
Dalam dunia fana ini, yang tak pernah menyerah hanyalah waktu. Ia terus berjalan tanpa mengenal lelah, meski tak seorang pun mau peduli padanya. Dalam kehidupan, waktu adalah sesuatu yang pasti, sebesar apapun usaha kita untuk merayunya, waktu tidak akan pernah mau berhenti. Perjalanan waktu tak pernah menunggu, tak peduli kita terluka atau bahagia, waktu akan tetap bergulir dengan semestinya.
Seperti halnya dalam kehidupan Senja, waktu terus berjalan tanpa menunggu hatinya yang sedang terluka. Hari demi hari, minggu demi minggu, waktu terus bergulir dengan begitu cepatnya. Kini genap sudah sembilan bulan sepuluh hari ia mengandung.
Ditengah malam yang kelam, disaat hujan deras sedang mengguyur Kota Surabaya. Senja mengerang kesakitan di dalam mobil yang membawanya ke rumah sakit. Ia berbaring di bangku belakang, dengan kepala yang berada di atas pangkuan Nina. Senja memegangi perutnya sambil terus merintih.
Beberapa jam yang lalu, Senja merasakan sakit di punggung, dan perut bagian bawahnya. Ia berteriak memanggil Nina, dan Alvin. Ia meminta tolong karena rasa sakit itu semakin menjadi.
Alvin panik, dia hendak membawa Senja ke rumah sakit. Namun tak mungkin ia membawanya dengan menggunakan motor. Lalu Alvin menelfon Ken, dan meminta bantuan padanya.
Sekitar dua bulan yang lalu, Pak Jeffry dan Bu Ratih bertamu ke rumah Alvin. Mereka meminta maaf atas tindakan Ken yang sangat merugikan Senja. Lalu mereka juga berjanji akan bertanggungjawab atas kebutuhan Senja, dan anaknya. Untuk itulah Alvin menelfon Ken, dan meminta tolong padanya saat Senja merintih di tengah malam. Dan kini Ken sedang membawa Senja menuju ke rumah sakit.
"Sakit Nin!" rintih Senja sambil mencengkeram tangan Alvin.
"Sabar ya Nja, tahan sebentar! Tidak lama lagi kita sampai di rumah sakit." ucap Nina seraya mengusap kening Senja yang berkeringat.
"Kamu pasti bisa Nja, berdoalah, minta pertolongan kepada Allah, semoga diberikan kemudahan, dan kelancaran." kata Alvin yang saat itu sedang duduk berjongkok di depan Senja.
Alvin terus menggenggam tangan Senja, sesekali ia mengusap lengannya. Memberikan kekuatan, dan dukungan kepada adiknya.
"Kamu harus baik-baik saja Aya, aku akan segera membawamu ke rumah sakit." ucap Ken dalam hatinya, seraya kakinya menginjak pedal gas, dan menambah laju kecepatannya.
Rintihan Senja yang berbaur dengan suara hujan, membuat hati Ken teriris perih. Seperti itukah sakitnya melahirkan?
Bodoh sekali dirinya memberikan beban seberat itu, disaat Senja belum sah menjadi istrinya.
"Sakit Kak!" Senja kembali merintih, keringatnya mengucur membasahi baju tidur yang sedang dipakainya.
"Sabar ya Nja, ada Kakak di sini. Kakak tidak akan meninggalkan kamu." kata Alvin dengan pelupuk mata yang mulai memanas.
Sesungguhnya ia sangat tidak tega melihat adiknya yang sedang kesakitan. Andai saja bisa, ia sangat ingin menggantikan adiknya. Biarlah ia yang merasakan sakit, asalkan adiknya bisa tersenyum bahagia.
"Sebentar lagi kita sampai Aya, tinggal dua belokan lagi, tahan ya Aya." ucap Ken sambil tetap fokus pada jalanan yang ada di depannya.
__ADS_1
"Sakit, sakit Kak, sangat sakit Kak!" rintih Senja sambil terus menangis.
"Sabar Nja, kamu harus kuat demi anak kamu." ucap Nina sambil menghapus air mata Senja yang terus mengalir dari sudut matanya.
Beberapa menit kemudian, Ken menghentikan mobilnya di halaman rumah sakit. Ia bergegas turun dari mobil, dan membantu Alvin yang sedang mengangkat tubuh Senja.
"Suster! Tolong suster!" teriak Ken memanggil perawat yang sedang berjaga.
Tak berapa lama kemudian, dua perawat datang sambil mendorong brankar. Alvin membaringkan tubuh Senja di sana, dan kemudian perawat mendorongnya menuju ke ruang persalinan.
"Bapak dan Ibu tolong tunggu di sini ya, pasien biar bersama dengan kami." ucap salah satu perawat kala mereka sudah tiba di ambang pintu.
