
Deburan ombak yang terus bergulung kerkejaran, mengalunkan melodi merdu bagi setiap insan yang mendengarnya. Hembusan angin pantai, bertiup sepoi-sepoi membawa kesejukan dan kenyamanan.
Dua insan sedang duduk bersama di atas hamparan pasir putih, yang menghadap ke arah birunya samudera membentang. Di atas sana, kirana jingga mewarnai mega-mega yang berarak di sekitarnya. Sang surya hampir terbenam, sebagian wujudnya menyembul di antara mega yang berada di kaki langit barat.
"Bertahun-tahun yang lalu, kita sering menghabiskan waktu di sini, demi menikmati senja. Apa kau masih mengingatnya, Aya?" tanya Ken sambil merangkul tubuh Senja, dan menyandarkan kepala sang istri di bahunya.
"Tentu saja aku ingat, kaulah lelaki pertama yang mengenalkan aku tentang indahnya senja dan cinta. Banyak kenangan di tempat ini, saat kau menyatakan cintamu, saat kau menciumku, dan saat aku memberikan kalung untukmu. Semua itu adalah kenangan yang manis, mana mungkin aku melupakannya," ucap Senja sambil mendongak, menatap wajah sang suami yang ketampanannya tak lekang oleh usia.
Di dekat mereka, dua anak kecil sedang bermain pasir, keduanya membentuk gundukan yang menurutnya sebuah istana. Dia adalah Rashya dan Kanaya. Rashya sekarang sudah berusia delapan tahun, kini ia duduk di bangku kelas 2 SD. Dia tumbuh menjadi bocah yang cerdas, cuek, namun sangat menyayangi adiknya.
Sedangkan Kanaya, dia adalah anak kedua Ken dan Senja. Usianya kini sudah menginjak tujuh tahun, bulan kemarin ia mulai masuk Sekolah Dasar.
Meskipun Ken sangat mengharapkan anak perempuan yang wajahnya mirip dengan Senja, namun kenyataannya, Kanaya lahir dengan wajah yang sama persis dengan dirinya. Ia tumbuh menjadi gadis kecil yang riang, manja, dan jahil. Ia sangat senang, jika kejahilannya berhasil membuat teman-temannya menangis. Tingkahnya terkadang membuat Ken dan Senja menggeleng-gelengkan kepala.
"Aya, boleh aku bertanya?" tanya Ken.
"Silakan saja, apa yang ingin kau tanyakan?"
"Jujur ya, sejak dulu aku sangat penasaran, tapi belum ada waktu yang pas untuk bertanya. Aya, kenapa dulu kau memberiku kalung dengan liontin cangkang kerang, apakah ada maknanya?" tanya Ken sambil menatap istrinya.
Senja mengangkat kepalanya, dan menatap lautan lepas, lalu ia tersenyum sambil memainkan pasir.
"Sebenarnya tidak ada maknanya, hanya saja..." Ucap Senja menggantungkan kalimatnya.
"Sinar senja, birunya laut, putihnya butiran pasir, adalah suatu hal yang sangat indah, suatu hal yang ingin kunikmati selamanya. Sayang, banyak kenangan yang kita habiskan di tempat ini. Aku mengambil sebuah benda dari tempat ini, lalu aku memberikannya padamu. Aku berharap, kau tidak akan pernah melupakan tempat ini, dan kau tidak akan pernah melupakan kenangan kita bersama. Itulah maksudku!" ucap Senja menjelaskan dengan panjang lebar.
"Tanpa inipun, aku tidak akan pernah melupakanmu. Namamu sudah terpatri erat di sini, Aya!" kata Ken sambil menyentuh dadanya dengan telapak tangannya.
"Aku tahu, sekarang aku tahu betapa besar cintamu padaku, sayang. Maaf, aku terlambat menyadari hal ini. Dulu, aku lebih menuruti emosi, hingga aku tak bisa melihat cinta dalam dirimu," ucap Senja seraya menggenggam jemari Ken.
"Kau tidak salah, Aya. Memang seperti itulah jalan hidup kita. Takdir itu selalu indah, Tuhan pasti punya alasan, sebelum memberikan cobaan untuk hamba-Nya." Kata Ken.
__ADS_1
"Kehilangan, mengajarkan kita betapa pentingnya arti memiliki. Jika dulu kita tidak pernah berpisah, kita tidak akan tahu rasanya kehilangan. Dan mungkin, kita akan kurang menghargai satu sama lain. Jika dulu kau tidak meninggalkan aku, aku tidak akan pernah mengerti betapa pentingnya kejujuran. Dan bisa jadi, aku akan lebih sering berbohong padamu. Dan tanpa perpisahan, mungkin kau tidak akan percaya dengan cinta tulusku, dan itu akan membuatmu tidak menghargaiku. Semua kejadian yang telah kita lewati, mengajarkan banyak hal, Aya. Hal yang membantu kita untuk memperbaiki masa depan," sambung Ken sambil tersenyum.
