Kesucian Cinta Yang Ternoda

Kesucian Cinta Yang Ternoda
Kekhawatiran Senja


__ADS_3

Sang malam semakin menyapa, bersama sinar rembulan, dan kerlip bintang yang menghiasi angkasa raya. Dua insan sedang bercanda mesra di balkon kamar, mereka duduk bersama di atas karpet, sambil menikmati minuman hangat yang manis, semanis jalinan cinta kasih mereka.


"Ken!" panggil Senja.


"Hemmm, kenapa sayang?"


"Merokoklah!" kata Senja sambil menyodorkan bungkusan rokok yang tergeletak di hadapannya.


"Kenapa kau menyuruhku merokok?" tanya Ken sambil mengernyitkan keningnya, ia sedikit heran mendengar pemintaan senja.


"Aku sudah lama tidak melihatmu merokok." Jawab Senja.


"Lalu?"


"Aku ingin melihatnya," jawab Senja.


"Apa aku terlihat lebih tampan, jika sedang merokok, Aya?" goda Ken.


"Tidak mau ya sudah," gerutu Senja sambil memalingkan wajahnya.


"Dasar pemarah!" kata Ken sambil mengacak-acak rambut Senja.


Lalu ia mengambil sebatang rokok, dan mulai menyulutnya. Ken menghisapnya kuat-kuat, kemudian meniupkan asapnya di dekat wajah Senja.


"Apa kau menyukainya, Aya?" bisik Ken di telinga Senja. Wanitanya ini memang aneh, jika biasanya seorang wanita akan melarang lelakinya merokok. Tapi tidak dengan Senja, ia malah sangat menyukai dirinya yang sedang merokok.


"Ya begitulah," jawab Senja sambil tersenyum lebar. Entah kenapa, ia sangat senang melihat Ken merokok. Terkesan lebih jantan menurutnya.


Ken tak menjawab, namun dengan cepat tangannya merangkul bahu Senja. Ia membawa tubuh istrinya ke dalam dekapannya. Senja tak menolak, ia justru menyandarkan kepalanya di dada Ken, sambil menatap liontin kerang yang tak pernah terlepas dari leher Ken.


"Temani aku merokok, dengan cara seperti ini ya," ucap Ken sambil mengeratkan dekapannya.


"Jangan erat-erat, aku tidak bisa bernafas Ken!" kata Senja dengan tawa yang renyah.


"Benarkah? Tapi kau masih bisa tertawa," goda Ken seraya menundukkan kepalanya. Ia menangkup pipi Senja, dan menatapnya lekat-lekat.


"Terima kasih, Aya." Kata Ken tepat di depan wajah Senja.


Senja tersenyum, menikmati aroma nikotin yang menguar dari mulut Ken. Sejenak kemudian, Senja mulai membuka suara.


"Terima kasih untuk apa?" tanya Senja, dengan pandangan mata yang tak lepas dari wajah sang suami.


"Terima kasih untuk cinta yang kamu berikan padaku, terima kasih sudah menerimaku menjadi pendamping hidupmu. Aya, kau adalah satu-satunya wanita yang berhasil membuatku jatuh cinta. Mulai detik ini, berjanjilah untuk tidak akan pernah meninggalkan aku, apapun yang terjadi. Aku ingin menghabiskan sisa hidupku bersama kamu, Aya. Cukup maut saja yang bisa memisahkan kita," ucap Ken sambil mengusap pipi Senja dengan kedua jemarinya.


"Aku berjanji, maafkan aku yang seringkali mengecewakan kamu, Ken. Terkadang aku merasa malu, melihat cinta kamu yang setulus itu. Terkadang aku merasa tidak pantas menerima semua ini, Ken." Kata Senja. Jemari tangannya mulai terangkat pelan, mengusap rahang Ken dengan lembut.


"Jangan katakan itu! Hanya kamu satu-satunya wanita yang pantas menerima cintaku. Kau tahu Aya, betapa bahagianya aku saat ini. Impian terbesar dalam hidupku adalah menikah denganmu, dan sekarang, mimpi itu sudah menjelma dalam nyata. Aku sangat senang, Aya."


