
"Aku berjanji tidak akan mengecewakan kamu, tapi beri aku sedikit waktu untuk menata perasaanku Ken. Jika aku memutuskan untuk menikah denganmu, aku harus bisa mengendalikan perasaanku pada Kak Fajar. Dan saat ini aku belum bisa melakukannya, jadi beri aku waktu untuk menata hatiku terlebih dahulu," ucap Senja menjelaskan tentang perasaannya.
"Jujur aku mulai bisa menerima kehadiran kamu, tapi perasaan ini masih belum cukup untuk menjalin ikatan halal bersamamu. Beri aku waktu ya Ken!" sambung Senja sambil menggenggam lengan Ken.
"Aku mengerti, aku tidak akan bosan menunggumu Aya," jawab Ken seraya menggenggam jemari Senja.
"Terima kasih nak, kehadiranmu membuat hubungan orang tuamu membaik. Semoga secepatnya ibumu mau menikah dengan Papa, sehingga kamu bisa memiliki keluarga yang utuh," batin Ken sambil menatap Senja, dan anaknya. Ia sangat bahagia mendengar pengakuan Senja. Meskipun dia belum siap menikah dengannya, tapi setidaknya dia sudah bisa menerima kehadirannya.
***
Andika Mahendra, lelaki dewasa yang berusia 32 tahun. Namun karena wajahnya yang rupawan, membuatnya terlihat lebih muda, daripada umurnya.
Malam ini Dika sedang berada di dalam rumah sederhana yang terletak di pinggir gang kecil. Dika duduk di atas kursi kayu, sembari menemani seorang gadis yang larut dalam pekerjaannya.
Gadis itu adalah Anna, sejak sebulan terakhir hubungan mereka semakin dekat. Meskipun usia mereka terpaut cukup jauh, namun nyatanya mereka bisa menjalin hubungan yang akrab. Anna adalah gadis sederhana yang ceria, ramah, cerdas, namun cerewet. Tapi cerewetnya itulah yang membuat Dika merasa nyaman berteman dengannya, bahkan dengan kehadiran Anna, lambat laun Dika mulai melupakan perasaannya pada Senja.
Anna adalah anak sulung dari tiga bersaudara. Kedua adiknya laki-laki, yang satu sudah duduk di bangku SMA, sedangkan yang bungsu masih duduk di bangku SMP. Anna bekerja membantu membiayai sekolah untuk adik-adiknya. Kedua orang tuanya bekerja di toko kelontong yang tak jauh dari rumahnya, hasilnya tidak seberapa, sekadar cukup untuk makan sehari-hari.
Namun meskipun mereka hidup dalam kesederhanaan, tapi nyatanya keluarga ini tampak bahagia, dan harmonis. Dan belum lama ini Dika juga tahu, jika Anna adalah sekertarisnya Ken. Dunia memang terlalu sempit.
"Banyak sekali pekerjaanmu Anna," kata Dika sambil menyesap kopi hitam yang Anna suguhkan.
Sejak satu jam yang lalu Anna berkutat dengan pekerjaannya, dan belum selesai hingga saat ini.
"Dua hari ini Pak bos tidak masuk kantor Om, temannya masuk rumah sakit. Jadi aku yang membereskan semua pekerjaannya. Tapi tidak apa-apa Om, lembur kali ini bonusnya sangat besar," jawab Anna sambil tersenyum lebar.
"Tapi kau akan lelah, kau juga butuh istirahat Anna," kata Dika.
"Kalau lelah aku juga istirahat kok Om, ini tinggal sedikit." ucap Anna sambil melepaskan kaca matanya.
Kadang kala Anna memakai kaca mata, karena matanya sering lelah jika menatap monitor terlalu lama. Ia sengaja menghentikan pekerjaannya, karena sedari tadi Dika menyuruhnya untuk istirahat.
"Anna!" panggil Dika.
"Iya Om."
"Kau pernah jatuh cinta?" tanya Dika tanpa basa-basi.
"Kenapa Om Dika menanyakan hal itu?" tanya Anna sambil tertawa renyah.
"Sekadar ingin tahu," jawab Dika.
"Pernah," kata Anna.
__ADS_1
"Lalu?"
"Apanya?"
"Lalu bagaimana hubungan kalian?" tanya Dika.
"Tidak ada hubungan," jawab Anna sambil menggelengkan kepalanya.
"Kenapa begitu?"
"Cinta hanya untuk mereka yang punya harta, sedangkan aku, hidupku yang sesederhana ini siapa yang akan memandangku," jawab Anna sambil tersenyum hambar.
"Kau pernah patah hati?" tanya Dika.
"Bukan patah hati, tapi sadar diri."
"Hah, maksudnya?"
"Aku pernah menyukainya Om, tapi dia sama sekali tidak menganggapku. Dia malah menjalin hubungan dengan sahabat baikku. Tapi ya sudahlah aku mengerti, dia orang kaya, sudah semestinya mencari pasangan dari kalangan yang sederajat," ucap Anna sambil menghela nafas panjang.
"Kisah kita hampir sama," kata Dika dengan pelan.
"Maksud Om?"
