Kesucian Cinta Yang Ternoda

Kesucian Cinta Yang Ternoda
Peresmian Villa


__ADS_3

Di bawah selimut tebal yang hangat, Senja meringkuk, menenggelamkan dirinya dalam dunia mimpi. Rambut panjangnya berantakan, menutupi sebagian wajahnya. Kedua bahunya bergerak naik turun, mengikuti irama nafasnya yang teratur.


Kenzo Antonio Putra, lelaki yang kini sah menjadi suaminya. Ia duduk di tepi ranjang, sambil menatap lekat wajah sang istri yang masih terlena. Perlahan Ken menarik ujung bibirnya, hingga membentuk sebuah senyuman. Ia telah berhasil menggapai mimpi terbesar dalam hidupnya, kedepannya, ia akan merajut asa bersama wanita yang ia cinta.


"Masih ada waktu, tidak akan terlambat, walaupun aku membiarkannya tidur untuk beberapa saat lagi," gumam Ken sambil melirik jarum jam yang melingkar di tangan kirinya.


Nanti sore Ken dan Senja harus tiba di puncak, Ken akan meresmikan sebuah villa yang dibangun bersama Nyonya Carolyna. Sebenarnya Ken mulai membangun villa itu, sejak jauh-jauh hari, namun karena dirinya berhasil membongkar skandal Pak Jhon, Nyonya Carolyna bersikeras menginvestasikan dananya untuk pembangunan proyek itu. Menurut beliau, itu untuk hadiah pernikahannya, juga awal dari kerjasama mereka. Dan Ken, ia sama sekali tidak menolaknya.


Selain meresmikan Villa Sandhya, Ken juga akan menyematkan nama Antony untuk anaknya secara terbuka. Acara nanti akan dihadiri oleh beberapa rekan bisnis, juga dihadiri oleh Nyonya Carolyna dan anaknya. Tak lupa, beberapa wartawan juga mereka undang untuk acara nanti.


Ken kembali menatap wajah Senja, lalu ia menyibakkan rambutnya yang menutupi wajahnya.


Tak berapa lama kemudian, Senja menggeliat pelan, sambil mengucek matanya yang masih sayu.


"Selamat pagi, Aya." Sapa Ken, kala menatap mata Senja yang mulai terbuka.


"Pagi Ken." Jawab Senja dengan suara seraknya.


Senja meraih guling yang ada di sampingnya, memeluknya dengan erat, dan menenggelamkan wajahnya di sana.


"Apa kau ingin tidur lagi, Aya?" tanya Ken sambil berbaring di sebelah Senja, dan memeluknya dari belakang.


"Mimpiku terlalu indah untuk kutinggalkan," jawab Senja sambil mengulas senyum di bibirnya.


Rengkuhan lengan Ken, membuatnya sadar, jika cinta itu memang indah.


"Kau yakin mimpimu lebih indah dari dunia nyatamu, hemm?" tanya Ken dengan suara pelan, nyaris seperti bisikan.


"Sama-sama indah, karena dalam mimpi ataupun dalam nyata, orangnya tetap sama, yaitu kau." Jawab Senja.


"Begitukah? Tapi Aya, sekarang bangunlah! Setengah jam lagi kita harus berangkat ke puncak," kata Ken sambil melepaskan rengkuhannya. Ia bangkit dari tidurnya, dan menarik guling yang ada dalam dekapan Senja.


"Katamu kita akan berangkat pukul sembilan." Kata Senja.


"Dan sekarang sudah jam setengah sembilan, sayang." Ken tersenyum sambil menunjukkan gelang jam yang sedang dipakainya.


"Ken! Kenapa kau tidak membangunkan aku?" teriak Senja sambil bangkit dari tidurnya. Dia belum mandi, dan belum menyiapkan apapun. Sanggupkah ia menyelesaikannya dalam waktu setengah jam.

__ADS_1


"Tidurmu sangat nyenyak Aya, aku tidak tega membangunkanmu." Jawab Ken.


