
Di dalam sebuah ruangan yang cukup luas, Fajar duduk di atas kursi kerjanya. Beberapa berkas tampak menumpuk di atas meja, juga layar komputer yang dibiarkan menyala begitu saja. Meskipun Fajar sedang duduk di sana, namun fikirannya masih tertinggal di apartemen. Bayangan air mata Senja sangat mengacaukan perasaannya. Ia sedikit menyesali perbuatannya tadi pagi yang cukup kasar terhadap Senja.
"Tidak adakah jalan keluar dari masalahku ini. Semua ini sangat berat, rasanya aku sudah tidak sanggup lagi." ucap Fajar sambil memegangi kepalanya yang terasa pening.
Disaat Fajar sedang larut dalam kesedihannya, tiba-tiba ponselnya berdering. Fajar meliriknya sekilas, ternyata A yang menelfonnya. Dengan malas Fajar meraih ponsel itu, dan menempelkan di telinganya.
"Hallo!" sapa Fajar.
"Hallo Fajar." jawab lelaki itu.
"Ada apa?" tanya Fajar.
"Tadi aku bertemu istrimu." jawab lelaki itu tanpa basa-basi.
Fajar tersentak kaget, kenapa dia bertemu Senja? Memangnya Senja kemana?
"Dimana kau bertemu dengannya?" tanya Fajar dengan cepat.
"Di dekat pusat perbelanjaan, aku tidak tahu dia mau kemana, tapi yang jelas dia menanyakan tentang Adara pada Hana." ucap lelaki itu.
"Lalu apa yang Hana katakan pada Senja?" tanya Fajar dengan jantung yang berdebar-debar. Ternyata Senja belum menyerah, dia masih terus mencari informasi tentang Adara.
"Dia hanya bilang kalau Adara tidak mungkin mengganggumu. Tapi dia tidak mengatakan bagaimana keadaan Adara sekarang." jawab lelaki itu.
"Ahh syukurlah, setidaknya Senja tidak tahu tentang rahasiaku." ucap Fajar sambil bernafas lega. Kedepannya, ia akan lebih berhati-hati dalam bertindak.
"Bukan tidak tahu, tapi belum tahu."
"Apa maksudmu?" tanya Fajar.
"Sampai kapan kau akan menyembunyikan semua ini darinya. Cepat atau lambat dia akan tahu kebenarannya, jadi kenapa kau tidak jujur saja padanya?"
"Kamu jangan gila, aku tidak mungkin mengatakan semua ini padanya. Dia pasti akan meninggalkan aku, dan aku tidak mau itu terjadi!" kata Fajar dengan nada yang sedikit tinggi.
"Kau jujur, atau tidak, pada masanya nanti dia tetap akan tahu. Kau tidak mungkin bisa menyembunyikan semua ini selama-lamanya. Jika memang dia tidak bisa menerima kekurangan kamu, suatu saat nanti dia juga akan meninggalkan kamu." ucap lelaki itu dengan tegas.
"Apa yang kau katakan! Dia tidak boleh meninggalkan aku, aku sangat mencintainya!" teriak Fajar.
"Jika kau memang mencintainya, jujurlah padanya! Dia menerimamu, atau tidak kau harus menghargai keputusannya. Jika kau mencintainya, kau harus rela melihatnya bahagia, walaupun kebahagiaan itu bukan bersama kamu. Fajar, kau sadar atau tidak, hubunganmu yang sekarang, itu hanya membuatnya terluka." ucap lelaki itu dengan panjang lebar.
"Tapi aku mencintainya, aku tidak bisa melepaskan dia." kata Fajar dengan pelan.
"Aku tahu, justru itu jujurlah dari sekarang. Jika dia tahu kebenarannya dari orang lain, dia akan kecewa. Tapi jika dia tahu dari kamu sendiri, kemungkinan besar dia mau memaafkan kamu, dan mau menerima kamu." ucap lelaki itu.
"Tidak! Aku tidak bisa! Jika aku jujur dia pasti akan pergi! Dia terlalu mulia untuk menerima aku yang hina!" bentak Fajar.
"Kamu jangan pesimis, aku yakin Senja tidak sekejam itu. Jujurlah padanya, dia pasti bisa mengerti." kata lelaki itu.
"Tidak! Aku tidak akan jujur padanya, aku tidak mau kehilangan dia!" teriak Fajar sambil membanting ponselnya.
Lemparannya cukup keras, hingga membuat layar ponsel itu retak parah.
"Arrrgghhhh!!!" geram Fajar sambil menjambaki rambutnya dengan kasar.
Ia terduduk lesu di lantai, menunduk sambil tetap memegangi kepalanya.
