
Tetesan air hujan terdengar bergemericik, memecahkan keheningan malam yang cukup kelam. Sesekali angin kencang terdengar menderu menerpa pepohonan yang tumbuh di pinggir jalan.
Dalam keremangan cahaya lilin, tampak dua wanita sedang duduk di atas tikar sambil menata kue kering ke dalam toples plastik.
"Alhamdulillah ya Nja, usaha kamu semakin lancar. Semoga ke depannya usaha kamu ini bisa berkembang dengan baik." ucap Nina sambil menatap Senja.
"Iya Nin, berkat kamu dan Kak Alvin juga. Tanpa kalian aku tidak akan bisa membuka usaha ini." jawab Senja sambil tersenyum.
"Kita keluarga, sudah seharusnya kita saling membantu." ucap Nina.
Dan Senja hanya menanggapinya dengan senyuman.
"Nja!" panggil Nina.
"Hmmm."
"Kamu kenapa? Dua hari ini kamu lebih banyak diam, tidak seperti biasanya. Kamu ada masalah?" tanya Nina.
Sejak bertemu dengan Ken, Senja menjadi lebih pendiam.
"Aku tidak apa-apa." jawab Senja sambil menghela nafas panjang.
"Kamu jangan bohong Nja, aku tahu ada sesuatu yang sedang kamu pikirkan. Ceritalah padaku!" kata Nina sambil menepuk bahu Senja.
"Kemarin lusa aku menemui Ken." ucap Senja dengan pelan. Tidak ada salahnya bercerita kepada Nina, mungkin nanti bisa sedikit mengurangi bebannya.
"Terus?"
"Awalnya aku berniat menyuruh dia berhenti mencintaiku, tapi..."
"Tapi apa?" tanya Nina dengan cepat.
"Tapi aku malah memberikan harapan padanya. Aku tidak tahu keputusanku ini benar, atau salah." jawab Senja dengan pelan.
"Memangnya perasaanmu sendiri bagaimana? Kau masih menyimpan perasaan untuk Ken?" tanya Nina.
"Tidak juga, tapi entahlah, aku bingung." jawab Senja sambil menghela nafas panjang.
"Memangnya apa yang kau rasakan sekarang? Bicaralah, mungkin aku bisa membantumu." ucap Nina.
"Sebenarnya banyak hal yang telah terjadi dalam pernikahanku Nin." kata Senja mengawali ceritanya.
"Apa saja?"
"Aku hamil bukan dengan Kak Fajar."
__ADS_1
"Hah! Kau serius Nja?" teriak Nina dengan kaget. Selama ini Alvin memang tidak pernah menceritakan tentang Senja padanya.
"Aku serius."
"Lalu kau hamil dengan siapa?" tanya Nina sambil menatap Senja lekat-lekat.
"Ken."
"Ken, ma...mantan kamu? Kenapa semua itu bisa terjadi Senja?" tanya Nina dengan ragu-ragu. Ia tak menyangka jika Senja telah melewati hal sebanyak itu.
"Kau tahu Kak Fajar sakit apa?" Senja balik bertanya.
"Jantung lemah."
"Bukan."
"Lalu?" tanya Nina.
"HIV AIDS, selama menikah Kak Fajar tidak pernah menyentuhku, dan dia tidak pernah jujur kepadaku. Hal itu menyebabkan hubungan kami tidak pernah harmonis. Dan akhirnya aku malah melakukan kesalahan fatal bersama Ken." ucap Senja menjelaskan.
"Ya Allah Senja, serumit itu ternyata pernikahan kamu. Kenapa selama ini kamu tidak pernah bercerita padaku. Aku sampai tidak tahu kalau kamu mengalami hal sebanyak itu." kata Nina sambil merangkul Senja dengan erat.
Nina menghela nafas panjang, pantas saja setelah menikah Senja menjadi lebih pendiam, ia tidak ceria seperti dulu. Ternyata sepahit itu kisah hidupnya. Sekarang Nina paham, kenapa keluarganya Fajar tak pernah peduli lagi pada Senja. Ternyata seperti itu kejadiannya.
"Pantas saja Tante Rani tidak pernah menngunjungi Senja, karena yang ada dalam kandungannya bukanlah cucu kandungnya." batin Nina dalam hatinya.
"Takut kenapa?"
"Kau dekat dengan Kak Alvin, aku takut kau nanti akan menceritakannya pada Kak Alvin. Dia pasti akan sangat marah. Tapi ternyata percuma juga aku menyembunyikannya, pada akhirnya Kak Alvin tahu semuanya." jawab Senja sambil menatap Nina.
"Aku sahabat kamu Nja, aku pasti bisa menjaga rahasia kamu. Walaupun kamu bercerita, aku tidak akan bicara apa-apa pada Kak Alvin. Lalu, selama ini dengan siapa kau berbagi bebanmu, apa kau menyimpannya sendirian?" tanya Nina.
"Awalnya iya, lalu aku menceritakannya pada Ken. Dan itu menjadi awal dari kesalahan yang kami lakukan." jawab Senja.
