
Pak Jeffry menghela nafas panjang, dan menghembuskannya dengan kasar. Beliau memijit pelipisnya, sambil menatap kosong ke arah meja. Beliau diam sejenak, merangkai kata yang tepat untuk menjawab pertanyaan anaknya.
"Pa, jelaskan apa maksud Papa!" kata Ken dengan tidak sabar. Hatinya semakin gusar melihat ayahnya yang tidak segera bicara.
"Aku tidak tahu lagi harus bagaimana, kalau seandainya Papa tidak merestuiku untuk menikahi Aya. Dari sekian banyak wanita yang pernah aku temui, hanya Aya yang berhasil membuatku jatuh cinta. Aku tidak akan bisa melupakan dia begitu saja, terlebih lagi sekarang dia sedang mengandung anakku." ucap Ken dalam hatinya.
"Pa tolong mengertilah! Tolong pikirkan perasaanku Pa, aku sangat mencintai Aya, aku ingin hidup bersamanya. Aku mohon jangan larang aku untuk mendekatinya Pa, tolong restui niatku Pa. Apapun akan aku lakukan Pa, asalkan Papa tidak melarangku untuk berhubungan dengan dia." kata Ken dengan cepat, seraya menjatuhkan kepalanya di pangkuan ayahnya.
Ken menciumi tangan ayahnya, berharap agar beliau mau merestui niatnya.
"Apa yang kau lakukan Ken, bangunlah jangan seperti ini!" ucap Pak Jeffry sambil mengernyitkan keningnya. Beliau heran menatap sikap Ken, yang menurutnya sangat aneh.
"Aku tidak akan bangun sebelum Papa merestui niatku, kalau perlu aku akan mencium kaki Papa, agar Papa bisa memikirkan perasaanku." kata Ken memohon kepada ayahnya.
"Jangan suka mengambil kesimpulan pada suatu hal yang belum kau dengar. Bukan begitu maksud Papa, bangunlah!" ucap Pak Jeffry dengan tegas.
"Jadi maksud Papa apa?" tanya Ken sambil menatap ayahnya.
"Mata kamu berkaca-kaca Ken, sebesar itukah perasaanmu kepada Senja?" tanya Bu Ratih.
"Aku memang sangat mencintainya Ma, cuma dia wanita yang berhasil membuatku jatuh cinta." jawab Ken sambil menyembunyikan senyumannya.
Sebenarnya ia tidak menangis, namun ia berusaha mengeluarkan air matanya agar ayahnya luluh dengan permintaannya.
"Ahh so sweet, kenapa kamu tidak seperti dia Mas?" tanya Bu Ratih menggoda suaminya.
"Malu sama umur." sahut Pak Jeffry.
"Ya maksudnya dulu, waktu kita masih muda Mas. Kamu dulu cuek, dingin, angkuh, tidak pernah seromantis itu." gerutu Bu Ratih.
"Kalau Mama berharap aku romantis seperti Ken, itu artinya Mama juga berharap dihamili, dan ditelantarkan. Mama mau?" tanya Pak Jeffry sambil tersenyum miring.
"Ya jangan Mas, bisa digantung aku sama orang tuaku." sahut Bu Ratih.
"Makanya..."
"Pa, jadi bagaimana maksud Papa? Tadi bilang tidak setuju dengan keputusanku, itu maksudnya apa?" tanya Ken memotong pembicaraan ayahnya.
__ADS_1
Pak Jeffry mengusap wajahnya, dan kemudian menatap Ken lekat-lekat.
"Papa tidak setuju dengan pemikiran kamu. Seharusnya Senja menerimamu, atau tidak, kamu harus tetap mengatakannya pada orang tuamu. Dan itu sejak awal, bukan selambat ini. Mungkin dia tidak menuntut kamu untuk bertanggungjawab, tapi sebagai lelaki yang jantan, kamu harus berani menanggung akibat dari kesalahan yang telah kamu buat." kata Pak Jeffry.
"Ken, tidak peduli dia akan menerima kamu, atau tidak, tapi yang jelas dia mengandung anak kamu. Entah nanti dia mau menikah denganmu, atau tidak. Tapi kamu harus bertanggungjawab, bantu kebutuhan dia, karena kulihat Senja juga bukan orang yang bergelimangan harta. Dia sudah merawat darah daging kamu, dan kamu mengabaikan dia, kamu tidak peduli betapa sulitnya dia mencukupi kebutuhan hidupnya. Dimana hati kamu Ken!" sambung Pak Jeffry.
"Sebenarnya aku mau bertanggungjawab Pa, tapi dia yang menolak. Kapanpun aku siap menikahi dia, tapi dia tidak mau, dia masih mencintai suminya. Saat ini aku sedang berusaha untuk meluluhkan hatinya." ucap Ken.
"Kamu ingin menikahinya, wajar kalau dia menolak. Suaminya belum lama meninggal, mana mungkin dia memikirkan pernikahan. Yang Papa maksud bertanggungjawab membantu kebutuhannya, bukan langsung menikahinya, dan ujung-ujungnya menyuruh dia untuk hamil lagi." kata Pak Jeffry.
"Dia menolak Pa, dia..."
"Kalau kamu mau bicara sama Papa sejak awal, dia tidak akan menolak. Karena apa, karena Papa tidak bodoh seperti kamu." sahut Pak Jeffry.
"Tapi Pa..."
