Kesucian Cinta Yang Ternoda

Kesucian Cinta Yang Ternoda
Menolak Dika


__ADS_3

"Kamu berangkat sekarang?" tanya Sella sambil berusaha tersenyum. Sebenarnya jauh di dalam hatinya ia merasa sangat kesal.


"Iya, sudah hampir telat." jawab Ken sambil beranjak dari duduknya.


"Kalau begitu aku juga pergi sekarang Ken. Kebetulan aku ada sedikit urusan." ucap Sella sambil ikut beranjak.


"Oh begitu ya."


"Iya, mmm kalau begitu aku pergi dulu ya. Jangan lupa dimakan bronisnya, kalau kamu suka, kapan-kapan aku akan membuatkannya lagi untukmu." kata Sella sambil melangkah pergi meninggalkan Ken yang masih berdiri di tempatnya.


"Iya." jawab Ken dengan singkat.


"Aku tidak akan menyerah Ken, bagaimanapun caranya kamu harus menjadi milikku. Senja sudah menjadi janda, aku tidak akan kalah dengannya." batin Sella sambil menutup pintu ruangan Ken.


"Tidak peduli dengan cara apa kamu mendekatiku, selamanya kamu tidak akan bisa menggantikan posisi Senja." batin Ken sambil menatap tubuh Sella yang mulai menghilang di balik pintu.


Setelah Sella pergi, Ken kembali melanjutkan pekerjaannya. Ia kembali menenggelamkan dirinya ke dalam berkas yang masih menumpuk di mejanya.


Tak lama kemudian pintu ruangan kembali terbuka, rupanya Anna yang datang.


"Pak Kenzo tidak makan?" tanya Anna sebelum duduk di kursinya.


"Nanti aku akan makan, sekarang aku masih menyelesaikan pekerjaanku yang tinggal sedikit." jawab Ken.


"Oh iya Pak." ucap Anna sambil melangkah menuju mejanya.


"Anna!" panggil Ken.


"Iya Pak." jawab Anna sambil menoleh.


"Ambil ini!" kata Ken sambil menyodorkan bronis yang Sella tinggalkan untuknya.


"Untuk saya?"


"Iya."


"Tapi..." ucap Anna sambil menerima bronis itu dengan ragu-ragu.


"Aku tidak menyukai orangnya, jadi aku juga tidak meyukai makanannya. Lain kali kalau wanita tadi datang kesini, katakan saja padanya kalau aku sedang tidak ada." kata Ken sambil menatap Anna.


"Baik Pak."


"Ya sudah kembali bekerja!"

__ADS_1


"Iya Pak." jawab Anna.


Sekitar dua jam kemudian, Ken merasa lelah, dan penat. Lalu ia memutuskan untuk pulang, dan kembali bekerja esok hari.


Ia melirik jarum jam yang melingkar di tangannya, sudah pukul setengah tiga.


"Anna, aku akan pulang lebih dulu. Nanti bereskan mejaku sebelum kau pulang!" kata Ken sambil beranjak dari duduknya, dan melangkah pergi meninggalkan kursi kerjanya.


"Baik Pak." jawab Anna sambil menatap kepergian Ken.


Setelah Ken tidak ada di dalam ruangan, Anna membuka bronis yang diberikan padanya. Bronis kukus berbentuk hati dengan parutan keju di atasnya. Anna mengernyitkan keningnya saat melihat ada lipatan kertas di sana. Anna mengambilnya, dan membaca tulisannya.


"Semoga kamu mengerti Ken." gumam Anna dengan pelan.


"Rupanya Mbak yang tadi menyukai Pak Kenzo. Pantas saja Pak Kenzo merasa kurang nyaman kalau dia datang kesini." ucap Anna dengan pelan.


***


Di tengah keremangan malam, dua insan sedang duduk bersama di atas bangku panjang, di teras rumah. Mereka adalah Dika, dan Senja, mereka sedang terlibat obrolan yang cukup serius.


Alvin, dan Nina sedang tidak ada di rumah, mereka sudah pergi ke klub sejak satu jam yang lalu.


Sejak menikah dua bulan yang lalu, Nina tak lagi bekerja di kantor. Ia hanya membantu pekerjaan Alvin, dan terkadang juga membantu Senja membuat kue kering.


"Senja!" panggil Dika.


Senja tidak menjawab, ia hanya menoleh, dan menatap Dika lekat-lekat.


"Aku benar-benar mencintaimu Senja. Aku ingin menikahimu, jika kamu sudah lahiran. Aku akan menyayangi anak kamu, aku akan menganggap dia seperti anakku sendiri. Masihkah kamu tidak memberikan kesempatan untukku Senja." ucap Dika sambil menatap Senja.


Sungguh ia sangat mencintai wanita yang sedang duduk di hadapannya, namun hati wanita itu telah membeku. Entah bagaimana caranya untuk mencairkannya.


