
Ken mondar-mandir ke sana, kemari, mencari sosok sang istri. Namun hingga setengah jam lamanya, Senja belum juga ia jumpai. Kemana gerangan dirinya?
Alvin dan Nina juga ikut mencari, bahkan mereka dibantu oleh Gerry dan Vicky. Namun tak satupun dari mereka yang menemukan keberadaan Senja. Berkali-kali Ken mencoba menelfonnya, tetapi tetap saja, nomor Senja tidak dapat dihubungi.
Ken mulai panik, ia mengacak rambutnya dengan kasar. Jantungnya semakin berdetak cepat, bagaimana jika terjadi apa-apa dengan Senja? Kini ia sangat menyesal, kenapa tadi ia meninggalkannya.
Taman depan rumah, taman belakang rumah, kolam renang, kamar mandi, semua sudah ia datangi, namun ia tidak menemukan Senja di sana.
"Bagaimana, Kak?" tanya Ken saat Alvin datang mendekatinya.
"Aku tidak menemukannya," jawab Alvin sambil menggeleng.
Ken mengusap wajahnya dengan kasar, kemana lagi ia harus mencari Senja. Disaat Ken masih panik, tiba-tiba ponselnya berdering, ternyata ibunya yang menelfon.
"Apakah kira-kira Aya pulang, tapi kenapa?" Batin Ken dalam hatinya.
"Hallo Ma." Sapa Ken.
"Hallo Ken, sudah selesai belum acaranya?" tanya Bu Ratih dari seberang sana.
"Belum Ma, kenapa?" jawab Alvin balik bertanya.
"Ternyata Aya tidak pulang." Batin Ken.
"Rashya nangis terus Ken, entah kenapa dia. Padahal tadi tidur nyenyak sekali, tiba-tiba saja terbangun dan menangis keras, kalau bisa cepat pulang ya," ucap Bu Ratih.
Tanpa memberikan jawaban apapun, Ken memutuskan sambungan telefonnya. Hatinya semakin tidak tenang, ia benar-benar khawatir dengan istrinya. Anaknya menangis, apakah ini merupakan firasat buruk?
"Ada apa, Ken?" tanya Alvin.
"Rashya terus menangis, aku takut terjadi apa-apa dengan Aya, Kak." Jawab Alvin.
Alvin menghembuskan nafasnya dengan kasar, jujur sedari tadi ia juga mengkhawatirkan adiknya.
"Ada apa ini, kenapa kalian terlihat panik?" tanya Dika yang tiba-tiba hadir di antara mereka.
__ADS_1
"Kami kehilangan Senja." Jawab Alvin.
"Senja hilang, hilang kemana?" tanya Dika sambil mengernyitkan keningnya, kurang paham dengan apa yang dimaksudkan Alvin.
"Entahlah, sejak satu jam yang lalu dia menghilang. Kami sudah mencarinya kemana-mana, tapi tidak ketemu, kami juga mencoba menghubunginya, tapi nomornya tidak aktif." Jawab Alvin.
"Mungkin dia menyapa temannya, atau mungkin sedang ke kamar mandi," sahut Dika.
"Tidak, aku sudah memeriksanya di kamar mandi, namun tidak ada. Bahkan aku mencarinya sampai ke taman, dan juga kolam renang. Tapi aku belum menemukan Aya," ucap Ken.
"Ketiga-tiganya sudah kau periksa?" tanya Dika.
"Tiga?"
"Iya, tiga kamar mandi sudah kau periksa? Yang satu berada di ujung lorong, takutnya kau tadi melewatkannya," jawab Dika.
"Yang di ujung lorong memang tidak kuperiksa, karena kulihat ada tulisan rusak. Jadi tidak mungkin Aya ke sana." Kata Ken.
"Rusak? Kamar mandiku tidak ada yang rusak, bahkan kemarin aku menyuruh orang untuk memeriksanya, semua baik-baik saja." Sahut Dika.
Tanpa banyak kata, ia langsung berlari menuju ke kamar mandi yang berada di ujung lorong. Tubuhnya gemetaran, ia terus berdoa semoga Senja baik-baik saja.
Dika dan Alvin, mereka juga mengikuti langkah Ken di belakang. Sedangkan Anna dan Nina, mereka menunggunya di ruang pesta.
Tak lama kemudian, Ken tiba di depan pintu kamar mandi. Dengan cepat ia mendobrak pintunya, dan tubuhnya seakan membeku saat itu juga, saat menatap sosok wanita yang ada di hadapannya.
Wanita yang tak lain adalah Senja, dia terkulai lemah, dan bersimbah darah, di lantai kamar mandi. Wajahnya pucat, dengan mata yang tertutup rapat.
"Tidak! Aya, Aya bangun Aya!" teriak Ken sambil mengangkat kepala Senja, dan menepuk-nepuk pipinya.
