Kesucian Cinta Yang Ternoda

Kesucian Cinta Yang Ternoda
Terungkap


__ADS_3

Senja masih terdiam, belum ada sepatah katapun yang ia ucapkan untuk menjawab perkataan Bu Rani. Hati, dan fikirannya sangat kacau. Ia tak menyangka, jika kecerobohannya malam itu akan menjadi bomerang bagi dirinya sendiri.


Dan Fajar, ia juga masih terdiam. Raut wajahnya tampak menahan emosi, dan kecewa. Ia tak menyangka, jika wanita yang dianggapnya mulia, ternyata bermain api dibelakangnya. Baru saja Fajar akan jujur tentang penyakitnya, namun kini tiba-tiba Senja hamil. Jika ia jujur, Ibunya akan tahu kalau itu bukan cucunya. Dan itu tidak akan berakibat baik pada pernikahannya.


"Kalian ini kenapa hanya diam? Kalian tidak suka mau punya anak? Apa sih sebenarnya yang kalian fikirkan, kalian sudah dewasa, juga sudah mapan. Dengan kehadiran satu anggota keluarga, itu tidak akan membuat kalian kelaparan. Lagipula juga ada Mama, kalau kalian merasa kesulitan, kalian bisa meminta tolong pada Mama. Diluar sana banyak sekali pasangan yang menginginkan anak. Kalian ini, sudah dikasih tapi malah tidak senang. Heran Mama!" gerutu Bu Rani dengan panjang lebar, sambil menatap Fajar, dan Senja secara bergantian.


"Mama jangan salah paham, kita sangat bahagia kok Ma. Hanya saja kita kaget, tidak menyangka jika ternyata sudah ada bayi didalam sana. Karena yang kutahu Senja memang tidak telat, jadi aku fikir dia belum hamil." ucap Fajar sambil tersenyum lebar.


"Mama sangat senang mendengar kabar kehamilannya Senja. Rasanya ini bukan saat yang tepat untuk mengatakan penyakitku." batin Fajar dalam hatinya.


"Kamu juga tidak sadar, kalau kamu hamil? Biasanya wanita itu selalu tahu lho kalau mulai hamil, karena pasti ada yang berubah dengan dirinya." kata Bu Rani sambil menatap Senja.


"Tidak Ma. Aku belum mengerti tentang kehamilan." jawab Senja dengan pelan.


"Hah kalian ini, sudah dewasa tapi masih kekanak-kanakan. Tapi ya sudahlah, yang penting sekarang kalian sudah tahu. Fajar jaga istri kamu, jangan sampai dia kenapa-napa. Dan kamu Senja, jaga kesehatan. Apa yang kamu inginkan, katakan saja pada Fajar. Jangan menyimpannya sendirian. Kalian paham!" kata Bu Rani.


"Paham Ma." jawab Fajar, dan Senja secara bersamaan.


Tak lama kemudian, pintu kamar terbuka. Farah, dan Pak Hery tampak berdiri di sana sambil tersenyum. Farah langsung melenggang masuk, dan mendekati ranjang. Ia duduk di sebelah Bu Rani.


"Selamat ya Kak Senja, aku senang sekali mendengarnya. Sebentar lagi Zian akan punya teman." kata Farah sambil tersenyum lebar.


"Papa juga ikut senang mendengarnya." ucap Pak Hery sambil ikut tersenyum.


Cukup lama mereka saling berbincang sambil tertawa. Suasana yang jarang terjadi, karena biasanya Bu Rani enggan bercanda dengan Senja, beliau lebih sering melontarkan kata-kata pedasnya. Fajar, dan Senja menanggapinya hanya sesekali saja, keduanya masih diliputi perasaan yang tidak menentu.


Setelah hampir satu jam berbincang, kini mereka berpamitan untuk pulang. Sebelum pergi Pak Hery, dan Bu Rani mewanti-wanti Fajar, agar selalu menjaga Senja.


