Kesucian Cinta Yang Ternoda

Kesucian Cinta Yang Ternoda
Rashya Antonio Putra


__ADS_3

Setelah cukup lama saling berpelukan erat, Bu Ratih mengangkat wajahnya. Beliau duduk tegak, sambil menyeka pipinya yang telah dibasahi air mata. Senja jua melakukan hal yang sama, ia mengusap air matanya dengan jemari lentiknya.


"Bagaimana keadaan anakku Tante?" tanya Senja sambil menatap Bu Ratih.


"Dia sangat sehat, paras mungilnya begitu tampan," jawab Bu Ratih dengan senyuman yang mengembang di bibirnya.


"Alhamdulillah," ucap Senja.


"Terima kasih Ya Allah engkau telah mengabulkan doaku. Anakku lahir laki-laki, semoga kelak dia menjadi sosok yang tegar, dan tangguh," ucap Senja dalam hatinya.


"Alvin, dan Ken sedang keluar, mereka makan di kantin depan, mungkin sebentar lagi mereka akan kembali," kata Bu Ratih.


"Iya Tante tidak apa-apa, mmm Tante bolehkah aku melihat anakku?" tanya Senja.


"Tentu saja, duduklah, nanti aku akan menggendongnya kesini," jawab Bu Ratih sambil membantu Senja.


Meskipun rasa sakit, dan nyeri masih menyerang di seluruh tubuhnya, namun Senja berusaha keras untuk duduk, dan menyandarkan punggungnya di bantal. Demi menggendong sang buah hati, ia akan mengabaikan sebesar apapun sakit yang menderanya.


"Tunggu sebentar ya!" kata Bu Ratih sambil melangkah pergi meninggalkan Senja.


"Iya Tante."


"Ken, dan keluarganya sangat baik padaku. Mereka memperlakukan aku seperti anaknya sendiri. Tapi hati ini masih ragu untuk menerima kehadiran Ken, hatiku masih terpaut pada suamiku, Kak Fajar," ucap Senja dengan pelan.


Tak lama kemudian, Bu Ratih datang sambil mendekap tubuh mungil dalam gendongannya. Senja tersenyum haru saat menatap wajah bayi itu.


"Pelan-pelan," ucap Bu Ratih seraya membantu Senja untuk menggendong anaknya.


"Kamu sudah lahir nak." kata Senja sambil mengusap pipi anaknya yang masih sangat lunak.


Senja menatap buah hatinya tanpa kedip, hidungnya mancung, bibirnya kemerahan, rambutnya lurus dan tebal. Raut wajahnya sama persis dengan ayahnya. Senyuman Senja semakin mengembang, kala tubuh mungil itu mulai membuka matanya. Bola mata yang hitam, dan bening menatap Senja lekat-lekat, seolah ia merekam jelas bagaimana gambaran wajah ibunya.


"Ini Bunda nak, Bunda yang akan selalu menemani kamu, menjaga kamu, dan membahagiakan kamu," ucap Senja sambil menatap anaknya.


"Senja!"


"Iya Tante."


"Ken sudah ada diluar ruangan, biarkan dia masuk ya," kata Bu Ratih sambil menatap layar ponselnya.


"Iya Tante," jawab Senja sambil mengangguk.


Lalu Bu Ratih beranjak dari duduknya, dan melangkah keluar dari ruangan. Senja menatap kepergiannya dengan hati yang tidak menentu.


Tak lama kemudian, seorang lelaki datang menghampiri Senja. Tubuhnya yang tinggi, dan tegap dengan rambut yang sedikit memanjang. Wajahnya tampak tegas, namun cukup sedap dipandang mata. Ia langsung mendekati Senja, dan duduk di sebelahnya.


"Maaf aku tidak ada di samping kamu saat kamu sadar. Aku dan Kak Alvin sedang makan siang," ucap Ken.

__ADS_1


"Sekarang apa yang kamu rasakan, masih ada yang sakit? Katakan padaku, apa bisa aku lakukan untukmu?" tanya Ken dengan cepat.


Senja menatap Ken sambil tersenyum. Sesungguhnya rasa sakit itu ada di seluruh tubuhnya, namun apa yang bisa Ken lakukan? Memijitnya, itu juga tidak akan membuatnya sembuh.


"Ken diamlah! Aku tidak apa-apa, kau tidak ingin melihatnya?" kata Senja sambil menatap bayi yang ada dalam gendongannya.


"Tentu saja aku ingin melihatnya, tapi aku juga khawatir dengan keadaanmu Aya." jawab Ken.


"Dia sangat tampan, aku melihat auramu dalam wajahnya Aya." kata Ken sambil mengusap pipi anaknya dengan pelan. Kulitnya yang lembut, dan lunak membuatnya sangat berhati-hati saat menyentuhnya. Ia takut sentuhannya akan membuatnya terluka.


"Menurutku dia sangat mirip denganmu Ken." ucap Senja sambil menoleh, menatap Ken.


Jantung Senja mulai berdetak cepat, kala itu wajah Ken berada tepat di depan wajahnya.


Dalam jarak yang begitu dekat, ia dapat melihat dengan jelas bayangan dirinya yang berada di dalam bola mata Ken. Perlahan hidungnya mulai mencium aroma mentol, mungkin itu adalah aroma shampoo yang Ken gunakan saat ini.