"Kau benar, semakin hari aku semakin jatuh cinta padamu. Sayang, mencintaimu aku benar-benar tak berdaya. Aku jatuh, sejatuh-jatuhnya dalam kasihmu," ucap Senja sambil menyandarkan kepalanya di bahu Ken.
"Dan memang itulah yang kuharapkan, aku ingin memiliki jiwa dan ragamu. Dan aku, aku juga akan memberikan jiwa dan ragaku untukmu." Jawab Ken.
"Cinta itu sangat indah, benar kan?"
"Iya, seindah sinar senja, seelok Cahaya Senja." Jawab Ken.
Senja memejamkan matanya, menikmati semilir angin pantai, dalam dekapan hangat dari lelaki yang menjadi malaikat dalam hidupnya.
Tak lama kemudian, suara tawa samar-samar terdengar di telinga Senja. Senja membuka matanya, dan netranya langsung menatap buah hatinya yang sedang berkejaran. Mereka tertawa riang bersama, dan Senja, ia juga mengulas senyuman lebar di bibirnya.
"Sayang, tapi kamu sangat tidak adil ya!" ucap Senja sambil mengangkat kepalanya. Ia menatap ke samping, ke arah anak-anaknya yang sedang bermain.
"Tidak adil?" tanya Ken sambil mengernyitkan keningnya.
Ia ikut menatap ke arah Rashya dan Kanaya, tidak ada yang aneh. Ada apa dengan Senja?
"Aku yang mengandung mereka, sembilan bulan itu tidak sebentar, sayang. Aku yang melahirkannya, dan aku juga yang memberikan ASI kepada mereka. Tapi keduanya tidak ada yang mirip denganku, mereka malah membawa wajahmu, bukankah itu tidak adil?"
Ken tertawa keras, ia mengacak rambut Senja dengan gemas.
"Kau ingin tahu, kenapa mereka mirip denganku?" tanya Ken.
"Kenapa?"
"Karena aku yang mendominasi, Aya. Kau jarang sekali di atas, itu sebabnya mereka tidak mirip denganmu. Kau tahu, siapa yang paling berkeringat, dia yang akan membentuk wajah anaknya," kata Ken dengan santainya.
"Kau gila, Ken!" teriak Senja sambil mencubit lengan Ken dengan keras.
__ADS_1
"Rumus dari mana itu, tidak ada! Kamu ngarang, sudah jadi bapak juga, masih saja pikirannya kotor. Malu kalau didengar anak-anak!" teriak Senja sambil memelotot tajam.
"Aku serius, Aya," ucap Ken masih dengan tawanya.
"Tidak, tidak ada teori seperti itu!" bentak Senja.
"Kau tidak percaya?"
"Sama sekali tidak!" jawab Senja masih dengan nada tinggi.
"Ayo kita buktikan kalau berani. Coba mulai sekarang, berhenti menggunakan kontrasepsi, terus kamu yang selalu di atas. Nanti kalau jadi, kita lihat. Dia mirip kamu atau aku, kalau mirip kamu berarti teoriku benar. Tapi, kalau mirip aku berarti teoriku salah dan kamu yang benar. Gimana?" goda Ken sambil menaikkan alisnya.
"Aku tidak mau. Itu hanya akal-akalan kamu saja, Ken. Dasar otak kotor!" teriak Senja.
"Apa yang kotor, Ma?" tanya Rashya sambil mendekati ibunya. Ia menggandeng tangan Kanaya dengan erat.
Senja menatapnya sambil tersenyum, melihat mereka, ia teringat dengan masa kecilnya bersama Alvin.
"Tidak ada, Nak, ayo kita pulang, Oma dan Opa pasti sudah menunggu!" kata Senja sambil beranjak dari duduknya.
Kala itu senja sudah meredup, samar-samar sinar bintang mulai tampak di angkasa raya.
"Ayo pulang, Pa!" ajak Kanaya sambil memegang lengan Ken.
"Tolongin Papa dong!" ucap Ken sambil mengulurkan tangannya.
Dengan senyuman lebar, Kanaya meraih tangan Ken dan menariknya. Ken tersenyum senang, dan beranjak dari duduknya.
Lalu mereka bersama-sama melangkah, meninggalkan area pantai. Meninggalkan sang ombak yang masih bergulung, meninggalkan semilir angin yang mulai dingin.
Tak kan ada pelangi tanpa adanya hujan. Mungkin kalimat itu sangat cocok dengan jalan hidup Cahaya Senja. Kehilangan orang tua, kehilangan lelaki yang dicintai, semua itu bukanlah hal yang mudah, semua itu adalah luka yang menyakitkan.
__ADS_1
Namun dibalik semua itu, Tuhan menggantinya dengan sosok lelaki yang menjelma bak malaikat dalam hidupnya. Kenzo Antonio Putra, lelaki yang ditakdirkan untuk bersamanya. Lelaki yang digariskan untuk membuatnya bahagia.