
Lima bulan kemudian.
Hari ini adalah hari ulang tahun Rashya yang pertama. Sudah genap setahun, bocah kecil itu menatap terangnya dunia. Bulan lalu, kakak kecilnya telah lahir dengan sehat dan selamat. Bayi perempuan yang diberi nama Ervina Angelina, putri pertama dari pasangan Alvin dan Nina.
Senja sangat bahagia kala itu, kakak lelaki satu-satunya, yang selama ini menjadi pahlawan dalam hidupnya. Ia telah memiliki keluarga yang sempurna, istri yang cantik dan baik hati seperti Nina. Lalu buah cinta yang menjelma, menjadi peri kecil yang lucu dan menggemaskan, yakni Ervina.
Sejak Ervina lahir, Bu Ratih mengirimkan satu pelayan untuk mereka. Pelayan itu membantu pekerjaan Alvin dan Nina, namun tetap Bu Ratih yang menggajinya.
Sejak bulan lalu, Alvin juga meninggakan pekerjaannya.
Kelab malam yang menjadi sandang pangannya sejak dulu, kini sudah dijual. Uangnya ia gunakan untuk membuka toko kelontong yang cukup besar, sebagiannya lagi, ia gunakan untuk tanam saham di kantornya Pak Jeffry.
Bu Ratih dan Pak Jeffry adalah orang yang sangat baik. Bukan hanya Senja yang mereka anggap seperti anak kandungnya sendiri, namun juga Alvin dan Nina. Mereka memperlakukan Alvin dan Nina, seperti mereka memperlakukan Senja.
Sore ini, Alvin dan Nina ikut berkumpul di rumah Ken. Mereka akan merayakan ulang tahun Rashya, sekaligus makan malam bersama.
"Rasha, ini lho Kak Vina datang. Sini Nak!" teriak Senja memanggil anaknya. Kala itu Rashya sedang bermain mobil-mobilan, di sudut ruangan.
"Kakak," ucap Rashya sambil berjalan menghampiri ibunya.
Bocah kecil itu tumbuh sangat aktif, ia sudah bisa berjalan, walaupun terkadang masih sering jatuh. Ia juga sudah belajar berbicara, meskipun ada beberapa huruf yang belum bisa ia lafalkan.
"Rashya, uhh bagaimana kabarnya, Om kangen banget nih," ucap Alvin sambil menggendong Rashya, dan menciumi pipinya.
"Tadi lagi main apa, hmmm?" tanya Alvin sambil menatap wajah mungil Rashya.
"Mobin," jawab Rashya seraya menunjukkan mobil-mobilan yang sedang digenggamnya.
"Om ikut main, ya?"
Rashya tidak menjawab, namun ia mengangguk-anggukan kepalanya.
"Nin, sini dong biar aku pangku!" kata Senja sambil menatap bayi mungil yang ada dalam gendongan Nina.
"Kamu tidak sibuk?" tanya Nina.
"Tidak," jawab Senja sambil menggeleng.
"Kamu tidak membantu Tante Ratih?" tanya Nina seraya melepaskan selendang yang digunakan untuk menggendong anaknya.
"Sudah selesai Nin, semua masakan dan kuenya sudah siap." Jawab Senja.
"Oh."
Lalu Senja meraih tubuh mungil yang sedang terlelap dalam tidurnya. Wajah mungilnya terlihat sangat cantik, Senja sangat gemas saat menatap bibirnya yang kemerahan.
"Kalau begitu, aku nyusul Kak Alvin ya!" kata Nina sambil beranjak dari duduknya. Ia hendak menyusul Alvin yang membawa Rashya ke ruang tengah.
"Iya," jawab Senja seraya menganggukkan kepalanya.
Setelah Nina pergi, Senja menatap bayi itu lekat-lekat. Sosok mungilnya mengingatkan ia pada masa lalu. Saat Rashya masih bayi, dan hatinya masih kalut. Rashya hadir saat ia masih terkurung dalam rasa penyesalan, saat ia masih merasakan sakitnya kehilangan.
Fajar Mahardika, lelaki yang pernah mengisi hatinya. Lelaki pertama yang menjalin ikatan halal dengannya. Lelaki yang membuatnya membenci hari ulang tahunnya.
"Kak Fajar, di sini aku sudah mengejar masa depanku. Aku selalu tersenyum, dan selalu bahagia, seperti yang kau inginkan. Aku harap, di sana kau juga bahagia. Maafkan aku yang pernah menyakitimu," batin Senja sambil memejamkan matanya. Berusaha keras menahan buliran bening yang siap menetes.
Disaat Senja sedang larut dalam pikirannya, tiba-tiba Ken duduk di sebelahnya, sambil menepuk bahunya.
"Aya, apa yang kau pikirkan?" tanya Ken.
"Sayang, kau, kau di sini?" tanya Senja dengan gugup.
__ADS_1
"Kau kenapa, matamu berkaca-kaca?"
"Tidak apa-apa, melihat Vina, aku jadi teringat dengan masa kecilnya Rashya. Itu yang membuatku terharu," ucap Senja sambil tersenyum.