"Aku juga bahagia Ken, mencintai kamu, dan dicintai kamu adalah anugerah yang sangat indah. Kebahagiaan ini, tak bisa lagi kuungkapkan dengan kata-kata."


"Semoga kita selalu bahagia, Aya."

__ADS_1


"Amiinn, semoga Tuhan mengabulkan keinginan kita."


Lalu Ken lebih mendekatkan wajahnya, ia mengikis habis jarak di antara keduanya. Hanya dalam hitungan detik, Senja merasakan aroma nikotin itu mulai menempel di bibirnya. Lembut, manis, sebuah rasa yang selalu membuatnya terjebak dalam rindu.


Beberapa menit kemudian, Ken menjauhkan wajahnya. Ia tersenyum, kala melihat bibir Senja yang basah karenanya.


"Sangat manis," ucap Ken sambil mengusap sudut bibir Senja.


Senja menunduk, menyembunyikan wajahnya yang semakin merona. Ken, kau benar-benar membuat Senja tak berdaya.


Tak lama kemudian, Senja tersentak kaget. Ia teringat dengan satu hal yang membuatnya sangat penasaran.


"Ken!" panggil Senja dengan suara yang cukup keras.


"Mau lagi?" tanya Ken sambil mengerlingkan matanya.


"Ckk bukan, aku mau tanya serius." Jawab Senja.


"Tanya apa, tanyakan saja!"


"Kau apakan Sella? Kau sudah berjanji akan menceritakannya padaku, sekaligus ceritakan juga tentang Nyonya Carolyna. Dia bukan orang sembarangan, kenapa kau bisa menjalin kerjasama dengannya?" tanya Senja dengan cepat.


"Aku juga bukan orang sembarangan, Aya. Kau meragukan kemampuan suamimu ini, hemm?"


"Ken, aku serius." Kata Senja memohon, pasalnya sampai saat Ken belum menceritakan apa yang terjadi dengan Sella, ataupun Nyonya Carolyna.


"Kau yakin ingin tahu?" tanya Ken.


"Yakin. Cepat ceritakan!" jawab Senja.


"Memangnya ada apa?" tanya Senja.


"Berjanjilah, dan aku akan menceritakan semuanya, tanpa terkecuali!" jawab Ken.


"Baiklah, aku berjanji."


Ken menghisap rokoknya terlebih dahulu, sebelum memulai pembicaraannya. Lalu Ken menoleh, dan menatap istrinya.


"Kau tahu kan, kalau Nyonya Carolyna itu adalah ibunya Adara?"


"Iya, aku tahu, kenapa?" tanya Senja.


"Orang yang menyebarkan berita miring waktu itu adalah Sella, dia kecewa karena aku akan menikahimu. Dia tahu semua itu dari Jhon Victory, ayahnya Adara, suaminya Nyonya Carolyna." Kata Ken menjelaskan.


"Mereka saling mengenal? Ehh tungu-tunggu, jangan bilang kalau wanita simpanannya Pak Jhon itu adalah Sella."


"Kamu benar."


"Kamu serius Ken, Sella berhubungan dengan Pak Jhon. Bukankah dia sudah cukup umur?" tanya Senja sambil mengerutkan keningnya. Mungkinkah Sella senekat itu?


"Bukan cukup umur, tapi cukup tua. Waktu itu perusahaan Sella bangkrut, dan Pak Jhon yang menolongnya, sebagai gantinya, ya tidur bersama. Lalu aku berhasil membongkarnya, dan Nyonya Carolyna sangat berterima kasih padaku, itu sebabnya dia mau bekerjasama dengan perusahaanku." Ucap Ken dengan panjang lebar.

__ADS_1


"Lalu sekarang mereka di mana? Apa yang kau lakukan pada mereka, Ken?" tanya Senja.


"Aku tidak menyakiti mereka, bahkan sekarang mereka sudah bahagia." Jawab Ken sambil tersenyum miring.


"Kau bohong, apa yang kau lakukan?"