"Kenapa hidupku harus seperti ini, aku tahu aku salah, tapi hukuman ini terlalu berat untukku." ucap Fajar dengan nada yang bergetar.
"Senja, aku harus menghubungi dia." kata Fajar sambil beranjak dari duduknya. Ia mendengus kesal saat menatap ponselnya yang mengenaskan. Lalu ia berjalan keluar ruangan.
"Dani!" panggil Fajar pada sekertarisnya.
"Iya Pak." jawab Dani sambil menoleh.
__ADS_1
"Pinjam ponsel kamu." kata Fajar.
"Ini Pak." ucap Dani sambil mengulurkan ponselnya. Fajar menerima ponsel itu, dan mulai menghubungi Senja.
Dan lagi-lagi ia menggeram kesal saat mendapati nomor Senja sedang tidak aktif.
"Aku akan pulang, batalkan semua jadwalku hari ini!" kata Fajar sambil meletakkan ponsel Dani ke atas meja.
"Tapi Pak..."
"Tidak ada tapi, karena ada hal lain yang lebih penting daripada pekerjaan." kata Fajar dengan tegas.
"Baik Pak." ucap Dani mengalah.
"Dan satu lagi, ponselku ada di dalam ruangan, tapi keadaannya rusak. Belikan aku ponsel yang baru, pindahkan kartunya, dan antarkan ke apartemen jika sudah selesai." kata Fajar. Lalu ia melangkah pergi meninggalkan Dani.
Fajar mempercepat langkahnya menuju ke parkiran. Ia bergegas naik ke mobilnya, dan melajukannya dengan cepat. Tujuannya adalah apartemennya, ia ingin memastikan jika Senja baik-baik saja di sana.
Sekitar setengah jam kemudian, Fajar tiba di halaman apartemen. Ia memarkirkan mobilnya begitu saja, dan dengan cepat berlari menuju apartemennya. Dengan tidak sabar Fajar membuka pintunya.
"Senja! Sayang kamu dimana!" teriak Fajar sambil melenggang masuk.
"Senja! Senja!" Fajar terus berteriak sambil melangkah menuju ke kamarnya.
Jantung Fajar mulai berdetak cepat, tidak ada istrinya di sana. Ia menatap ke atas meja, tas selempang kecil milik Senja yang biasa diletakkan di sana kini tidak ada.
"Kamu kemana sayang." gumam Fajar sambil melangkah keluar kamar.
Lalu ia terus berlari keluar dari apartemennya, ia kembali menuju ke mobilnya. Kali ini tujuannya adalah rumah Alvin.
Fajar melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, ia tidak peduli dengan kendaraan lain yang kelabakan saat berpapasan dengannya. Saat ini yang ada dalam fikirannya hanyalah Senja, dan Senja.
Tak membutuhkan waktu lama, akhirnya Fajar tiba di depan rumah Alvin. Ia bergegas turun, dan berlari menuju pintu.
"Vin! Alvin! Vin!" teriak Fajar sambil mengetuk pintu rumah Alvin. Namun tidak ada sahutan dari dalam, bahkan hingga Fajar mengetuknya berkali-kali.
Fajar berlalu pergi dengan langkah gontai, ia tak peduli dengan terik mentari yang cukup menyengat. Fajar kembali masuk kedalam mobilnya, kali ini tujuannya adalah klub malam milik Alvin.
"Semoga kamu ada di sana sayang, maafkan sikapku tadi, tolong jangan pergi dari sisiku." ucap Fajar sambil melajukan mobilnya.
***
Jarum jam menunjukkan pukul 06.00 sore. Ken menghentikan mobilnya di depan rumah Alvin. Sebenarnya dokter menyuruh Senja untuk pulang esok hari, namun ia ngotot meminta pulang hari ini juga. Dan alhasil ia keluar dari rumah sakit petang ini.
"Terima kasih ya Ken." ucap Senja sambil melepaskan sabuk pengamannya.
"Iya, ayo kuantar!" kata Ken.
"Tidak usah, aku bisa sendiri Ken." jawab Senja.
"Tidak apa-apa Aya, ayo!" ajak Ken sambil membuka pintu mobilnya.
Tidak ada pilihan lain akhirnya Senja menerima tawaran Ken untuk mengantarnya sampai pintu.
"Kak! Kak Alvin!" panggil Senja sambil mengetuk pintunya. Namun hingga beberapa detik lamanya, tak ada jawaban dari Kakaknya.
"Mungkinkah Kak Alvin sudah pergi ke klub?" tanya Ken.
"Tidak mungkin, ini masih sore." jawab Senja.
"Lalu kemana dia?" tanya Ken.
"Sebentar aku telfon dulu." ucap Senja seraya mengambil ponselnya dari dalam tasnya.
