
Senja terpaku seketika saat mendengar kalimat yang dibisikkan lelaki itu. Siapa dia? Apa maksudnya?
Selang beberapa detik, ia seakan tersadar dari lamunannya, lantas Senja menoleh dengan cepat. Ia bermaksud mengejar lelaki itu, namun sayang lelaki itu dan Hana sudah masuk ke mobil.
Senja menggeram kesal seraya menghentakkan kakinya dengan keras.
"Kenapa? Kenapa harus sesulit ini jalan hidupku?" gerutu Senja sambil menutup wajahnya.
Rasa sesak dan sakit yang ada di dalam hatinya, membuatnya lelah dan nyaris menyerah dalam menghadapi semua ini.
Senja melangkahkan kakinya dengan gontai. Tak peduli dengan banyaknya kendaraan yang berlalu lalang, ia terus berjalan menyusuri trotoar. Terik mentari semakin menyengat, menerpa tubuh Senja yang sudah lelah.
Hatinya, pikirannya, juga raganya, semuanya lelah seakan tak ada lagi semangat dalam dirinya.
Beberapa menit kemudian, Senja merasa tubuhnya lemas dan kepalanya pun pusing. Lalu Senja tak ingat lagi apa yang terjadi dengan dirinya.
Di tempat yang tak jauh dari sana, seorang lelaki sedang berjalan keluar dari sebuah restoran. Ia langsung berlari saat melihat seorang wanita pingsan, dan jatuh tersungkur.
"Mbak! Mbak, bangun, Mbak!" panggil lelaki itu sambil membalikkan tubuh Senja.
"Aya!" teriak lelaki yang ternyata adalah Ken.
"Aya bangun, Aya, kamu kenapa, Aya!" teriak Ken sambil menggoyangkan tubuh Senja, namun Senja masih tetap terdiam dengan mata yang terpejam.
Tanpa banyak kata, Ken langsung mangangkat tubuh Senja dan membawanya ke mobil.
Ken membaringkan tubuh Senja di kursi belakang, sedangkan dirinya langsung duduk di depan kemudi.
"Bertahanlah, Aya! Aku akan membawamu ke rumah sakit," kata Ken sambil menghidupkan mesin mobilnya, dan melajukannya dengan cepat.
"Kenapa pertemuan kita harus seperti ini, Aya," gumam Ken dengan pelan.
Lalu ia membelokkan mobilnya ke kiri, ia memilih jalan pintas, karena jalan raya yang ia lalui cukup padat.
Sekitar setengah jam kemudian, Ken sudah sampai di halaman rumah sakit. Ia menghentikan mobilnya, lalu keluar, dan mengangkat tubuh Senja.
"Suster tolong suster!" teriak Ken pada seorang perawat yang ada di sana.
Lalu perawat itu membimbing Ken untuk membawa Senja ke UGD. Dan tak berapa lama kemudian seorang dokter datang memeriksa Senja, dan menyuruh Ken menunggu di luar ruangan.
"Apa yang terjadi denganmu Aya?" ucap Ken sambil mondar-mandir di depan ruangan.
"Semoga kamu baik-baik saja Aya. Bodoh sekali Fajar, punya istri diabaikan sampai pingsan di pinggir jalan. Kamu juga kenapa memilih dia Aya, aku yang tulus mencintai kamu, yang pasti bisa menjaga kamu." gerutu Ken dengan kesal.
Tak berapa lama kemudian, pintu ruangan terbuka. Seorang dokter sedang berdiri di ambang pintu sambil tersenyum.
"Bagaimana keadaannya dokter?" tanya Ken sambil mendekati dokter itu.
"Anda keluarganya?"
"Saya temannya, saya menemukannya pingsan di pinggir jalan." jawab Ken.
"Oh begitu. Pasien tidak apa-apa, dia hanya lelah, dan mungkin ada banyak beban yang sedang dia fikirkan. Dia sudah sadar, silakan temui dia. Saya akan menyuruh suster menyiapkan makanan untuknya, sepertinya perutnya sedang kosong." kata dokter itu sambil tersenyum.
"Baik dokter, terima kasih ya." ucap Ken.
"Iya."
__ADS_1
Lalu Ken melangkah masuk ke dalam ruangan, ia mendekati Senja yang sedang duduk di ranjang rumah sakit.
