
"Dokter! Dokter!" panggil perawat itu dengan cepat.
"Ada apa?" tanya Arrion.
"Detak jantung pasien tiba-tiba berhenti dokter!" jawab perawat itu.
Semua yang ada di sana langsung tersentak kaget, tak terkecuali juga Arrion. Tanpa berkata apa-apa, Arrion langsung melangkah masuk ke dalam ruangan. Ia melihat kondisi Fajar yang semakin memburuk.
Dengan cepat Arrion mengambil defibrilator, dan mulai mengarahkannya pada dada Fajar. Dia berusaha menormalkan detak jantung Fajar yang tiba-tiba berhenti.
Beberapa detik telah berlalu, namun Fajar belum juga memberikan reaksi apapun. Bintik-bintik keringat mulai membasahi kening Arrion, pandangan matanya menatap Fajar dengan nanar.
Dan tak lama kemudian, detak jantung Fajar mulai terekam kembali dalam monitor. Arrion bernafas lega, meskipun detak jantungnya sangat lemah, namun setidaknya masih ada harapan untuk menyelamatkannya.
Arrion meletakkan defibrilator itu kembali ke tempatnya. Lalu ia memeriksa kondisi Fajar, dan kemudian memeriksa alat-alat bantu yang menempel di tubuhnya.
Setelah selesai, Arrion duduk di sebelah Fajar. Ia menatap sahabatnya itu lekat-lekat. Wajahnya pucat, dan matanya tertutup rapat. Bukannya dia tidak percaya dengan keajaiban Tuhan. Namun melihat kondisinya sekarang, Arrion mulai ragu, kemungkinan untuk sadar itu sangatlah tipis.
Arrion memijit pelipisnya, ia mengingat pertemuannya dengan Fajar kemarin. Lelaki itu langsung pingsan di hadapannya, padahal awalnya lelaki itu tampak sehat, ia tertawa bahagia saat membicarakan ulang tahun Senja.
Tunggu, ulang tahun Senja. Mendadak Arrion ingat dengan kue ulang tahun, dan juga kado yang Fajar letakkan di dalam mobil. Arrion kembali menatap Fajar, ucapannya kemarin kembali terngiang di telinga Arrion.
"Aku harus segera pulang Yon, hari ini ulang tahunnya Senja, aku sudah menyiapkan kado untuknya. Aku akan tenang, jika dia sudah menerimanya, dan juga memakainya." ucap Fajar kala itu.
Arrion terdiam sejenak, dan tak lama kemudian ia beranjak dari duduknya.
"Tolong temani dia, aku akan keluar sebentar!" kata Arrion pada perawat yang ada di sana.
"Baik dokter."
Lalu Arrion melangkah keluar dari ruangan, ia menemui keluarga Fajar yang sedang duduk di kursi tunggu.
"Bagaimana keadaan Fajar dokter?" tanya Bu Rani dengan cepat.
"Detak jantungnya melemah, mari kita berdoa bersama-sama untuk keselamatan Fajar." jawab Arrion sambil menghela nafas panjang, ia tahu jawabannya ini pasti sangat mengecewakan mereka.
"Fajar! Kenapa semua ini harus terjadi pada Fajar!" ratap Bu Rani sambil menangis.
"Mama yang sabar ya, tabahkanlah hatimu Ma." kata Pak Hery menenangkan istrinya.
Senja menunduk, ucapan Arrion bagaikan belati yang menyayat hatinya, sangat menyakitkan. Senja memejamkan matanya, sesungguhya ia berharap semua ini hanyalah mimpi buruk, yang akan berakhir ketika ia bangun nanti.
Tak lama kemudian, Senja merasakan tangan kekar yang merangkul tubunya.
"Sabar ya Nja, jangan lupa untuk terus berdoa." ucap Alvin sambil mengusap-usap lengan adiknya.
"Iya Kak." jawab Senja sambil mengangguk.
"Senja!" panggil Arrion.
__ADS_1
"Iya dokter." jawab Senja sambil menatap Arrion.
"Kemarin Fajar membeli sesuatu untukmu, sekarang barang itu ada di dalam mobil. Ayo kuantarkan kesana, lalu ambil, dan lihatlah barangnya!" kata Arrion.
"Aku..."
"Ikutlah nak!" kata Pak Hery sambil menatap Senja.
"I...iya Pa." ucap Senja.
Lalu ia mengikuti langkah Arrion yang mulai pergi meninggalkan mereka.
