Kesucian Cinta Yang Ternoda

Kesucian Cinta Yang Ternoda
Aku Mencintaimu Ken


__ADS_3

Ken mengerjapkan matanya dengan pelan, saat merasakan hangatnya sinar surya mulai menyeruak ke dalam kamarnya. Ken menyibakkan selimut yang membungkus tubuhnya, lalu ia menggeliat, dan kemudian bangkit dari tidurnya.


Ken melirik jarum jam yang menggantung di dinding kamarnya, sudah jam setengah tujuh. Lalu ia berjalan menuju ke kamar mandi, sambil mengucek matanya yang masih mengantuk.


Tak berapa lama kemudian, Ken keluar dari kamar mandi. Wajahnya kini tampak segar dengan bulir-bulir air yang menetes dari ujung rambutnya. Sambil bersenandung, Ken mulai membalut tubuhnya dengan setelan formalnya. Lalu ia menyisir rambutnya, dan menyemprotkan parfum ke tubuhnya.


Setelah merasa cukup dengan penampilannya, kini Ken mulai melangkah keluar dari kamarnya. Ia berjalan menuruni tangga, dan menuju ke meja makan. Di sana kedua orang tuanya sudah menunggunya untuk sarapan bersama.


"Selamat pagi Ma, selamat pagi Pa." sapa Ken sambil tersenyum lebar.


"Pagi Ken." jawab Pak Jeffry sambil membalas senyuman Ken.


Bu Ratih mengernyitkan keningnya, saat menatap wajah Ken yang terlihat sumringah.


"Dari kemarin Mama lihat kamu sangat bahagia, kenapa?" tanya Bu Ratih sambil menatap Ken.


"Masa sih Ma, aku saja tidak merasa begitu." jawab Ken sambil tersenyum lebih lebar.


"Jangan bohong, sikap kamu itu berubah drastis dari beberapa hari yang lalu. Biasanya muka kamu ditekuk, dan jarang tersenyum. Tapi dua hari ini kamu seperti sumringah begitu, kenapa?" tanya Bu Ratih.


"Lagi jatuh cinta Ma." jawab Ken dengan santainya.


"Kamu serius? Sama siapa, terus hubungan kalian sekarang bagaimana?" tanya Bu Ratih dengan antusias.


"Doakan saja Ma, semoga dia bisa secepatnya menerima cintaku." jawab Ken sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Siapa dia Ken, beri tahu Mama siapa namanya." kata Bu Ratih.


"Nanti saja Ma, nanti aku akan membawanya kesini, dan mengenalkannya sama Mama." ucap Ken sambil tersenyum.


"Jangan lama-lama, kamu sudah dewasa Ken, sudah waktunya kamu menikah. Kamu tahu, Papa dan Mama ini sudah tidak sabar untuk menimang cucu." sahut Pak Jeffry sambil menyesap kopi hitamnya.


"Iya Pa, sebentar lagi juga punya cucu kok." jawab Ken sambil tersenyum nyengir.


"Apa maksudmu Ken? Jangan sembarangan ya!" kata Bu Ratih dengan nada yang sedikit tinggi.


"Kalau bergaul jangan melewati batas Ken, jangan membuat aib yang akan mencoreng nama baik keluarga." sahut Pak Jeffry.


"Iya, lagipula Mama juga tidak mau kalau cucu Mama harus terlantar di luar sana. Jangan sembarangan kamu Ken!" kata Bu Ratih sambil menatap Ken dengan tajam.

__ADS_1


Ken menunduk, haruskah sekarang ia mengatakan semuanya, seperti apa hubungannya dengan Senja.


Dulu orang tuanya sangat menyukai Senja, namun setelah wanita itu menikah, pandangan mereka terhadap Senja mulai berubah. Entah sekarang bagaimana tanggapan mereka, jika tahu bahwa Senja sedang mengandung anak


"Ken!" panggil Bu Ratih.


"Eh iya Ma." jawab Ken sambil mendongak.


"Kamu memikirkan apa? Katakan pada Mama apa yang sedang kau sembunyikan!" kata Bu Ratih.


Ken belum menjawab, ia masih sibuk menata hatinya


"Senja belum bisa menerimaku sekarang. kalau aku mengatakan kebenarannya pada Mama, aku takut Mama akan memaksa Senja, nanti Senja malah akan salah paham. Nanti sajalah aku bicara, kalau Senja sudah bisa membuka hatinya untukku." ucap Ken dalam hatinya.


Ken hafal betul bagaimana sifat ibunya. Beliau adalah orang yang tidak sabaran. Apa yang diinginkan harus segera terpenuhi.


Jika beliau mendengar bahwa Senja mengandung cucunya, besar kemungkinan Senja akan diboyong ke rumah ini detik itu juga. Karena kedua orang tuanya sangat mengharapkan cucu, itu sebabnya mereka sering sekali menyuruh Ken untuk segera menikah.


Tidak, itu bukan bukan hal yang bagus. Nanti Senja akan marah padanya, jika semua itu benar-benar terjadi.


"Ken!" teriak Bu Ratih.


"Tidak ada yang kusembunyikan Ma." jawab Ken dengan pelan, seraya tangannya mencentong nasi, dan meletakkannya di atas piring.