"Kasihan dia, sekarang bagaimana keadaannya? Kenapa Om Dika tidak mendekatinya, siapa tahu sekarang dia bisa menerimamu Om," tanya Anna.
"Dia menolakku," kata Dika sambil tersenyum kecut.
"Benarkah?"
"Iya, dan sekarang dia sedang dekat dengan bosmu," kata Dika.
"Bosku, maksudnya Pak Kenzo?" tanya Anna dengan cepat.
"Iya."
"Apa wanita itu Mbak Senja?" tanya Anna.
"Kamu mengenalnya?" Dika balik bertanya.
"Tidak, hanya saja aku sering melihat Pak Kenzo menatap fotonya cukup lama, seperti ada luka yang sedang ia sembunyikan," jawab Anna.
"Dia adalah mantannya, dan sekarang mereka kembali dekat," ucap Dika.
__ADS_1
"Sabar ya Om, kata Ibu kalau jodoh tidak akan kemana. Kalau memang Mbak Senja jodohnya Om Dika, pasti suatu saat nanti kalian bisa bersama. Tapi jika jodohnya Om bukan Mbak Senja, pasti Tuhan memberikan ganti yang lebih baik. Jangan patah hati lagi ya Om," kata Anna sambil menepuk-nepuk bahu Dika.
"Kamu juga jangan patah hati," ucap Dika.
"Aku tidak patah hati Om, yang kuceritakan tadi sudah sangat lama. Bahkan aku sudah hampir melupakannya," kata Anna.
"Begitukah?" tanya Dika, dan Anna menjawabnya dengan anggukan.
"Dalam sebuah buku yang pernah kubaca, luka itu akan semakin menganga jika kita menitikkan air mata. Namun luka akan malu, dan pergi dengan sendirinya, jika kita tak pernah mempedulikannya.
Dan aku percaya dengan kata-kata itu, semakin aku meratapi kesedihanku, maka rasa sakit itu semakin nyata. Namun saat aku melupakan, dan mengabaikannya, rasa sakit itu perlahan memudar, dan lama-lama menghilang entah kemana," kata Anna dengan panjang lebar.
"Benarkah, buku apa itu? Bukankah terkadang kita memang perlu menangis untuk meringankan beban, yah walaupun bukan menangis yang berlebihan. Tapi sedikit menitikkan air mata, rasa sesak di dalam dada itu akan sedikit berkurang," ucap Dika.
"Om suka menangis?" tanya Anna.
"Tidak, hanya saja banyak orang yang berpendapat demikian. Kau sendiri dapat teori itu darimana?" jawab Dika balik bertanya.
"Dari buku Om."
"Buku apa, siapa penulisnya?"
"Bukan buku pelajaran, juga bukan buku inspirasi, itu adalah buku novel Om. Jika Om ingin tahu, buku itu ditulis oleh Gresya Salsabila, judulnya Tentang Rasa. Yang kukatakan tadi adalah sebaris kalimat yang pernah diucapkan oleh tokoh utamanya," jawab Anna sambil tersenyum lebar, memperlihatkan barisan giginya yang putih, dan rapi.
"Buku novel? Aku tidak menyangka kau mengambil pelajaran dari sebuah novel, Anna," kata Dika sambil mengernyitkan keningnya.
"Jika pelajarannya positif kenapa tidak, Om tahu sejak saat itu aku tidak pernah lagi menangis. Aku tidak pernah mengeluh, dan aku menerima semua kenyataan yang terjadi dalam hidupku. Aku percayakan semuanya pada takdir, jika dia jodohku Tuhan pasti akan menyatukan kami. Tapi jika tidak, pasti Tuhan akan menghadirkan penggantinya untukku. Dengan berpikir seperti itu, aku tidak merasa terluka, ataupun kecewa. Hidupku terasa jauh lebih indah Om," ucap Anna masih dengan kalimat panjangnya.
"Ucapanmu memang benar, tapi tidak semua orang bisa melakukan hal itu. Cukup sulit untuk bisa berpikir demikian Anna," ucap Dika.
"Aku tahu, tapi jika orang lain bisa, kenapa kita tidak. Jangan terpaku pada satu hal yang membuat kita terluka dan kecewa. Karena itu akan menyiksa diri kita, sedangkan kita sebenarnya juga berhak untuk bahagia," kata Anna.
Dika tidak menjawab, dia hanya mengangkat wajahnya, dan menatap Anna lekat-lekat. Gadis di hadapannya ini selalu saja berhasil menguatkan hatinya yang rapuh. Mungkinkah dia pengganti yang yang sengaja Tuhan kirimkan untuk mengobati luka hatinya?
"Novel saja yang penulisnya manusia biasa bisa berakhir bahagia. Apalagi kita, yang jalan hidupnya ditulis oleh Tuhan. Pasti kita akan jauh lebih bahagia, daripada kisah dalam novel Om," sambung Anna, karena Dika belum juga menjawab ucapannya.
Bibir Dika semakin terkatup rapat, kata-kata sederhana yang keluar dari mulut Anna benar-benar mengena dalam hatinya.
"Anna!" panggil Dika, setelah ia terpaku cukup lama.
"Kenapa Om?"
"Bolehkan aku menganggapmu lebih dari teman?" tanya Dika dengan serius.
__ADS_1
Bersambung....