Kesucian Cinta Yang Ternoda

Kesucian Cinta Yang Ternoda
Kedatangan Bu Rani


__ADS_3

"Aya kau masih ada di sana?" tanya Ken.


"Aku mengantuk Ken." jawab Senja.


"Ya sudah tidurlah, semoga kita bisa bertemu dalam waktu dekat." ucap Ken.


"Ken aku sudah menikah, jangan mengharap yang lebih. Jalan hidup kita sudah berbeda, carilah kebahagian untuk masa depanmu, jangan terus terbelenggu dengan masa lalumu." kata Senja sambil menghela nafas panjang.


"Apa kau sudah benar-benar melupakan kenangan kita Aya, sebesar itukah perasaanmu untuk suamimu?"


"Iya, aku sudah melupakan kamu, karena yang kucintai adalah suamiku. Jadi berhenti menggangguku." jawab Senja.


"Tapi aku merasa hubungan kalian tidak semudah itu, aku malah berfikir kalian hanya sedang mencari pelarian." ucap Ken dengan santainya.


"Fajar masih memiliki hubungan dengan Adara, dan aku yakin kau cukup memikirkan hal itu Aya." ucap Ken dalam hatinya.


"Jangan sembarangan berbicara Ken! Aku dan Kak Fajar saling mencintai!" bentak Senja.


"Aku tidak percaya jika belum ada buktinya Aya." jawab Ken.


"Apa maksudmu?" tanya Senja masih dengan nada yang tinggi.


"Sudahlah lupakan saja, akan aku tutup telfonnya. Selamat malam, dan selamat tidur Aya, semoga kau bermimpi indah." kata Ken, dan kemudian langsung menutup sambungan telefonnya.


Senja meletakkan ponselnya sambil mendengus kesal. Seolah ucapan Ken seperti meremehkan pernikahannya.


"Kamu belum tidur sayang?" tanya Fajar yang tiba-tiba sudah berada di belakang Senja. Entah sejak kapan dia membuka pintu kamarnya, Senja sama sekali tak mendengarnya.


"Be...belum Kak, aku masih menunggumu." jawab Senja dengan sedikit gugup.


"Semoga Kak Fajar tidak mendengarku berbicara dengan Ken." batin Senja seraya beranjak dari duduknya, dan mendekati Fajar.


"Maaf aku pulang sedikit terlambat, tadi aku dan Papa membahas tentang pekerjaan cukup lama." ucap Fajar sambil menyeka keringat yang membasahi keningnya.


"Tidak apa-apa, apa ada masalah di kantor?" tanya Senja sambil menatap Fajar.


"Sedikit, dan itu membuatku sedikit pusing." jawab Fajar sambil memijit pelipisnya.


"Masalah apa Kak?" tanya Senja.


"Sepele tapi cukup rumit. Sudahlah lupakan saja, ayo istirahat!" ajak Fajar sambil melangkah mendekati ranjang.


"Kak Fajar terlihat sangat lelah, ada masalah apa sebenarnya?" ucap Senja dalam hatinya.


Lalu ia mengikuti langkah Fajar, dan ikut naik ke atas ranjang.


"Sayang!" panggil Fajar sambil membaringkan tubuhnya.


"Iya Kak." jawab Senja sambil menoleh.


"Tolong matikan AC, ini terlalu dingin." ucap Fajar.

__ADS_1


"Dingin? Tapi kau berkeringat Kak." kata Senja sambil menyentuh kening Fajar, "keningmu panas, kau demam Kak?" sambung Senja.


"Tidak, aku hanya sedikit lelah. Ayo kita istirahat!" jawab Fajar sambil menggeleng.


"Kau yakin tidak apa-apa? Seharusnya kau minum obat, atau kita pergi ke dokter saja." kata Senja.


"Tidak usah, aku tidak apa-apa. Sayang ayo tidur, ini sudah larut!" ucap Fajar sambil tersenyum.


"Baiklah!" jawab Senja sambil mengangguk.


Lalu ia mematikan AC, dan kemudian merebahkan tubuhnya di samping Fajar. Mereka tidur di bawah selimut yang sama.


"Sayang aku dingin." ucap Fajar sambil merengkuh pinggang Senja dengan sangat erat.


Tubuh mereka saling merapat, bahkan Senja dapat merasakan deru nafas Fajar yang menghangat di wajahnya.


"Kita ke dokter saja ya Kak." kata Senja.


"Tidak usah, seperti ini saja." jawab Fajar sambil memejamkan matanya.


"Baiklah, tapi jika besok kamu belum baikan, kita pergi ke dokter ya." ucap Senja.


"Iya." jawab Fajar.


