Kesucian Cinta Yang Ternoda

Kesucian Cinta Yang Ternoda
Cucu Kandung Mama


__ADS_3

Di sebuah ruangan yang sangat luas, dan mewah. Seorang wanita paruh baya sedang duduk bersama seorang wanita yang cukup cantik. Di atas meja tampak dua cangkir teh, dan dua toples kue kering. Namun di antara keduanya tidak ada yang menyentuh makanan, ataupun minuman itu. Mereka sedang terlibat pembicaraan yang sangat serius.


"Kamu serius Sella?" tanya Bu Ratih dengan hati yang mulai gusar.


Bagaimana tidak, Sella baru saja bercerita tentang Ken. Menurut keterangan dari Sella, Ken sedang mengejar Senja. Dan sekarang Senja sedang hamil anaknya Fajar, otomatis Ken yang akan menghidupinya, jika ia menikahi Senja. Bu Ratih sangat tidak rela, karena hubungan keluarganya dengan keluarga Mahardika itu cukup buruk. Tidak lain, dan tidak bukan, semua itu disebabkan persaingan bisnis.


"Saya sangat serius Tante, ini sedikit bukti yang saya punya. Bahkan Ken rela menunggunya, meskipun Senja sudah menolaknya. Entahlah apa yang sebenarnya Ken pikirkan." ucap Sella sambil menyodorkan ponselnya.


"Kau tidak akan pernah memiliki Senja Ken, terima saja jika takdirmu itu bersamaku, bukan bersama Senja." ucap Sella dalam hatinya.


Bu Ratih meraih ponsel itu, dan melihat video yang ditunjukkan oleh Sella. Dalam video itu tampak Ken sedang mengusap air mata Senja dengan lembut, sembari berkata akan menunggunya hingga kapanpun.


"Waktu itu aku tidak sengaja melihat mereka sedang belanja perlengkapan bayi Tante. Sepertinya Ken benar-benar serius dengan Senja Tante." ucap Sella.


Mendengar ucapan Sella, hati Bu Ratih semakin gusar, bahkan kini sudah bercampur dengan emosi. Ken akan menikahi Senja, dan menghidupi keturunan Mahardika, itu adalah hal yang sangat buruk.


"Tidak, ini tidak boleh terjadi. Aku harus mencegah niat Ken, aku harus berbicara dengannya. Mahardika adalah rivalnya Mas Jeffry, masa keturunannya akan menjadi bagian dari keluarga ini. Itu sangat tidak boleh." ucap Bu Ratih dalam hatinya.


"Terima kasih ya Sella, kamu sudah memberitahukan hal ini pada Tante. Untung saja belum terlambat, jadi Tante masih bisa mencegah niat Ken." kata Bu Ratih sambil menatap Sella.


"Sama-sama Tante, sebagai seorang teman saya hanya berusaha mengingatkan Ken. Tapi selama ini Ken tidak pernah mendengarkan saya Tante, jadi saya mencoba bicara langsung sama Tante." jawab Sella sambil meraih secangkir teh yang ada di hadapannya.


"Harapanmu akan pupus detik ini juga Ken." batin Sella sambil menyesap teh hangat yang disuguhkan untuknya


"Ken memang keras kepala, tapi jika aku yang berbicara, dia tidak akan berani membantah." ucap Bu Ratih.


"Dulu aku sangat menyukai Senja, dan berharap dia bisa menjadi menantuku. Tapi sejak wanita itu memutuskan untuk menikah dengan Fajar, aku sama sekali tidak berharap lagi. Apalagi sekarang dia sudah hamil, aku tidak akan pernah merestui dia unyuk bersanding dengan Ken. Masih banyak wanita lain yang lebih cocok menjadi pasangan Ken, Sella contohnya. Dia cantik, cerdas, anggun, dan elegan, pasti sangat serasi jika bersanding dengan Ken." batin Bu Ratih sambil menilik wajah Sella.


"Entahlah apa yang Ken lihat dalam diri Senja, kenapa Ken bisa begitu mencintainya. ken masih lajang, bukan hal sulit untuk mencari calon istri yang masih perawan. Tapi entah kenapa dia malah memilih yang sudah janda." ucap Sella sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


Hati Bu Ratih semakin panas. Mendengar kata janda, beliau semakin yakin jika Senja memang tidak cocok untuk anaknya.


"Ken masih muda, dan lajang, ia juga tampan, dan mapan. Jika dia menikahi wanita yang sudah janda, ahh imagenya akan hancur. Tidak, ini tidak boleh terjadi. Aku harus mencegahnya." batin Bu Ratih sambil menggigit bibirnya.


"Semakin Tante emosi, itu semakin bagus. Aku sudah tidak sabar untuk melihat raut wajah Ken yang frustrasi." batin Sella sambil tersenyum.

__ADS_1


Cukup lama mereka hanyut dalam perbincangan yang serius. Sella sengaja mengulur waktu, sembari menunggu Ken yang saat itu sedang tidak ada di rumah.


Namun hingga hari sudah hampir senja, Ken belum juga kembali. Sella menggerutu dalam hatinya, ia sudah cukup lama bertamu di rumah ini, ia tidak mungkin bertahan sampai malam.


"Sial, kemana kamu Ken. Aku sengaja menunggumu, tapi kamu malah tidak segera pulang. Masa iya aku harus menunggu sampai malam, kamu benar-benar menyebalkan!" gerutu Sella dalam hatinya.