"Maaf Kak, aku tidak bisa. Aku masih mencintai Kak Fajar, dan dia pergi juga membawa cinta untukku. Aku tidak ingin menodai pernikahan kami. Maafkan aku Kak." jawab Senja sambil menunduk.


"Senja kamu masih muda, masa depanmu masih panjang. Bukannya aku meremehkanmu, tapi mengurus anak seorang diri itu juga bukan hal yang mudah. Alvin sekarang sudah menikah, dia punya tanggungjawab kepada istrinya, dan mungkin nanti juga kepada anaknya. Kau yakin bisa melewati hidupmu sendirian? Tidak ada sandaran, tidak ada teman untuk berbagi beban." kata Dika dengan panjang lebar.


"Aku tahu semua itu sulit Kak, tapi aku akan berusaha untuk melewatinya." ucap Senja.


"Kau yakin kau bisa melakukannya?"


"Jika kau bertanya aku yakin, atau tidak, aku juga tidak bisa menjawabnya. Sebagai manusia biasa aku hanya berencana. Aku memang berusaha keras untuk bertahan dalam kesendirian. Namun aku juga tidak tahu, takdir apa yang akan terjadi dalam hidupku dihari nanti." jawab Senja dengan panjang lebar.


"Jadi kau masih ada harapan untuk membuka hatimu Senja?"

__ADS_1


"Aku juga tidak tahu. Aku selalu berusaha untuk menutupnya, tapi aku juga tidak tahu dengan apa yang akan terjadi dimasa depan." jawab Senja.


"Seharusnya kau membuka hatimu Senja. Aku tahu kalian saling mencintai, tapi kau juga berhak bahagia, kau tidak boleh menyiksa dirimu seperti ini." ucap Dika.


"Kau tidak mengerti Kak. Yang kau tahu hanya Kak Fajar meninggal, tapi kau tidak mengerti dengan penyesalan, dan perasaan bersalah yang aku rasakan. Itu sebabnya aku berusaha bertahan dalam kesendirian. Karena aku tidak ingin mengkhianati dia untuk yang kedua kalinya." ucap Senja dalam hatinya.


"Aku tahu kau belum ikhlas melepaskan Fajar, aku tahu kau masih merasa kehilangan. Senja, bolehkah aku menunggumu? Aku akan sabar menanti, sampai saatnya nanti kau bisa menerima kehadiranku di sisimu." kata Dika sambil menggenggam tangan Senja.


"Jangan Kak!" jawab Senja sambil menggeleng.


"Aku tidak yakin, aku bisa membuka hatiku, atau tidak. Aku tidak ingin kau kecewa Kak." ucap Senja sambil menarik tangannya.


"Senja..."


"Aku tidak mau memberimu harapan palsu. Jika aku mengijinkanmu untuk menungguku, lalu bagaimana jika selamanya aku tidak bisa membuka hatiku. Bukankah itu sangat mengecewakanmu Kak." sahut Senja.


Dika tidak menjawab, dia hanya menghela nafas panjang, dan menghembuskannya dengan kasar. Dia memendam perasaan yang begitu dalam, namun Senja tak juga mengerti. Berbagai cara telah ia lakukan untuk mendapatkan hatinya, namun nyatanya wanita itu juga masih bertahan dengan perasaannya. Sebesar itukah cintanya untuk Fajar?


"Kak Dika!" panggil Senja sambil menyentuh lengan Dika.


Dika menoleh, menatap wanita yang selalu dicintainya.


"Maafkan aku, tapi bolehkah aku mengatakan apa yang ingin aku katakan." kata Senja.


"Katakan saja!" jawab Dika.


"Kau adalah lelaki yang baik, aku yakin Tuhan sudah menyiapkan jodoh yang baik juga untukmu. Sudah saatnya kau mengejar masa depanmu, dan mengejar kebahagiaan kamu. Aku mendoakan yang terbaik untukmu Kak." ucap Senja sambil menatap Dika.


"Aku sedang mengejarnya, untuk itu ijinkan aku menunggumu!" sahut Dika.


"Tidak Kak, yang kumaksud bukan diriku." jawab Senja sambil menggeleng.


"Tapi Senja..."


"Aku tidak ingin terus-terusan mengecewakan kamu. Tolong lupakan perasaanmu untukku Kak, karena aku belum tentu bisa membalasnya. Carilah wanita yang lain, aku yakin kau bisa." ucap Senja sambil menghela nafas panjang.


Sesungguhnya ia tidak nyaman mengatakan hal ini, namun Dika sama sekali tidak mau menyerah. Senja tidak ingin terus-terusan menyakitinya.


"Baiklah! Aku mengerti, aku mengerti Senja." jawab Dika dengan suara yang tertahan.


"Mungkin sampai kapanpun kamu memang tidak bisa kumiliki Senja. Baiklah, meskipun ini sangat berat, tapi aku akan berusaha menerimanya. Aku akan mundur Senja, semoga kamu bahagia dengan pilihanmu!" ucap Dika dalam hatinya.


Lalu ia mengambil sebatang rokok, dan kemudian menyulutnya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2