Kesucian Cinta Yang Ternoda

Kesucian Cinta Yang Ternoda
Sah


__ADS_3

"Serius lah Ken, tidak ada gunanya Mama bohong." Sahut Bu Ratih dengan cepat.


Ken menatap ibunya lekat-lekat, seakan ada sesuatu yang ingin ia katakan, namun sulit untuk dilontarkan.


"Ken, cepat sana! Bersiap-siaplah! Ini saat yang paling penting dalam hidup kamu. Jangan sampai kau buat berantakan," kata Bu Ratih sambil menatap Ken.


"I...iya Ma, ya sudah aku ke atas dulu kalau begitu." Ken berkata, seraya melangkah meninggalkan ibunya.


Namun belum jauh ia berjalan, tiba-tiba ia membalikkan badannya, dan kembali menghampiri ibunya.


"Apa lagi?" teriak Bu Ratih.


"Pastikan tidak ada kesalahan sedikitpun Ma. Aku ingin dekor, jamuan, dan lainnya, berjalan dengan sempurna," ucap Ken dengan cepat.


"Kamu masih meragukan Mama, Ken?" Teriak Bu Ratih.


"Tidak Ma tidak, iya aku percaya, aku pergi sekarang," kata Ken sambil tertawa. Lalu ia ia berlari menaiki anak tangga, ia menuju ke kamarnya.


***


Tepat pukul 10.00 pagi, suasana di rumah Ken semakin ramai. Seluruh keluarga sudah berkumpul di ruang tengah, mereka duduk bersama di atas karpet merah yang di gelar di atas lantai. Meja kecil sudah disiapkan, lengkap dengan kerudung panjang warna putih, yang akan dipakai untuk menutupi kepala mempelai.


Alvin, Nina, Rashya, Dika, Anna, mereka sudah datang sejak tadi pagi, namun saat ini Rashya sedang tidur di dalam kamar. Dan selain mereka, juga ada Pak Hery, Farah, Dion, serta Bu Rani. Sejak ada masalah yang menimpa mereka, kini hubungan keduanya semakin membaik. Bahkan keluarga Mahardika, dan keluarga Antony, kini terlibat kerjasama bisnis yang cukup besar.


Kendati demikian, Bu Rani masih tidak banyak berubah. Beliau belum bisa bersikap ramah terhadap Ken, dan juga Senja, tapi setidaknya sikapnya tidak sesinis dulu.


Pak penghulu baru saja datang, beliau dan rekannya kini sudah duduk sambil menikmati jamuan yang telah disiapkan, sambil menunggu kedua mempelai.


"Silakan Pak, silakan dinikmati! Ini minumnya," ucap Bu Ratih dengan ramah.


"Iya Bu, terima kasih."


Tak berapa lama kemudian, Kellyn datang menghampiri Bu Ratih.


"Pengantinnya sudah siap Tante," bisik Kellyn di dekat telinga Bu Ratih.


"Iya," jawab Bu Ratih sambil mengangguk.


"Vin, jemput Senja!" kata Bu Ratih sambil menatap Alvin.


"Iya Tante," jawab Alvin sambil beranjak dari duduknya.


"Ayo sayang!" ajak Alvin pada Nina.


"Iya."


Alvin dan Nina berjalan menuju ke lantai atas, ke tempat Senja dirias.


Sedangkan Bu Ratih, dan Pak Jeffry, mereka menuju ke kamar yang ada di lantai bawah. Seusai membersihkan diri, MUA mendandani Ken di sana.


Beberapa menit kemudian, Alvin dan Nina sudah sudah tiba di lantai atas. Mereka masuk ke dalam kamar yang pintunya terbuka dengan lebar.


Nina tersenyum haru, saat melihat Senja yang sudah disulap bak bidadari. Tubuh mungilnya dibalut gaun warna putih, dengan taburan manik-manik biru yang berkilauan. Kerudung dengan warna yang senada, tampak menutupi kepalanya. Ujung bagian belakangnya menjuntai panjang, hingga jatuh ke betis. Di atas kepalanya, tampak hiasan mahkota kecil dengan permata warna biru safir. Sangat cantik.