"Apalagi? Pikirkan dulu tentang tanggungjawabnya, masalah menikahinya atau tidak, itu nanti. Jangan memaksanya sekarang Ken, dia baru saja kehilangan, kamu jangan egois. Tunggu sampai dia bisa membuka hatinya, baru kamu pikirkan pernikahan. Jangan memaksanya disaat dia masih dalam kesedihan. Kamu paham!" kata Pak Jeffry.
"Paham Pa." jawab Ken dengan pelan.
"Bagus, lain kali kalau ada apa-apa bicara sama orang tua. Jangan sampai mengulangi hal seperti ini!" bentak Pak Jeffry.
"Nanti biar Papa, dan Mama yang kesana. Biar kami yang berbicara dengan Senja." sambung Pak Jeffry.
"Iya Pa." jawab Ken sambil mengangguk.
***
Sang surya telah kembali ke peraduannya, kini berganti bintang, dan rembulan yang menghiasi angkasa raya. Seorang wanita cantik menghentikan mobilnya di garasi rumahnya. Senyuman manis tak henti-hentinya terukir di bibir merahnya. Dia adalah Sella, dia baru saja tiba di rumahnya.
Sella menyibakkan rambut panjangnya, dan kemudian ia menapakkan kakinya di paving, di halaman rumahnya. Sella melangkah menuju pintu utama. Dengan senyuman yang masih mengembang, ia membuka pintu, dan berjalan memasuki rumahnya.
Sella mengernyit heran, kala matanya menatap sosok sang ibu yang sedang menangis. Di sampingnya tampak sang ayah sedang duduk menunduk, sambil memegangi kepalanya. Ada apa ini? Apa yang terjadi dengan mereka?
Sella mempercepat langkahnya, dan bergegas menghampiri kedua orang tuanya.
"Papa, Mama, ada apa ini?" tanya Sella sambil duduk di sebelah ibunya.
__ADS_1
"Kita hancur Sella, kita hancur!" jawab Bu Dina disela-sela isakannya.
"Hancur kenapa Ma, Papa ini sebenarnya ada apa?" tanya Sella sambil menatap kedua orang tuanya secara bergantian.
"Bisnis yang Papa rintis sekarang hancur, keluarga kita diambang kebangkrutan Sella." kata Pak Reno.
"Apa!" teriak Sella, dia tersentak kaget saat mendengar penjelasan dari ayahnya.
"Kenapa, kenapa bisa seperti ini Pa? Bukankah kemarin masih baik-baik saja, kenapa sekarang tiba-tiba bangkrut. Pa tolong jelaskan, jelaskan kenapa semua ini bisa terjadi Pa!" rengek Sella dengan mata yang berkaca-kaca, seraya tangannya mengguncang lengan sang ayah.
Pikiran Sella mulai kacau, bagaimana jika keluarganya benar-benar bangkrut. Ia tidak mungkin bisa menjalani hidup yang kekurangan harta.
"Sebenarnya ini sudah sejak lama Sella, hanya saja Papa masih menyembunyikannya. Papa tidak ingin membebani kalian berdua, tapi keadaan tidak semakin membaik, malah semakin memburuk." kata Pak Reno.
"Sejak kapan Pa, bagaimana awal mulanya, kenapa bisa seperti ini Pa?" tanya Sella dengan buliran air mata yang mulai berderaian membasahi kedua pipinya.
"Sekitar dua bulan yang lalu, kau ingat waktu Papa bekerjasama membangun proyek di pinggiran kota. Rekan Papa berkhianat, dia membawa kabur semua uang yang telah diserahkan oleh perusahaan. Dan dia juga meninggalkan hutang, semua material belum dibayar sedikitpun. Papa yang bertanggungjawab atas proyek itu, jadi mau tidak mau Papa harus menyelesaikannya." ucap Pak Reno menjelaskan dengan panjang lebar.
"Lalu kemana rekan Papa, kenapa Papa tidak mencarinya?"
"Papa sudah mengerahkan segala cara untuk mencarinya, tapi hasilnya nihil Sella. Dan sekarang kantor kita sudah disita Bank, karena Papa tidak bisa membayar angsurannya. Uang Papa habis untuk proyek itu Sella." jawab Pak Reno sambil mengacak rambutnya yang sudah berantakan.
"Terus sekarang kita harus bagaimana Pa, tidak adakah yang bisa kita lakukan untuk menyelamatkan bisnis Papa. Aku tidak mau hidup miskin Pa!" teriak Sella.
"Sebenarnya ada satu cara, ada seseorang yang menawarkan bantuan kepada Papa. Dia pengusaha yang sangat besar, dia bersedia memberikan investasi berapapun yang kita butuhkan, tapi ada syaratnya." ucap Pak Reno dengan pelan.
"Apa syaratnya Pa?" tanya Sella.
"Jangan Mas, Sella anak kita, jangan mengorbankan masa depan dia hanya demi harta. Kita pasti punya cara lain Mas!" teriak Bu Dina sambil menatap suaminya.
"Apa maksud Mama?" tanya Sella.
"Sebenarnya begini Sella." sahut Pak Reno.
Sella mengalihkan pandangannya, kini ia menatap wajah ayahnya yang tampak lesu.
Tak lama kemudian, Pak Reno menjelaskan syarat yang harus mereka penuhi.
__ADS_1
Sella tertegun untuk beberapa saat lamanya, ia berada dalam dilema.
Bersambung....