
Seorang wanita yang tak lain adalah Sella, kala itu dia sedang menyapu lantai, dan tak sengaja, matanya menatap ke arah tv yang menyala. Seolah takdir memang sengaja mempermainkannya, stasiun tv itu sedang menayangkan peresmian Villa Sandhya.
Meskipun geram, namun Sella merasa penasaran, dan akhirnya ia tetap terpaku menatap siaran itu.
Di layar tv tampak begitu jelas, wajah Ken dan Senja yang terlihat bahagia. Di sebelahnya ada Nyonya Carolyna, wanita bermuka dua yang sudah menghancurkan masa depannya.
Sella menggeram, ia mencengkeram gagang sapu dengan sangat erat. Melihat Ken yang begitu mencintai Senja, ah hatinya serasa dicabik-cabik.
"Sekarang kau tahu apa yang terjadi?" tanya Pak Jhon yang tiba-tiba saja sudah berdiri di belakangnya.
"Tentu saja aku tahu, aku terjebak dengan tua bangka sepertimu." Gerutu Sella dalam hatinya.
"Ken menyematkan nama Antony untuk anaknya Senja. Apa kau tidak menduga hal yang tersembunyi, Sella?" tanya Pak Jhon sambil menatap Sella.
Sella mengernyit heran, apa maksudnya? Lalu Sella menoleh, dan menatap wajah tua yang sekarang menjadi pasangan hidupnya.
"Aku tidak mengerti dengan apa yang Om bicarakan." Ucap Sella dengan pelan.
"Tentu saja kau tidak mengerti, karena kau memang wanita bodoh, yang bisanya hanya naik ke atas ranjang," kata Pak Jhon sambil duduk di kursi.
Bunyi decitan terdengar cukup nyaring, kala Pak Jhon mulai mendaratkan tubuhnya. Perabotan yang sudah reot, seolah tak mampu menopang berat badan Pak Jhon.
"Ken tidak akan sembarangan menyematkan nama belakangnya, apalagi pada keturunan Mahardika. Kau bilang dulu mereka pernah menjalin hubungan, apa kau tidak curiga, jika selama menikah, Senja masih memiliki hubungan dengannya. Fajar sudah pasti menderita HIV, karena dia tertular dari Adara. Dan HIV AIDS stadium akhir, tidak akan bisa memiliki keturunan, tanpa menularkan penyakitnya." Kata Pak Jhon dengan panjang lebar.
Lalu beliau mengambil rokok yang tergeletak di atas meja, menyulutnya, dan kemudian menghisapnya kuat-kuat.
Sella tersentak kaget, saat mendengar penjelasan yang Pak Jhon lontarkan. Mungkinkah dia anaknya Ken?
Sella tampak berpikir keras, mengingat masa-masa yang telah lalu. Waktu itu, Bu Ratih sangat kesal saat mendengar Ken akan menikahi Senja, dan menghidupi anaknya. Namun selang beberapa waktu, Bu Ratih malah sangat menyayangi Senja. Dan tentang HIV, teori yang diucapkan Pak Jhon sepenuhnya memang benar. Fajar nyata-nyata menderita HIV AIDS stadium akhir, jika mereka saling berhubungan pasti Senja sudah terjangkit virus itu. Tapi ini tidak, hasil pemeriksaan dalam diri Senja adalah negatif.
Mengingat sikap Ken dan juga keluarganya, yang begitu sangat menyayangi Senja dan anaknya, bukan hal yang tidak mungkin, jika Rashya sebenarnya adalah anaknya Ken.
"Tidak, ini tidak mungkin! Ini tidak mungkin!" Teriak Sella.
Tubuhnya gemetaran, dan keringat dingin mulai bercucuran. Ia melewatkan satu hal yang sangat penting. Dan hal itu kini menjerusmuskannya dalam kehancuran.
"Apanya yang tidak mungkin, hah! Andai saja kamu tidak bodoh, dan bisa menyadari hal ini sejak awal, pasti kita bisa menghancurkan mereka sejak dulu, bukan malah kita yang hancur." Kata Pak Jhon.
