Kesucian Cinta Yang Ternoda

Kesucian Cinta Yang Ternoda
Tidak Akan Meninggalkan


__ADS_3

Tangis Senja semakin pecah saat mendengar kalimat yang diucapkan Fajar.


"Jangan menangis!" kata Fajar sambil mengusap air mata Senja dengan kedua tangannya.


"Kenapa kamu mengatakan hal itu Kak, aku tidak akan meninggalkan kamu, tidak akan pernah!" ucap Senja disela-sela tangisnya.


"Kamu...kamu serius dengan ucapanmu sayang?" tanya Fajar.


"Aku sangat serius. Aku mencintai kamu Kak, jadi aku tidak mungkin meninggalkan kamu. Aku menerima apapun keadaan kamu. Tapi yang sangat kusayangkan, kenapa tidak dari dulu kamu mengatakan hal ini, kenapa kamu harus menutupinya dariku. Aku istrimu Kak, aku berhak tahu tentang kamu." jawab Senja sambil menatap Fajar.


"Maafkan aku sayang, aku terlalu takut dengan kemungkinan-kemungkinan buruk yang ada dalam bayanganku. Banyak orang yang memandang penyakit ini dengan sebelah mata, aku takut kau juga akan bersikap sama seperti mereka. Dan dengan penyakit ini, aku sama sekali tidak bisa menyentuhmu. Pasti itu juga berat bagimu, itu sebabnya aku takut untuk mengatakan semuanya." kata Fajar.


"Aku tidak sekejam itu Kak, andai saja kamu jujur dari awal, aku tidak akan salah paham, dan menganggapmu selingkuh." ucap Senja.


"Aku malu sayang, aku merasa terlalu hina, aku tidak percaya diri untuk mengakuinya. Kamu terlalu sempurna, terlalu mulia jika dibandingkan dengan diriku." kata Fajar.


"Kamu salah Kak, aku juga tidak jauh beda dengan kamu. Aku tidak semulia yang kamu fikirkan. Aku...aku sudah tidak perawan Kak." ucap Senja dengan pelan, seraya ia menundukkan kepalanya. Jantungnya berdetak cepat, entah seperti apa reaksi Fajar saat mendengar pengakuannya.


"Kamu...kamu serius Senja?" tanya Fajar dengan sedikit kaget.


Yang dia tahu Senja adalah wanita baik-baik. Meskipun dia cukup lama berpacaran dengan Ken, namun mereka tidak melampaui batas. Dalam hal ini Alvin cukup keras dalam mendidiknya.


"Aku serius."


"Apakah Ken yang mendapatkan malam pertamamu?"


"Iya." jawab Senja sambil menggigit bibirnya.


"Ya sudah lupakan saja masa lalu! Kita hanyalah manusia biasa, melakukan kesalahan, dan kekhilafan bukanlah hal yang mustahil. Sekarang yang bisa kita lakukan hanyalah memperbaiki masa depan kita, dan juga hubungan kita." ucap Fajar sambil meraih tubuh Senja, dan membawanya kedalam pelukannya. Ia mengusap-usap lengan Senja dengan lembut, dan penuh kasih sayang.


"Apa kau masih bisa mengatakan hal yang sama Kak, seandainya kau tahu kalau kesucianku baru kulepas semalam." ucap Senja dalam hatinya.


"Kak!" panggil Senja.


"Iya."

__ADS_1


"Apa, Mama dan Papa juga tidak tahu tentang penyakitmu?" tanya Senja sambil mendongak, menatap rahang suaminya yang ditumbuhi rambut-rambut halus.


"Tidak." jawab Fajar sambil menggeleng.


"Kenapa kau tidak mengatakannya? Jika kau bicara terus terang, mungkin Mama tidak akan memojokkanku, dan juga tidak menyuruhmu untuk menikah lagi." kata Senja.


"Sudah kubilang ini aib sayang, semua orang tahu HIV disebabkan karena pergaulan bebas. Dan penyakit ini sangat mematikan. Mama dan Papa pasti sangat terpukul, jika tahu keadaanku yang seperti ini. Dan lagi, jika kabar ini mencuat keluar, itu akan berakibat buruk pada bisnis yang sudah Papa rintis sejak lama. Aku berusaha menjaga nama baikku di depan publik, aku tidak ingin mempermalukan keluargaku." ucap Fajar dengan panjang lebar.


"Itu sebabnya informasi tentang Adara juga ditutup. Keluarganya tidak ingin aib itu diketahui oleh orang lain." sambung Fajar.


"Aku mengerti, tapi jika hanya memberitahu Mama, dan Papa. Aku rasa itu bukan hal yang buruk Kak. Lambat laun mereka akan tahu, kau tidak akan bisa menyembunyikan semua ini selama-lamanya. Pada saatnya nanti mereka pasti tahu, dan akan lebih baik jika kau mengatakannya sejak awal. Setidaknya mereka tidak kaget Kak." kata Senja.


"Kamu benar sayang. Kepergian kamu kemarin, menyadarkan aku betapa pentingnya sebuah kejujuran. Sekarang aku sudah memutuskan untuk mengatakan hal ini pada keluargaku. Maafkan aku, selama ini Mama memojokkanmu karena aku. Nanti jika waktunya sudah tepat, aku akan meluruskan semuanya. Setelah itu kuharap sikap Mama padamu bisa lebih baik." ucap Fajar sambil menunduk. Ia menatap Senja yang masih berada dalam pelukannya.


