Kesucian Cinta Yang Ternoda

Kesucian Cinta Yang Ternoda
Aku Tidak Bisa


__ADS_3

"Ken!" panggil Sella.


"Iya." jawab Ken sambil menatap Sella.


"Jadi bagaimana?" tanya Sella.


"Apanya?"


"Ken aku sudah mengatakan tentang perasaanku, lalu apa jawaban kamu? Kamu tidak mungkin mengecewakan aku kan Ken?" tanya Sella sambil menyentuh lengan Ken.


"Kamu yakin ingin tahu apa jawabanku?"


"Tentu saja." jawab Sella sambil tersenyum.


"Aku cantik, dan aku juga wanita karier. Dibandingkan dengan Senja yang sudah menjadi janda, aku jauh lebih segalanya. Ken tidak mungkin menolakku." batin Sella dalam hatinya.


"Sebenarnya aku menganggap kamu tidak lebih dari teman Sella. Aku tidak bisa membalas perasaan kamu, maaf!" kata Ken dengan santainya.


"Apa!" teriak Sella sambil mengernyitkan keningnya. Ken menolaknya, sungguh ia tak pernah membayangkan, jika akan seperti ini jawaban Ken.


"Kau bercanda kan Ken?" tanya Sella sambil menatap Ken lekat-lekat.


"Aku serius Sella." jawab Ken.


"Tapi kenapa? Aku kurang apa Ken, aku cukup cantik, dan aku juga pintar. Dan aku juga terlahir ditengah keluarga yang terhormat, aku sederajat dengan kamu." kata Sella dengan tegas. Ia sengaja menyebutkan keluarganya demi merendahkan Senja.


"Kenapa apanya, aku memang tidak memiliki perasaan khusus untukmu. Kamu tidak kurang apa-apa, tapi soal cinta, itu datang dengan sendirinya, aku tidak bisa memilih kemana hatiku akan berlabuh. Kau tahu Sella, cinta sejati itu adalah cinta yang datangnya dengan perlahan, dan tanpa alasan." ucap Ken menjelaskan. Ia menekankan kata 'tanpa alasan', karena ia tahu kemana arah perkataan Sella.


Ken tidak akan pernah membiarkan siapa pun merendahkan Senja.


"Tapi bukan berarti kamu langsung menolakku seperti ini dong Ken, kamu bisa belajar mencintaiku. Kita menjalin hubungan, kita saling memberikan rasa nyaman, aku yakin lama-lama kamu akan mencintaiku." kata Sella masih tidak menyerah.


"Kalau akhirnya aku tidak bisa mencintaimu, bukankah itu malah melukaimu Sella." ucap Ken.


"Kamu bisa, kamu pasti bisa Ken." sahut Sella dengan cepat.


"Kenapa kamu bisa seyakin itu?" tanya Ken.


"Kita sama-sama sendiri, tidak akan sulit untuk belajar mencintai. Ken, aku benar-benar mencintai kamu, tolong kamu jangan patahkan hatiku ya." jawab Sella sambil menggenggam tangan Ken dengan erat.


"Aku tidak bisa Sella." jawab Ken sambil menarik tangannya.

__ADS_1


"Kenapa?"


"Aku memang sendiri, tapi hatiku sudah mencintai wanita lain. Aku tidak bisa berpaling darinya." jawab Ken.


"Mana mungkin aku berpaling, dia saja sudah memberikan aku kesempatan. Dan aku pasti akan memenangkan hatinya, aku akan menjadi lelaki yang paling beruntung, karena bisa memilikinya." batin Ken dalam hatinya.


"Apa wanita itu adalah Senja?" tanya Sella sambil memicingkan matanya.


"Kau benar." jawab Ken sambil tersenyum. Sebuah senyuman yang menurut Sella sangat menyebalkan.


"Apa yang kau lihat darinya Ken, dia sudah janda, dia sudah bekas orang. Dan sebentar lagi dia punya anak, kau yakin mau menghidupi anak orang Ken?" tanya Sella sambil tersenyum remeh.


Sella melipat tangannya di dada, lagi-lagi masih Senja yang menjadi penghalangnya.


"Dasar wanita sialan!" gerutu Sella dalam hatinya.


"Dia bekasku, dan dia juga hamil anakku. Bukankah itu sesuatu yang sangat bagus, ahh sayang sekali kau tidak mengetahui hal itu Sella." batin Ken sambil tersenyum miring.


"Cinta tidak memandang status Sella, aku tulus mencintainya, aku tidak peduli dia janda, atau bukan. Dan soal anak, kalau aku mencintai ibunya, aku pasti juga mencintai anaknya." ucap Ken dengan santainya.


"Dia anak kandungku, mana mungkin aku tidak mencintainya." batin Ken sambil menaikkan alisnya.


"Kamu benar-benar telah dibutakan olehnya Ken, dia sudah meninggalkan kamu, dia menikah dengan orang lain, dia itu tidak setia Ken. Dia..."