"Aya!" panggil Ken sambil duduk di sebelah Senja.
"Ken, kamu...kamu yang menolongku?" tanya Senja.
"Iya, tadi aku melihatmu pingsan. Kamu kenapa?"
"Aku tidak apa-apa." jawab Senja sambil menggeleng.
"Hubungan kita memang sudah berakhir, tapi tidak ada salahnya kan jika kita berteman. Aku tahu kau sedang memikirkan banyak masalah Aya, berbagilah denganku siapa tahu aku bisa membantumu." kata Ken sambil menatap Senja.
Senja membalas tatapan Ken, namun bibirnya masih diam, dan tak mengeluarkan sepatah katapun.
"Kamu lebih kurus dari terakhir kali kita bertemu Aya." ucap Ken seraya merapikan rambut Senja yang sedikit berantakan.
"Kamu salah lihat Ken, dari dulu aku seperti ini." jawab Senja sambil menunduk.
"Disaat aku sedang lelah, dan hubungan pernikahanku mulai retak, kenapa malah Ken yang datang menolongku. Kenapa takdirku harus serumit ini." batin Senja dalam hatinya.
"Begitukah? Lalu kenapa kau terlihat murung? Aya ceritakan apa masalahmu, aku di sini siap membantumu." ucap Ken sambil menggenggam tangan Senja.
"Aku tidak punya masalah apa-apa Ken. Lepaskan tanganmu, aku sudah menikah!" kata Senja sambil melepaskan tangannya dari genggaman Ken.
"Iya kau sudah menikah, tapi justru pernikahan itu yang menjadi beban dalam hidupmu. Aku tahu apa yang kau alami Aya, kau sampai meminta Sella untuk menyelidiki Adara, mantan kekasih dari Fajar Mahardika." ucap Ken.
Senja tersentak kaget, spontan ia langsung menoleh, dan menatap Ken.
"Kau tahu darimana?" tanya Senja.
"Sella bukan teman yang baik Aya, dia memanfaatkan kamu demi mendekatiku. Apa kau tidak sadar akan hal itu?"
"Sella menyuruhku untuk mencari tahu tentang Adara. Dia sering menghubungiku dengan alasan membahas masalahmu. Dia memanfaatkan kamu demi perasaannya sendiri." jawab Ken.
"Jika dia mencintaimu, kenapa kamu tidak menjalin hubungan dengannya." kata Senja sambil memalingkan wajahnya. Jujur ia merasa kesal saat mendengar Sella memberitahukan masalahnya pada Ken.
"Aku tidak bisa menjalin hubungan dengan wanita lain, sementara dihatiku masih ada nama kamu." jawab Ken.
"Jangan bahas hal itu!" kata Senja dengan cepat.
"Kenapa? Aya sudah saatnya kau tahu tentang masa lalu. Diam, dan dengarkan aku berbicara!" ucap Ken dengan tegas.
"Apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Senja sambil kembali menatap Ken.
"Dulu aku hanya ingin menolong Kania. Kau tahu hidupnya sederhana, keluarganya tidak berani menolak, saat ada pengusaha kaya yang melamar Kania. Kau juga tahu bagaimana rasanya hidup dizaman sekarang, menyinggung orang kaya itu bukanlah hal yang bagus." ucap Ken memulai ceritanya.
"Saat itu Kania sudah punya kekasih, dan dia sama sekali tidak tertarik dengan pengusaha kaya itu, karena dia sudah duda. Kita tetanggaan, hubungan keluarga kita cukup dekat. Kania meminta tolong padaku untuk berpura-pura menjadi calon suaminya. Dia tidak punya teman yang kaya selain aku. Dan aku menolongnya, aku pergi bersamanya menemui pengusaha itu. Tapi bodohnya aku tidak memberitahukan hal ini padamu, dan aku tidak tahu kenapa kau bisa datang disaat yang tidak tepat." sambung Ken meneruskan ceritanya.
"Kau serius dengan perkataanmu Ken?" tanya Senja.
"Aku serius, bahkan aku berani bersumpah. Aku tidak punya hubungan apa-apa dengan Kania, aku hanya menolongnya. Kau tahu, setahun sejak kejadian itu dia menikah dengan kekasihnya, sekarang mereka sudah punya anak." jawab Ken.
