Kesucian Cinta Yang Ternoda

Kesucian Cinta Yang Ternoda
Bertemu Sella


__ADS_3

Dua hari sudah berlalu, sejak Ken mengklarifikasi berita miring yang sempat menyudutkannya.


Perusahaan milik kuarga Mahardika kembali membaik, meskipun belum stabil. Para investor yang kemarin sempat mundur, kini kembali menginvestasikan dananya. Dan beberapa relasi yang sempat membatalkan kerjasamanya, kini mereka mulai mengurungkan niatnya, mereka percaya jika Mahardika adalah perusahaan yang layak untuk mereka ajak bekerjasama.


Namun semua itu tidak terjadi pada perusahaan milik keluarga Antony, meskipun Ken sudah berhasil mengembalikan nama baiknya, namun nyatanya para investor, dan para relasi tidak berubah pikiran, mereka tetap memutuskan hubungan kerjasama dengan perusahaan milik Antony. Mengapa demikian? Entahlah, Ken belum menemukan jawabannya.


Saat ini Ken, dan ayahnya sedang tertatih dalam mempertahankan bisnisnya, sampai mereka harus mengurangi beberapa karyawan yang bekerja di kantornya, meskipun dengan berat hati, namun mereka harus melakukannya.


"Pak Kenzo!" panggil Anna yang saat itu sedang duduk di depan Ken.


Dia adalah salah satu karyawan yang tidak mau diberhentikan, ia rela gajinya dihutang, asalkan ia masih bekerja di kantor ini. Selama ini Ken sudah memberikan pekerjaan, dan gaji yang terbaik untuknya. Jadi ia tidak mau meninggalkan Ken, disaat perusahaan ini sedang terpuruk.


Ken tidak menjawab, ia hanya menoleh, dan menatap Anna sekilas. Ia terlalu bingung menghadapi masalah yang sedang menimpanya.


"Ada telfon dari Om Dika," ucap Anna sambil menyodorkan ponselnya.


Ken tahu jika Anna sekarang menjalin hubungan serius dengan Andika Mahendra.


"Dika,"


"Iya, dia ingin berbicara dengan Pak Kenzo," jawab Anna sambil tersenyum.


Dengan ragu Ken meraih ponsel itu, dan menempelkan di telinganya.


"Hallo Ken!" sapa seseorang di seberang sana.


"Ada apa?" tanya Ken.


"Aku tahu apa yang terjadi dengan perusahaanmu. Mungkin selama ini hubungan kita tidak cukup baik, tapi sekarang aku sudah merelakan Senja, aku sudah bahagia bersama Anna. Jadi sudah tidak ada alasan lagi bagi kita untuk saling membenci," ucap Dika mengawali pembicaraannya.


"Aku tidak pernah membencimu, aku hanya tidak suka jika kau mendekati Aya," jawab Ken.


"Itu tidak ada bedanya," sahut Dika dengan cepat.


"Menurutku sangat beda."


"Ah sudahlah, aku menelfonmu bukan untuk membicarakan hal itu.


Aku bersedia menjadi investor untuk perusahaan kamu, meskipun tidak seberapa, tapi aku mencoba membantumu," kata Dika dengan serius.


"Kau serius dengan ucapanmu? Kau mau membantuku?" tanya Ken dengan heran.

__ADS_1


"Sudah kubilang, tidak ada alasan bagi kita untuk saling membenci. Fajar adalah sahabatku, kau seperti ini ada hubungannya dengan dia. Aku sudah tahu apa yang terjadi padanya. Dan lagi, kau adalah calon suaminya Senja, sedangkan Alvin dia juga sahabatku. Tidak ada salahnya kan, jika kita juga berteman," kata Dika.


"Aku sangat berterima kasih padamu, maaf jika selama ini sikapku kurang mengenakkan," ucap Ken.


"Lupakan yang telah lalu, kita bisa memperbaiki hubungan kita dari sekarang," jawab Dika.


Tak berapa lama kemudian, sambungan telefon terputus. Ken sedikit tersenyum, kini bertambah satu lagi orang yang mau membantunya.


Ken hanya bisa berharap, semoga perusahaannya kembali normal, sebelum hari pernikahannya.


"Terima kasih Anna." Ken tersenyum sambil menatap Anna.


"Terima kasih untuk apa, Pak?" tanya Anna.


"Berkat kau, Dika mau membantuku. Dan terima kasih juga kau masih mau bertahan dengan perusahaan ini, padahal kau tahu sekarang perusahaan ini sudah diambang kebangkrutan," jawab Ken sambil tersenyum kecut.


"Yang kulakukan tidak seberapa Pak, selama ini Pak Kenzo sudah begitu baik pada saya. Sudah seharusnya saya membalas kebaikan Bapak," jawab Anna sambil tersenyum.