__ADS_1
"Ahh mati lagi." gerutu Senja dengan kesal.
"Kenapa?" tanya Ken.
"Ponselku low bat." jawab Senja.
"Pakai ini saja." ucap Ken sambil menyodorkan ponselnya.
"Terima kasih ya." jawab Senja sambil meraih ponsel itu.
Lalu Senja mengetik nomornya Alvin, dan kemudian menelfonnya.
"Hallo Kak! Kak Alvin dimana?" tanya Senja.
"Oh begitu. Ya sudah aku tutup ya telfonnya." ucap Senja setelah mendengar jawaban dari Kakaknya. Ia menyerahkan ponsel itu kepada Ken dengan raut wajah yang lesu.
"Kenapa?" tanya Ken.
"Kak Alvin sedang diluar kota, minggu depan baru pulang." jawab Senja.
"Kalau begitu ayo kuantar ke apartemen!" ajak Ken sambil menatap Senja.
Senja diam tak bersuara, ia hanya menunduk sambil menggelengkan kepalanya.
"Kamu tidak mau pulang, kenapa Aya?" tanya Ken sambil mengernyit heran.
Lagi-lagi Senja tidak menjawab, dia hanya diam sambil merogoh kunci cadangan dari dalam tasnya. Senja membuka pintu itu, dan kemudian melenggang masuk. Ken mengikuti langkahnya di belakang.
"Kamu pulanglah Ken, terima kasih sudah mengantarku." kata Senja sambil menyalakan lampu ruang tamu.
"Kamu sedang bertengkar dengan suamimu?" tanya Ken.
"Pulanglah! Dan jangan banyak bertanya!" kata Senja sambil duduk di kursi.
Namun bukannya menuruti perintah Senja, Ken malah duduk di sampingnya. Ia menatap Senja lekat-lekat.
"Aku siap menjadi pendengar, seandainya kamu mau berbagi masalahmu." ucap Ken.
"Aku tidak ada masalah, aku hanya butuh waktu untuk sendiri." kata Senja tanpa menoleh.
"Tidak ada gunanya kamu berbohong, karena aku sangat mengenalmu Aya." ucap Ken.
Senja terdiam cukup lama. Ia merasa dilema dalam hatinya. Sebenarnya ia ingin menyimpan masalahnya sendirian, tapi itu cukup berat. Terbersit keinginan untuk bercerita pada Ken, namun apakah itu pantas? Ia sudah menikah, sedangkan Ken adalah mantan kekasihnya.
"Aku tahu Kak Fajar, dan Adara memiliki hubungan yang dekat, lima tahun lebih mereka bersama. Tapi sekarang Kak Fajar sudah menikah denganku, bukankah salah jika ia masih terbelenggu dengan masa lalunya. Lalu apa artinya aku, apa artinya pernikahan ini." ucap Senja sambil menunduk. Setelah cukup lama terdiam, akhirnya ia memutuskan untuk bercerita pada Ken.
"Kau..." Ken menghentikan kalimatnya saat mendengar bunyi notif pesan masuk di ponselnya.
Ia membuka pesan itu, dan kemudian membacanya.
"Aya aku sudah mendapatkan informasi tentang Arrion." kata Ken dengan pandangan mata yang tak lepas dari ponselnya.
"Benarkah?"
"Iya, lihatlah! Orang suruhanku sudah mendapatkan lima Arrion dengan nama belakang yang berbeda. Tiga diantaranya berasal dari Indonesia, dan dua lainnya asli Singapura. Satu Arrion bekerja sebagai dosen, satu lagi dokter. Terus yang ketiga sebagai guru SMP, keempat sebagai desainer, dan yang terakhir sebagai buruh biasa, tapi ia tinggal di apartemen yang bersebelahan dengan apartemennya Adara." kata Ken dengan panjang lebar, seraya menunjukkan layar ponselnya pada Senja.
"Lalu yang kita cari Arrion yang mana?" tanya Senja.
"Kita harus menyelidiki Arrion yang bekerja sebagai desainer, dan buruh biasa." jawab Ken.
"Kenapa mereka?"
"Aya kau masih ingat kan, Adara adalah seorang desainer, kemungkinan besar dia ada hubungannya dengan Arrion yang ini. Dan untuk Arrion yang buruh, dia seorang buruh biasa, tapi ia tinggal di apartemen yang mewah. Itu cukup janggal Aya, dan lagi apartemennya berada tepat di sebelahnya Adara. Aku rasa ini bukan suatu hal yang kebetulan, tapi ini sangat mencurigakan." jawab Ken menjelaskan.
__ADS_1
"Ken memang cerdas, tidak salah aku meminta bantuan padanya." batin Senja dalam hatinya.
Bersambung....