
"Maafkan aku, Sayang. Maafkan sikap kasarku yang kemarin." Fajar mengeratkan pelukannya.
"Aku juga minta maaf, Kak. Aku pergi sejak kemarin tanpa mengabarimu. Seharusnya aku tidak melakukan itu." Senja menjawab sambil mengusap-usap punggung Fajar.
"Jika tidak pergi, aku tidak akan kehilangan kesucianku. Kak Fajar, maafkan aku," kata Senja dalam hatinya.
"Kau kemana? Aku terus mencarimu, tapi tidak bisa menemukanmu," tanya Fajar sambil melepaskan pelukannya. Ia menatap Senja lekat-lekat.
"Aku ... pulang ke rumah," jawab Senja dengan pelan.
"Pulang? Tapi kemarin aku ke sana, rumahmu kosong, Sayang." Fajar mengerutkan kening.
"Kak Fajar jam berapa ke rumah? Aku sampai sana sudah sore dan iya rumahku kosong. Kak Alvin sedang di luar kota," terang Senja.
"Aku siang hari, pantas saja aku tidak bisa menemukanmu. Lalu, sebelum pulang kamu ke mana?" Fajar bertanya sambil menyelipkan rambut Senja ke belakang telinga.
"Kemarin aku pingsan di jalan, lalu aku ditolong seseorang dan dibawa ke rumah sakit." Senja menunduk. Mengingat tentang Ken, hatinya kembali diimpit perasaan bersalah.
"Kamu pingsan? Sayang, apa yang terjadi padamu? Sekarang bagaimana rasanya, mana yang sakit, katakan padaku!" kata Fajar dengan cepat, seraya menggenggam tangan Senja dan menatapnya dari ujung kaki hingga ke ujung kepala.
"Aku tidak apa-apa Kak. Kemarin hanya sedikit lelah dan mungkin juga karena aku belum makan sejak pagi," jawab Senja. Ia berusaha tersenyum, meski perasaannya sangat kacau.
"Hatiku yang masih sakit, Kak. Aku telah kehilangan sesuatu yang berharga, yang seharusnya kujaga dan kupersembahkan untukmu," ucap Senja dalam hatinya.
"Maafkan aku, Sayang. Seharusnya aku bisa mengendalikan emosiku. Ayo duduk di sana!" ajak Fajar. Ia membimbing Senja dan mengajaknya melangkah mendekati ranjang.
Senja menurut dan mengikuti kemauan Fajar. Kini, mereka duduk berhadapan di atas ranjang.
"Sayang, maafkan aku yang selama ini tidak jujur padamu. Sekarang, aku akan mengatakan semuanya. Tanyakan apa saja yang ingin kau tahu tentang diriku, aku akan menjawabnya. Aku tidak akan menyembunyikan apapun lagi," kata Fajar dengan serius.
Jantung Senja berdetak cepat dan rasa sesak kembali menyeruak dalam dadanya. Fajar akan berbicara jujur padanya, sudah siapkah ia menerima kenyataan yang terlampau pahit? Mengapa baru sekarang Fajar mengatakannya dengan jujur? Mengapa tidak kemarin? Andai saja kemarin ia tahu kebenarannya, mungkin ia tidak akan kehilangan kesuciannya.
"Apa yang ingin kau katakan, Kak?" tanya Senja dengan pelan.
"Kau ingat Arrion? Seseorang yang dulu pernah kau telfon dan yang kemarin bertemu denganmu. Sebenarnya dia adalah dokter dan aku adalah pasiennya. Kepergianku ke Singapura untuk menemui dia. Aku pergi untuk berobat, Sayang." Fajar memulai pembicaraan sambil menunduk.
__ADS_1
Senja tersentak, ternyata Fajar benar-benar sakit. Sakit apa gerangan, mengapa sampai tidak berani menyentuhnya? Sekarang bagaimana keadaannya? Mengapa selama ini terlihat baik-baik saja?
"Kau sakit, Kak. Boleh aku tahu kau sakit apa?" tanya Senja dengan gemetaran. Jantungnya makin berdetak cepat dan matanya pun mulai berkaca-kaca.
"Aku menderita HIV AIDS, dan aku terlambat menyadari penyakit ini. Sekarang aku sudah berada di stadium akhir, aku tidak tahu berapa lama lagi aku bisa bertahan. Itu alasannya kenapa aku tidak pernah menyentuhmu, aku tidak ingin menularkan penyakit ini padamu, Sayang," jawab Fajar sambil menggigit bibirnya.
"Jika semua ini membuat kamu pergi, aku siap menerimanya, Sayang. Aku memang terlalu hina untuk kamu yang begitu mulia," batin Fajar.
Senja menutup mulutnya dengan kedua tangan. Lalu ia menghambur ke dalam pelukan Fajar. Buliran demi buliran bening mulai berderaian membasahi pipinya. Kenyataan ini sangatlah pahit, terlebih lagi saat mengingat keadaan dirinya sekarang.
"Kenapa kamu tidak mengatakan semua ini dari awal, Kak? Kenapa baru sekarang?" tanya Senja di sela-sela tangisnya.