"Dulu aku sudah pernah bilang padamu, selidiki betul-betul, jangan sampai ada kesalahan. Tapi bukannya menyelidiki, kamu malah pamer kebodohan." Sambung Pak Jhon karena Sella masih saja terdiam.
"Senja hamil disaat Fajar masih hidup, dan aku tahu dia sangat mencintai Fajar. Jadi aku sama sekali tidak curiga," ucap Sella sambil menunduk.
Pak Jhon tidak menjawab, beliau hanya menatap Sella sambil menghembuskan nafasnya dengan kasar. Dalam hati, beliau sangat jengkel dengan Sella. Bagaimana tidak, gara-gara kecerobohan wanita itu, kini dirinya terjebak dalam kemiskinan.
"Sekarang apa yang bisa kita lakukan, Om?" tanya Sella dengan pelan.
"Tidak ada."
"Tapi Om."
"Tapi apa? Kau tidak punya bukti apa-apa, dan lagi, sekarang kita miskin, tidak punya uang. Sedangkan dia, ada Carolyna yang berdiri di belakangnya. Kau pikir mudah menghadapi mereka, dasar wanita tidak punya otak!" bentak Pak Jhon sambil beranjak dari duduknya. Lalu beliau pergi meninggalkan Sella sendirian.
__ADS_1
"Pasti ada cara untuk menghancurkan mereka, dan aku harus menemukan cara itu. Ken, aku sudah memegang aib yang kau sembunyikan. Sesulit apapun jalannya, aku pasti akan menghancurkanmu." Ucap Sella sambil tersenyum licik.
***
Sayup sinar senja, menorobos masuk ke dalam villa mewah yang berada di kawasan puncak.
Cahaya jingganya menerangi bunga-bunga indah yang bermekaran di halaman.
Ken, Senja, Rashya, Bu Ratih, Pak Jefrry, Nyonya Carolyna, dan Alex Victory, mereka sedang berkumpul di ruang tamu. Acara peresmian villa sudah usai, dan kini mereka sedang bersiap-siap untuk pulang. Hanya tinggal Ken dan Senja, yang akan tetap berada di villa ini.
"Mama yakin mau pulang sekarang? Kenapa tidak besok pagi saja Ma?" tanya Ken sambil menatap ibunya.
"Besok siang Papamu ada rapat Ken. Perjalanan dari sini ke rumah cukup jauh, waktunya tidak akan cukup kalau pulang besok pagi." Jawab Bu Ratih.
"Iya Ken, kami harus pulang sekarang." Pak Jefrry ikut menyahut.
"Baiklah kalau begitu." Jawab Ken.
"Kami juga akan pulang Ken, ada banyak pekerjaan yang menunggu kami di Jakarta," ucap Nyonya Carolyna sambil tersenyum.
"Nyonya tidak menginap?"
"Tidak Ken, kami akan pulang," jawab Nyonya Carolyna.
"Mama benar, kami harus pulang. Pekerjaan di sini sudah selesai, kami harus kembali mengurus pekerjaan yang ada di Jakarta." Sahut Alex.
"Baiklah kalau begitu, saya sangat berterima kasih atas kebaikan kalian. Semoga kedepannya kerjasama kita bisa berjalan dengan lancar." Kata Ken.
"Kamu luar biasa Ken. Kamu tahu, sejak lama aku mencari bukti tentang pengkhianatan Papa, namun aku selalu gagal. Dan akhirnya kau yang bisa menemukan bukti itu, aku kagum padamu," ucap Alex sambil menepuh bahu Ken.
"Aku tidak sehebat itu, aku beruntung karena kebetulan wanitanya sedikit ceroboh," jawab Ken sambil tersenyum miring.
"Jangan merendah, aku tahu kau luar biasa." Kata Alex.
"Alex benar, kau sangat luar biasa Ken. Kamu bisa menghadapi masalah yang rumit, dengan sangat tenang." Sahut Nyonya Carolyna.
