Kesucian Cinta Yang Ternoda

Kesucian Cinta Yang Ternoda
Rencana Ken


__ADS_3

Di dalam sebuah ruangan yang cukup luas, Ken dan ayahnya sedang terduduk lesu. Mereka menunduk, dengan pikiran yang menerawang jauh entah kemana. Baru saja mereka mengadakan rapat di dalam kantornya, dan hasilnya sangat jauh dari apa yang mereka harapkan. Tujuh dari sembilan investor besar menyatakan mundur, mereka tidak mau lagi bekerjasama dengan perusahaan milik keluarga Antony. Mereka tetap pada keputusannya, meskipun Ken sudah berusaha keras menjelaskan kebenarannya.


"Maafkan aku Pa, gara-gara aku, semuanya menjadi sekacau ini. Tapi aku berjanji, aku akan mengurus semua ini Pa. Aku akan mengembalikan bisnis yang sudah Papa rintis sejak lama, aku tidak akan membiarkan siapa pun menghancurkan keluarga kita," kata Ken sambil menatap ayahnya.


"Apa yang akan kau lakukan, Ken?" tanya Pak Jeffry tanpa mengangkat wajahnya.


"Aku akan menemui Om Hery Pa, aku akan mengajaknya bekerjasama mengembalikan nama baik keluarga, jika nama baik kita kembali, perusahaan kita juga akan membaik," jawab Ken.


"Kau yakin itu akan berhasil, Ken? Jangan sampai kau malah membongkar aibmu sendiri," kata Pak Jeffry, kali ini sambil menatap Ken.


"Tidak akan Pa."


"Perlu kau tahu Ken, hubungan keluarga kita dengan keluarga Mahardika, itu cukup buruk. Terlebih lagi kau pernah menyakiti anaknya, dan sekarang kau akan menikahi Senja, pasti dia semakin tidak menyukaimu Ken. Hati-hati jika kau mengajaknya bekerjasama, takutnya dia akan berkhianat." Pak Jeffry menjelaskan dengan panjang lebar.


"Aku mengerti Pa, aku tidak akan ceroboh, aku akan menemukan cara agar Om Hery tidak mengkhianatiku," kata Ken dengan tegas.


"Semoga kau berhasil Ken," ucap Pak Jeffry sambil beranjak dari duduknya, dan menepuk bahu Ken dengan pelan.


"Papa akan pulang lebih dulu, Ken. Papa akan mencoba menghubungi kenalan-kenalan Papa untuk mencari bantuan." Pak Jeffry melangkah pergi, meninggalkan Ken sendiri.


"Hati-hati Pa."


Setelah ayahnya pergi, Ken termenung sendiri. Sekarang tidak ada lagi yang mau bekerjasama dengan perusahaannya, sedangkan investor, hanya tinggal dua saja yang masih bertahan. Semua itu sangat tidak cukup untuk mempertahankan bisnisnya, lambat laun perusahaannya akan terpuruk.


"Aku harus segera menemui Om Hery, aku harus secepatnya mengembalikan nama baikku. Dengan begitu, mudah-mudahan saja masih ada jalan untuk memepertahankan perusahaan ini," ucap Ken sambil beranjak dari duduknya.


Tekatnya sudah bulat, untuk menemui keluarga Mahardika.


***


Tepat pukul 01.00 siang, Ken menghentikan mobilnya di depan rumah Mahardika. Ia bergegas turun dari mobilnya, dan melangkah menyusuri pelataran rumah, kala satpam sudah membukakan pintu gerbang untuknya. Ken terus melangkah menuju pintu utama, yang saat itu sudah terbuka lebar. Rupanya bibi pelayan sudah memberitahukan kedatangannya.

__ADS_1


Ken terus melangkah masuk menuju ruang tamu, di sana sudah ada Pak Hery, Dion, dan Bu Rani. Mereka sedang duduk bersama, dengan raut wajah yang jauh dari kata ceria.


"Apa yang membawamu kemari?" tanya Pak Hery mengawali pembicaraannya.


"Semua ini gara-gara kamu, andai saja kamu tidak menikahi Senja, tidak akan pernah ada berita seperti ini. Keluargaku ikut terkena imbasnya, gara-gara kebodohan kamu!" bentak Bu Rani sambil menatap Ken dengan tajam.