"Yakin Pa."


"Dengar ya Ken, jangan sampai kamu melakukan hal terlarang! Itu dosa, apalagi kalau kamu sampai menghamilinya, dan tidak mau bertanggungjawab, Mama akan sangat marah sama kamu! Harus menangis satu minggu penuh, baru Mama bisa memaafkan kamu!" kata Bu Ratih sambil melotot tajam.


"Iya Ma." jawab Ken dengan pelan.


"Sebenarnya aku sangat mau bertanggungjawab, tapi kalau dia yang menolak bagaimana Ma. Aku tidak bisa memaksanya, aku hanya bisa menunggunya, sambil berusaha meluluhkan hatinya. Doakan semoga usahaku berhasil ya Ma." batin Ken sambil menatap ibunya lekat-lekat.


"Ken!" teriak Bu Ratih.


"Kenapa Ma?"


"Justru kamu itu yang kenapa, diajak bicara diam saja, tapi malah menatap Mama seperti itu! Jangan-jangan kamu memang menyembunyikan sesuatu ya Ken!" bentak Bu Ratih.


"Sudah-sudah ayo sarapan, jangan ribut terus, sudah siang lho ini! Ken kalau kamu memang ada apa-apa, bicara sama Mama, dan Papa. Jangan dipendam sendirian!" kata Pak Jeffry.

__ADS_1


"Iya Pa." jawab Ken.


"Aku pasti bicara sama Papa, dan Mama, tapi tidak sekarang. Dengan sifat Mama yang seperti itu, aku harus memberitahukan hal ini dengan pelan-pelan. Aku tidak mau salah langkah, dan nanti Senja malah pergi jauh dariku." ucap Ken dalam hatinya.


***


Jarum jam sudah menunjukkan pukul 08.00 pagi, Ken baru saja tiba di halaman kantornya. Ia menghentikan mobilnya, dan kemudian melangkah turun.


Namun baru saja ia menutup pintu mobilnya, tiba-tiba ada seorang wanita yang datang menghampirinya.


"Selamat pagi Ken!" sapa Sella sambil menggenggam lengan Ken.


"Pagi, kamu kenapa ada di sini?" tanya Ken sambil melepaskan tangan Sella.


"Aku sengaja datang untuk menemuimu, tapi sekertarismu sangat belagu. Dia melarang aku masuk Ken, kamu bicara dong sama dia, ajari sopan santun. Memangnya dia tidak tahu apa, aku ini siapa. Ingin sekali aku memaki dia!" gerutu Sella dengan kesal.


"Dia hanya menjalankan tugas Sel, aku menyuruhnya untuk tidak sembarangan menerima tamu. Kalau kamu mau marah, dan memaki, marah saja padaku, jangan sama dia. Dia hanya menjalankan pekerjaannya." kata Ken dengan santainya.


"Sepertinya aku harus bersikap tegas sama cewek satu ini." gerutu Ken dalam hatinya.


"Tapi aku kan teman kamu Ken, aku bukan tamu sembarangan. Kamu buat pengecualian dong sama aku." ucap Sella dengan nada yang manja.


"Sel aku kesini untuk bekerja, bukan bersantai. Jika tidak ada kepentingan, aku tidak bisa meladeni kamu." kata Ken sambil melangkah pergi meninggalkan Sella.


Sella membuka mulutnya, ia tidak percaya dengan kalimat yang baru saja Ken lontarkan. Dari yang ia tahu, Ken memang lelaki yang tidak suka basa-basi. Tapi ia tidak menyangka, jika Ken akan begitu tega mengucapkan kalimat seperti itu. Mungkin memang sudah saatnya bagi Sella untuk melangkah lebih berani.


"Apa kamu mau tahu, apa sebenarnya tujuanku kesini!" teriak Sella dengan suara yang cukup keras.


Sontak Ken langsung menghentikan langkahnya, dan berbalik menatap Sella.


"Apa?" tanya Ken dengan santainya.


"Apa kamu benar-benar tidak mengerti Ken?" Sella balik bertanya.


"Kalau aku mengerti, aku tidak akan bertanya Sel." jawab Ken.


"Aku pulang dari Jakarta itu demi kamu, aku kesini itu demi bertemu dengan kamu. Masa sih Ken kamu tidak mengerti juga, dari pertama kali aku bertemu denganmu, dan sampai saat ini, aku itu memendam perasaan untukmu Ken, aku mencintai kamu. Sesulit itukah memahami perasaanku Ken!" kata Sella sambil melangkah mendekati Ken, dan berdiri tepat di hadapannya.


"Aku tidak punya cara lain, kau sama sekali tidak mau peka. Saat ini aku tidak mau kalah lagi dengan Senja. Aku rela menurunkan sedikit harga diriku, asal kamu bisa menjadi milikku." ucap Sella dalam hatinya.

__ADS_1


"Wow amazing. Aku tidak menyangka dia benar-benar berani menyatakan cintanya. Andai saja yang mengatakan hal itu Senja, pasti aku langsung memeluknya, dan menggendongnya berkeliling kantor." batin Ken sambil menyibakkan rambutnya yang berjatuhan di keningnya.


Bersambung.....


__ADS_2