Kesucian Cinta Yang Ternoda

Kesucian Cinta Yang Ternoda
Hasil Pemeriksaan Dokter


__ADS_3

"Apa kamu telat Senja?" Bu Rani kembali bertanya, karena Senja masih saja terdiam.


"Ti...tidak Ma." jawab Senja dengan gugup.


"Kamu yakin?" tanya Bu Rani.


"Iya." jawab Senja dengan kepala yang masih menunduk.


"Ah sayang sekali, aku fikir kamu telat." kata Bu Rani sambil menghembuskan nafasnya dengan kasar.


"Untung saja Mama percaya, besok biar aku sendiri yang memastikannya. Semoga saja aku tidak hamil." batin Senja sambil meremas ujung gaunnya.


Melihat gelagat istrinya, jantung Fajar mulai berdetak cepat. Beberapa kemungkinan buruk melintas begitu saja dalam benaknya. Fajar mengepalkan tangannya, dan matanya masih menatap Senja dengan tajam.


"Lanjutkan makanmu! Aku akan menelfon dokter untuk memeriksa kondisimu." kata Fajar dengan nada yang tertahan.


"Tidak usah Kak, aku hanya..."


"Senja apa yang sedang kau fikirkan? Kau pucat, kau lemas, dan kau juga sering muntah. Dari kemarin kau tidak mau pergi ke rumah sakit, jadi biar dokter saja yang datang kesini. Biar kita tahu sebenarnya kamu sakit apa." sahut Fajar memotong kalimat Senja.


Senja sedikit mengangkat kepalanya, ia menatap wajah suaminya yang tampak menahan emosi. Jantung Senja berdetak semakin cepat, ia tak mampu lagi menenangkan dirinya.


"Baiklah!" jawab Senja dengan sangat pelan. Mau tidak mau ia harus menuruti perintah Fajar. Ia tidak ingin suaminya semakin curiga. Senja hanya bisa berdoa, semoga Tuhan masih memberikan kemudahan untuk jalan hidupnya.


"Tolong temani Senja Ma, aku mau ke kamar dulu mengambil ponsel." kata Fajar sambil menatap Ibunya. Lalu ia melangkah pergi meninggalkan Senja, dan Bu Rani.


Senja memijit pelipisnya, bahkan sekarang kepalanyapun terasa pusing. Ahh apa yang akan terjadi nanti?


"Kamu masih mual?" tanya Bu Rani sambil menatap Senja.


"Tidak Ma, hanya sedikit pusing." jawab Senja.


"Kalau begitu ayo keluar! Istirahat sana di kamar, nanti biar Bibi siapkan bubur, dan minuman hangat untukmu." kata Bu Rani sambil menuntun tangan Senja, dan mengajaknya keluar dari kamar mandi.


"Semoga saja dia benar-benar hamil. Aku sudah tidak sabar untuk menimang cucu dari Fajar." ucap Bu Rani dalam hatinya.


Senja, dan Bu Rani terus melangkah menuju ke kamar. Di ruang tengah mereka berpapasan dengan Fajar yang sedang menelfon. Senja tak berani menatapnya, ia terus berjalan sambil menunduk.


Sesampainya di dalam kamar, Senja membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Dan Bu Rani, membantunya mengambil selimut tebal.


"Beristirahatlah sambil menunggu dokter. Aku akan meneruskan makan malamku!" kata Bu Rani sambil menyelimuti tubuh Senja.

__ADS_1


"Iya Ma." jawab Senja.


Senja memejamkan matanya saat Bu Rani sudah menghilang di balik pintu. Perasaan resah, dan gelisah berkecamuk dalam hatinya. Senja menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Ingatan tentang malam itu kembali melintas dalam otaknya. Senja tahu apa yang dia lakukan waktu itu adalah salah. Namun apa yang bisa ia buat sekarang, memutar waktu itu sungguh mustahil. Yang bisa ia lakukan hanyalah merutuki kebodohan, dan kecerobohannya.


"Bagaimana caranya aku menjelaskan semua ini pada Kak Fajar, masihkah dia mau memaafkan aku?" ucap Senja dengan pelan.


Selang beberapa detik, pintu kamar dibuka dari luar. Senja tersentak kaget, saat tahu bahwa yang datang adalah Fajar.


"Kak Fajar!" sapa Senja sambil berusaha tersenyum.


Fajar tidak menjawab, dia hanya menatap Senja sambil terus melangkah mendekatinya. Senja menggenggam erat selimut tebal yang menutupi tubuhnya. Tatapan Fajar sangat menakutkan kala itu.


Kemudian Fajar duduk di tepi ranjang, tepat di sebelah kaki Senja. Tatapan matanya masih tak lepas dari wajah Senja.


"Adakah sesuatu yang ingin kamu katakan padaku Senja?" tanya Fajar dengan pelan, namun terdengar sangat tegas.


"A...apa maksudmu Kak?" Senja balik bertanya.


"Aku hanya bertanya, siapa tahu kau menyimpan rahasia yang tidak aku ketahui." jawab Fajar.


Hati Senja kembali berdebar keras, Fajar sudah mencurigainya. Apa yang harus ia katakan sekarang.


"Jika kau memang punya rahasia, katakan sekarang Senja!" kata Fajar masih dengan tatapan tajamnya.