Sekitar sepuluh menit kemudian, Sella beranjak dari duduknya. Ia memutuskan untuk pulang, dan tidak menunggu sampai Ken kembali. Meskipun sebenarnya semua itu sangat berat untuk ia lakukan.


"Tante saya permisi pulang dulu ya, sudah cukup lama saya mengganggu waktu Tante." ucap Sella sambil menyalami Bu Ratih.


"Kamu tidak mengganggu, justru Tante sangat bahagia dengan kehadiran kamu. Terima kasih ya sudah peduli sama Ken." kata Bu Ratih.


"Iya Tante tidak perlu berterima kasih, sebagai teman sudah seharusnya untuk saling mengingatkan. Saya permisi ya Tante." ucap Sella sambil tersenyum.


"Iya, hati-hati Sella!"


"Iya Tante."


Tak lama kemudian tubuh Sella sudah menghilang di balik pintu. Kini di ruangan itu hanya tinggal Bu Ratih seorang. Beliau mondar-mandir kesana kemari memikirkan anaknya. Selama ini Bu Ratih tak pernah ikut campur dengan urusan pribadi Ken, namun hal yang terjadi sekarang ini tidaklah sederhana, beliau harus turun tangan.


"Mas gawat ini Mas, Ken berniat menikahi Senja, padahal Senja sedang hamil. Aku tidak mau kalau keturunan Mahardika menjadi bagian dari keluarga ini, aku sangat tidak mau. Kita harus mencegah Ken Mas." kata Bu Ratih dengan cepat.


Pak Jeffry menatap istrinya sambil memijit pelipisnya. Lalu beliau tersenyum, dan kemudian duduk di sofa.


"Ma bicaralah pelan-pelan, aku tidak akan kemana-mana, jadi jangan terburu-buru." ucap Pak Jeffry sambil menatap istrinya.


"Ini tentang Ken Mas." jawab Bu Ratih sambil duduk di sebelah suaminya.


"Ada apa dengan Ken?" tanya Pak Jeffry.


"Dia mau menikahi Senja, padahal sekarang Senja sedang hamil. Masa keturunan Mahardika menjadi bagian dari keluarga kita, aku tidak mau. Kita harus melakukan sesuatu Mas." kata Bu Ratih dengan kesal.


"Mama tahu darimana?" tanya Pak Jeffry.


"Ada yang bilang sama Mama, dia temannya Ken."

__ADS_1


"Mama belum bertanya langsung sama Ken?" tanya Pak Jeffry.


"Belum, Ken belum pulang sejak tadi siang. Entah kemana dia, Mama juga tidak tahu." jawab Bu Ratih.


"Kalau begitu nanti kita tanyakan dulu sama Ken, benar atau tidak yang Mama katakan itu. Jangan mudah percaya sama omongan orang, siapa tahu itu hanya rencana dia untuk mendekati Ken." ucap Pak Jeffry menenangkan istrinya.


"Tapi dia punya vidoenya Mas."


"Video bisa direkayasa Ma, sekarang elektronik itu sudah canggih. Ken itu adalah anak kita, kita harus lebih percaya padanya. Jangan sampai kita salah dalam mengambil tindakan, nanti itu berpengaruh bagi masa depannya dia." kata Pak Jeffry mengutarakan pendapatnya.


Belum sempat Bu Ratih menjawab ucapan suaminya, mereka sudah dikejutkan oleh pintu yang tiba-tiba terbuka. Ternyata Ken yang datang, dia tampak tersenyum lebar saat menatap kedua orang tuanya.


"Papa, Mama!" sapa Ken sambil duduk di antara keduanya.


"Darimana kamu?" tanya Bu Ratih dengan nada yang sedikit tinggi.


"Mama kenapa?" Ken balik bertanya, ia menyadari jika sikap ibunya tidak seperti biasanya.


"Mama kecewa sama kamu." jawab Bu Ratih dengan kesal.


"Kecewa? Kecewa kenapa Ma? Aku ada salah?" tanya Ken sambil mengernyitkan keningnya.


"Kamu masih bertanya salah kamu dimana! Dengar ya Ken, keluarga kita dan keluarga Mahardika itu tidak berhubungan dengan baik. Tapi kamu malah menginginkan keturunannya untuk menjadi bagian dari keluargamu. Kamu tidak ingat dulu Hery pernah mengacaukan tender yang sangat diharapkan oleh Papamu. Kenapa kamu tidak memikirkan itu, Mama sangat kecewa sama kamu Ken!" bentak Bu Ratih.


"Keturunan Mahardika, apa maksud Mama?"


"Jangan pura-pura bodoh, Mama tahu kamu menginginkan Senja. Dia memang mantan kamu, tapi sekarang dia sudah janda, dan dia juga bekasnya Fajar. Apa tidak ada wanita lain? Apa kamu sebodoh itu, sampai bersedia menghidupi anaknya Fajar? Jawab Ken!" kata Bu Ratih masih dengan nada tinggi.


"Oh jadi seperti itu permasalahannya. Ternyata trik ini yang kamu pakai Sella." batin Ken sambil menghela nafas panjang.


"Jawab Ken!" bentak Bu Ratih.


"Mama benar, aku memang menginginkan Senja, tapi ada beberapa hal yang salah dengan ucapan Mama tadi. Mungkin sekarang aku harus menjelaskan semuanya, yang dikandung Senja itu adalah anakku Ma, bukan anaknya Fajar, dia adalah cucu kandung Mama." ucap Ken menjelaskan kebenarannya.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2