Kesucian Cinta Yang Ternoda

Kesucian Cinta Yang Ternoda
Seperti Fajar Dan Senja


__ADS_3

"Kak Fajar, Kak, jawab aku, Kak!" teriak Senja sambil menggenggam lengan Fajar.


Lalu Senja menopang tubuh Fajar, dan dengan susah payah ia membawa tubuh Fajar ke ranjang, kemudian membaringkannya di sana.


Wajahnya terlihat sangat pucat dan matanya terpejam rapat.


Senja sangat panik, ia mengambil minyak kayu putih dan mengoleskannya di bawah hidung suaminya.


"Kak Fajar, bangun, Kak! Jangan membuat aku ketakutan. Ayo bangun, Kak!" kata Senja di sela-sela tangisnya, seraya menggoyangkan tubuh Fajar.


Selang beberapa detik, Fajar mulai mengerjapkan matanya dan jemarinya mulai bergerak dengan pelan.


"Kak Fajar, kamu sudah sadar, Kak? Kak, kamu mendengarku kan, Kak!" teriak Senja sambil menatap wajah Fajar.


"Senja," ucap Fajar dengan sangat pelan.


"Akhirnya kamu bangun juga, Kak. Apa yang kamu rasakan sekarang, Kak?" tanya Senja dengan panik.


"Tenanglah! Aku tidak apa-apa, aku hanya sedikit pusing ... dan lelah," jawab Fajar sambil tersenyum.


Perlahan ia mengangkat tangannya dan mengusap pipi Senja.


"Maafkan sikapku selama ini," ucap Fajar dengan sangat pelan, nyaris seperti bisikan.


Seakan ada benda tajam yang menikam tepat di ulu hati Senja, kala ia mendengar kata maaf dari Fajar. Melihat kondisi suaminya yang seperti ini, Senja merasa sangat bersalah. Tangan dingin Fajar yang menyentuh pipinya, menyadarkan dirinya akan rasa sakit yang dirasakan Fajar selama ini.


"Jangan minta maaf, aku yang salah, Kak. Maafkan aku tadi sudah berkata kasar padamu," kata Senja semakin terisak.


"Jangan menangis, kau sudah berjanji padaku untuk selalu tersenyum," ucap Fajar sambil mengusap air mata Senja.


"Dimana ponselmu Kak, biar aku menghubungi Arrion," kata Senja.


"Tidak usah, aku tidak apa-apa, Sayang," jawab Fajar.


"Kak, jangan keras kepala! Dimana ponselmu?" ucap Senja mengulangi perkataannya.


"Ada di atas meja, Sayang," jawab Fajar sambil menghela nafas panjang.


Mendengar jawaban Fajar, Senja langsung beranjak dari duduknya. Ia turun dari ranjang dan melangkah mendekati meja. Ia mengambil ponsel Fajar yang tergeletak di sana. Dengan cepat Senja langsung menelepon Arrion.


Sementara itu, Fajar menatapnya sambil tersenyum getir.

__ADS_1


"Kedatangan Arrion sepertinya tidak akan mengubah keadaan. Aku tahu kondisiku semakin parah, aku tidak tahu berapa lama lagi aku akan bertahan. Arrion menyarankan agar aku selalu tenang, dan tidak memendam beban fikiran. Itu sebabnya dia juga menyarankan aku untuk jujur padamu. Namun kabar tadi benar-benar mengagetkanku, Sayang. Aku tidak pernah menyangka, jika seperti ini ujung pernikahan kita. Dan hatiku semakin sesak, saat tahu bahwa kau melakukan itu, karena aku. Impian terbesar dalam hidupku adalah membahagiakan kamu, namun nyatanya selama ini aku hanyalah menyakitimu. Maafkan aku, Sayang," ucap Fajar dalam hatinya.


"Arrion akan datang sebentar lagi!" kata Senja membuyarkan lamunan Fajar.


"Iya," jawab Fajar dengan pelan.


Senja kembali duduk di sebelah Fajar. Ia menggenggam tangan Fajar yang dingin.


"Kak." Senja menatap Fajar dengan lekat.


"Hmmm," gumam Fajar.


"Aku...aku minta maaf. Aku..."


"Ssst!" sahut Fajar memotong kalimat Senja, seraya ia menempelkan jari telunjuknya di bibir Senja.


"Jangan minta maaf, kamu tidak salah. Selama ini aku memang tidak mengerti bagaimana posisimu. Aku tahu kamu mengalami kesulitan, aku tahu semua ini bukanlah yang kamu inginkan. Jadi sudahlah, jangan fikirkan lagi hal itu. Aku memaafkan kamu, dan aku menerima anak yang ada dalam kandungan kamu." sambung Fajar sambil tersenyum.


"Satu-satunya hal yang bisa kulakukan hanyalah menerima keadaan ini dengan lapang dada. Meskipun aku kecewa, namun aku juga tidak bisa menyalahkannya. Selama ini aku sudah sering melukainya, sekarang sudah saatnya aku membuatnya bahagia. Selagi Tuhan masih membiarkan aku untuk bernafas." ucap Fajar dalam hatinya.


