
"Saya, saya, saya," ucap Sella dengan gugup. Keringat dinginnya mulai bercucuran, apa yang harus ia lakukan sekarang?
"Maaf Nyonya Carolyna, ini menyangkut masa depan anak saya. Jadi, jika Nyonya tidak keberatan, ijinkan kami berunding terlebih dahulu," sahut Pak Reno sambil tersenyum.
"Iya, silakan! Saya akan menunggunya di sini, hanya saja, tolong pikirkanlah baik-baik. Sella, aku benar-benar minta tolong sama kamu," ucap Nyonya Carolyna dengan raut wajah yang semakin sendu.
"I...iya Nyonya," jawab Sella sambil beranjak dari duduknya.
Ia dan kedua orang tuanya melangkah menuju ke ruang tengah, meninggalkan Nyonya Carolyna sendirian di ruang tamu.
"Pa, aku tidak mau menikah dengan tua bangka itu. Menjadi simpanannya saja aku sangat terpaksa, apalagi harus menikah, aku tidak mau!" gerutu Sella dengan bibir yang manyun.
"Sella benar Mas, kasihan, cukup sampai di sini saja kita mengorbankan masa depannya," sahut Bu Dina.
"Kalian dengarkan dulu, biarkan aku menjelaskan!" kata Pak Reno dengan suara yang pelan.
"Sella, kau sudah terlanjur melangkah sejauh ini, kenapa tidak sekalian saja. Kalau kamu menikah dengan Jhon, kamu akan lebih mudah menguasai asetnya. Menikah tidak perlu selamanya, cukup sementara saja. Nanti setelah kamu cerai, kamu akan mendapatkan harta gono-gini. Kalau kamu menjadi wanita kaya, kamu bebas memilih siapa lelaki yang kau cintai. Tidak akan ada yang berani menolakmu," ucap Pak Reno dengan panjang lebar.
Sella, dan Bu Dina tampak berpikir keras, mereka mencerna apa yang baru saja diucapkan oleh Pak Reno.
"Sepertinya Papa benar, kalau aku menikah dengannya, aku bisa menguasai separuh kekayaannya. Aku akan menjadi janda yang kaya raya, siapa yang akan berani menghinaku. Meskipun aku pernah menikah dengan lelaki tua, tapi jika aku punya banyak harta, orang lain tidak akan berani macam-macam. Apa keberuntungan memang selalu berpihak kepadaku? Ken, kalau aku menjadi Nyonya Victory, kau akan hancur detik itu juga," batin Sella sambil tersenyum licik.
"Sella!" panggil Bu Dina.
"Sepertinya apa yang dikatakan Papa itu memang benar Ma. Sama-sama menemaninya tidur, tidak ada salahnya kan jika memilih langkah yang lebih menguntungkan. Kalau aku menjadi istri sahnya, menguasai asetnya bukanlah hal yang sulit," ucap Sella sambil mengulas senyum di bibirnya.
"Kamu yakin dengan pilihan kamu? Kamu tidak memikirkan kebahagiaan kamu sendiri Sella?" tanya Bu Dina sambil menatap anaknya.
"Zaman sekarang, yang bisa membuat bahagia itu harta Ma. Percuma punya pasangan tampan, tapi hidup dalam kekurangan. Lagipula ini tidak lama, tidak sampai setahun aku akan menuntut cerai. Dan setelah itu aku akan pergi meninggalkannya, sambil membawa separuh kekayaannya. Setelah itu aku akan mencari pria tampan untuk menjadi suami keduaku. Bukankah itu sangat menyenangkan Ma?"
"Rencana yang sangat bagus, kau benar-benar cerdas sayang," puji Pak Reno sambil menepuk bahu Sella.
"Sekarang kita keluar, kita temui lagi wanita bodoh itu. Dia tidak tahu siapa aku, sampai berpikir untuk membawaku masuk kedalam rumah tangganya. Ini adalah awal dari kehancuranmu, Nyonya Carolyna." Sella menyunggingkan senyuman licik, sambil melangkah menuju ruang tamu.
"Maaf membuat Anda menunggu Nyonya," ucap Sella sambil duduk di depan Nyonya Carolyna.
"Tidak apa-apa, segala hal memang perlu dipikirkan matang-matang, sebelum menentukan pilihan, apalagi sebuah pilihan yang menyangkut masa depan," jawab Nyonya Carolyna dengan senyumannya.
Tak berapa kama kemudian, Pak Reno dan Bu Dina tiba di ruang tamu. Mereka kembali duduk bersama, seperti sedia kala.
"Lalu, bagaimana keputusannya Pak Reno?" tanya Nyonya Carolyna.
__ADS_1
"Saya menerima lamaran Nyonya. Saya mengijinkan Sella untuk menjadi istri keduanya Tuan Jhon. Kami hanya orang biasa, sangat tidak pantas jika menolak permintaan Anda. Lamaran ini, sungguh suatu kehormatan bagi kami, terima kasih sudah memilih Sella," jawab Pak Reno sambil tersenyum.
"Iya Nyonya, saya menerimanya. Tapi kalau boleh saya ingin meminta satu syarat," sahut Sella.
"Apa syaratnya, katakan saja Sella!"
"Saya tidak ingin jika pernikahan ini dirayakan dengan pesta besar, cukup ijab qabul yang sederhana saja. Saya tidak terlalu suka dengan kemewahan," jawab Sella.
"Itu bisa diatur, kamu benar-benar wanita yang luar biasa. Tidak salah saya memilih kamu," kata Nyonya Carolyna.
"Terima kasih Nyonya."