Senja bernafas lega, jika ada Bu Rani Fajar tidak akan mendesaknya. Semoga masih ada harapan, semoga dirinya tidak hamil.


"Minumlah! Ini teh tawar, agar perutmu tidak mual lagi." kata Bu Rani sambil menyodorkan secangkir teh hangat pada Senja.


Senja bangkit dari tidurnya, ia duduk sambil menyandarkan punggungnya. Lalu ia menerima teh itu, dan meminumnya.


"Ini buburnya, makan selagi masih hangat." kata Bu Rani.


"Terima kasih Ma." jawab Senja. Ia meraih mangkok itu, dan mulai menyuap buburnya.


Senja kesulitan saat menelan buburnya. Bukan karena mual, ataupun rasanya yang tidak enak. Melainkan karena rasa gugup, dan takut yang membuat tenggorokannya seakan tercekat.


Sekitar setengah jam kemudian, Senja sudah menghabiskan makanannya. Bu Rani sudah membawa nampannya ke dapur. Dan dokter yang ditelfon Fajar, beliau juga sudah datang. Dokter wanita yang masih muda, mungkin umurnya tidak jauh beda dengan Senja. Beliau datang bersama Arrion.


"Apa keluhannya Bu?" tanya dokter itu sambil mengeluarkan alat-alatnya.


"Mual, sedikit pusing, dan sering lelah." jawab Senja.

__ADS_1


"Kapan terakhir datang bulan?"


"Belum lama." jawab Senja.


Dokter itu mengangguk sambil tersenyum. Lalu beliau mulai memeriksa kondisi Senja.


Fajar, dan Bu Rani masih menunggu sambil duduk di sofa. Mereka menatap setiap gerakan yang dilakukan oleh dokter itu. Sementara Arrion, dia berbincang dengan Pak Hery di ruang tamu.


Setelah selesai memeriksa kondisi Senja. Dokter itu membuatkan resep obatnya. Senja menatap dokter itu dengan harap-harap cemas. Bagaimana hasil pemeriksaannya?


"Apa yang terjadi dengan istri saya dokter?" tanya Fajar sambil beranjak dari duduknya. Ia melangkah mendekati dokter itu.


"Istri Anda tidak apa-apa Pak. Ini adalah hal wajar yang biasa dialami oleh banyak wanita diawal kehamilannya. Selamat ya Pak, istri Anda hamil. Usia kandungannya sekitar dua minggu." ucap dokter itu sambil tersenyum.


"Ha...hamil!" kata Fajar, dan Senja bersamaan.


Fajar mengepalkan tangannya, dadanya terlihat naik turun menahan emosi. Dia menatap Senja dengan nafas yang memburu.


"Kau mengkhianatiku Senja!" geram Fajar dalam hatinya.


Senja memejamkan matanya, hancur sudah harapannya. Mau tidak mau semuanya akan terungkap malam ini juga.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang. Ken, seharusnya kita tidak melakukannya." batin Senja sambil menggigit bibirnya.


"Iya, Ibu Senja hamil. Namun usia kandungannya masih sangat muda, jadi tolong dijaga kesehatannya. Jangan sampai stres, dan jangan melakukan pekerjaan yang terlalu berat. Ini sudah saya buatkan resepnya, dan juga saya sarankan untuk memeriksakan kandungannya rutin setiap bulan." kata dokter itu sambil menyodorkan lembaran kertas kecil pada Fajar.


"Baik dokter." jawab Fajar.


"Kalau begitu Saya permisi dulu ya Pak. Ibu Senja, jaga diri baik-baik ya. Agar janinnya juga bisa tumbuh dengan baik." ucap dokter itu sambil menatap Fajar, dan Senja secara bergantian. Lalu beliau beranjak dari duduknya.


"Terima kasih dokter." jawab Senja dengan pelan.


"Saya permisi ya Bu." kata dokter itu pada Bu Rani.


"Iya dokter, terima kasih ya." jawab Bu Rani sambil tersenyum lebar.


Bu Rani langsung beranjak dari duduknya saat dokter itu sudah melangkah keluar kamar. Beliau langsung melangkah mendekati Fajar, dan Senja.


"Mama sangat senang mendengar kabar ini. Fajar, apakah ini yang akan kamu katakan tadi? Apa sebenarnya kamu sudah curiga kalau Senja hamil? Seharusnya kamu langsung katakan saja Jar, tidak usah menunggu Papamu. Kamu tahu betapa bahagianya hati Mama, saat tahu bahwa sebentar lagi akan menimang cucu dari kamu. Ahh aku sudah tidak sabar untuk menunggunya lahir." kata Bu Rani dengan tertawa senang. Beliau tidak menyadari jika raut wajah kedua anaknya dirundung kesedihan.


"Senja, mulai sekarang Mama akan lebih sering datang kesini. Mama harus memastikan kalau kamu, dan anak kamu baik-baik saja. Kamu harus beristirahat dengan cukup, makan makanan bergizi. Jangan memendam beban fikiran, dan jangan banyak bekerja. Mulai besok Bibi biar tinggal di sini, biar dia yang yang memasak, dan bersih-bersih." sambung Bu Rani sambil duduk di tepi ranjang.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2