"Terharu atau sedih?"
"Ahh, apa maksudmu?"
"Aku tahu, saat itu aku belum bisa menemanimu. Aku jauh darimu, aku tidak ikut menjaga Rashya, dan aku tidak menjaga hatimu. Maafkan aku, Aya!" kata Ken sambil menatap Senja lekat-lekat.
"Hei, apa yang kau katakan, bukan seperti itu maksudku. Seharusnya aku yang meminta maaf sayang, cukup lama aku menggantungkan perasaan kamu, tapi kamu masih mau menungguku. Sebesar itukah cintamu padaku?" goda Senja sambil tertawa.
"Tawamu menggemaskan, Aya!" kata Ken seraya merangkul Senja dan mencubit pipinya.
"Barus sadar ya?"
"Kamu menggodaku, Aya?"
"Tidak, aku hanya bertanya."
"Oh begitu ternyata." Ken memutar bola matanya.
"Aya, lihatlah! Dia sangat cantik, membuat hati tenang setiap kali menatapnya," kata Ken sambil menatap wajah mungil yang ada di atas pangkuan istrinya.
"Sepertinya harus lebih sering, Aya, supaya adonannya cepat terbentuk. Siapa tahu, nanti keluarnya perempuan. Aku sangat ingin menatap duplikatmu, pasti sangat cantik." Sambung Ken dengan santainya.
"Diam, Ken!" teriak Senja sambil melotot tajam.
"Ada Kak Alvin, ada Nina, ada Mama, ada Papa. Kau sembarangan bicara, malu Ken!" geram Senja dengan kesal.
"Kita suami istri, itu hal wajar."
"Wajar jika hanya berdua, tapi kalau kau mengatakannya tidak tahu aturan, itu jadi tidak wajar." Kata Senja.
"Suaramu sangat keras Ken, pasti mereka mendengarnya. Lagipula kenapa sih, suka sekali ngomong vulgar."
"Seru Aya!"
"Sudah gila kamu, Ken!"
"Gila karena mencintaimu, bukankah itu sangat romantis, Aya?" bisik Ken.
"Kamu menyebalkan!" bentak Senja sambil beranjak dari duduknya. Ia melangkah pergi, dan meninggalkan Ken sendirian.
Ken menatapnya sambil tertawa keras, lalu ia mengikuti langkah istrinya.
***
Jarum jam menunjukkan pukul 07.00 malam. Senja dan keluarganya berkumpul di meja makan. Meja kaca yang panjang itu sudah dipenuhi dengan berbagai sajian. Kue ulang tahun berbentuk mobil, lengkap dengan lilinnya, lalu nasi putih lengkap dengan lauk-pauknya. Mulai dari daging, sayur, hingga jamur. Irisan buah, dan berbagai macam minuman hangat tersaji dengan rapi.
Raut kebahagiaan terpancar jelas di wajah masing-masing, hubungan yang sangat hangat dan harmonis, benar-benar terjalin di keluarga ini.
Mereka bersama-sama menyanyikan lagu Selamat Ulang Tahun untuk Rashya. Setelah itu Senja mulai memotong kuenya, dan membagikannya untuk semua anggota keluarga, tak terkecuali juga beberapa pelayan yang bekerja di rumah itu. Mereka semua ikut berkumpul, dan merayakan ulang tahun Rashya.
Namun, belum selesai Senja memotong kue ulang tahunnya, tiba-tiba perutnya terasa sangat mual. Aroma manis bercampur dengan aroma gurihnya masakan, serasa menusuk di hidungnya. Senja tidak tahan, dan akhirnya ia melangkah pergi menuju ke kamar mandi.
"Sebentar ya!" teriak Senja sambil mempercepat langkahnya.
"Aya, kau kenapa?" tanya Ken seraya mengikuti langkah Senja.
Tak lama kemudian, Senja tiba di kamar mandi. Ia langsung memuntahkan isi perutnya, rasa mual benar-benar menyiksanya.
__ADS_1
"Aya, kamu kenapa, masuk angin?" tanya Ken sambil memijit tengkuk Senja.
"Sepertinya bukan." Senja menjawabnya setelah ia berkumur.
"Lalu?" tanya Ken dengan khawatir.
"Aya, jangan-jangan ini efek luka di kepalamu. Ayo kita ke rumah sakit Aya, biar dokter memeriksa kondisimu!" kata Ken dengan cepat sambil menarik lengan Senja.
"Tunggu, sayang!" ucap Senja.
"Ada apa? Aya, aku tidak menerima penolakan, aku sangat khawatir dengan kondisimu." Kata Ken dengan cepat.
"Aku mual saat mencium aroma manis, dan aroma gurihnya daging. Ini sangat mirip dengan waktu itu, waktu pertama kali aku hamil Rashya. Sayang, sebenarnya bulan ini aku sudah telat dua minggu, tapi aku belum yakin. Aku ada alatnya, tidak usah buru-buru ke dokter, nanti saja kita tes, ya!" ucap Senja dengan panjang lebar.
