Kesucian Cinta Yang Ternoda

Kesucian Cinta Yang Ternoda
Waktu


__ADS_3

Sang mentari sudah menampakkan keanggunannya. Sinarnya yang keemasan menyemburat indah, menerangi dunia. Menyapa setiap insan yang baru terjaga dari dunia mimpi. Menyambut jiwa-jiwa tegar yang berjuang melawan kerasnya kehidupan.


Di dalam sebuah rumah mewah, disalah satu sudut Kota Surabaya. Sepasang suami istri sedang sarapan bersama di meja makan. Mereka duduk saling berhadapan, menyantap makanannya sambil sesekali berbincang bersama. Mereka adalah Pak Hery, dan Bu Rani. Mereka hanya sarapan berdua, karena Farah sedang menginap di rumah mertuanya sejak dua hari yang lalu.


"Kira-kira kita di sana berapa hari Mas?" tanya Bu Rani pada suaminya. Nanti sore mereka akan berangkat ke Medan untuk melakukan kerjasama bisnis.


"Jika tidak ada kendala, mungkin hanya lima hari Ma. Mmm apa Mama jadi ikut?" ucap Pak Hery balik bertanya.


"Tentu saja, Farah sedang tidak ada di rumah Mas, aku bosan sendirian. Kemarin aku sudah menitipkan urusan kantorku pada Kinan. Siapa tahu juga nanti di sana aku bisa bantu-bantu kamu Mas." jawab Bu Rani sambil tersenyum.


Pak Hery menghela nafas panjang, ada sesuatu yang mengganjal dihatinya, namun sulit untuk diungkapkan.


"Kamu kenapa Mas? Kamu tidak suka kalau aku ikut? Kamu ada niat lain ya!" tanya Bu Rani sambil melirik Pak Hery.


"Jangan sembarangan Ma, kita ini sudah tua, sudah tidak pantas cemburu-cemburuan begitu." kata Pak Hery sambil menyesap kopinya.


"Bukan cemburu, tapi kesal. Masa istri mau ikut saja keberatan." gerutu Bu Rani.


"Aku tidak keberatan Ma."


"Terus?"


"Sebenarnya ada sedikit hal yang sedang kufikirkan." ucap Pak Hery sambil memijit pelipisnya.


"Apa itu Mas? Ada masalah di kantor?" tanya Bu Rani sambil menatap suaminya lekat-lekat.


"Bukan." jawab Pak Hery sambil menggelengkan kepalanya.


"Lalu?"


"Aku memikirkan Fajar." jawab Pak Hery.


"Fajar, ada apa dengannya Mas?" tanya Bu Rani.


"Apa kamu tidak merasa Ma, akhir-akhir ini wajahnya terlihat pucat, dan tubuhnya juga sedikit kurus. Apa kira-kira dia sakit ya." jawab Pak Hery.


"Waktu rapat dua hari yang lalu, aku bertemu dengannya Mas. Iya memang sedikit pucat, dan kurus. Tapi dia terlihat sehat, dia juga tertawa seperti biasanya. Mungkin dia hanya lelah Mas, akhir-akhir ini dia sering rapat kan." ucap Bu Rani menjelaskan pendapatnya.


"Kamu yakin Ma, tapi kenapa perasaanku tidak enak ya." kata Pak Hery.


"Kamu saja yang terlalu banyak berfikir Mas. Dari dulu dia kan seperti itu, kalau terlalu lelah bekerja, jadi pusing dan demam. Apalagi sekarang istrinya sedang hamil, mungkin dia kurang istirahat saja Mas." ucap Bu Rani.


"Iya juga Ma, tapi entahlah kali ini aku sedikit khawatir. Itu sebabnya aku keberatan kalau Mama ikut ke Medan. Awalnya aku ingin menyuruh Mama tinggal di rumah, dan sering-seringlah mengunjungi Fajar." kata Pak Hery.


"Fajar pasti baik-baik saja Mas, kata dokter memang daya tahan tubuhnya lemah, jadi ya seperti itu. Lagipula kita hanya seminggu kan Mas, tidak lama itu." ucap Bu Rani.


"Seminggu itu hanya perkiraan Ma, namanya bisnis terkadang ada kendala."

__ADS_1


"Nanti kalau ada kendala, dan membutuhkan waktu yang lama, aku akan pulang lebih dulu Mas. Boleh ya, aku ikut ya Mas." ucap Bu Rani sambil menatap suaminya.


"Mama yakin Fajar tidak apa-apa?"


"Yakin Mas. Percaya padaku, dia pasti baik-baik saja. Lagipula kalau dia sakit, pasti dia sudah memberitahu kita." jawab Bu Rani.


"Iya juga sih Ma. Ahh ya sudahlah semoga ucapan Mama memang benar." ucap Pak Hery mengalah.


"Jadi aku boleh ikut kan Mas?"


"Iya." jawab Pak Hery sambil mengangguk.


"Terima kasih Mas, ahh senang sekali rasanya. Sudah lama lho kita tidak jalan-jalan Mas." kata Bu Rani sambil tertawa bahagia.


"Ma kita mengurus bisnis bukan jalan-jalan." ucap Pak Hery.