Beberapa menit kemudian, pintu ruangan diketuk dari luar. Anna beranjak dari duduknya, dan melangkah mendekati pintu. Ia membukanya, dan ternyata yang datang adalah Vera, salah satu staf yang bekerja di lantai bawah.


"Ada apa?" tanya Anna pada Vera.


"Ada tamu yang ngotot ingin menemui Pak Kenzo," jawab Vera.


"Seorang wanita, entah siapa namanya. Penampilannya glamour, rambutnya panjang, dan dicat merah," jawab Vera.


"Biarkan dia masuk, dan antar kesini!" sahut Ken tanpa menoleh.


Penampilan glamour, rambut dicat merah, Ken sangat yakin jika wanita itu adalah Sella.


Dua hari ini dia belum mendapatkan kabar apapun dari Nicko, dan ternyata sekarang Sella datang menemuinya. Ken semakin yakin, jika orang yang telah mengusiknya adalah Sella.


"Baik Pak," jawab Vera sambil berlalu pergi.


"Anna!" panggil Ken.


"Iya Pak," jawab Anna sambil melangkah mendekat.


"Keluarlah sebentar, aku akan menemui wanita itu, dan aku akan bicara dengannya," kata Ken.


"Baik Pak, kalau begitu saya permisi dulu." Anna melangkah pergi keluar ruangan.

__ADS_1


"Sella, kau berani datang menemuiku, itu artinya kau juga harus berani menerima kegilaanku," batin Ken dengan tangan yang mengepal erat.


Tak lama kemudian, pintu ruangan terbuka, tanpa diketuk. Ken tak menoleh, dari bunyi ketukan sepatunya saja, ia sudah yakin jika itu adalah Sella.


"Hai Ken," sapa Sella sambil duduk di depan Ken.


Bibirnya mengulas senyuman lebar, seperti sedang menertawakan kehancuran Ken.


"Ada apa?" tanya Ken dengan nada datar.


"Kau tidak menanyakan bagaimana kabarku?" tanya Sella sambil mengerlingkan matanya.


"Tidak," jawab Ken dengan singkat.


"Kau masih saja sombong Ken, kau tidak sadar sekarang posisimu itu seperti apa," sindir Sella sambil tersenyum miring.


"Wanita bodoh, secara tidak sadar kau sudah mengakui perbuatanmu," ucap Ken dalam hatinya.


"Posisiku, memangnya kenapa dengan posisiku?"


"Tutupi saja kehancuranmu sesuka hatimu, sampai tiba saatnya nanti kau tidak akan bisa menutupinya lagi," ucap Sella sambil tersenyum.


"Sepertinya kau sangat tahu dengan keadaanku, tapi juga jangan terlalu yakin Sella, takutnya ada hal yang kau lewatkan, yang akan menghancurkan dirimu sendiri," kata Ken dengan tatapan tajamnya.


"Kau tidak tahu siapa aku sekarang, kau berhadapan dengan orang yang salah Ken." Sella membalas tatapan Ken dengan lebih tajam.


Ken terkekeh sambil beranjak dari duduknya, ia berdiri membelakangi Sella. Ken berusaha mengalihkan perhatian Sella, karena saat itu Nicko sedang menelfonnya. Ken tidak bisa mengangkatnya sekarang, jadi dengan terpaksa dia menolak panggilan Nicko.


"Siapa pun kamu, aku tidak peduli Sella. Sekali kau mengusik hidupku, aku tidak akan pernah memaafkanmu," kata Ken sambil mengetik pesan singkat untuk Nicko.


Setelah selesai, Ken membalikkan badannya, dan kembali menatap Sella.


"Rupanya kau benar-benar ingin bermain denganku, baiklah, aku turuti keinginan kamu Sella," kata Ken dengan senyumannya. Sebuah senyuman yang kesannya menyeramkan.


"Kita lihat saja nanti Ken, masihkah kau bisa tersenyum seperti ini. Entah dokter mana yang kau suap, hingga dia bisa mengatakan kalau Fajar dan Senja itu tidak menderita HIV. Tapi satu hal yang harus kau tahu Ken, lambat laun perusahaannmu akan hancur, kau akan jatuh miskin Ken," kata Sella sambil beranjak dari duduknya.


Ken merasakan getaran ponsel di sakunya, lalu ia kembali duduk di kursinya, dan membaca pesan yang dikirimkan Nicko kepadanya, dengan tanpa sepengetahuan Sella.


Ken memijit pelipisnya, jantungnya berdetak dengan cepat, kini ia tahu siapa orang yang ada dibelakang Sella.


"Ternyata dia, pantas saja investor dan para relasi itu pergi tanpa mau kembali lagi. Ini pasti ulahnya, ternyata lawanku sangat kuat," batin Ken dalam hatinya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2