Jika biasanya kehadiran Ibu mertuanya membuat Senja tidak nyaman. Namun lain halnya dengan malam ini, ia ingin sekali ditemani Ibu mertuanya sampai besok pagi. Jika mereka semua pergi, hanya akan tinggal Fajar dan dirinya saja yang ada di ruangan itu. Dan jujur, sebenarnya ia belum siap menghadapi Fajar malam ini.

__ADS_1


Namun Senja tak bisa berbuat apa-apa. Dia tidak punya cara untuk menahan Ibu mertuanya. Akhirnya ia hanya bisa menatap nanar, pada Bu Rani dan yang lainnya, saat mereka sudah melangkah pergi, dan keluar dari kamarnya. Kala itu Fajar juga ikut keluar, ia mengantarkan orang tuanya hingga ke ruang tamu.


Susana di dalam kamar menjadi hening. Suara canda, dan tawa yang tadi sempat menggema, kini telah tiada. Keringat dingin Senja kembali mengucur dengan deras, dan jantungnya juga berdetak semakin cepat. Hanya dalam hitungan menit, ia harus berhadapan dengan Fajar.


Ditengah kesepian malam, samar-samar Senja mendengar langkah kaki yang berjalan menuju ke kamarnya. Senja memejamkan matanya, Fajar sudah kembali. Bisa atau tidak bisa, berani atau tidak berani, ia harus menghadapinya detik ini juga.


Senja tersentak kaget, dan lamunannya buyar seketika, saat telinganya mendengar suara keras dari arah pintu. Rupanya Fajar sudah masuk kedalam kamar, dan ia membanting pintunya dengan kasar.


Dengan tubuh yang gemetaran, Senja mengangkat wajahnya, dan menatap Fajar yang berjalan mendekatinya.


Fajar terus melangkah mendekati Senja. Dengan tatapan tajamnya, ia duduk tepat di hadapan Senja. Belum sempat Senja berbicara, Fajar sudah lebih dulu mencengkeram lengannya dengan cukup keras. Senja meringis kesakitan, namun Fajar tak menghiraukannya.


"Apa yang kau lakukan dibelakangku Senja! Kau telah menodai kepercayaanku, kau telah menodai cinta tulusku! Katakan siapa yang menghamilimu? Katakan Senja!" bentak Fajar dengan nafas yang memburu.


"Lepas Kak, sakit!" kata Senja sambil berusaha melepaskan cengkeraman Fajar. Namun tenaga lelaki itu sangat kuat, Senja tidak punya kekuatan untuk melawannya.


"Jawab dulu pertanyaanku! Siapa yang menghamilimu! Apakah Ken mantanmu itu hah!" bentak Fajar.


Detik itu juga Fajar langsung melepaskan cengkeramannya. Lalu ia beranjak dari duduknya, dan berdiri membelakangi Senja.


"Jelaskan sekarang juga! Aku ingin tahu semuanya." ucap Fajar dengan penuh kekecewaan.


"Maafkan aku Kak, aku memang salah. Malam itu aku khilaf, dan semuanya terjadi begitu saja. Kau benar, aku melakukannya dengan Ken." kata Senja. Dengan perlahan ia beranjak dari duduknya, dan turun dari ranjang.


"Aku tidak menyangka ternyata kau seperti itu Senja. Aku sangat mencintaimu, aku memikirkan masa depanmu, itu sebabnya aku tidak pernah menyentuhmu. Tapi kenapa kau melakukan semua ini, kenapa kau mengkhianatiku? Kurang apa aku padamu Senja? Apa memang hanya s*ks yang ada dalam fikiran kamu Hah!" ucap Fajar masih dengan nada tinggi.


Ia berkata sambil menoleh kebelakang, menatap Senja yang berdiri tepat di belakangnya.


Menyadari kenyataan bahwa Senja telah mengkhianatinya, membuat Fajar tak bisa menahan emosi, dan hilang kendali.

__ADS_1


Kalimat terakhir yang Fajar lontarkan, berhasil membuat Senja menitikkan air mata. Hatinya sesak mendengar perkataan sang suami yang cukup merendahkannya. Senja tahu yang dia lakukan adalah kesalahan fatal, namun semua itu terjadi bukan tanpa alasan. Dia rela disalahkan, tapi dia sangat tidak rela jika direndahkan.