Arrion terus melangkah menyusuri lorong rumah sakit. Dan Senja, ia tetap mengikutinya di belakang. Dan tak lama kemudian mereka tiba di tempat parkir khusus staf yang bekerja di sana. Arrion membuka pintu mobil berwarna putih, yang tak lain adalah mobilnya Fajar.
"Ambillah sendiri!" kata Arrion sambil menatap Senja.
Senja mengangguk, lalu ia melangkah mendekati mobil milik suaminya. Perlahan Senja masuk ke dalam mobil, dan matanya langsung menatap kue ulang tahun yang berbentuk hati. Kue yang sangat cantik dengan hiasan bunga-bunga kecil, dan tulisan 'Happy brithday Cahaya Senja'
Senja menitikkan air matanya, melihat kue ulang tahun yang sudah Fajar siapkan, ahh hatinya kembali teriris sakit. Senja mengalihkan pandangannya, kini ia menatap kotak kecil warna putih yang ada di sampingnya. Senja meraih kotak itu, dengan pelan ia membukanya, dan ternyata isinya adalah jam tangan.
Sebuah jam tangan warna perak, dengan rantainya yang dihiasi ukiran tulisan, yang berbunyi Fajar dan Senja.
Senja melingkarkan jam tangan itu di lengan kirinya. Lalu ia mengambil secarik kertas yang ada di dalam kotak itu. Senja membuka lipatannya, dan mulai membaca tulisannya.
*Untuk istriku tercinta
Selamat ulang tahun sayang, semoga panjang umur, dan bahagia selalu. Maaf jika mungkin kau tidak menyukai hadiah ini, tapi aku memberimu ini bukan tanpa alasan. Jam adalah waktu, jadi aku berharap kau mengingat diriku, seperti kau mengingat waktu. Anggap saja jam tangan ini adalah diriku, jadi aku bisa menemanimu dalam setiap detik, dan juga menit. Kali ini tidak banyak yang kuharapkan darimu, cukup satu hal saja. Berjanjilah untuk selalu tersenyum, apapun keadaannya. Aku bahagia, jika bisa melihatmu tersenyum, karena aku sangat mencintaimu Senja*
Karena terlalu larut dengan kesedihannya, Senja sampai tidak menyadari jika lembaran itu telah terlepas dari tangannya. Lembaran itu jatuh tepat di sebelah telapak kakinya.
Senja yang baru saja tersadar dari lamunannya, ia langsung menunduk dan mengambil lembaran itu. Namun saat ia menunduk, matanya menatap kantong plastik warna hitam yang ada di bawah kursi kemudi. Senja mengernyitkan keningnya, apa itu?
Tanpa keraguan Senja meraih kantong plastik itu. Ia kembali duduk di kursi, dan kemudian membukanya. Senja tersentak kaget saat mengetahui apa yang ada di dalam sana, ternyata plastik itu berisi obat-obatan milik Fajar, yang seharusnya sudah ia minum sejak sebulan yang lalu.
"Ini, ini adalah obatnya Kak Fajar. Kenapa semua ada di sini, ini apa maksdunya!" ucap Senja dengan tubuh yang gemetaran.
"Senja!" panggil Arrion yang saat itu sedang berdiri di dekat pintu mobil.
Senja menoleh, menatap Arrion yang juga sedang menatapnya.
"Fajar memang menyerah!" ucap Arrion dengan pelan.
"Menyerah, tapi kenapa? Kenapa dia menyerah?" tanya Senja dengan jantung yang berdetak cepat.
"Dia ingin kau bahagia." jawab Arrion sambil menghela nafas panjang.
Mendengar kata bahagia yang diucapkan Arrion, Senja langsung tersentak kaget. Tubuhnya terpaku, dan dunianya seakan berhenti detik itu juga.
Ia mulai mengerti dengan jalan fikiran Fajar. Ia menyerah, dan menganggap Senja akan bahagia, jika tak terikat lagi dengannya. Dan Senja mengerti kenapa Fajar berfikir demikian, semua itu pasti karena kekhilafan yang telah Senja lakukan.
__ADS_1
"Maafkan aku Kak, maafkan aku yang telah membuatmu kecewa. Tapi aku tidak lagi mencintai dia, yang kucintai hanyalah kamu Kak. Kenapa kamu melakukan semua ini, aku tidak sanggup bila tanpa kamu Kak." ucap Senja sambil mencengkeram obat-obatan yang ada di atas pangkuannya.