"Aya, kau kenapa?" tanya Ken.


"Aku...aku...aku tidak apa-apa," jawab Senja dengan gugup, seraya memalingkan wajahnya. Pipinya memanas, mungkin sekarang sudah memerah.


"Apa yang terjadi dengan diriku, kenapa aku sangat gugup," batin Senja sambil menunduk.


"Melihatmu yang seperti ini, harapanku untuk memilikimu semakin besar. Aya tolong jangan pupuskan harapanku ya," batin Ken sambil tersenyum.


"Rasyha Antonio Putra," ucap Ken dengan pelan.


Senja langsung menoleh, dan menatap Ken. Namun lagi-lagi ia membuang pandangannya, saat melihat wajah Ken yang berada tepat di hadapannya.


"Tentu saja, kau juga setuju kan dengan nama belakangnya?" Ken balik bertanya.


"Iya," jawab Senja tanpa mengangkat wajahnya.


"Bibirnya sangat ranum, mirip sekali denganmu Aya." ucap Ken tepat di dekat telinga Senja.


Senja sedikit beringsut, hangatnya nafas Ken yang menyapu pipinya, membuat ia merasa gelisah, dan tidak nyaman. Perlahan tapi pasti, bayangan tentang malam itu melintas begitu saja tanpa dipinta. Senja memejamkan mata sambil menggelengkan kepalanya, ia mencoba menepis semua bayangan kelam yang kini telah merasuk memenuhi isi kepalanya.


"Aya, kau baik-baik saja?" tanya Ken sambil menggenggam lengan Senja.


Senja tidak menjawab, sentuhan tangan Ken membuatnya semakin tidak bisa mengendalikan dirinya. Bayangan tentang Ken dimasa lalu, mengacaukan hati, dan pikirannya. Cukup lama ia menyandarkan hatinya pada lekaki itu, lalu cinta mereka kandas karena kesalah pahaman. Kini lelaki itu kembali ada di sisinya, namun entah bagaimana perasaannya. Bahkan Senja sendiri tak mampu mengartikannya.


"Aya!" panggil Ken karena Senja tak kunjung memberikan jawaban.


"Aku, aku tidak apa-apa Ken," jawab Senja sambil menoleh, dan menatap Ken.


"Dia masih sama seperti dulu, sama sekali tidak ada yang berubah darinya. Wajah ini, dulu aku sangat merindukan kehadirannya, aku sangat betah menatapnya lama-lama," ucap Senja dalam hatinya.


"Aya! Kau kenapa? Ada yang salah dengan diriku?" tanya Ken sambil menatap Senja lekat-lekat.

__ADS_1


"Tidak! Tidak Ken!" ucap Senja sambil tersenyum.


"Sikapmu aneh Aya, kau tadi diam saja, lalu sekarang kau menatapku seperti itu. Kau..."


"Aku memikirkan kamu," sahut Senja dengan cepat.


"Memikirkan aku?" tanya Ken sambil mengernyitkan keningnya. Ia heran mendengar jawaban Senja.


"Iya."


"Memikirkan..."


"Sudahlah lupakan saja!" kata Senja memotong pembicaraan Ken.


"Aya aku ingin tahu apa maksud kamu," ucap Ken.


"Lihatlah dia tersenyum!" kata Senja mengalihkan pembicaraan, kala itu Rasyha memang sedang tersenyum.


"Senyumannya mirip denganmu Aya," ucap Ken dengan pelan.


"Aku bahagia kamu mulai memikirkan aku, semoga kedepannya kamu benar-benar menerima kehadiranku," batin Ken dalam hatinya.


"Menurutku mirip kamu Ken," jawab Senja seraya mengusap lembut pipi anaknya.


"Dia mirip kita, karena dia anak kita," sahut Ken.


Lagi-lagi Senja terdiam, ucapan Ken kembali membuatnya dalam kegelisahan.


"Terima kasih Aya," ucap Ken setelah hening dalam beberapa saat lamanya.


"Untuk apa?" tanya Senja sambil menatap Ken.


"Kamu sudah merawat anakku, dan membiarkan dia tumbuh dalam rahim kamu. Bahkan sekarang kamu sudah berjuang, demi membantu dia menatap terangnya dunia. Aku berhutang nyawa padamu Aya," ucap Ken sambil menyelipkan rambut Senja di belakang telinganya.


"Tidak perlu berterima kasih, dia juga anakku Ken. Sudah seharusnya aku merawat dia," jawab Senja.


"Aya!"


"Hmmm."


"Bolehkah aku membalas kebaikanmu ini, kamu sudah cukup terluka karena aku. Beri aku kesempatan untuk membahagiakan kamu Aya," ucap Ken.


Senja mengambil nafas dalam-dalam, dan kemudian menghembuskannya dengan pelan.


"Ken, boleh aku bicara?" tanya Senja.


"Bicaralah, katakan saja apa yang ingin kau katakan!" jawab Ken sambil tersenyum.

__ADS_1


Namun sebenarnya hatinya sedikit cemas, apa yang ingin Senja katakan?


Bersambung....


__ADS_2