"Untuk apa dirayakan, aku juga tidak menginginkan pernikahan ini. Tapi demi harta, aku harus melakukannya. Dan kau, sepertinya kau wanita yang lemah, dan bodoh. Bukan hal sulit untuk menyingkirkan kamu," batin Sella sambil menaikkan alisnya.
"Sella, kau siap kan jika pernikahannya dilaksanakan dalam waktu yang dekat? Sebenarnya Mas Jhon tidak bisa ikut kesini, karena dia sedang menghadiri peresmian villa yang baru saja ia bangun, untuk hadiah pernikahan," kata Nyonya Carolyna.
"Sebuah villa untuk hadiah pernikahan, dan juga rumah yang lengkap dengan isinya. Benar-benar keberuntungan," batin Sella.
"Saya siap Nyonya, kapanpun saya siap," jawab Sella.
"Kalau begitu minggu depan ya, nanti biar saya dan Mas Jhon yang mengurus segala sesuatunya."
"Minggu depan, apa itu tidak terlalu cepat Nyonya?" sahut Pak Reno.
"Kau yakin?"
"Iya Pa."
"Terima kasih Sella, aku senang mendengar kesediaanmu. Setelah ini kita akan menjadi teman," ucap Bu Carolyna dengan senyum manisnya. Namun sorot matanya menyiratkan sesuatu yang sangat sulit untuk diartikan.
***
Selalu ada jalan bagi mereka yang mau berusaha.
Selalu ada harapan bagi mereka yang mau berdoa.
Serangkaian kata motivasi yang sangat jelas kebenarannya. Kenzo Antonio Putra yang telah membuktikannya. Ia sempat terjatuh, dan dalam beberapa hari ia berusaha untuk bangkit dengan tertatih-tatih. Namun Ken tidak pernah menyerah, ia selalu sabar dan tidak pernah putus asa dalam berusaha. Dan kesabarannya itu kini berbuah manis.
Perusahaannya yang nyaris bangkrut, kini kembali stabil. Karyawan yang sempat diberhentikan, kini kembali masuk kerja. Ken bisa tersenyum, dan mulai bernafas lega, kini tidak ada lagi beban yang menyesakkan dadanya.
Hari ini adalah hari yang sangat dinanti-nantikan oleh putra tunggal dari keluarga Antony. Pasalnya hari ini adalah hari dimana dia akan menghalalkan seorang wanita yang sejak lama ia damba. Setelah hubungan mereka sempat kandas, dan mereka sempat menjalani kisah hidup yang cukup rumit. Kini mereka akan mengikrarkan janji di hadapan sang Illahi. Mereka akan menjalin hubungan dalam ikatan yang halal.
__ADS_1
Sejak pagi Ken sudah terjaga dari tidurnya, ia tersenyum senang kala menatap dekorasi yang sangat sempurna, ia seakan tak mengenali jika itu adalah tempat tinggalnya. Puluhan lampu kristal tampak menggantung menghiasi atap rumahnya yang penuh dengan renda. Bunga-bunga yang berwarna-warni tampak tertata rapi, menghiasi di setiap sudutnya. Meja makan putih, lengkap dengan kursi-kursinya yang dihiasi kain berenda, juga ada vas bunga dan lilin-lilin kecil yang saat ini belum dinyalakan.
Bukan hanya itu saja, di halaman rumahnya, juga sudah dihiasi dekor yang sempurna. Kain renda warna coklat muda, yang dipadukan dengan lampu-lampu kristal yang mempesona. Meja makan yang panjang, serta kursi-kursinya yang ditata dengan sangat manis.
Di depan pintu masuk, para tamu akan disambut dengan bunga bak sakura yang melengkung, lengkap dengan janur kuningnya. Di dekatnya tampak beberapa pigura foto dengan ukuran yang cukup besar. Foto dirinya dan Senja yang berpose dengan mesra.
Ijab qabul akan dilaksanakan pada siang hari, dilanjut dengan resepsi bagi para saudara, dan kerabat dekat. Sedangkan untuk teman, dan juga rekan bisnis, resepsinya akan dilakukan pada malam hari.
"Ken, apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Bu Ratih saat melihat Ken berdiri tegak di ambang pintu ruang tamu.
"Sangat sempurna Ma, aku sangat senang hari ini," jawab Ken sambil tersenyum.
"Senang boleh, tapi lihat ini jam berapa! Sudah jam delapan Ken, dua jam lagi penghulunya akan datang. Cepat mandi, dan bersiap-siap sana!" kata Bu Ratih sambil menatap Ken dengan tajam.
"Mbak Kellyn masih merias Aya Ma, masih ada banyak waktu untuk melihat-lihat dekor ini, mana tahu ada yang kurang pas," jawab Ken sambil tersenyum miring.
"Semua sudah pas, kamu tidak percaya dengan orang tua kamu?"
"Bukan begitu Ma."
"Lalu? Lebih baik sana balik ke kamar, hafalkan kalimat ijabnya, awas nanti kalau salah-salah," kata Bu Ratih sambil melotot tajam.
"Tidak akan."
"Jangan terlalu yakin, berhadapan dengan penghulu itu rasanya beda. Penghulu itu membawa aura yang membuat nyali menciut, membuat jantung berdebar-debar, keringat dingin mengucur, dan terkadang juga membuat otak kita blank," kata Bu Ratih dengan cepat.
"Hah? Mama serius?"
Bersambung...
Terima kasih buat kakak-kakak semua yang masih mendukung karyaku sampai sekarang.
Aku selalu membaca komentarnya, tapi maaf belum bisa membalas satu-satu. Di sini sering mati lampu, dan baterei selalu kandas seusai up bab baru.
Maaf yahh...
Karya Baru
__ADS_1
Karya Tamat