
Badan Sella gemetaran, sekarang ia dapat memahami apa yang sebenarnya terjadi, hidupnya akan tamat detik ini juga.
Dalam ponsel itu, terdengar jelas suara dirinya ketika bertengkar dengan Ken, beberapa waktu lalu. Rupanya lelaki itu sangat cerdik, ia merekam semuanya, dan memberikannya pada Nyonya Carolyna. Sikapnya yang terlihat tenang, ternyata sangat menghanyutkan. Dan Sella, kini ia terperangkap dalam jebakannya. Ia menjadi istri dari lelaki tua, yang tak punya apa-apa.
"Puas! Sekarang sudah sadar dengan kedunguan kamu, hah!" Bentak Pak Jhon.
"Aku...aku..."
"Diam! Kau tahu, gara-gara kamu, Carolyna menuntut cerai, dan sekarang aku menjadi orang miskin. Aku sangat menyesal, mengenal wanita bodoh seperti kamu!" Teriak Pak Jhon.
Sella tak menjawab, bibirnya bergetar, dan matanya mulai berkaca-kaca. Bagaimana nasibnya? Bagaimana nasib keluarganya? Jika Pak Jhon keluar tanpa membawa harta, otomatis yang menguasai hartanya adalah Nyonya Carolyna.
Dan ternyata, selama ini dia tahu tentang skandalnya. Mungkinkah dia masih mau menjadi investor di perusahaan ayahnya?
"Aku bingung, kenapa kau mendatanginya. Kau hendak menyombongkan diri, tapi sebenarnya kau hanya menggali lubang untuk dirimu sendiri." Kata Pak Jhon dengan nafas yang memburu.
"Kau memang bodoh! Sangat bodoh!" Bentak Pak Jhon tepat di depan wajah Sella.
Sella menunduk, air matanya tumpah seketika. Apa yang harus ia lakukan? Mampukah ia hidup dalam kemiskinan, bersama pria tua, yang sama sekali tidak dicintainya.
"Bereskan itu! Tata di dalam kamar! Katamu kau merasa nyaman bersamaku, jadi kau harus bersikap seperti istri yang baik!" kata Pak Jhon sambil melangkah pergi meninggalkan Sella. Beliau membanting pintu ruang tamu dengan sangat keras.
Sella terjatuh lunglai di lantai, air matanya berderaian membasahi kedua pipinya. Sella menatap setiap jengkal ruangan dengan nanar. Meja dan kursi yang sudah reot, bingkai pintu dan jendela yang sudah keropos, serta cat tembok yang banyak mengelupas.
"Kenapa hidupku berakhir seperti ini, Mama, Papa tolong aku," ucap Sella disela-sela tangisannya.
Ia kini sendirian, hanya bersama suami tua yang sikapnya berubah kasar. Orang tuanya sudah kembali ke Kota Surabaya, entah bagaimana nasib mereka. Tanpa investasi dari perusahaan Delmond, perusahaan ayahnya berada diambang kebangkrutan.
Lalu Sella teringat dengan amplop coklat, yang tadi diberikan oleh Nyonya Carolyna kepadanya. Apa isinya?
Dengan cepat Sella membuka tas selempangnya, ia mengambil amplop coklat itu, dan mulai membukanya.
Sella mengambil lembar demi lembar isi dalam amplop itu. Dan ia tersentak kaget, matanya membelalak lebar, tatkala menatap foto yang sekarang ada dalam genggamannya. Dalam foto itu terlukis jelas, gambar dirinya bersama Pak Jhon yang sedang melakukan hal intim, hanya selimut tipis yang menutupi setengah tubuh mereka. Tangan Sella gemetaran, kala membaca tulisan yang ada di balik gambar.
"Koleksiku cukup banyak, jadi pandai-pandailah menjaga sikap." Sella membaca tulisan itu dengan
pelan.
Tangisnya kini semakin pecah, ia tak menyangka jika dirinya akan terjatuh ke dalam lubang yang sedalam ini. Ken benar-benar orang yang sangat berbahaya.
Lalu Sella mengambil lipatan kertas, yang berada di antara foto-foto itu. Sella membukanya, dan mulai membacanya.