Senja meremas ujung gaunnya, emosi perlahan mulai menyulut hati, dan jiwanya.


"Aku memang salah Kak, tapi tidak seharusnya kamu mengatakan hal itu padaku. Cinta macam apa yang kamu bicarakan, jika mengerti perasaanku saja kamu tidak bisa. Jangan katakan itu cinta, itu hanya keegoisanmu saja Kak!" bentak Senja sambil melangkah mendekati Fajar. Tatapannya tidak kalah tajam dengan suaminya.


"Aku hanya manusia biasa, aku punya perasaan, juga punya batas kesabaran. Satu setengah tahun kamu mendiamkan aku tanpa alasan yang jelas. Aku tidak bodoh, alasan kamu selama ini tidak masuk akal! Wanita mana yang akan percaya, wanita mana yang tidak curiga!" teriak Senja dengan air mata yang terus berderaian di pipinya.


"Kamu bayangkan betapa sulitnya posisiku Kak, kamu tidak pernah menyentuhku, juga tidak pernah jujur padaku. Sementara disisi lain, Mama selalu memojokkan aku, Mama selalu mengatakan aku mandul. Sakit hatiku Kak, sakit! Jika kamu memang cinta, seharusnya kamu jujur dari awal. Agar aku tahu apa yang terjadi padamu, agar aku tidak berfikiran yang macam-macam tentangmu. Kamu bilang cinta, tapi kamu sama sekali tidak peka. Kamu tahu tidak betapa sakitnya hatiku selama ini!" teriak Senja.


Fajar terdiam di tempatnya. Bibirnya terkatup rapat, dan pandangan matanya mulai sayu. Entah apa yang sedang dia fikirkan, hanya dirinyalah yang tahu.


"Aku tahu aku salah, aku tahu yang kulakukan ini adalah kebodohan. Tapi asal kamu tahu Kak, aku sama sekali tidak ada niatan untuk mengkhianatimu. Pagi itu Mama datang, dan mengatakan hal yang menyakitkan. Lalu setelah Mama pergi, aku menanyakan alasanmu yang tidak pernah menyentuhku, dan lagi-lagi kau masih bohong Kak. Bahkan sikapmu sangat kasar, saat aku meminta cerai. Seolah aku melihat sisi lain dari dirimu Kak." ucap Senja sambil menunduk.


"Aku hendak ke rumah Kak Alvin, tapi aku bertemu Hana di jalan. Aku bertanya tentang Adara padanya, namun aku tidak mendapatkan jawaban apapun. Aku lelah Kak, seolah takdir mempermainkan aku. Dengan perasaan kecewa, aku meneruskan perjalananku. Namun aku pingsan, dan Ken yang menolongku. Dia membawaku ke rumah sakit, dan kemudian mengantarkan aku pulang ke rumah. Dia membantuku mengungkap siapa Arrion, namun itu tidaklah mudah. Dan aku tahu kalau Arrion itu dokter, disaat semuanya sudah terlambat." sambung Senja, karena Fajar masih saja terdiam.


"Kenapa aku bisa sebodoh ini!" ucap Fajar dalam hatinya.


Lalu Fajar melangkahkan kakinya, dan berhenti tepat di hadapan Senja. Kini jarak mereka cukup dekat, bahkan masing-masing saling mendengar deru nafasnya. Tanpa mengucapkan sepatah katapun, Fajar memeluk Senja dengan erat.


Senja tersenyum sambil membalas pelukan Fajar, ia berharap pernikahannya masih bisa diperbaiki.


Namun baru beberapa detik mereka saling berpelukan, tiba-tiba Senja merasakan rengkuhan Fajar mulai merenggang.


"Kak Fajar!" panggil Senja.


"Kak!" panggil Senja dengan suara yang lebih keras.


Tetapi tidak ada jawaban dari mulut Fajar. Dan jantung Senja berdetak cepat, kala tubuh Fajar terkulai lemas dalam pelukannya.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2