"Kalau nanti ada waktu senggang, kan bisa kita buat untuk jalan-jalan Mas." kata Bu Rani masih tidak mau kalah.


"Terserah Mama saja." sahut Pak Hery sambil mengulas senyum di bibirnya.


Beliau merasa geli saat melihat tingkah istrinya yang begitu kegirangan.


***


Detik demi detik terus berputar, berganti menit, dan berganti jam. Satu hal di dunia ini yang tak pernah berhenti adalah waktu. Tak peduli kita akan menghiraukannya atau tidak, kita akan memanfaatkannya dengan baik atau tidak, waktu akan terus berjalan.


Satu detik saja kita salah dalam menggunakan waktu, itu bisa menjadi penyesalan terbesar seumur hidup kita.


Lima hari telah berlalu, sejak Alvin datang dimalam itu. Dan hari ini tanggal 09 Februari 2021, tepat hari ulang tahunnya Senja yang ke-27.


Pagi ini, saat surya baru saja mengintip di ufuk timur. Fajar sudah terjaga dari tidurnya, ia menatap wajah cantik istrinya yang masih terlena dalam dunia mimpi. Dengan perlahan Fajar mengusap pipi Senja dengan kedua jemarinya.


"Sangat cantik." gumam Senja sambil menilik wajah istrinya.


Bulu matanya yang lentik, hidungnya yang mancung, bibir mungilnya yang ranum, dan kulit putihnya yang mulus tanpa cela. Fajar menatap wajah itu tanpa kedip, ia merekam gambaran wajah istrinya dalam otaknya, seolah ia takut jika suatu saat nanti ia tak dapat mengingatnya lagi.


Dengan pelan jemari Fajar beralih mengusap rambut Senja, ia merapikannya, dan memainkan ujungnya.


"Andai saja aku tahu kalau cinta itu sesakit ini, aku tidak akan pernah mau mengenal cinta." bisik Fajar pada dirinya sendiri.


Tak berapa lama kemudian, Senja menggeliat pelan sambil mengerjapkan matanya.


"Selamat pagi sayang!" sapa Fajar sambil tersenyum.


"Apa yang Kak Fajar lakukan?" tanya Senja sambil mengernyit heran. Kala itu Fajar sedang berbaring di sampingnya sambil menatapnya lekat-lekat. Sebelah tangannya menopang kepalanya sendiri, dan sebelahnya lagi memainkan ujung rambutnya.


"Aku sedang menatap bidadari yang menjelma menjadi istriku." jawab Fajar dengan santainya.

__ADS_1


"Gombal!" cibir Senja seraya memalingkan wajahnya, ia menyembunyikan pipinya yang mulai merona.


"Aku serius sayang." kata Fajar.


"Aku tidak percaya!" sahut Senja.


"Hei kau belum menjawab salamku." kata Fajar sambil meraih wajah Senja, dan memaksanya untuk menatapnya.


"Salam apa?"


"Aku tadi mengucapkan selamat pagi sayang."


"Kak salam itu Assalamu'alaikum, bukan selamat pagi." kata Senja sambil tersenyum.


"Ya ya ya kau benar. Baiklah Assalamu'alaikum sayang." ucap Fajar.


"Waalaikumsalam Kak Fajar." jawab Senja sambil tersenyum lebar.


"Sekali-kali panggil sayang, jangan kak terus. Rasanya aku tidak jauh beda dengan Alvin." gerutu Fajar pura-pura kesal.


"Apa yang sedang kau fikirkan Kak? Tidak biasanya kamu mempermasalahkan hal ini. Begini ya Kak, panggilan itu tidak terlalu penting, yang penting itu hatinya. Dan hatiku ini selalu mencintaimu. Hanya namamu yang ada dalam hatiku Kak." ucap Senja sambil tertawa renyah.


"Tapi aku ingin dipanggil sayang, sekali saja kalau tidak mau berkali-kali." sahut Fajar.


"Kamu seperti anak kecil Kak."


"Mau tidak?"


"Baiklah sayang." ucap Senja dengan nada manja.


"Kamu sangat menggemaskan!" kata Fajar sambil meraih tubuh Senja, dan membawanya kedalam pelukannya.


"Sayang!" panggil Fajar.


"Hmmm."


"Kamu ingat hari ini hari apa?" tanya Fajar.


"Tentu saja." jawab Senja dengan cepat.


"Aku kira lupa." kata Fajar sambil tertawa.


"Hari lahirku sendiri mana mungkin bisa lupa Kak."


"Selamat ulang tahun ya sayang, semoga panjang umur, dan bahagia selalu. Tidak banyak yang kuharapkan darimu, cukup satu hal saja. Berjanjilah untuk selalu tersenyum." ucap Fajar sambil melepaskan pelukannya.


"Pagi ini aku harus menghadiri rapat, tidak apa-apa kan kalau aku tinggal dulu. Aku usahakan sebelum jam makan siang aku sudah pulang, sekaligus nanti aku akan mengambil kue ulang tahun, dan juga hadiah yang sudah kupesan untukmu." sambung Fajar sambil memegang lengan Senja.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2