"Kau sangat cantik, Nja!" teriak Nina sambil mempercepat langkahnya, dan menghambur mendekati Senja.

__ADS_1


"Sayang pelan-pelan, ingat kandungan kamu!" kata Alvin kepada istrinya. Saat ini kandungan Nina sudah menginjak usia tiga bulan.


"Aku sangat bahagia Kak," jawab Nina.


"Tapi tidak perlu lari-lari, aku tidak akan kemana-mana," sahut Senja sambil tersenyum.


"Kau sangat cantik Nja, kamu seperti seorang putri." Nina tertawa dengan riangnya. Ia menatap wajah Senja yang menjelma bak boneka.


"Aku jadi malu Nin." Ucap Senja sambil menunduk.


"Ayo ke bawah, Pak Penghulu sudah menunggu!" ajak Alvin pada Senja dan Nina.


"Iya." Jawab Senja dan Nina bersamaan.


Lalu Alvin dan Nina menuntun Senja, dan membimbingnya ke lantai bawah.


Sementara itu, Ken sudah duduk manis di depan penghulu. Wajah tampannya terlihat begitu menawan dengan balutan kemeja putih, dan jas hitam. Di atas kepalanya, tampak songkok warna hitam menutupi rambutnya yang sedikit memanjang.


Tak lama kemudian, pandangan mata Ken tertuju pada anak tangga. Di sana ada bidadari tak bersayap yang sedang melangkahkan kakinya. Bidadari itu menatapnya, sambil mengulas senyuman di bibirnya yang kemerahan. Ken diam terpaku, bahkan untuk mengedipkan matanya saja seakan ia tak mampu. Sosok yang menjelma di hadapannya, benar-benar membuatnya terpesona. Hatinya berdesir, kala mengingat kenyataan. Sebentar lagi wanita itu akan menjadi miliknya, wanita itu akan menjadi ladang pahala baginya.


"Ken!" Panggil Pak Jeffry.


"Belum halal, biasa saja menatapnya." Sindir Pak Jefrry.


Sontak saja mereka yang ada di sana langsung tertawa.


Ken tak menanggapi gurauan ayahnya, ia memilih menunduk, karena kini Senja sudah duduk di sebelahnya. Untuk pertama kalinya, Ken merasa sangat gugup saat berdekatan dengan Senja.


"Kata Mama auranya penghulu yang membuat gugup, tapi menurutku bukan. Tadi aku biasa saja, tidak gugup sama sekali, tapi setelah Aya datang, aku merasa luar biasa gugupnya." Batin Ken dalam hatinya.


Bu Ratih beranjak dari duduknya, beliau menutupkan kerudung putih, di atas kepala Ken dan Senja. Beliau tersenyum saat menatap anaknya yang siap menempuh lembaran baru.


Kak Fajar, maafkan aku." Batin Senja sambil memejamkan matanya.


"Ya Allah, sebentar lagi hidup Aya akan menjadi tanggungjawabku. Bimbing hamba Ya Allah, semoga hamba bisa membawanya ke jalan yang lebih baik. Ampuni dosa-dosa yang telah hamba lakukan dimasa lalu." Batin Ken sambil menghela nafas panjang.


"Sudah siap?" Tanya Pak penghulu.


"Siap Pak." Jawab Ken sambil mengangguk.


"Siapa wali nikahnya?"


"Saya Pak." Sahut Alvin.


"Anda nikahkan sendiri dengan bimbingan saya, atau pasrah, dan mewakilkannya kepada saya?" tanya pak penghulu sambil menatap Alvin.


"Jika boleh, saya ingin menikahkannya sendiri Pak," jawab Ken.


"Itu bagus, saya pasti akan membimbing Anda," kata pak penghulu.


"Sebelum kita mulai, mari kita ucapkan basmallah terlebih dahulu!"


"Bismillahirrahmanirrahim."


Dan tak berapa lama kemudian, Alvin mulai menjabat tangan Ken.