"Ahh sial!" gerutu Sella sambil menghentakkan kakinya. Tangannya memukuli udara kosong yang ada di hadapannya.


"Tapi aku tidak akan menyerah, aku sudah melangkah sejauh ini, jadi aku tidak akan mundur lagi.


Ken, apapun caranya kau harus menjadi milikku!" ucap Sella sambil memainkan ujung rambutnya.


***


Gemerlap bintang yang berkedip di langit tinggi, berpadu dengan indahnya sinar rembulan yang sedang purnama.


Kelap-kelip lampu kota, terus berpendar menemani sang malam yang kian larut.


Seorang lelaki sedang duduk sendiri di bangku taman, menikmati dinginnya angin malam yang menerpa tubuhnya.


Dia adalah Dika, lelaki yang sedang meratapi kekecewaan, karena gagal dalam cinta. Cahaya Senja, wanita yang sudah lama dia cintai, namun tak pernah sedetikpun berhasil ia miliki. Dulu Ken, setelah itu Fajar, dan sekarang ia lebih memilih kesendirian, daripada menjalin hubungan bersamanya.


"Seburuk itukah aku di matamu Senja, sampai-sampai kau tak pernah mau mempertimbangkan aku." ucap Dika sambil menghembuskan nafasnya dengan kasar.

__ADS_1


Tak lama kemudian, Dika merasakan udara malam semakin dingin, dan menusuk tulang. Dika memutuskan untuk pergi ke klubnya Alvin.


"Dengan sedikit alkohol mungkin aku bisa melupakan kamu Senja." kata Dika sambil beranjak dari duduknya.


Dika mulai melangkahkan kakinya dengan malas. Ia meninggalkan bangku taman, dan berjalan mendekati mobilnya. Tanpa sengaja mata Dika menatap kaleng bekas minuman yang tergeletak di atas rerumputan. Demi memuaskan hatinya yang sedang kesal, Dika menendang kaleng bekas itu hingga terlempar jauh.


"Aww...!" teriak seorang wanita yang sedang berdiri tidak jauh dari tempatnya Dika.


Dika mengernyitkan keningnya, lalu ia menoleh, dan menatap wanita yang sedang meringis sambil memegangi keningnya.


Kemudian Dika melangkah mendekati wanita itu.


"Kenapa Mbak?" tanya Dika sambil menatap wanita itu.


"Ada yang melemparkan sesuatu, dan mengenai keningku. Sakit!" jawab wanita itu sambil mengusap-usap keningnya yang memerah.


"Oh My God, itu kan kaleng yang kutendang tadi." batin Dika sambil menatap kaleng bekas yang berada di dekat kakinya.


"Serius Mbak, kok ada ya orang iseng begitu." ucap Dika sambil menyembunyikan senyumannya.


"Entahlah, orang patah hati mungkin!" sahut wanita itu dengan kesal.


"Ahh sial, mulutnya sangat pedas." gerutu Dika dalam hatinya.


"Yang sabar ya Mbak, oh ya kamu mau kemana Mbak? Ini sudah malam." tanya Dika sambil menatap wanita yang berdiri di hadapannya. Ia tampak kerepotan membawa beberapa kantong belanjaan.


"Saya mau pulang, tapi taxi yang kupesan tidak datang-datang." jawab wanita itu.


"Rumah Mbak dimana, biar saya antar. Bahaya kalau seorang wanita jalan sendiri malam-malam." ucap Dika.


"Tidak usah Om, saya bisa sendiri. Kebetulan rumah saya tidak jauh dari sini. Jalan sendiri memang berbahaya, tapi ikut orang yang belum kenal, itu jauh lebih berbahaya Om." jawab wanita itu dengan santainya.


"Om dia bilang, benar-benar mulut cabai!" gerutu Dika dalam hatinya.


Dika menatap wanita itu, atau mungkin lebih tepatnya gadis itu. Dari raut wajahnya, umur gadis itu mungkin sekitar 20 tahunan. Wajahnya putih, dan rambutnya lurus sebahu. Dia tidak cantik, tapi cukup manis, membuat pasang mata ingin berlama-lama menatapnya.


"Saya permisi Om!" kata gadis itu sambil melangkah pergi meninggalkan Dika.


"Serius tidak mau diantar?" tanya Dika.


"Tidak, saya takut dengan Om!" jawab gadis itu tanpa menoleh. Ia terus mempercepat langkahnya, dan pergi meninggalkan Dika yang masih mematung di tempatnya.

__ADS_1


"Dasar gadis menyebalkan! Dipikir aku penjahat apa, santai sekali bilang takut. Panggil aku Om lagi, memangnya aku setua itu ya. Mentang-mentang masih muda, asal kamu tahu ya dulu aku juga pernah muda. Tapi sekarang aku juga masih muda, ahh entahlah pusing memikirkan gadis yang tidak jelas!" gerutu Dika sambil berjalan mendekati mobilnya.


Bersambung.....


__ADS_2