Arrion memalingkan wajahnya, rasanya ia tidak tega menatap Senja yang sedang menangis pilu. Semua ini pasti sangat sulit baginya. Ia sekarang terbelenggu dalam kubangan luka, dan penyesalan yang entah dimana ujungnya.
"Temuilah dia!" kata Arrion sambil menatap Senja sekilas.
"Sebelum semuanya terlambat! Meskipun dia tidak bisa menatapmu, dan tersenyum padamu. Tapi setidaknya sekarang dia masih berada di alam yang sama dengan kita, masih ada kemungkinan dia mendengarkan semua ucapanmu." sambung Arrion dalam hatinya.
"Iya, aku akan menemuinya!" ucap Senja sambil melangkah turun. Tak lupa ia membawa kue ulang tahun, dan juga lembaran kertas yang Fajar tulis untuknya.
Arrion, dan Senja berjalan bersama menuju ruang ICU. Dan tak membutuhkan waktu yang lama, kini mereka sudah tiba di sana. Bu Rani, dan Alvin masih duduk di kursi tunggu. Sedangkan Pak Hery, beliau sedang menemani Fajar di dalam.
"Baru saja Farah menelfon, dia sudah dalam perjalanan menuju kesini. Mungkin tidak lama lagi dia akan sampai." ucap Alvin sambil menatap Senja.
"Sykurlah, kemarin nomornya tidak aktif, jadi aku hanya meninggalkan pesan padanya." jawab Senja sambil meletakkan kue ulang tahunnya di atas kursi.
Bu Rani hanya melirik mereka sekilas, namun beliau tak lagi berkata-kata pedas. Beliau hanya diam, sambil terus meneteskan air matanya.
"Ayo!" ajak Arrion.
"Iya, Kak aku masuk dulu." ucap Senja.
"Iya."
Senja mengikuti langkah Arrion, dan masuk ke dalam ruang ICU. Ia berjalan menuju ranjang, tempat Fajar terbaring. Di sana ada Pak Hery yang sedang menemaninya.
Pak Hery menoleh, kala mendengar langkah kaki yang mendekatinya.
"Senja." panggil Pak Hery.
"Biarkan dia berbicara dengan Fajar!" sahut Arrion.
"Baik dokter, saya akan keluar dulu." ucap Pak Hery sambil beranjak dari duduknya.
"Yang sabar ya, Papa tahu ini sulit, dan kita semua tidak menginginkan hal ini. Tapi percayalah, rencana Tuhan jauh lebih indah dari apa yang kita angankan." kata Pak Hery sambil menepuk bahu Senja.
Pak Hery adalah sosok lelaki yang sangat bijaksana. Meskipun hatinya sendiri sedang hancur, namun beliau masih berusaha memberikan dukungan untuk orang-orang di sekitarnya. Meskipun Senja telah melakukan kesalahan fatal, dan beliau merasa sangat kecewa. Namun beliau masih memperlakukan Senja dengan baik, karena bagaimanapun juga Senja masih tetap menantunya.
"Iya Pa." jawab Senja dengan pelan.
Setelah Pak Hery melangkah keluar ruangan, Senja mendekati Fajar, dan duduk di sebelahnya. Air matanya kembali mengalir, kala menatap sosok Fajar yang masih terbaring lemah, dan masih setia menutup matanya.
"Kak Fajar!" panggil Senja sambil menggenggam tangan Fajar, yang dingin dan pucat.
"Maafkan aku Kak, aku salah, aku telah mengecewakanmu, aku telah menodai cinta tulusmu. Tapi aku tidak mencintainya Kak, yang kucintai hanyalah kamu. Yang kuharapkan hanyalah hidup bersamamu. Kenapa kamu melakukan ini, kenapa kamu menghukumku dengan cara yang seperti ini Kak." ucap Senja sambil menunduk. Ia menelungkupkan wajahnya di lengan Fajar, dan menumpahkan tangisnya di sana.
"Bahagiaku adalah bersamamu Kak, aku bisa tersenyum jika kau ada di sampingku. Karena hanya kamu orang yang kucintai. Maafkan aku Kak, tolong maafkan semua kesalahanku. Bangunlah Kak, jangan menghukumku dengan cara yang sesakit ini, aku tidak sanggup Kak." ucap Senja disela-sela tangisnya.
Lalu Senja mengangkat wajahnya, ia menatap wajah Fajar, seraya mengusap rambutnya dengan lembut. Dan beberapa detik kemudian, Senja dikejutkan oleh setetes air bening yang mengalir dari sudut mata Fajar.
__ADS_1
Bersambung....