"Jaga bicara Mama," sahut Pak Hery dengan nada yang sedikit tinggi.


"Jika memang kehadiranku tidak diterima, aku akan pulang. Aku bisa membersihkan namaku, meskipun tanpa kalian," kata Ken dengan tegas.


"Aku kesini hanya demi membersihkan nama Fajar, karena bagaimanapun juga dia pernah menjadi suaminya Aya. Jadi jika kalian keberatan, ya sudah aku akan pulang. Bersihkan sendiri nama baiknya Fajar, itu kalau kalian bisa, karena kenyataannya Fajar memang mengidap penyakit itu," sambung Ken.


"Saat ini yang bisa kulakukan hanyalah pura-pura kuat, dan menggertak mereka, agar mereka mau bekerjasama denganku," batin Ken dalam hatinya.


"Apa rencana kamu?" tanya Pak Hery sambil menatap Ken.


"Om bersedia bekerjasama denganku?"


"Iya," jawab Pak Hery sambil mengangguk.


"Tapi dia anak kamu, dia bukan cucuku! Aku tidak sudi mengakui hal itu!" sahut Bu Rani dengan cepat.


"Ma!" bentak Pak Hery.


"Baiklah, jika seperti itu keputusan Tante Rani. Kalau begitu, aku akan mengatakan pada publik, jika Rashya itu memang anakku. Aku akan membeberkan seperti apa jalan pernikahan mereka. Dengan begitu, publik akan tahu jika Fajar benar-benar menderita HIV, dan akan sulit untuk mengembalikan nama baiknya," kata Ken.


"Jangan gila, nama baik kita akan semakin hancur jika kau mengatakan hal itu," sahut Pak Hery.


"Benar, itu akan berdampak buruk pada perusahaan kita." Dion ikut menyela.


"Mari kita bekerjasama, aku setuju dengan rencana kamu," ucap Pak Hery.

__ADS_1


"Om yakin?"


"Iya," jawab Pak Hery sambil mengangguk.


"Mas, jangan langsung setuju. Bagaimana jika nanti ada yang curiga, Rashya tidak menyandang nama Mahardika, publik tidak akan semudah itu untuk dibodohi. Dan jika suatu saat nanti kebohongan ini terbongkar, itu malah akan memperburuk nama kita Mas," sahut Bu Rani.


"Sebentar lagi aku akan menikahi Aya, dihari itu juga aku akan mengatakan, jika Rashya akan menjadi anakku. Aku akan menyematkan nama Antony padanya, karena aku sudah menikahi ibunya, sudah pasti aku harus menerima anaknya. Kebohongan ini tidak akan terbongkar, jika diantara kita tidak ada yang membuka suara, dan jika orang lain yang mencoba membukanya, selama mereka tidak punya bukti, kita bisa balik menyerangnya," kata Ken dengan tegas.


"Cukup berpura-pura saja, bersikaplah baik kepada Aya, dan Rashya saat didepan publik, aku tidak akan menuntut yang lebih," sambung Ken.


"Kau yakin ini akan berhasil?" tanya Dion.


"Tentu saja, HIV AIDS stadium akhir itu pasti menular. Jika pemeriksaan dalam diri Aya hasilnya negatif, sedangkan ia dan Fajar sudah punya anak. Publik akan ragu, jika Fajar benar-benar menderita penyakit itu." Ken mengatakannya dengan penuh keyakinan.


"Jika aku bisa mengklarifikasi berita ini dengan sangat baik, orang yang mengusikku akan keluar dengan sendirinya," batin Ken dalam hatinya.


"Baiklah, aku mengerti. Kapan kita akan menyelesaikan masalah ini?" tanya Pak Hery.


"Secepatnya."


"Bagaimana kalau besok?" tanya Pak Hery.


"Itu bagus, lebih cepat lebih baik. Sore ini aku akan menyiapkan segala sesuatunya. Besok kita akan mengklarifikasi berita ini bersama-sama," jawab Ken.


"Mas, kamu yakin dengan rencanamu?" bisik Bu Rani pada suaminya.


"Kita tidak punya pilihan Ma, percaya saja padaku, semua pasti baik-baik saja," jawab Pak Hery dengan pelan.


"Tapi Mas..."


"Hanya ini satu-satunya cara untuk mengembalikan nama baiknya Fajar," ucap Pak Hery.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2