"Terima kasih Nyonya, saya sangat malu menerima pujian ini," jawab Ken sambil menggaruk kepalanya.
Tak lama kemudian, Nyonya Carolyna selesai berkemas, lalu beliau pamit undur diri, dan mulai melangkah pergi meninggalkan Ken dan keluarganya.
"Hati-hati Nyonya, hati-hati Alex," ucap Ken saat Nyonya Carolyna dan anaknya sudah masuk ke dalam mobil.
"Iya." Jawab mereka dengan senyuman yang ramah.
Lalu Alex mulai melajukan mobilnya, meninggalkan area villa.
"Ken!" panggil Bu Ratih.
"Iya Ma."
"Kamu yakin, Rashya akan tinggal di sini? Apa tidak sebaiknya kami bawa pulang saja?" tanya Bu Ratih sambil menatap Ken dan Senja secara bergantian.
__ADS_1
"Aku terserah pada Aya, Ma." Jawab Ken.
"Jangan Ma, biarkan saja dia di sini bersama kami. Aku tidak nyaman kalau jauh dari dia," sahut Senja sambil menatap Bu Ratih.
"Kamu yakin tidak repot Nja?" tanya Bu Ratih.
"Tidak Ma, kan ada Bibi juga." Jawab Senja.
"Tapi Nja..."
"Ma, jika memang keinginan Senja seperti itu, hargai saja. Rashya memang masih kecil, mungkin Senja berat berpisah dengannya, meskipun hanya dalam waktu beberapa hari," sahut Pak Jefrry.
"Baiklah kalau begitu." Ucap Bu Ratih mengalah.
"Ya sudah, sekarang kami pulang ya. Baik-baik di sini, Ken jaga anak istri kamu!" kata Pak Jefrry sambil menatap Ken.
"Iya Pa." Jawab Ken.
"Senja, kami pulang dulu ya. Rashya jangan nakal ya, tinggal di sini sama Mama dan Papa. Oma dan Opa mau pulang dulu, sampai ketemu nanti cucu Oma," ucap Bu Ratih sambil menciumi pipi Rashya.
"Hati-hati ya Oma," ucap Senja sambil melambaikan tangan Rashya.
"Iya sayang, cium lagi dong, uhh gemesnya."
Tak lama kemudian, Pak Jefrry dan Bu Ratih mulai melangkah pergi menuju mobilnya.
"Hati-hati Ma, Pa," kata Ken.
"Hati-hati Oma, Opa." kata Senja.
Mereka berdua mengantarkan orang tuanya, hingga ke halaman villa.
"Kalian juga hati-hati ya."
"Iya Pa."
Kemudian Pak Jefrry mulai melajukan mobilnya, meninggalkan area villa.
Kini, tinggal Ken dan Senja yang berdiri di sana. Menatap sinar surya yang semakin lama semakin meredup.
"Selain karena senja itu adalah nama kamu, aku juga punya alasan lain, kenapa membarikan nama sandhya untuk villa ini. Lihatlah!" kata Ken sambil menunjuk ke depan, ke arah matahari yang mulai terbenam.
"Dari tempat ini, kita bisa melihat senja dengan sangat jelas. Aku ingat, dulu kau sangat menyukai senja, kita sering menghabiskan waktu bersama di pinggir pantai, demi menatap senja.
Sekarang kau bisa menatapnya sampai puas dari sini. Villa Sandhya, villa yang kubangun khusus untukmu, Aya," sambung Ken sambil menatap Senja lekat-lekat.
Senja menunduk malu, menyembunyikan wajahnya yang semerah tomat. Ia hanya tersenyum lebar, tanpa bisa berkata apa-apa. Rasa bahagia, dan rasa haru benar-benar mengacaukan perasaannya.
"Ken, kau sungguh berhasil membuatku terjatuh dalam lubang cinta yang tiada ujungnya." Batin Senja dalam hatinya.
Bersambung...
__ADS_1