Senja tertunduk lesu, kenapa semuanya menjadi seperti ini. Jika ucapan Ken benar adanya, ahh betapa kejamnya dia sudah meninggalkan lelaki itu.
"Aya, kenapa saat itu kau berada di sana?" tanya Ken.
"Sebenarnya...sebenarnya Sella yang memeberitahuku." jawab Senja.
__ADS_1
"Sella, sial jadi semua ini akibat wanita itu, licik sekali dia!" gerutu Ken dengan kesal.
Belum sempat Senja menjawab ucapan Ken, tiba-tiba seorang perawat datang sambil membawa nampan berisi makanan.
"Terima kasih." ucap Ken sambil menerima nampan itu.
Perawat itu tersenyum sambil mengangguk, lalu ia pergi meninggalkan Ken dan Senja.
"Makan ya, aku suapi." kata Ken, dan Senja menjawabnya dengan anggukan.
"Aya, jangan lagi bicara apapun pada Sella, dia teman yang berhati busuk. Ceritakan masalahmu padaku, aku akan membantumu. Saat ini aku sudah mendapatkan sedikit informasi tentang Fajar, jika kamu mau bicara keseluruhan masalahnya, mungkin aku bisa mendapatkan informasi yang lebih banyak." kata Ken sambil menyuapi Senja.
Senja tertegun sejenak, ia menghentikan kunyahannya, dan menatap Ken lekat-lekat.
"Kau serius?"
"Iya."
"Apa yang kau tahu tentang Kak Fajar?" tanya Senja dengan tidak sabar. Semoga Ken bisa membantunya menguak rahasia. Fajar.
"Saat di Singapura ia tinggal disebuah apartemen milik Adara Victoria. Tapi orang suruhanku tidak pernah melihat Fajar bersama Adara. Dan apartemen itu, sebenarnya kosong. Sebelum Fajar tinggal di sana, tidak ada seorang pun yang tinggal di apartemen itu." kata Ken sambil menatap Senja.
"Kau serius Ken?" tanya Senja dengan pelan.
"Aku serius." jawab Ken.
"Jadi benar, Kak Fajar masih ada hubungan dengan Adara. Meskipun tidak ada bukti mereka bersama, tapi dengan tinggal di apartemennya itu sudah cukup membuatku yakin dengan kesimpulanku." ucap Senja dalam hatinya.
Ken tak lagi berbicara, karena Senja juga diam tanpa kata. Suasana dalam ruangan itu hening, hanya bunyi kunyahan pelan dari mulut Senja yang terdengar samar-samar. Tak lama kemudian Senja sudah menghabiskan makanannya, ia menatap Ken yang hendak beranjak dari duduknya.
"Ken!" panggil Senja.
"Kenapa?"
"Kamu mau kemana?" tanya Senja.
"Aku mau menaruh nampan ini di meja, ada apa?" Ken balik bertanya.
"Ken..."
"Katakan saja Aya!"
"Bisakah kau membantuku?" tanya Senja.
"Sella tak bisa lagi kuharapkan, dan melakukannya sendiri itu mustahil. Mungkin tidak salah jika aku meminta bantuan pada Ken, dia cukup cerdas, semoga dia bisa menguak rahasianya Kak Fajar." ucap Senja dalam hatinya.
"Tentu saja, katakan apa yang bisa kubantu?" kata Ken sambil kembali duduk.
"Tolong selidiki orang yang bernama Arrion. Dia orang Singapura, dia pasti ada hubungannya dengan kepergiannya Kak Fajar. Dia juga tahu tentang Adara." ucap Senja.
"Arrion?"
"Iya."
"Baik, aku akan mencari tahu tentangnya. Informasi apalagi yang kau punya, semakin banyak petunjuk semakin mudah untuk mengetahui semuanya." kata Ken sambil menatap Senja.
"Tidak ada, hanya itu." jawab Senja.
__ADS_1
"Tentang Hana itu tidak penting, jika Ken bisa mengungkap siapa Arrion, rahasia Kak Fajar juga akan terungkap. Dan tentang Kak Fajar yang tidak pernah menyentuhku, tidak mungkin aku mengatakannya pada Ken." ucap Senja dalam hatinya.
Bersambung......