"Aku sudah menepati janjiku Sella Marvellina, aku sudah memberimu hadiah, sebuah rumah lengkap dengan isinya. Aku harap kamu menyukainya. Waktu itu aku tidak mengatakan kalau rumahnya besar, dan mewah, jadi aku tidak salah, kan?
Dan untuk villa, aku juga tidak berbohong. Aku memang bekerjasama membangun villa untuk hadiah pernikahan, tapi bukan pernikahanmu dengan Mas Jhon, melainkan pernikahan Ken dan Senja. Kamu masih ingat kan, kalau kemarin aku hanya mengatakan untuk hadiah pernikahan, aku tidak pernah mengatakan jika itu untukmu. Jadi aku masih dalam posisi yang benar, kan?"
Sella menggeram kesal, ia merasa dipermainkan. Lalu Sella memegangi kepalanya, rasanya sangat sakit dan pening.
Setelah merasa lebih tenang, Sella mengambil lembaran terakhir dari dalam amplop itu. Sebuah foto yang ukurannya sedikit lebih besar. Hati Sella teriris lebih sakit, kala menatap foto yang terakhir. Sebuah foto villa yang berada di kawasan puncak, bangunannya terlihat mewah dan elegan. Halamannya dipenuhi bunga-bunga indah, dan dilengkapi dengan ayunan.
__ADS_1
Namun bukan bentuk bangunannya yang membuat hati Sella sakit, melainkan tulisan yang ada di bagian depannya. Villa Sandhya.
"Kau benar-benar tidak punya hati, Ken! Aku seperti ini karena mencintai kamu, tapi kamu malah sangat memuja kekasihmu. Aku tidak akan pernah rela kamu dan Seja bahagia, Ken!" teriak Sella sambil menangis meraung-raung.
Sella merasa sangat hancur, harapan untuk masa depannya, kini telah tiada.
Disaat Sella masih menangis, meratapi nasibnya yang malang, tiba-tiba pintu ruang tamu dibuka dengan kasar. Pak Jhon datang sambil menenteng kantong plastik, yang entah apa isinya.
Pak Jhon murka, ketika melihat Sella menangis tersedu-sedu.
"Apa yang kau lakukan, hah?" bentak Pak Jhon sambil duduk di hadapan Sella.
Sella diam, ia tak menjawab sepatah katapun, hanya tangisnya yang terdengar semakin pilu.
"Semua ini karena ulahmu sendiri, tidak perlu kau tangisi. Seharusnya kamu bersyukur, karena aku mau menikahimu. Buka matamu lebar-lebar, dan lihat ini!" teriak Pak Jhon sambil menunjukkan kantong plastik yang dibawanya.
"Aku masih memikirkan kamu, aku membelikan makanan untuk mengisi perutmu. Aku masih mau peduli, meskipun aku tahu niat busukmu!" bentak Pak Jhon, seraya melemparkan makanan itu ke atas meja
"Sekarang jadilah istri yang baik, layani aku seperti biasanya. Aku sudah tidak punya harta, dan satu-satunya hal yang bisa membuatku bahagia, adalah kamu. Sekarang aku adalah suamimu, aku bebas menyentuhmu, kapanpun yang aku mau," ucap Pak Jhon sambil membelai wajah Sella.
Sella memalingkan wajahnya, berusaha menghindari sentuhan jemari Pak Jhon. Sella berusaha beringsut, kala nafas Pak Jhon mulai menghangat di wajahnya.
Jika biasanya ia rela melakukan hal itu, karena imbalannya adalah setumpuk uang. Namun kini, apa yang akan ia dapat, lelaki itu sudah tidak punya apa-apa.
"Jangan pernah menolakku!" bentak Pak Jhon, sambil mencengkeram lengan Sella dengan erat.
"Sakit, Om." Ucap Sella.
Sella memejamkan matanya, hancur sudah hidupnya. Ia tahu seperti apa Pak Jhon, dia adalah lelaki yang sangat menyukai hal intim, meskipun usianya sudah menua. Dan Sella, mulai detik ini ia akan hidup bersamanya. Ah mampukah kiranya dia?
***
Jarum jam menunjukkan angka 12.00 malam. Ken dan Senja baru saja masuk ke dalam kamarnya. Keduanya terlihat lelah, karena menyambut ratusan tamu yang hadir di acara pernikahannya.
