
Sang surya sudah merangkak naik menampakkan keperkasaannya. Sinarnya yang keemasan mewarnai seluruh alam raya. Darah dalam kepala Senja sudah berhasil diangkat, operasi berjalan dengan lancar, namun sayang ia belum sadar hingga saat ini.
Ken, Alvin, dan Pak Jeffry, mereka masih setia menunggu Senja di depan ruangan. Sedangkan Nicko dan yang lainnya, mereka baru saja pulang.
"Senja dicelakai orang," ucap Alvin sambil menatap layar ponselnya.
"Benarkah?" tanya Ken dengan cepat. Spontan, ia langsung menoleh, dan menatap Alvin.
"Dika yang memberitahuku. Dari rekaman CCTV, ada seorang wanita yang masuk ke dalam kamar mandi itu, dia keluar sesaat setelah Senja masuk. Sebelum pergi, dia menutup pintunya, dan menempelkan tulisan rusak." Jawab Alvin.
"Seorang wanita." Gumam Ken dengan pelan.
"Mungkinkah dia Sella, tapi apa itu mungkin? Bukankah dia sedang terjebak di desa terpencil bersama Jhon Victory. Mungkinkah Jhon Victory melepaskannya, tapi dilihat dari sifatnya, Jhon sangat menyukai wanita. Dia tidak akan melepaskan Sella begitu saja. Aku jadi teringat dengan kata-kata Aya waktu itu," batin Ken dengan jantung yang berdetak cepat. Sepertinya kekhawatiran Senja, benar-benar menjadi nyata.
"Dika masih punya rekamannya?" tanya Ken.
"Masih, dia sedang dalam perjalanan ke sini. Nanti dia akan menunjukkan rekaman itu padamu, mungkin kau bisa mengenali siapa wanita itu." Jawab Dika.
"Siapa pun dia, aku tidak akan pernah memaafkannya, dia harus membayar atas apa yang telah ia lakukan." Kata Ken dengan tegas.
"Sella, jika benar ini adalah ulahmu. Kau tunggu saja, apa yang akan kulakukan padamu!" batin Ken sambil mengepalkan tangannya.
"Ken, apa jangan-jangan ini ulah Sella? Mungkin dia sakit hati, karena kemarin kau menjebaknya dengan Jhon," sahut Pak Jeffry.
"Aku juga sempat mencurigainya," Alvin ikut menimpali.
"Aku melakukan semua itu, berharap dia akan kapok, dan tidak lagi mengusikku. Tapi rupanya, hukuman itu masih kurang berat baginya. Jika benar ini ulah Sella, aku akan membuatnya merasakan apa itu hukuman yang sebenarnya." Kata Ken dengan geram.
Tak lama kemudian, Dika tiba di rumah sakit. Ia datang bersama Anna dan Nina. Mereka langsung menghampiri Ken dan Alvin yang sedang duduk di kursi tunggu.
"Bagaimana keadaan Senja, Kak? Dia baik-baik saja, kan?" tanya Nina.
"Dia belum sadar, tapi operasinya berjalan dengan lancar, dan detak jantungnya juga normal." Jawab Alvin.
"Syukurlah, aku lega jika keadaannya semakin membaik," ucap Nina sambil duduk di sebelah Alvin.
"Kau punya rekamannya?" tanya Ken tanpa basa-basi. Matanya menatap lekat-lekat ke arah Dika.
"Iya, lihatlah sendiri! Mungkin kau mengenalinya," jawab Dika sambil menyodorkan ponselnya.
Ken meraih ponsel itu, dan ia melihat dengan cermat, video rekaman CCTV yang menampilkan kejadian semalam.
Dalam video itu terlihat jelas, seorang wanita memakai gaun panjang hitam yang dipadukan dengan blazer warna hitam. Ia memakai kaca mata, dan mulutnya ditutup masker.
Ken menggeram kesal, dan deru nafasnya terdengar memburu, terlihat jelas jika ia sedang menahan amarah. Sekali tatap saja Ken sudah tahu, jika itu adalah Sella. Meskipun wajahnya tidak terlihat dengan jelas, namun dari postur tubuhnya, dan rambut panjangnya yang kemerahan, Ken yakin itu adalah Sella.
__ADS_1
Darah Ken seakan mendidih, ingin rasanya ia membunuh Sella saat itu juga. Sella tampak masuk ke dalam kamar mandi, namun dia tidak menutup pintunya, entah apa yang dia lakukan di sana.
Selang beberapa menit, ada dua wanita yang datang. Mereka masing-masing masuk ke dalam kamar mandi yang berbeda. Disaat dua wanita itu belum keluar, Senja datang sambil mengusap-usap gaunnya. Senja langsung masuk ke dalam kamar mandi yang ditempati Sella, karena hanya itulah satu-satunya kamar mandi yang terbuka.
Sekitar sepuluh menit kemudian, Sella keluar dari kamar mandi, ia menutup pintunya, dan mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya, ternyata selembar kertas dan lem. Sella menempelkan tulisan rusak di daun pintu, lalu ia melangkah pergi meninggalkan tempat itu. Sella pergi menuju ruang pesta, namun ia tidak berbaur dengan tamu yang lainnya. Ia langsung pergi menuju tempat parkir, dan melaju meninggalkan kediaman Dika.
"Arrgghhh!! Ternyata ini benar-benar ulah Sella." Teriak Ken dengan keras.