__ADS_1


"Saya nikahkan engkau Kenzo Antonio Putra Bin Jefrry Antony dengan Cahaya Senja Binti Alm.Pramono dengan mas kawin sepuluh gram emas dibayar tunai," kata Alvin dengan suara yang lantang.


Ken mengambil nafas dalam-dalam saat merasakan hentakan di telapak tangannya. Lalu ia mengucapkan ijab qabulnya dengan sungguh-sungguh.


"Saya terima nikahnya Cahaya Senja Binti Alm.Pramono dengan mas kawin sepuluh gram emas dibayar tunai."


Meskipun luar biasa gugupnya, namun Ken berhasil mengucapkan ijab qabulnya dengan sempurna.


"Bagaimana saksi, sah?


"Sah!" Jawab semua yang ada di sana dengan suara yang keras.


"Alhamdulillah, mari kita panjatkan puja, dan puji syukur kita kehadhirat Allah Swt. Yang mana telah menyatukan dua insan dalam sebuah ikatan yang halal.


Sekarang mari kita membaca shalawat bersama-sama," kata Pak penghulu.


Kemudian mereka membaca shalawat, dan juga doa bersama-sama. Setelah selesai, Senja mencium tangan Ken, dan Ken mencium kening Senja dengan lembut.


Lalu Ken menyematkan cincin permata di jari manisnya Senja. Senja tersenyum haru, lelaki yang dulu pernah menjadi tambatan hatinya, kini sudah sah menjadi imamnya.


"Semoga kalian bahagia, doa Mama akan selalu menyertai kalian. Semoga pernikahan ini menjadi awal yang indah untuk jalan hidup kalian dimasa depan. Ken jaga istrimu, dia sudah memilih untuk hidup bersama kamu, untuk itu jangan pernah sekalipun menyakitinya. Senja berbaktilah pada suamimu, dia yang akan menjadi pintu surga bagimu. Jangan anggap Mama dan Papa sebagai mertua, anggap kita sebagai orang tuamu." Kata Bu Ratih sambil merangkul Ken dan Senja.


"Terima kasih Mama." Jawab Senja dan Ken bersamaan.


"Jadikan kesalahan sebagai pelajaran, jangan pernah mengulang untuk yang kedua kalinya." Bisik Bu Ratih dengan pelan, namun masih bisa didengar oleh Ken, dan juga Senja.


"Iya Ma."


"Ken, Senja, kalian sudah menikah. Jangan saling menyakiti, dan jangan saling membohongi. Jaga cinta kalian sampai nanti! Doa Papa selalu menyertai kalian." Kata Pak Jeffry sambil menatap Ken dan juga Senja.


"Terima kasih Papa."


Lalu Senja beringsut mendekati Alvin, ia memeluk kakaknya dengan sangat erat.


"Semoga kamu bahagia Senja, Kakak akan selalu mendoakan yang terbaik untuk kamu." Kata Alvin.


"Terima kasih Kakak." Jawab Senja.


Kemudian mereka semua saling memberikan selamat kepada Ken dan juga Senja.


***


Diwaktu yang sama di tempat yang berbeda.


Di sebuah rumah mewah, di salah satu sudut Kota Jakarta. Dua mempelai sedang duduk bersama, di hadapan penghulu. Meskipun tidak ada dekorasi yang mewah, namun beberapa kerabat tampak berkumpul untuk menyaksikan akad nikah. Mereka adalah Jhon Victory, dan Sella Marvellina. Mereka akan melaksanakan akad nikah dalam beberapa menit lagi.


Senyuman terus mengembang di bibir Sella, impiannya untuk menjadi orang kaya raya sebentar lagi akan tercapai. Tumpukan harta yang tak akan ada habisnya, kini sudah terbentang di depan mata.


Di sebelahnya, Jhon Victory duduk dengan gelisah. Raut wajahnya sendu, dan tak ada senyuman yang terukir di bibirnya.


Kenapa demikian?


Entahlah, hanya dirinya saja yang tahu apa jawabannya.


"Sudah siap?" tanya Pak penghulu.

__ADS_1


Jhon Victory diam sambil menunduk, tampak ragu untuk menjawab pertanyaan penghulu.


Bersambung...


__ADS_2