Tidak ada respon dari Senja, tubuh dinginnya masih tetap diam tak bergerak. Lalu Ken memeriksa pergelangan tangannya, ia bernafas lega setelah merasakan denyut nadinya.
Dengan cepat Ken mengangkat tubuh Senja, dan menggendongnya keluar dari kamar mandi. Darah segar yang keluar dari kepala Senja, mulai membasahi lengannya, namun Ken tak peduli, saat ini yang paling penting adalah keselamatan Senja.
"Ken, apa yang terjadi?" teriak Alvin dengan cepat. Ia tersentak kaget saat melihat kondisi adiknya.
__ADS_1
"Aku tidak tahu Kak, tapi sekarang aku harus membawanya ke rumah sakit." Jawab Ken. Ia terus mempercepat langkah kakinya.
"Aku akan ikut!" Kata Alvin.
"Ikutlah Vin! Urusan di sini serahkan saja padaku, aku pasti bisa mengungkap apa yang terjadi pada Senja," ucap Dika.
Malam itu, pesta pernikahan Dika dan Anna terpaksa dihentikan, ketika masih separuh jalan. Para tamu undangan dibuat gempar dengan kecelakaan yang menimpa Nyonya Antony. Satu persatu dari mereka pergi meninggalkan rumah mempelai. Ada yang langsung pulang, namun ada beberapa di antaranya yang ikut menjenguk ke rumah sakit.
Sementara Dika, ia berusaha mengusut kronologi kejadian. Senja mengalami kecelakaan murni, ataukah ada seseorang yang memang sengaja mencelakainya. Tetapi, melihat tulisan yang ditempelkan di daun pintu, Dika lebih curiga jika ini adalah ulah seseorang. Akhir-akhir ini nama Ken cukup melambung di dunia bisnis, mungkin saja ada salah satu dari mereka yang merasa iri dan dengki, sehingga mencari jalan pintas untuk menghancurkan Ken.
***
Jarum jam terus berputar, seiring malam yang terus berjalan menuju dini hari. Saat ini, gelang jam yang melingkar di tangan Ken menunjukkan pukul 02.00 pagi.
Itu artinya sudah hampir empat jam, ia menunggu Senja yang sedang dirawat di IGD.
Ken menunggu bersama Alvin, Pak Jeffry, Vicky, Gerry, dan Nicko. Bu Ratih tidak ikut ke rumah sakit, beliau di rumah mengasuh Rashya yang terus menangis. Sedangkan Nina, Alvin meninggalkannya di rumah Dika. Nina sedang hamil, Alvin tidak mengizinkannya begadang sampai malam. Alvin menyuruh Nina ke rumah sakit esok hari saja, bersama Dika dan Anna.
Mereka duduk di kursi tunggu sambil menunduk, mereka larut dalam pikirannya masing-masing. Mengingat tubuh Senja yang sudah pucat dan dingin, juga darah yang bersimbah membasahi gaunnya, terbersit rasa khawatir dalam hati mereka, mungkinkah Senja akan selamat?
"Ya Allah, kenapa Senja harus mengalami begitu banyak kisah pahit. Tolong sayangi dia Ya Allah, berikanlah kesembuhan dan kebahagiaan untuk dia." Batin Alvin dalam hatinya. Ia menutup wajahnya dengan telapak tangannya, beberapa jam yang lalu adiknya masih tertawa, dan bersikap manja. Ia tak menyangka jika sesaat kemudian, Senja akan mengalami hal yang mengenaskan.
"Ya Allah, tolong berikanlah kesembuhan dan keselamatan untuk istriku. Izinkan dia tetap menjadi pendamping hidupku, Rashya masih kecil, dia masih sangat membutuhkan ibunya, Ya Allah," batin Ken sambil menitikkan air matanya.
Sungguh sangat memilukan, belum genap dua bulan mereka merajut cinta dalam ikatan halal, namun kini sudah ada petaka yang menimpanya.
Disaat mereka sedang terhanyut dalam pikirannya masing-masing, tiba-tiba pintu ruangan terbuka. Sontak semua langsung beranjak dari duduknya, mereka menatap lekat-lekat ke arah dokter yang sedang berdiri di ambang pintu. Dengan cepat Alvin dan Ken menghambur, menghampiri sang dokter.
"Bagaimana keadaan istri saya, Dokter?" tanya Ken dengan jantung yang berdetak tak beraturan.
Dokter menghela nafas panjang, sebelum menjawab pertanyaan Ken.
"Dokter, bagaimana keadaan adik saya?" tanya Alvin dengan tidak sabar. Ia menanti jawaban dari sang dokter dengan harap-harap cemas. Sepertinya dokter itu sedikit berat dalam memberikan jawaban, apakah adiknya tidak baik-baik saja?
Bersambung...
__ADS_1