"Kau pernah mengalahkannya, tidak heran jika dia menaruh dendam padamu," ucap Dika sambil menatap Ken.
"Dan dia mencoba menghancurkanmu lewat Senja," sahut Alvin dengan pelan.
"Maafkan aku Kak, aku tidak menyangka jika Sella akan berbuat senekat ini. Dia benar-benar wanita gila," kata Ken sambil mengusap wajahnya dengan kasar.
"Sekarang apa yang akan kau lakukan?" tanya Alvin.
"Ken, jangan berbuat seperti kemarin! Semakin dia dendam, dia akan semakin nekat. Dia akan terus mencoba mencelakaimu, atau keluargamu. Jebloskan saja dia ke penjara, biarkan polisi yang mengurusnya," sahut Pak Jeffry.
"Aku setuju, bukti itu cukup kuat, dia tiadak akan bisa selak," timpal Dika.
"Tidak." Jawab Ken dengan tegas.
"Kenapa tidak? Apa yang akan kau lakukan?" tanya Alvin.
"Jangan gila Ken! Apa yang akan kau lakukan?" tanya Pak Jeffry.
Belum sempat Ken menjawab pertanyaan ayahnya, tiba-tiba pintu ruangan terbuka. Seorang dokter berdiri di ambang pintu sambil tersenyum.
"Dokter, bagaimana keadaan istri saya?" tanya Ken dengan cepat.
"Alhamdulillah, Nyonya Senja sudah sadar. Tapi, masih belum bisa bicara. Benturan di kepalanya cukup keras, berhasil sadar dalam waktu yang sesingkat ini merupakan keajaiban. Saya akan terus berusaha, dan Anda teruslah berdoa. Insyaa Allah, dalam beberapa waktu pengobatan, Nyonya Senja akan sembuh, seperti sedia kala." Jawab Dokter menjelaskan.
"Alhamdulillah, terima kasih Ya Allah," batin Ken sambil tersenyum.
"Aku tahu kamu bisa Nja, teruslah berjuang. Kau harus sembuh, kau harus bahagia," batin Alvin sambil mengusap wajahnya dengan telapak tangannya.
"Boleh saya menemuinya, Dokter?" tanya Ken.
"Silakan! Semua boleh menemuinya, tapi bergantian, jangan masuk bersamaan," jawab Dokter sambil tersenyum.
"Terima kasih, Dokter!" jawab Ken sambil melangkah masuk menemui Senja.
***
Satu minggu kemudian.
__ADS_1
Jarum jam menunjukkan tepat pukul 02.00 dini hari. Ken baru saja tiba di rumah sakit, setelah menghilang sejak pukul 10.00 tadi.
"Kau dari mana, Ken?" tanya Alvin sambil menatap Ken. Ia menghilang sejak tadi, kemana sebenarnya dia? Tidak biasanya Ken meninggalkan Senja dalam waktu yang cukup lama. Sejak Senja sakit, rapat saja tidak pernah ia hadiri. Sepenting apa urusannya kali ini?
"Hanya jalan-jalan Kak, mencari udara segar." Jawab Ken.
"Sampai empat jam Ken, jalan-jalan ke mana kamu?" tanya Pak Jeffry.
"Hanya berputar-putar di sekitar sini." Jawab Ken.
"Siapa di dalam?" tanya Ken sebelum Alvin dan Pak Jeffry kembali bertanya padanya.
"Mamamu." Jawab Pak Jeffry.
"Kapan Mama ke sini? Lalu Rashya bagaimana?" tanya Ken.
"Belum lama, sekitar dua jam yang lalu. Rashya sedang tidur, Bibi yang menunggunya." Jawab Pak Jeffry.
"Oh," ucap Ken sambil melangkah masuk ke dalam ruangan.
"Mama!" Sapa Ken saat ia sudah tiba di dekat ranjang tempat Senja berbaring.
"Ken, kamu dari mana?" tanya Bu Ratih.
"Jalan-jalan Ma, mencari udara segar." Jawab Ken.
Bu Ratih beranjak dari duduknya, beliau memberi tempat untuk anaknya.
"Silakan! Mama akan keluar dulu," kata Bu Ratih sambil tersenyum.
"Iya Ma."
Lalu Ken duduk di kursi, di sebelah Senja. Ia menatap wajah istrinya lekat-lekat.
"Maafkan aku yang mungkin akan mengecewakan kamu, tapi aku melakukan semua ini juga demi kamu. Aku tidak akan memaafkan siapa pun yang sudah menyakitimu, Aya." Ucap Ken dengan pelan.
Kemudian Ken menggenggam jemari senja, dan menelungkupkan wajahnya di lengan istrinya. Rasa lelah mulai menghampiri tubuhnya, Ken seakan tak percaya dengan apa yang baru saja dilakukannya.
Beberapa menit kemudian, Ken mulai memejamkan matanya, rasa penat membuatnya terhanyut dalam dunia mimpi.
Sekitar setengah jam kemudian, samar-samar Ken merasakan sentuhan lembut di kepalanya, Ken mengerjapkan matanya, mungkinkah ini ilusi? Ken mengangkat wajahnya, dan ia tersentak kaget saat melihat Senja sedang tersenyum padanya.
"Ken!" panggil Senja dengan suara yang pelan.
Bersambung...
__ADS_1