Senja tertegun saat mendengar ucapan Fajar. Beberapa menit yang lalu, lelaki itu membentaknya dengan penuh emosi. Tapi sekarang dia berkata dengan begitu lembut. Bahkan dengan mudahnya dia menerimanya. Apa yang sebenarnya ada dalam fikiran Fajar?


"Kak Fajar kenapa tidak marah lagi?" Senja balik bertanya.


"Maaf tadi aku sempat emosi, tapi sekarang aku sadar semua itu bukan mutlak kesalahan kamu, aku juga bersalah. Sayang kamu sudah menerima keadaan aku, jadi aku pun juga akan menerima keadaan kamu. Kita sama-sama punya kekurangan, dan kita akan memperbaiki kekurangan itu bersama-sama. Seperti fajar, dan senja yang sesungguhnya, dua hal itu diciptakan untuk saling menyempurnakan, dan seperti itulah kita." jawab Fajar dengan panjang lebar.


Senja semakin mengatupkan bibirnya, ia tak tahu harus menjawab apa. Kalimat yang Fajar ungkapkan memang terdengar indah, namun entah kenapa justru membuat hatinya semakin resah. Pasalnya fajar, dan senja adalah dua hal yang tak pernah bersama. Meskipun diciptakan untuk saling melengkapi, dan saling menyempurnakan, namun kenyataannya fajar dan senja selalu berada di titik yang berbeda.


Sekitar setengah jam kemudian, Arrion sudah tiba di apartemen. Senja mempersilakannya untuk masuk kedalam kamar, dan memeriksa kondisi Fajar. Sedangkan Senja, ia menunggunya di ruang tengah.


Arrion melangkah mendekati Fajar yang masih berbaring di atas ranjang.


"Apa yang terjadi denganmu kawan?" tanya Arrion sambil meletakkan alat-alatnya, dan duduk di samping Fajar.


"Aku merasa lelah, dan kepalaku rasanya sangat sakit." jawab Fajar.


"Seharusnya kau datang ke rumah sakit saja, sepertinya kondisimu cukup buruk. Jika di sana kau akan mendapatkan perawatan yang maksimal." ucap Arrion sambil memeriksa Fajar.


"Aku masih kuat. Lagipula perawatan di rumah sakit juga tidak membuatku sembuh kan?"


"Kenapa kamu menjadi pesimis seperti ini? Memang benar itu tidak bisa menyembuhkan, tapi setidaknya daya tahan tubuhmu akan stabil." kata Arrion.

__ADS_1


"Sudahlah Yon, aku akan istirahat saja di rumah." jawab Fajar.


"Kau kenapa? Ada masalah? Bukankah ini adalah hari bahagiamu, istrimu hamil kan? Kamu tahu, aku tadi sempat kaget, aku tidak menyangka kau akan senekat itu. Setelah ini ajak Senja ke rumah sakit, biar aku memeriksanya, dia positif atau tidak." kata Arrion.


"Dia tidak mungkin positif." ucap Fajar sambil tersenyum hambar.


"Apa maksudmu?" tanya Arrion. Ia mulai menangkap sesuatu yang janggal dalam diri Fajar. Lelaki itu menjadi pesimis, dan raut wajahnya tampak memendam kekecewaan yang teramat dalam.


"Sekarang aku tidak bisa jujur pada orang tuaku tentang penyakitku." ucap Fajar.


"Kenapa?"


"Senja hamil bukan dengan aku." jawab Fajar.


"Apa!" teriak Arrion.


"Sekarang tidak banyak lagi yang bisa kulakukan. Aku hanya berusaha untuk membahagiakan dia, anggap saja itu untuk menebus kesalahanku selama ini. Dia melakukan itu juga karena aku." ucap Fajar.


"Kamu...kamu serius dengan ucapanmu? Senja hamil dengan orang lain?" tanya Arrion masih tidak percaya.


Fajar tak membuka suara, ia menjawab pertanyaan Arrion hanya dengan anggukan.


"Dari dulu aku sudah menyarankanmu untuk jujur, tapi kamu tak pernah menghiraukan ucapanku. Andai saja kamu jujur dari awal, mungkin Senja tidak akan melakukan ini." ucap Arrion sambil menatap Fajar.


"Semuanya sudah terjadi, sudah sangat terlambat untuk aku sesali. Oh ya Yon aku butuh bantuanmu." kata Fajar.


"Bantuan apa?"


"Kamu tahukan Kenzo Antonio Putra?"


"Tahu, kenapa?"


"Setelah keadaanku membaik, aku ingin bicara dengannya. Tapi aku tidak tahu kapan waktunya, dan dimana tempatnya untuk bisa bertemu dengannya." ucap Fajar.


"Aku mengerti, aku akan membantumu. Sekarang aku akan memberimu suntikan. Nanti hubungi aku jika keadaanmu semakin tidak baik. Dan jangan lupa untuk meminum obatnya dengan rutin." kata Arrion.


"Iya." jawab Fajar dengan singkat.


"Masa laluku berlumur dosa, mungkin ini adalah karma bagiku. Aku tidak bisa menyalahkan takdir atas apa yang terjadi dalam hidupku saat ini. Sekarang aku hanya bisa berharap, semoga Tuhan masih memberikan cukup waktu bagiku untuk membahagiakan Senja." ucap Fajar dalam hatinya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2