"Itu gara-gara kamu!" Teriak Senja sambil menatap Ken dengan tajam.


Lalu ia beranjak turun dari ranjang, dengan tetap memeluk selimut untuk menutupi tubuhnya. Senja terus melangkah menuju ke kamar mandi, meninggalkan Ken yang masih menatapnya tanpa kedip.


"Aku tidak menyangka, jika hari ini benar-benar terjadi Aya. Aku sempat menyerah, dan berniat menghapus perasaanku untukmu. Tapi ternyata takdir berkata lain, takdir masih mengijinkan aku untuk tetap mencintaimu. Mungkin aku bukan suami pertamamu, tapi aku bahagia menjadi cinta pertamamu, dan lagi aku adalah satu-satunya lelaki yang pernah menyentuhmu. Aku sangat bahagia, Aya." Kata Ken dengan senyuman yang semakin mengembang.


***


Tepat pukul 03.00 sore, Ken sekeluarga tiba di kawasan puncak. Mereka disambut dengan panorama alam yang natural, dan menakjubkan. Di sepanjang jalan, dipenuhi dengan pohon pinus yang tumbuh berjajar, tampak sangat rapi karena ukurannya yang nyaris sama. Di sekitarnya, rerumputan hijau menghampar luas, berpadu dengan bunga-bunga yang mekar berwarna-warni. Sangat indah, terlebih lagi udaranya sangatlah sejuk. Tinggal di tempat seperti ini, benar-benar membuat hati nyaman, dan tentram.


Ken dan orang tuanya berada di mobil yang berbeda. Ken mengendarai mobilnya bersama Senja dan Rashya. Sedangkan ayahanya, beliau mengendarai mobilnya bersama ibunya.


Mereka menghentikan mobilnya tepat di depan villa. Senja menatap takjub kala melihat villa yang berdiri kokoh di hadapannya. Villa itu terlihat sangat mewah, dan elegan. Di halamannya terdapat sebuah taman yang dilengkapi dengan ayunan.


"Apa kau menyukainya, Aya?" tanya Ken sambil menggenggam tangan Senja.


"Ini sangat indah Ken." Jawab Senja.


"Sandhya." Gumam Senja dengan pelan.


"Ken, seharusnya kau tidak perlu seperti ini. Ini berlebihan, Ken," kata Senja sambil menatap Ken. Membaca tulisan sandhya, ia merasa sangat terharu.


"Ini tidak berlebihan, aku benar-benar mencintaimu, Aya." Ucap Ken.


Lalu dia mendekatkan wajahnya, dan mencium kening Senja cukup lama. Untung saja saat itu Rashya sedang tidur, jadi ia tidak melihat apa yang dilakukan oleh kedua orang tuanya.


"Ayo turun!" ajak Ken sambil membuka pintu mobilnya.


Senja tersenyum, kemudian ia melangkah turun dari mobil, dengan Rashya yang masih tetap berada dalam gendongannya.


"Apa kau menyukainya, Senja? Ini Ken sendiri yang mendesainnya," tanya Bu Ratih.


"Ini sangat indah Ma, Ken terlalu berlebihan." Jawab Senja.


"Ini tidak berlebihan, dia sangat mencintai kamu." Sahut Pak Jeffry.

__ADS_1


"Iya Pa."


"Ayo masuk! Nyonya Carolyna masih dalam perjalanan. Tidak lama lagi dia akan sampai, kita tunggu sambil menata tempatnya," ajak Ken sambil melangkah masuk ke dalam villa.


Senja dan kedua orang tuanya, mereka mengikuti langkah Ken.


