
Di dalam ruangan yang sangat luas. Seorang lelaki paruh baya sedang mengikuti rapat penting bersama beberapa orang yang menjadi rekan bisnisnya.
Namun meski beliau sedang duduk di sana, tetapi fikirannya menerawang jauh entah kemana. Apa yang sedang mereka diskusikan, tak ada sepatah katapun yang masuk ke dalam otaknya. Beliau adalah Pak Hery, ayah dari Fajar Mahardika.
Satu hal yang membuat beliau berfikir keras adalah sosok lelaki yang duduk di hadapannya. Lelaki muda yang usianya sekitar 27 tahun. Tadi sebelum mereka memulai rapat, dia memperkenalkan dirinya sebagai Alex Victory, putra tunggal dari Jhon Victory. Ketika Pak Hery menanyakan tentang Adara, Alex menyangkalnya. Dia berkata bahwa dia adalah putra tunggal, tidak pernah memiliki kakak, ataupun adik. Dan banyak rekan lainnya yang juga membenarkan hal itu.
Pak Hery memijit pelipisnya, kenapa bisa seperti ini?
Beliau tahu betul Adara adalah putri sulungnya Jhon Victory, tapi kenapa sekarang keberadaannya tidak diakui. Andai saja saat itu yang hadir ayahnya, pasti Pak Hery sudah menanyakan hal ini dengan jelas, karena mereka sudah saling mengenal sejak lama. Namun sayang yang hadir hanyalah anaknya, Pak Hery tidak bisa berkutik, karena mereka tidak saling mengenal.
"Dimana Adara sekarang? Kenapa Jhon tidak mengakuinya?" batin Pak Hery dalam hatinya. Dua pertanyaan yang cukup mengganggu fikirannya.
Setelah dua jam kemudian, rapat berakhir. Mereka saling berjabat tangan, dan satu persatu mulai meninggalkan ruangan. Kini hanya tinggal Alex, dan Pak Hery yang berada di dalam ruangan.
"Dimana Ayahmu?" tanya Pak Hery sambil menatap Alex yang hendak melangkah pergi. Beliau berusaha memancing Alex untuk berbicara tentang Adara.
"Papa sedang mengurus proyek yang ada di Jakarta, itu sebabnya Papa tidak bisa hadir di sini." jawab Alex sambil tersenyum.
"Oh begitu, sejak Jhon pindah ke Jakarta aku tidak pernah lagi bertemu dengannya. Bagaimana kabarnya sekarang, sehat kan?" tanya Pak Hery.
"Alhamdulillah, Papa dan Mama dalam keadaan sehat. Mmm kalau boleh tahu, hubungan Om Hery, dan Papa cukup dekat ya?" ucap Alex balik bertanya.
"Dulu hubungan kita cukup dekat, kau mengenal Fajar?"
"Fajar, maksudnya Fajar Mahardika?"
"Iya."
"Saya pernah mendengar nama itu." ucap Alex dengan pelan.
"Aku Ayahnya Fajar." sahut Pak Hery dengan santainya.
"Ap...apa!" kata Alex dengan kaget.
Pak Hery mengernyit heran, beliau menangkap perubahan raut wajah Alex.
"Saat tahu aku ayahnya Fajar, dia langsung kaget. Pasti ini ada hubungannya dengan Adara." batin Pak Hery dalam hatinya.
"Dulu Fajar pernah menjalin hubungan dengan seorang wanita, hingga lebih dari lima tahun. Wanita itu bernama Adara, apa kau mengenalnya?" tanya Pak Hery sambil menatap Alex dengan tajam.
"Maaf saya tidak mengenalnya, permisi!" sahut Alex dengan cepat. Lalu ia melangkah pergi meninggalkan Pak Hery.
__ADS_1
"Ada apa ini sebenarnya?" gumam Pak Hery dengan pelan. Lalu beliau melangkahkan kakinya, dan pergi keluar meninggalkan ruangan.
Pak Hery mempercepat langkahnya, dan segera menuju ke halaman kantor, karena taxi pesanannya sudah datang. Pak Hery naik ke dalam taxi, dan menyebutkan nama hotel tempatnya menginap.
Sekitar setengah jam kemudian, Pak Hery sudah tiba di halaman hotel. Beliau turun dari taxi, dan berjalan menuju lift.
Tak lama kemudian, lift sudah membawanya ke lantai 9. Pak Hery segera keluar, dan berjalan menuju ke kamarnya.
Pak Hery membuka pintunya, dan melenggang masuk. Beliau langsung duduk di sofa, dan menyandarkan punggungnya di sana. Beliau tak menghiraukan istrinya yang sedang membaca buku di atas ranjang.
"Mas kamu kenapa?" tanya Bu Rani sambil mendekati Pak Hery. Bu Rani mengernyit heran saat melihat suaminya memijit pelipisnya.
"Ada masalah Mas?" Bu Rani kembali bertanya.
"Bukan masalah sebenarnya Ma, hanya saja sedikit mengganjal dihatiku." jawab Pak Hery sambil menghela nafas panjang.
"Apa itu Mas, katakan ada apa?" tanya Bu Rani.
"Mama ingat Adara?"