"Mereka sering tidur bersama, mungkin saja mereka saling mencintai. Jadi, daripada berdosa, aku membuat mereka menjalin ikatan halal." Jawab Ken.


"Mereka menikah?" tanya Senja dengan cepat.


"Iya, dia menikah kemarin, bareng sama kita. Tapi itu bukan murni rencanaku saja sih, tapi juga rencana Nyonya Carolyna. Dia sudah capek menghadapi Pak Jhon yang selalu memiliki simpanan. Jadi dia menjebaknya dengan Sella, setelah semua aset dibalik nama menjadi miliknya." Jawab Ken.


"Jadi sekarang mereka tidak kaya?"


"Tidak."


"Kamu gila Ken!" Teriak Senja.


"Kok bisa?"


"Kamu keterlaluan, kamu menjebak Sella dengan pria tua yang tak memiliki apa-apa. Dia pasti marah Ken, dia akan lebih dendam sama kita. Ken, aku tidak menyangka kamu sekejam itu," gerutu Senja dengan bibir yang manyun.


"Dia juga keterlaluan, dia menyebarkan berita buruk tentang kamu, dan Fajar. Aku tidak terima, Aya."


"Tapi jangan seperti ini Ken, kalau dia marah, dan berniat balas dendam lagi, bagaimana? Kau tahu, singa akan bertingkah lebih ganas, jika tubuhnya terluka. Begitu pula dengan manusia, mereka akan bertingkah lebih nekat, jika hatinya terluka. Dulu kau sudah melukainya, dan sekarang kau malah menghancurkan masa depannya. Pikirkan kedepannya, Ken!" kata Senja sambil menatap Ken.


"Dia tidak akan bisa melakukan apa-apa, kalaupun nanti dia masih nekat, aku akan memberikan balasan yang lebih setimpal. Kau tenang saja, aku pasti bisa melindungi keluargaku." Kata Ken dengan tegas.


"Tapi aku jadi tidak tenang Ken," ucap Senja.


"Ada aku, kau tidak perlu khawatir. Aku akan selalu menjagamu, tak akan kubiarkan siapa pun menyentuhmu. Percayalah padaku!" kata Ken sambil merangkul tubuh Senja.


***


Satu bulan kemudian, hubungan Sella dan Pak Jhon semakin memburuk. Uang yang mereka punya semakin menipis, sedangkan Pak Jhon, beliau tidak mau bekerja, dan tidak mau hidup sederhana. Beliau sering marah-marah, dan bahkan mulai berani memukul Sella, kala wanita itu membantah ucapannya, atau menolak hasratnya.


Kehidupan Sella semakin menderita, tubuh sintalnya kini semakin kurus, dan wajahnya terlihat lebih kusut, karena tak ada uang untuk perawatan. Semakin hari dendam dalam hatinya semakin membara, ia tak bisa melupakan perbuatan Ken, dan Nyonya Carolyna yang sudah menghancurkan hidupnya.


Sella berjanji pada dirinya sendiri, suatu saat nanti, ia akan menuntut balas pada mereka berdua. Mereka harus merasakan hal yang sama, seperti yang ia rasakan.


Malam ini, Sella sedang merebus air di dapur, ia hendak membuatkan kopi untuk tamu yang bertandang ke rumahnya. Entah siapa dia, tampaknya sudah sangat akrab dengan Pak Jhon.


Tak lama kemudian, dua cangkir kopi hitam sudah selesai ia seduh. Sella membawanya ke ruang tamu, dan meletakkannya di atas meja.


Sella tersenyum sekilas, lalu ia melangkah pergi meninggalkan mereka berdua.


Namun baru saja beberapa langkah ia berjalan, tiba-tiba Pak Jhon memanggilnya.


"Sella!" panggil Pak Jhon.


"Iya, Om," jawab Sella sambil menoleh. Lalu ia kembali menghampiri Pak Jhon.

__ADS_1


"Duduklah!" perintah Pak Jhon sambil tersenyum. Sebuah senyuman yang syarat akan makna.


Bersambung...


__ADS_2