"Aku takut, Sayang, penyakit ini adalah aib bagiku. Aku takut kamu akan meninggalkan aku dan tidak bisa menerima keadaanku. Kau tahu 'kan, darimana HIV itu bisa didapatkan." jawab Fajar. Ia memeluk tubuh Senja dan membiarkan wanita itu menumpahkan tangis di dadanya.
"Tapi seharusnya kau jujur, Kak, dengan begitu aku bisa mengerti dan tidak salah paham denganmu." Senja berucap sambil memegangi dadanya.
"Kau tahu, Kak, kesalah pahamanku berakibat fatal," ucap Senja dalam hatinya.
"Maafkan aku, Sayang." Lagi-lagi hanya kata maaf yang Fajar ucapkan. Ia memeluk Senja lebih erat dan membiarkannya larut dalam tangisan.
Setelah beberapa menit berlalu, Senja melepaskan pelukan Fajar. Ia menyeka air matanya dan menatap suaminya lekat-lekat.
"Kak,"" panggil Senja.
"Tanyakan apa yang ingin kamu tanyakan. Katakan apa pun yang ingin kamu katakan," jawab Fajar sambil mengusap sisa-sisa air mata Senja.
"Benarkah kau sudah stadium akhir, Kak?" tanya Senja.
"Iya." Fajar mengangguk.
"Sejak kapan kau menderita penyakit itu?" tanya Senja.
"Sejak beberapa tahun yang lalu, sewaktu aku masih menjalin hubungan dengan Adara. Tapi aku terlambat menyadarinya. Pusing, lelah, dan demam yang sering aku alami, aku fikir itu karena terlalu capek bekerja. Tapi ternyata itu adalah gejala dari penyakit ini," terang Fajar.
"Kau mendapatkannya dari Adara?"
__ADS_1
"Iya."
"Lalu bagaimana keadaan dia sekarang?" tanya Senja.
"Dia sudah meninggal, satu setengah tahun yang lalu. Dia meninggal tepat pada hari pernikahan kita," jawab Fajar.
"Apa!"
"Awalnya ada yang mengabariku kalau dia meninggal karena sakit. Aku tak menghiraukannya, karena bagiku dia hanyalah masa lalu. Sedangkan hari itu adalah hari bahagiaku bersamamu. Namun, keesokan harinya Arrion mengabariku, jika Adara meninggal karena HIV. Adara adalah salah satu pasiennya, dan ia tahu kalau aku pernah punya hubungan dengan Adara. Lalu aku pergi ke sana untuk memeriksakan kondisiku pada Arrion. Ternyata aku positif, bahkan penyakit itu sudah lama menggerogoti tubuhku," kata Fajar dengan panjang lebar.
"Darimana Adara mendapatkan penyakit itu?"
"Dia memainkan trik kotor saat merintis kariernya. Dia menukarkan kesuksesan dengan tubuhnya. Bodohnya aku tidak menyadari hal itu, malah sering menghabiskan malam bersamanya. Aku benar-benar hina, Sayang, aku tidak pernah memikirkan dosa dan karma. Sebenarnya aku tidak pantas bersanding denganmu yang begitu sempurna," ucap Fajar dengan mata yang menatap lekat.
"Jangan berkata seperti itu, Kak, aku tidak sesempurna yang kamu bayangkan. Aku juga punya kesalahan dan kekhilafan," kata Senja.
"Aku tidur dengan lelaki lain, padahal masih sah menjadi istrimu. Aku juga hina, Kak, aku tidak jauh beda dengan dirimu," ucap Senja dalam hatinya.
"Kak," panggil Senja.
"Hmmm."
"Kenapa kamu tidak pernah menyentuhku? Dengan menggunakan alat kontrasepsi, bukankah itu aman?" tanya Senja.
"Tidak, Sayang." Fajar menggeleng.
"Arrion berkata padaku, virus HIV itu sangat kecil, bahkan jauh lebih kecil daripada pori-pori yang ada dalam alat kontrasepsi. Memang kemungkinan tertular itu sangat kecil, hanya 10-20%, tapi ... aku tidak mau mengambil resiko, Sayang. Aku yang tidak bisa membatasi pergaulanku, jadi karma ini cukup aku saja yang menanggungnya. Aku tidak ingin melibatkan kamu. Aku sangat mencintaimu, aku tidak mau merusak masa depanmu," sambung Fajar sambil menangkup kedua pipi Senja.
Senja terdiam. Ia tak bisa berkata apa-apa. Hanya air mata saja yang terus menetes tanpa jeda.
"Selama ini aku juga tidak berani menciummu. Bukan karena apa-apa, tapi karena aku takut tidak bisa mengendalikan diriku sendiri," ucap Fajar karena Senja masih saja terdiam.
"Sayang, aku sudah mengatakan semuanya. Sekarang keputusan ada di tangan kamu. Jika kamu ingin pergi, aku ikhlas, aku mengerti. Aku mencintaimu, aku akan bahagia selama kamu bahagia. Aku tidak ingin mengekang kamu dalam ikatan yang membuatmu terluka. Maafkan keegoisanku selama ini," ucap Fajar dengan manik mata yang penuh luka.
Bersambung...
__ADS_1