"Adara pacarnya Fajar, tentu saja aku ingat Mas. Aku sangat ingin punya menantu seperti Adara, namun Fajar malah memilih Senja. Tapi ya sudahlah tidak apa-apa, yang penting bisa memberikan aku cucu." jawab Bu Rani.
Bu Rani tampak berfikir sejenak, lalu beliau menoleh menatap suaminya.
"Sejak dia dan keluarganya pindah ke Jakarta, aku belum pernah bertemu dengannya, juga tidak pernah mendengar bagaimana kabarnya. Memangnya kenapa Mas?"
"Aku tadi bertemu dengan Alex, adiknya Adara." jawab Pak Hery.
"Lalu?"
"Dia mengenalkan dirinya sebagai putra tunggalnya Jhon Victory. Keberadaan Adara sekarang tidak diakui Ma, kira-kira kenapa ya?"
"Serius Mas?" tanya Bu Rani sambil menatap suaminya lekat-lekat.
"Serius Ma, aku sejak tadi memikirkan hal itu. Ya walaupun Adara bukan lagi kekasihnya Fajar, tapi yang namanya pernah kenal, penasaran juga ingin tahu apa yang terjadi. Pasti semua ini tidak sederhana Ma, buktinya keberadaannya sampai tidak diakui." jawab Pak Hery.
"Kamu benar Mas, apa aku telfon Fajar saja ya, mungkin dia tahu apa yang terjadi." kata Bu Rani sambil tersenyum.
"Jangan Ma, tidak enak dengan Senja. Kalau Mama mau tanya, nanti saja kalau kita sudah pulang. Mama tanya sama dia kalau sedang sendiri, tidak bersama Senja." ucap Pak Hery.
"Begitu ya?"
__ADS_1
"Iya. Senja sedang hamil Ma, tidak baik jika hatinya terganggu." jawab Pak Hery.
"Baiklah." ucap Bu Rani menuruti kata suaminya.
***
Senja sedang duduk sendiri di depan cermin. Ia menatap pantulan dirinya yang terlihat cantik dengan balutan dress berwarna merah. Rambutnya digulung ke atas, memperlihatkan lehernya yang putih, dan jenjang. Wajahnya dioles make up tipis-tipis, tampak ayu natural.
Senja kembali melirik jarum jam yang ada di depannya. Sudah pukul 02.00 siang, namun Fajar belum juga pulang. Senja meraih ponselnya, ia memeriksa pesan chat yang tadi ia kirimkan kepada Fajar, ternyata masih belum dibaca.
Tadi pagi Fajar berkata akan pulang sebelum jam makan siang. Namun sekarang sudah dua jam lewat, tapi ia belum pulang, dan belum mengirimkan pesan apapun padanya. Apakah dia sedang menyiapkan kejutan?
"Kamu kemana Kak, kalaupun masih ada urusan, setidaknya baca pesanku, dan kabari aku. Beritahu aku kenapa kamu masih belum pulang." ucap Senja sambil menatap layar ponselnya.
Entah kenapa perasaannya mulai resah, dan gelisah.
Senja beranjak dari duduknya, ia menatap kembali pantulan dirinya. Sejak dua jam yang lalu ia berdandan seperti ini, ia ingin tampil mempesona saat menyambut suaminya. Hari ini adalah hari ulang tahunnya, jadi ia ingin menghabiskan waktunya dengan memadu cinta bersama sang suami.
Senja berjalan menuju jendela kamarnya, bayangan tentang tadi pagi melintas begitu saja dalam ingatannya. Fajar memeluknya dengan mesra, dan membisikkan kata-kata cinta. Ahh mendadak Senja jadi merindukan suaminya.
"Cepat pulang Kak, aku sudah menunggumu sejak tadi. Kau tahu aku sudah berdandan secantik ini, aku sudah tidak sabar untuk mendengar pujian darimu." ucap Senja sambil menunduk. Mengingat tentang Fajar, wajahnya mulai merona.
Disaat Senja masih melamunkan kemesraannya bersama Fajar, tiba-tiba ia dikejutkan oleh dering ponselnya. Senja tersenyum, lalu ia melangkahkan kakinya menuju ke meja.
"Itu pasti Kak Fajar." gumam Senja.
Dan ternyata dugaannya memang benar. Senyuman Senja kian melebar saat menatap tulisan yang tertera di layar ponselnya, 'suami memanggil'
"Hallo Kak Fajar!" sapa Senja dengan nada yang manja.
Beberapa detik kemudian, terdengar jawaban dari lelaki yang berada di seberang sana.
Dan senyuman Senja langsung menghilang seketika, kala ia mendengar kalimat yang dilontarkan lawan bicaranya.
"Apa! Tidak! Tidak mungkin! Ini tidak mungkin!" teriak Senja dengan histeris.
Jantungnya seakan berhenti berdetak saat itu juga. Sebagian jiwanya seolah menghilang, terbang bersama suara yang baru saja didengarnya. Senja terduduk lemah di lantai, tenaganya sirna entah kemana. Ponsel yang digenggamnya perlahan jatuh tanpa ia sadari.
Sebuah kabar yang sangat mengagetkannya, dan nyaris menghentikan detik waktunya.
Bersambung.....
__ADS_1