Senja duduk di tepi ranjang, ia melepaskan high hells yang sejak tadi siang membungkus jamari kakinya.
"Aduh!" ucap Senja sambil meringis sakit.
"Kenapa sayang?" tanya Ken sembari melangkah mendekati Senja.
"Lecet sedikit." Jawab Senja.
"Seharusnya tidak usah pakai high hells," ucap Ken sambil melangkah menuju meja. Ia membuka lacinya, dan mengambil salep yang ia simpan di sana.
"Terus pakai apa Ken? Masa iya pakai sandal jepit."
"Kalau itu bisa membuatmu nyaman, kenapa tidak. Lagipula gaunnya panjang, tidak akan kelihatan sandal apa yang kamu pakai," kata Ken sambil meraih kaki Senja, dan mengolesi lukanya dengan salep.
"Tapi terkadang gaunnya kuangkat Ken, kalau pas itu ada yang melihat, jadi bahan tertawaan aku. Kamu aneh deh." Ucap Senja dengan tawa yang renyah.
__ADS_1
Ken menghentikan usapannya, ia menoleh, menatap sang pujaan hati yang sedang tertawa. Lesung pipit, dan gigi gingsul miliknya terlihat sangat jelas. Ken menatapnya tanpa kedip, di dalam kamar berdua, dengan status sebagai suami istri yang sah, ah rasa panas mulai menjalar di seluruh tubuh Ken.
"Ken!" Panggil Senja, ia merasa sedikit gugup dengan tatapan Ken.
Ken tidak menjawab, namun ia beringsut, dan merapatkan duduknya dengan Senja.
Perlahan Ken mulai mendekatkan wajahnya, dan ia meraih pinggang Senja dengan tangan kirinya.
"Kau sangat cantik, Aya!" ucap Ken sambil membelai wajah Senja dengan jemarinya.
Senja tidak menjawab, ia sedikit menunduk, menyembunyikan wahahnya yang mulai merona.
"Aku merindukanmu sayang, sangat merindukanmu," bisik Ken, jemarinya menyentuh ujung bibir Senja dengan lembut.
Senja memejamkan matanya, merasakan sentuhan hangat Ken yang kini turun ke lehernya. Sentuhan itu lama semakin turun, menyiratkan desiran aneh dalam diri Senja, dan membuatnya lupa dengan kegugupan yang sempat ia rasakan.
"Apa kau menyukainya, sayang?" tanya Ken masih dengan bisikan.
Tubuh Senja semakin panas, kala merasakan nafas Ken yang menghangat di wajahnya. Perlahan ia membuka matanya, dan menatap sosok tampan milik suaminya. Senja mengangkat tangannya, dan mengusap rahang Ken dengan lembut, tak lupa ia juga mengulas senyuman manis di bibir merahnya.
"Aku selalu menyukai apapun yang ada dalam dirimu, sayang." Bisik Senja.
"Apa kau sedang menggodaku, Aya?" tanya Ken.
"Tidak. Aku hanya menjawab pertanyaanmu, apa itu membuatmu tergoda, Ken?" Senja balik bertanya, dengan senyuman yang terulas semakin lebar.
"Iya, aku sangat tergoda," jawab Ken sambil mengeratkan rengkuhannya.
"Lalu?"
"Kau menantangku, Aya?"
"Tidak, aku hanya bertanya," jawab Senja sambil tertawa renyah, dan hal itu membuat hasrat Ken semakin menggebu.
"Begitukah?"
"Iya."
"Lalu, apa sekarang aku boleh bertanya padamu?"
"Silakan saja!"
"Apa aku boleh menyentuhmu, Aya?" bisik Ken tepat di wajah Senja.
Senja tidak menjawab, namun ia langsung mengalungkan tangannya di leher Ken, dan menarik Ken ke dalam pelukannya.
"Aku milikmu, masihkah kau menayakan hal itu, Ken?" bisik Senja tepat di telinga Ken.
Ken memejamkan matanya, hanya sekadar kata-kata, namun berhasil membuatnya tergoda.
__ADS_1
"Kau sangat nakal, sayang," ucap Ken sambil mendorong tubuh Senja, dan membaringkannya di atas ranjang.
Bersambung...