"Aya, kamu, kamu serius?" tanya Ken sambil tersenyum lebar.
"Aku juga belum yakin." Jawab Senja.
"Ayo kita ke kamar sekarang, kita tes, dan kita lihat hasilnya apa!" kata Ken.
"Kalau negatif?" tanya Senja.
"Tidak apa-apa, yang penting aku ingin tahu hasilnya. Ayo!" ajak Ken sambil menggandeng tangan Senja.
Senja menurut, ia mengikuti langkah suaminya yang mengajaknya ke kamar.
Malam itu, menjadi malam yang sangat indah bagi Ken dan Senja. Di hari ulang tahun anaknya, mereka mendapatkan anugerah yang sangat berharga, yakni buah cinta yang mulai tumbuh dalam rahim Senja.
Seluruh anggota keluarga, menerima kabar baik ini dengan penuh kebahagiaan. Sembilan bulan lagi, akan ada sosok kecil yang hadir di tengah-tengah mereka.
Meskipun sempat ada badai yang menguji keluarga mereka, namun kini mereka telah menemukan pelangi dalam ujungnya. Tuhan memang tak pernah salah, dalam menggariskan jalan untuk setiap hamba-Nya.
***
Semilir angin pagi berhembus sepoi-sepoi, menguarkan aroma kamboja yang sangat khas. Sinar sang surya sedikit meredup, karena tertutup mega-mega kelabu.
Suasana pagi yang sedikit suram, namun tak menggoyahkan niat Ken dan Senja untuk berkunjung ke TPU Kota Surabaya.
Ken mengajak Senja untuk berziarah ke makam Fajar, karena sudah cukup lama mereka tidak berkunjung ke sana.
Kini mereka sudah tiba di dekat pusara Fajar, mereka duduk berjongkok, dan melantunkan doa dalam hati masing-masing.
"Ya Allah, berikanlah tempat yang indah untuk Kak Fajar, sayangi dia dan cintai dia." Batin Senja dalam hatinya.
"Ya Allah tempatkanlah Fajar di sisi-Mu. Berikanlah kebahagiaan untuk dia, ampuni hamba yang pernah bersalah padanya." Batin Ken dalam hatinya.
"Kak Fajar, aku sudah bahagia. Aku berusaha menjadi pribadi yang lebih baik, dan aku sudah memberikan masa depan untuk Rashya. Selain itu, aku juga selalu tersenyum, aku sudah melakukan semua yang kau pesankan padaku. Bahagialah di sana, maafkan aku yang pernah menyakitimu. Maafkan aku yang kini mencintai lelaki lain, tapi percayalah, aku tidak akan pernah melupakan kamu. Cinta kamu, kenangan bersamamu, dan semua tentang kamu, masih terpatri erat dalam ingatanku. Meskipun kamu sudah tiada, tapi aku masih menyimpan namamu, sebagai lelaki yang pernah menjadi malaikat dalam hidupku," ucap Senja dengan pelan, sambil meletakkan serangkai bunga yang ia bawa.
"Fajar, maafkan aku yang pernah menyakitimu. Tapi itu bukan nafsu belaka, itu benar-benar sebuah rasa. Sekarang aku sudah menjalankan amanat yang kau berikan padaku. Aku selalu menjaga Aya, dan berusaha membahagiakan dia. Cintaku padanya, tidak kurang dari cintamu padanya." Kata Ken dengan suara yang pelan.
Setelah itu mereka beranjak dari duduknya. Keduanya melangkah meninggalkan tempat terakhirnya Fajar. Ken berjalan di depan, sedangkan Senja, ia mengikutinya di belakang.
Setelah beberapa langkah meninggalkan pusara, Senja menoleh, menatap gundukan tanah yang sudah ditumbuhi rerumputan hijau.
"Kisah kita benar-benar seperti fajar dan senja Kak. Teramat indah, namun hanya sekedip mata. Fajar dan senja, keduanya diciptakan untuk selalu beriringan, saling melengkapi, dan saling menyempurnakan. Seperti itu jugalah kita, jalan hidup kita terasa lebih lengkap dan sempurna, karena kita pernah mengisi satu sama lain. Namun, fajar dan senja juga tak pernah bersama, mereka berada di titik yang berbeda. Seperti halnya kita, saling menyimpan nama dalam hati masing-masing, saling menyimpan nama dalam sebuah rasa, namun tempat kita berbeda. Kita ditakdirkan tidak untuk bersama, cukup kita dan Tuhan yang tahu, betapa besar cinta yang pernah kita punya. Selamat tinggal Kak Fajar, semoga kau bahagia di sana, doaku selalu menyertaimu!" batin Senja sambil memalingkan tatapannya.
Semilir angin mengibarkan kerudung hitam yang menutupi kepalanya, ikut menemani langkahnya yang semakin jauh meninggalkan pusara.
TAMAT
Nantikan satu episode extra yang akan up besok yah!!
__ADS_1
Terima kasih.