"Serumit apa sih Kak masalah yang ada di kantor, sampai kamu sakit begini memikirkannya." ucap Senja dalam hatinya.


Ia menatap wajah Fajar yang berada tepat di depan wajahnya.


***


Senja menggeliat pelan saat mendengar bunyi alarm yang cukup nyaring. Ia membuka matanya, dan kemudian bangkit dari tidurnya. Ia menoleh ke samping, Fajar sudah tidak ada di sana. Senja mengernyit heran, kemana suaminya pergi? Ia menatap pintu kamar mandi yang sedikit terbuka, sepertinya Fajar tidak pergi ke kamar mandi.


"Kemana Kak Fajar?" gumam Senja sambil menguap.


Lalu ia turun dari ranjang, dan melangkah menuju ke kamar mandi.


Setelah selesai mencuci muka, Senja keluar dari kamar mandi. Ia mematikan alarmnya. Lalu ia menyisir rambutnya, dan menguncirnya tinggi-tinggi. Kemudian Senja melangkah keluar kamar.


"Kak Fajar! Kak!" teriak Senja sambil menutup pintu kamarnya.


"Kamu dimana Kak?" Senja kembali berteriak karena belum ada jawaban dari Fajar.


"Aku di sini sayang." sahut Fajar dari ruangan dapur.


Senja mempercepat langkahnya, dan kemudian menuju ke ruangan dapur. Dilihatnya Fajar sedang menyeduh secangkir kopi hitam, dan segelas coklat panas. Di atas kompor sudah ada panci yang berasap, rupanya Fajar sudah memasak.


"Kamu masak Kak?" tanya Senja sambil berdiri tepat di hadapan Fajar.


"Iya, aku memasak sup iga asam pedas." jawab Fajar sambil tersenyum lebar.


Senja tertegun, ia menilik wajah suaminya. Semalam Fajar demam, tetapi sekarang ia terlihat sangat bugar.

__ADS_1


"Sayang kamu kenapa?" tanya Fajar sambil memegang bahu Senja.


"Kamu masak, apa kamu sudah sembuh Kak?" tanya Senja.


"Sudah."


"Kamu yakin?"


"Iya, cek sendiri kalau tidak percaya." ucap Fajar sambil menggenggam tangan Senja, dan menuntunnya untuk menyentuh keningnya.


"Tidak panas kan?" kata Fajar.


"Iya, kenapa bisa sembuh secepat itu?" tanya Senja sambil menggaruk kepalanya.


"Kau berharap aku sakit dalam waktu yang lama sayang?" goda Fajar sambil tertawa.


"Bukan, tidak seperti itu maksudku." jawab Senja dengan cepat.


"Lalu?" tanya Fajar sambil menaikkan alisnya.


"Aneh saja, kau belum minum obat tapi sudah sembuh." jawab Senja.


"Memelukmu itu adalah obatnya." ucap Fajar sambil tersenyum.


Lalu ia membawa minumannya ke meja makan.


"Berani menggoda tapi tidak berani menyentuh!" gerutu Senja dengan pelan. Lalu ia membantu Fajar untuk menyiapkan sarapannya.


Disaat mereka sedang sibuk menyiapkan sarapan, tiba-tiba Bu Rani datang ke apartemen. Beliau langsung masuk, dan melangkah mendekati mereka. Raut wajahnya terlihat sangat kesal, sepertinya suasana hatinya sedang buruk.


"Mama!" panggil Fajar sedikit terkejut. Ia terlihat salah tingkah saat menatap kehadiran Ibunya.


"Selamat pagi Ma!" sapa Senja sambil tersenyum, ia selalu berusaha untuk bersikap baik di hadapan mertuanya.


"Pagi." jawab Bu Rani dengan cepat. Beliau menatap Senja dari ujung kaki hingga ke ujung kepala.


"Kenapa Ma?" tanya Senja yang merasa risih, karena ditatap dengan intens.


"Tidak apa-apa, aku kesini hanya untuk membicarakan hal yang serius denganmu. Ini tentang Fajar!" kata Bu Rani sambil melipat tangannya di dada.


"Tidak Ma, jangan katakan apapun pada Senja! Kita sudah membicarakannya tadi malam, tidak perlu dibahas lagi!" sahut Fajar dengan nada yang sedikit tinggi.


"Kau takut dengan istrimu?"


"Aku mencintainya Ma, tolong jangan ikut campur dengan rumah tanggaku!" teriak Fajar.


Senja menoleh, dan menatap suaminya yang sedang emosi. Nafasnya memburu, dan dadanya terlihat naik turun menahan amarah. Tangannya mengepal erat, dan keningnya telah dibasahi keringat.


"Ada apa ini?" batin Senja dalam hatinya.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2