"Darimana Kak Fajar mendapatkan penyakit itu?" tanya Nina.
"Dari Adara."
"Kamu yang sabar ya Nja. Sekarang kalau ada apa-apa, cerita saja padaku. Aku sebagai sahabat, dan juga kakak, akan berusaha untuk selalu ada buat kamu." kata Nina sambil tersenyum, seraya tangannya mengusap-usap lengan Senja.
"Sebenarnya aku bingung dengan keputusan yang harus aku ambil. Disisi lain aku tidak ingin megkhianati Kak Fajar untuk yang kedua kalinya. Tapi disisi lain aku juga memikirkan perasaan, dan juga masa depan anakku. Apa yang harus aku lakukan Nin?" tanya Senja sambil menatap Nina. Mulai saat ini ia akan lebih terbuka kepada Nina, dia butuh tempat untuk berbagi beban.
"Boleh aku berpendapat?"
"Tentu saja, kalau tidak mau mendengarkan pendapat kamu, untuk apa aku bercerita." kata Senja sambil memutar bola matanya.
__ADS_1
"Aku takut kamu tersinggung." ucap Nina sambil terkekeh.
"Aku sudah kebal dengan omongan kamu." cibir Senja.
Dan hal itu membuat Nina semakin tertawa lepas.
"Tidak lucu Nin, sudah cepat katakan apa pendapat kamu!" kata Senja dengan cepat.
"Baiklah, dengarkan baik-baik ya." ucap Nina sambil menatap Senja.
"Aku tahu bagaimana perasaan kamu, kamu merasa bersalah karena pernah mengkhianati Kak Fajar. Dan kamu juga merasa kehilangan atas kepergian dia.
Tapi masa depan kamu juga masih panjang Nja, apalagi juga ada anak yang sedang kamu kandung. Kamu jangan terbelenggu dengan masa lalu, itu tidak baik bagi masa depan kamu, dan juga anakmu." ucap Nina dengan panjang lebar.
"Hidup tidak selamanya indah Nja, banyak lika-liku pahit yang kapanpun bisa terjadi. Kau yakin bisa melewatinya sendirian? Dan tentang anak, semua anak membutuhkan kasih sayang dari seorang ayah Nja." sambung Nina sambil tersenyum.
"Jadi maksudmu..."
"Iya, tidak ada salahnya kamu membuka hati untuk Ken. Jika kau belum bisa mencintainya, tapi setidaknya ini demi anak kamu. Mengurus anak seorang diri itu tidak semudah yang kamu bayangkan Nja. Memang aku, dan Kak Alvin pasti akan membantumu, tapi kau juga tahu kita sama-sama sederhana. Kita tidak akan bisa merawat dia seperti Ken, dia akan jauh lebih bahagia, jika Ken ikut mengurusnya. Lagipula Nja, menurutku Ken itu sangat mencintai kamu. Setelah putus dengan kamu, aku tidak pernah melihatnya bersama wanita lain. Aku rasa dari dulu sampai sekarang, dia belum bisa melupakan kamu Nja." kata Nina menjelaskan pendapatnya.
"Apakah menurutmu begitu?"
"Iya." jawab Nina sambil mengangguk.
"Tapi aku belum bisa menerimanya Nin, aku...aku..."
"Aku mengerti, aku tahu bagaimana perasaanmu saat ini.
Kau bisa menyuruh Ken untuk menunggumu, sampai kau bisa mengobati luka hatimu, sambil belajar mencintai dia seperti dulu." sahut Nina.
"Kau yakin aku bisa?"
"Berusahalah! Pikirkan anak kamu, dia masa depan kamu. Kau pernah menyesal karena menyakiti Kak Fajar, sekarang jangan sampai kau melakukan kesalahan yang sama. Jangan sampai kau menyesal karena menyakiti anak kamu." ucap Nina sambil menatap Senja.
"Terima kasih ya Nin, kau benar-benar sahabat terbaikku. Aku sangat senang Kak Alvin menikah denganmu." kata Senja sambil memeluk Nina.
"Aku juga bahagia Nja, meskipun Kak Alvin jauh dari kata romantis, tapi dia sangat bertanggungjawab. Kau tahu, aku adalah wanita pertamanya Nja, bukankah itu sangat menyenangkan." ucap Nina sambil melepaskan pelukannya.
"Apa bedanya menjadi wanita pertama, kedua, atau ketiga?"
"Jelas beda Nja, kalau jadi yang pertama itu rasanya istimewa. Ibarata barang kalau yang pertama itu masih baru, kalau yang kedua, ketiga itu sudah bekas. Kamu mengerti kan bedanya bagaimana." jawab Nina.
"Begitu ya." gumam Senja dengan pelan.
Pikirannya mulai menerawang jauh, dalam kehidupannya Fajar, dia bukanlah yang pertama. Tapi dalam kehidupannya Ken, dia adalah wanita yang pertama, dan begitu pula sebaliknya. Ken adalah lelaki pertama dalam hidupnya.
__ADS_1
Bersambung