"Terima kasih ya sayang, kamu mau menerimaku. Aku bersyukur Tuhan masih mengijinkan aku untuk bersamamu disaat-saat terakhirku." kata Fajar sambil menangkup pipi Senja.


"Jangan katakan itu Kak!" ucap Senja seraya menempelkan jari telunjukknya di dibibir Fajar.


"Soal usia itu rahasia Allah, dokter hanya menerka, masih belum tentu kebenarannya. Kita berdoa saja, semoga Allah memberikan keajaiban untuk kita. Semoga penyakit Kak Fajar bisa disembuhkan, dan Kak Fajar bisa menjagaku sampai tua." sambung Senja sambil tersenyum.


"Rasanya aku mendapatkan kembali cahaya cinta yang kemarin sempat padam. Semoga pernikahan ini terus berjalan dengan indah, dan tak ada ujian lagi. Apapun keadaan Kak Fajar, aku menerimanya. Aku bersyukur, dan bahagia, karena cintanya padaku begitu tulus. Semoga kesalahan semalam tidak berdampak apa-apa pada diriku." batin Senja dalam hatinya.


***


Birunya lautan yang membentang luas, berpadu dengan hamparan pasir hitam, juga batu karang yang berjajar kokoh di sepanjang pantai. Deru ombak yang terdengar merdu, serta semilir angin yang menyejukkan. Romantis, satu kata yang paling tepat untuk melukiskan tempat ini.


Menyatu dengan alam, sambil menatap sang surya yang hampir tenggelam. Tampak dua insan sedang duduk bersebelahan di pinggir lautan. Menjulurkan kakinya, dan membiarkan sang ombak membasahinya. Mereka adalah Alvin, dan Nina. Mereka sedang berada dibagian selatan Kota Lumajang, tepatnya di Kecamatan Tempursari.


Nina dipercaya oleh atasannya, untuk mendesain sebuah rumah besar milik orang ternama di kota ini. Karena letaknya yang cukup jauh, dan membutuhkan waktu yang lama untuk meninjau lokasinya, Alvin memutuskan untuk menemaninya. Ia tidak tega membiarkan Nina pergi seorang diri.


Tempursari bukanlah perkotaaan padat yang dipenuhi gedung-gedung pencakar langit. Melainkan daerah yang masih asri, dengan panorama alamnya yang natural, dan mempesona. Datang ke tempat ini, sangat tidak lengkap jika tidak berkunjung ke pinggir pantai sambil menikmati ikan bakarnya yang khas. Itu sebabnya sore ini Alvin mengajak Nina menikmati senja di pesisir pantai.


"Pemandangan di sini benar-benar indah, rasanya aku sangat ingin berlama-lama di tempat ini." ucap Nina sambil tersenyum lebar, ia menatap kagum pada sang mentari yang menyemburatkan cahaya jingganya di ufuk barat.


Alvin tak menjawab, dia hanya ikut tersenyum saat menatap wajah Nina yang begitu ceria. Tangannya masih menggenggam erat, ada sebuah benda kecil yang ia sembunyikan di sana. Dalam hal asmara Alvin termasuk orang yang payah, menyatakan cinta adalah sesuatu yang sangat sulit baginya.

__ADS_1


"Kak Alvin kenapa diam saja, lihat itu Kak, cantik sekali kan?" kata Nina sambil menunjuk ke arah senja.


"Lebih cantik kamu." jawab Alvin dengan jantung yang berdetak cepat.


"Ah Kak Alvin jangan begitu dong." sahut Nina sambil menunduk, ia menyembunyikan wajahnya yang mulai memerah.


"Nina, aku ingin mengatakan sesuatu padamu." ucap Alvin.


"Sesuatu apa Kak?" tanya Nina sambil mengangkat wajahnya.


Belum sempat Alvin menjawab, tiba-tiba ada ombak yang sedikit besar menggulung dari tengah lautan. Dengan cepat Alvin menarik tangan Nina, dan mengajaknya berdiri.


"Ayo lari! Kita akan basah!" teriak Alvin sambil mengajak Nina menjauhi bibir pantai.


"Aku kaget Kak." kata Nina sambil tertawa.


"Terkadang ombak di sini memang pasang. Itu sebabnya dilarang mandi di pantai." jawab Alvin sambil menunjuk tulisan peringatan yang ditempel pada pohon ketapang, yang tak jauh dari tempat mereka berdiri.


"Iya Kak kamu benar. Sedikit ngeri waktu melihat ombak yang besar, tapi aku tetap menyukai tempat ini. Sangat indah!" jawab Nina sambil tetap tersenyum.


"Nina!" panggil Alvin sambil menatap Nina.


"Iya Kak, kenapa?"


"Sebenarnya, aku ingin mengatakan sesuatu padamu. Aku..."


"Mbak, Mas, ikan bakarnya sudah jadi. Mari silakan dinikmati!" teriak seorang wanita sambil melangkah mendekati mereka.


Tadi mereka memang memesan ikan bakar di warung lesehan yang ada di sana.


"Iya Mbak, Kak ayo kesana!" ajak Nina sambil melangkahkan kakinya.


"Ayo." jawab Alvin dengan malas.


"Sial, gagal lagi! Padahal aku sudah bersusah payah mengumpulkan keberanianku, tapi malah ada saja yang mengganggu. Ombaklah, ikan bakarlah. Ahh semuanya menyebalkan!" gerutu Alvin dalam hatinya. Mau tidak mau ia kembali mengantongi cincinnya, dan mengikuti langkah Nina yang sudah berjalan semakin menjauh.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2