***


Jarum jam menunjukkan pukul 04.00 sore. Ken sudah selesai menyiapkan tempat untuk acara. Peresmian akan dilangsungkan di halaman villa, kursi-kursi yang dibungkus kain renda, sudah ia tata di sana. Setelah persemian selesai, mereka akan diajak masuk ke ruang tamu, menikmati jamuan yang telah dipersiapkan. Meja makan putih yang panjang, lengkap dengan kursi-kursinya sudah tertata dengan rapi. Jamuan yang dipesan dari restoran ternama, sudah terhidang dengan manis di atas meja.


Tak lama kemudian, Ken dan Nyonya Carolyna mulai membuka acara. Di samping mereka ada Senja, Bu Ratih, Pak Jeffry, dan Alex Victory. Beberapa wartawan yang berkumpul di sana, masing-masing mengeluarkan kameranya. Mereka siap merekam berita hangat, yang akan menghasilkan pundi-pundi rupiah.


"Selamat sore semuanya, saya Kenzo Antonio Putra, putra tunggal dari keluarga Antony. Dan di sebelah saya, beliau adalah Nyonya Carolyna Hilmy, beliau adalah pemilik perusahaan Delmond, perusahaan yang paling berpengaruh di Kota Jakarta." Kata Ken dengan suara yang lantang.


"Di sini kami akan meresmikan sebuah villa yang kita bangun bersama. Proyek ini adalah awal dari kerjasama kami, detik ini kami meresmikan Villa Sandhya, dan mulai detik ini juga, perusahaan Antony berada dalam naungan perusahaan Delmond. Silakan Nyonya!" kata Ken sambil menyerahkan gunting kepada Nyonya Carolyna.


Nyonya Carolyna menerima gunting itu, lalu beliau melangkah maju, dan menggunting pita merah yang ada di hadapannya.


"Saya meresmikan villa Sandhya, sebagai bentuk awal dari kerjasama dua perusahaaan. Dan selain itu, villa ini juga merupakan hadiah pernikahan untuk Kenzo Antonio Putra dan Cahaya Senja. Semoga pernikahan kalian, selalu dalam keberkahan." Kata Nyonya Carolyna sambil tersenyum ramah.


Para rekan, dan wartawan, semuanya bertepuk tangan. Mereka turut berbahagia dengan terjalinnya kerjasama antara perusahan Antony, dan perusahaan Delmond.


"Terima kasih banyak atas doa yang Nyonya berikan kepada kami, juga untuk jalinan kerjasamanya. Semoga kerjasama ini menjadi awal yang baik untuk bisnis kita dimasa depan.


Dan sekali lagi saya ucapkan terima kasih atas kepercayaan Nyonya yang menyuruh saya memilih nama untuk villa ini. Saya memilih nama Sandhya, sebuah kata yang saya ambil dari bahasa Sanskerta. Sandhya artinya saat matahari terbenam, atau kita sering menyebutnya dengan senja. Itulah sebabnya kenapa saya memilih nama Sandhya." Ucap Ken.


Banyak di antara para hadirin yang mulai berbisik-bisik, mereka sangat memuji sikap Ken yang sangat mencintai istrinya.


"Selain meresmikan villa ini, di sini saya juga ingin mengenalkan satu anggota baru dalam keluarga Antony. Dia adalah Rashya, anak dari istri saya," kata Ken sambil menatap Senja yang sedang berdiri di sebelahnya.


"Saya mencintai dia, saya bersedia menikahinya, dan menerima apapun yang ada dalam dirinya, termasuk juga Rashya. Mulai saat ini, atas persetujuan dari keluarga Mahardika, Rashya akan resmi menjadi bagian dari keluarga Antony. Dan saya, akan menyematkan nama belakang saya untuknya, Rashya Antonio Putra." Sambung Ken dengan tegas.


Meskipun peresmian ini hanya dihadiri oleh beberapa orang saja, namun acara ini langsung ditayangkan dalam stasiun tv. Ini mereka lakukan, agar semua orang tahu tentang kerjasama, dan juga tentang Rashya.


Disalah satu sudut yang terpencil di Kota Jakarta, seorang wanita sedang menggeram kesal saat menatap tayangan itu.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2