"Baik suster." jawab mereka bersamaan.
Ken mengusap wajahnya dengan kasar saat tubuh Senja sudah dibawa masuk ke dalam ruangan. Sesungguhnya dia sangat ingin menemani Senja di dalam sana, namun tentu saja itu tidak boleh, apalagi dia bukan suaminya.
Ken mondar-mandir di depan ruangan, ia sangat panik. Ia takut jika terjadi apa-apa dengan Senja, atau anaknya.
"Ya Allah selamatkanlah mereka Ya Allah." ucap Ken dalam hatinya.
"Hallo Ma." sapa Ken.
"Hallo, bagaimana Senja, sudah dibawa ke rumah sakit?" tanya Bu Ratih.
"Sudah Ma, baru saja kami tiba. Tapi dia masih di dalam, sedangkan kami disuruh menunggu diluar. Mama dimana?"
"Syukurlah kalau begitu, jangan hanya menunggu Ken, tapi juga berdoa. Semoga persalinannya berjalan dengan lancar. Mama sudah ada di jalan, mungkin tiga jam lagi Mama tiba di sana." jawab Bu Ratih.
"Iya Ma, Papa juga ikut pulang kan?"
"Iya jelas Ken, cucunya mau keluar masa masih mementingkan pekerjaan." ucap Bu Ratih.
"Ya sudah kalau begitu hati-hati Ma." ucap Ken.
__ADS_1
"Iya, jangan lupa berdoa." kata Bu Ratih.
"Iya Ma." jawab Ken.
***
Di dalam ruang persalinan, ditemani satu dokter, dan dua perawat. Senja mengerang menahan rasa sakit yang semakin kuat. Tubuhnya seakan kehilangan tenaga, karena rasa sakit itu kian menyiksanya. Seperti inikah rasanya melahirkan?
Ibu dokter masih belum mengijinkannya untuk mengejan, karena memang belum saatnya. Senja menggigit bibirnya, ia berusaha keras agar tidak berteriak, ataupun menjerit. Senja juga memejamkan matanya, ia hanya merintih sambil menangis.
Sekitar setengah jam kemudian, dokter menyuruhnya untuk mengejan. Senja mengumpulkan segenap tenaganya, demi mendorong sang buah hati yang hendak menatap indahnya dunia.
Satu kali, dua kali, tiga kali, hingga lima kali mengejan, namun sang jabang bayi belum juga keluar.
Senja nyaris kehabisan tenaga, seolah ia tak mampu lagi untuk melakukannya.
"Ayo Bu dorong lagi Bu, kurang sedikit lagi Bu!" ucap ibu dokter.
"Sudah tidak kuat lagi dokter." jawab Senja dengan sangat pelan.
"Coba sekali lagi Bu, ayo Bu!"
Senja mencengkeram selimut yang menutupi tubuhnya. Ia mengumpulkan sisa-sisa tenaganya, dan berusaha mengeluarkan sang buah hati. Senja kehabisan nafas, ia sudah tidak sanggup lagi untuk melakukannya, tenaganya telah terkuras habis. Namun beberapa detik kemudian, ia mendengar suara tangisan bayi. Senja tersenyum, tetapi pandangan matanya mulai buram. Dan detik selanjutnya, ia tak ingat lagi dengan apa yang terjadi pada dirinya.
Di luar ruangan, Ken, Alvin, dan Nina sedang duduk sambil menunduk. Mereka menunggu Senja yang sudah tiga jam berada di dalam ruangan. Diantara mereka tidak ada yang membuka suara, mereka terhanyut dalam pikirannya masing-masing.
"Ya Allah tolong selamatkan Senja, ampunilah semua dosa-dosanya. Berikanlah kemudahan untuknya Ya Allah." batin Alvin sambil mengusap wajahnya.
"Ya Allah, kasihan Senja, selama ini hidupnya sudah cukup menderita. Tolong berikan keselamatan untuk dia, berikanlah kebahagiaan lewat buah hatinya." batin Nina sambil menyeka sudut matanya yang mulai basah.
"Ya Allah ampuni dosa-dosaku, juga dosa-dosa Aya. Ampunilah apa yang telah kami lakukan dimalam itu. Ya Allah tolong berikanlah kemudahan untuk dia, selamatkan dia, dan jangan biarkan dia merasakan sakit. Ijinkanlah hamba memperbaiki kesalahan hamba Ya Allah, berikanlah jalan agar hamba bisa menikahinya. Hamba ingin mencintainya dengan cara yang halal Ya Allah." batin Ken sambil memegangi kepalanya.
Menunggu Senja yang sedang melahirkan, hatinya benar-benar gusar.
__ADS_1
Bersambung