lagi menatapnya, hanya nisan, dan gundukan tanah yang bisa ia temui.


Mereka kini telah tinggal di alam yang berbeda, kisah cinta yang pernah mereka rajut, kini hanya tinggal kenangan.


"Senja, kamu pasti bisa! Percayalah pada Kakak!" kata Alvin sambil berjongkok di samping Senja.


"Ini sangat berat Kak, selamanya aku tidak akan bisa bertemu dengannya. Rasanya aku tidak sanggup Kak, ini sangat menyakitkan." jawab Senja dengan pelan, seraya memegangi dadanya dengan kedua tangannya.


Alvin menghela nafas panjang, ia mengusap rambut Senja yang berantakan, karena tertiup angin.


"Dengarkan Kakak! Kita hanya manusia biasa, kita harus menerima apapun yang telah ditakdirkan oleh Sang Pencipta. Senja bukan seperti ini yang Fajar inginkan. Ikhlaskan dia, agar dia juga tenang di sana. Jika kamu menangis seperti ini, di sana dia juga akan sedih. Ikhlaskan dia, dan jalankan semua amanatnya!" kata Alvin sambil memegang kedua bahu Senja, dan menatapnya lekat-lekat.


Senja terdiam, satu hal yang pertama kali terngiang dalam ingatannya adalah ucapan Fajar yang menyuruhnya untuk tetap tersenyum, dan mengejar kebahagiaan. Lalu menyuruhnya untuk menjaga bayinya, dan belajar dari kesalahan untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Senja juga ingat bahwa Fajar menyuruhnya untuk bersujud, dan berkeluh kesah kepada Allah.


"Maafkan aku yang telah menodai pernikahan kita Kak. Tapi jujur, jauh di dalam hatiku hanya ada nama kamu. Aku akan berusaha tersenyum, tapi aku tidak bisa berjanji untuk tidak menangis. Kepergianmu seakan membawa sebagian dari jiwaku. Aku benar-benar kehilangan kamu Kak." batin Senja dalam hatinya.


Perlahan Senja membuka matanya, dan kemudian menatap gundukan tanah di depannya.


"Aku mencintaimu Kak, aku sangat mencintai kamu!" ucap Senja sambil tersenyum manis.


Senyuman yang sebenarnya adalah senyuman palsu, karena jauh di dalam hatinya ia menjerit sakit.


Lalu Senja beranjak dari duduknya, sambil menunduk ia mulai melangkahkan kakinya. Ia berjalan meninggalkan tempat terakhirnya Fajar. Melihat Senja melangkah pergi, Alvin langsung beranjak dari duduknya. Ia mengikuti langkah adiknya, yang sudah berjalan di depannya.


***


Jarum jam sudah menunjukkan pukul 07.00 malam. Senja duduk di kursi, di dekat jendela kamarnya. Matanya menatap keluar, melihat rintik hujan yang jatuh membasahi bunga-bunga di samping rumahnya.


Alvin sengaja membawa Senja pulang ke rumah, karena kondisinya belum stabil, Alvin tidak tega membiarkannya tinggal sendirian di apartemen.


Perlahan air mata Senja kembali menetes, seiring rintik hujan yang terus berjatuhan. Dinginnya angin malam yang menerpanya, tak lagi ia hiraukan. Karena sesungguhnya semua itu tak seberapa dibandingkan dengan rasa dingin, dan sakit yang ada di hatinya.


Senja menatap foto yang menggantung di dinding kamarnya. Foto dirinya, dan Fajar saat mereka masih pacaran. Mereka sedang duduk bersama di teras rumahnya. Senja menyandarkan kepalanya di bahu Fajar, sedangkan tangan Fajar tampak memeluk Senja dengan erat.

__ADS_1


Senja tersenyum getir, mengingat betapa singkatnya kebersamaan mereka.


Senja menunduk, fikirannya menerawang jauh mengingat saat awal-awal mereka menjalin hubungan.


Flash back :


Disuatu sore, disaat Senja baru saja pulang bekerja. Ia disuruh atasannya untuk mengantarkan berkas ke kantor Fajar, kebetulan kedua perusahaan itu memang menjalin kerjasama. Senja menemui Fajar yang sedang berada di ruangannya.


"Kamu masih bekerja Kak?" tanya Senja sambil duduk di depan Fajar.


"Sudah selesai sayang, tinggal membereskannya saja. Tunggu sebentar ya." jawab Fajar sambil tersenyum.


"Iya." ucap Senja sambil beranjak dari duduknya. Senja melangkah mendekati jendela, ia menatap keluar, melihat semburat cahaya jingga dari sang surya yang hampir terbenam.


"Kau sedang menatap senja?" tanya Fajar yang tiba-tiba sudah berdiri di belakangnya.


"Iya Kak, sangat indah. Enak ya kalau ruangan kerjanya di lantai atas, pemandangannya keren." jawab Senja sambil tersenyum lebar.


"Iya senja memang indah, apalagi Senja yang yang sedang berdiri di sampingku." ucap Fajar sambil memeluk Senja dari samping.


"Apa sih Kak." kata Senja sambil tertawa.


"Sayang kamu tahu, kita itu memang berjodoh." ucap Fajar.


"Kenapa begitu?"


"Aku Fajar, dan kamu Senja. Aku matahari terbit, dan kamu matahari terbenam. Kamu tahu, fajar dan senja itu diciptakan untuk saling melengkapi, dan saling menyempurnakan. Dua hal itu akan selalu beriringan. Sayang aku berharap hubungan kita nanti juga seperti fajar, dan senja yang sesungguhnya. Aku akan selalu mencintaimu sayang." ucap Fajar dengan panjang lebar.


"Aku juga mencintaimu Kak." jawab Senja sambil menunduk, pipinya merona mendengar kalimat yang Fajar ucapkan.


Flash back off.


Senja menggigit bibirnya. Takdir telah mengabulkan harapan Fajar kala itu. Fajar, dan senja adalah dua hal yang selalu beriringan, saling melengkapi, dan saling menyempurnakan. Namun dua hal itu tak pernah bersama, mereka berada di titik yang berbeda.


Dan hubungannya sekarang juga seperti itu. Mereka saling mencintai, dan saling menyayangi. Mereka saling mengukir cerita indah dalam hati masing-masing. Namun mereka juga berada di titik yang berbeda Senja masih bernafas di dunia, sedangkan Fajar, ia sudah kembali ke alam baka.


Meskipun hati mereka masih menjadi satu dalam cinta, namun mereka tak akan bisa saling menyapa, ataupun sekedar menatap. Dan seperti itulah akhir hubungannya bersama Fajar.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2