
Jarum jam menunjukkan pukul 09.00 pagi. Alvin, dan Nina sedang dalam perjalanan menuju apartemennya Fajar. Sejak pulang dari Kota Lumajang, ini adalah pertama kalinya Alvin datang melihat Senja. Karena urusan pekerjaan yang cukup mendesak, Alvin belum sempat mengunjungi adiknya yang sedang hamil.
Alvin menghentikan motornya di halaman apartemen. Mereka turun dari motor, dan melepaskan helmnya. Kemudian mereka mulai berjalan menuju apartemen.
Tak membutuhkan waktu yang lama untuk tiba di sana. Kini mereka sudah berdiri di ambang pintu, menunggu Senja membuka pintunya.
Tak berapa lama kemudian, pintu apartemen terbuka. Tampak di sana Senja sedang berdiri dengan tubuhnya yang masih dibalut piyama. Rambutnya digulung asal-asalan, sedikit berantakan.
"Kak Alvin!" teriak Senja sambil menghambur ke dalam pelukan Alvin.
Senja memeluk Kakaknya dengan sangat erat, seolah ia ingin berbagi beban hidupnya lewat sebuah pelukan.
"Hei kenapa kau manja seperti ini." goda Alvin sambil membalas pelukan Senja.
"Aku kangen Kak." ucap Senja dengan nada manja.
"Bertingkah seperti ini, memangnya kamu tidak malu dengan calon kakak ipar kamu?" tanya Alvin sambil mengusap punggung Senja. Dari dulu Senja selalu bersikap manja padanya, dan sampai menikahpun ia belum berubah.
"Kakak ipar?" teriak Senja sambil melepaskan pelukannya. Ia tidak tahu jika tadi Alvin datang tidak seorang diri.
Senja menatap sahabatnya, Nina yang saat itu sedang berdiri di samping Alvin. Apakah dia kakak ipar yang dimaksud Alvin?
"Apakah..." ucap Senja.
"Kau tidak menyuruh kami untuk masuk Nja?" sahut Alvin memotong ucapan Senja.
"Eh maaf aku lupa. Ayo sini silakan masuk!" kata Senja sambil tertawa.
"Bi tolong buatkan mereka minum ya!" ucap Senja pada Bibi pelayan yang sedang berada di ruang tengah.
"Nin bagaimana kabarmu? Cukup lama ya kita tidak pernah bertemu." sapa Senja pada Nina.
"Kabarku baik, akhir-akhir ini aku sedikit sibuk Nja, pekerjaan di kantor lumayan padat. Tapi aku juga senang sih, daripada tidak ada pekerjaan, itu malah lebih buruk." jawab Nina sambil tersenyum lebar.
"Syukurlah kalau begitu."
"Kamu sendiri bagaimana kabarnya? Aku dengar kamu sekarang sudah hamil, selamat ya Nja. Sebentar lagi kau, dan Kak Fajar akan memiliki buah cinta. Ahh itu sangat menyenangkan Nja." ucap Nina sambil tersenyum semakin lebar. Memperlihatkan lesung pipitnya, juga kedua giginya yang gingsul.
Namun lain halnya dengan Senja. Senyuman yang tadi sempat terukir di bibirnya, kini perlahan mulai memudar. Kehamilan, buah cinta, dua kata yang menyesakkan jiwanya. Andai saja itu anaknya dengan Fajar, itu pasti sangat menyenangkan. Namun kenyataannya tidak demikian. Bagaimana kira-kira pendapat mereka, jika tahu bahwa sebenarnya ayah bayi itu adalah Ken.
"Nja! Senja!" panggil Nina.
"Nja! Hei Senja!" Alvin ikut memanggilnya dengan suara yang lebih keras. Senja tampak tertegun, dan tetap bergeming meski mereka berkali-kali memanggil namanya.
"Senja!" panggil Alvin, seraya menggoyangkan lengan Senja.
__ADS_1
"Eh iya, kenapa Kak?" tanya Senja dengan gugup. Ia kaget saat Alvin membuyarkan lamunannya.
"Kamu kenapa diam saja, ada masalah?" tanya Alvin sambil menilik wajah Senja.
"Iya, tadi kamu melamun Nja. Ada apa? Ayo cerita sama aku, sudah lama lho kita tidak saling curhat." sahut Nina masih dengan senyumannya.
"Aku tidak apa-apa, bukan masalah kok. Hanya saja tadi aku...aku sedang memikirkan kalian, iya memikirkan kalian." ucap Senja dengan gugup.
"Kau yakin? Kau tidak membohongiku?" tanya Alvin.
"Tidak Kak, aku tidak ada masalah kok, semua baik-baik saja." jawab Senja.
"Lalu apa maksudmu Nja? Kenapa kau memikirkan kita?" tanya Nina sambil mengernyit heran.
"Oh itu, tadi Kak Alvin bilang, dia kesini dengan calon kakak iparku. Apa itu artinya kalian..." jawab Senja.
"Iya kamu benar Nja, dia calon istriku, calon kakak ipar kamu. Kita memang belum lama menjalin hubungan, tapi kita sudah merencanakan hari pernikahan." kata Alvin sambil merangkul Nina dari samping.
Nina tampak tersipu malu, saat Alvin menyebutnya calon istri.
"Ahh aku sangat senang mendengarnya. Nina kenapa tidak dari dulu kamu katakan hal ini padaku? Ini benar-benar kejutan!" ucap Senja sambil tersenyum lebar.
Ia tersenyum lega saat mendengar Kakaknya akan menikah, dan terlebih lagi calon istrinya adalah sahabatnya sendiri.
"Yah katakan saja kalau kau mencintai Kakakku." jawab Senja sambil tertawa.
"Kau fikir aku tidak punya malu." gerutu Nina.
"Aku sahabatmu, kenapa harus malu?"
"Tapi yang kucintai itu Kakakmu, tentu saja itu membuatku malu." jawab Nina.
Dan jawabannya itu sukses membuat Senja tertawa lepas.
"Oh ya, hari pernikahannya kapan?" tanya Senja setelah jeda beberapa detik.
"Bulan depan, tapi resepsi kecil-kecilan saja." jawab Alvin.
"Iya Nja, doakan semoga semuanya berjalan dengan lancar ya." sahut Nina.
"Itu pasti, aku pasti mendoakan yang terbaik untuk kalian." ucap Senja sambil tersenyum.
Alvin, dan Nina juga ikut tersenyum saat mendengar jawaban Senja.
"Oh ya bagaimana kandungan kamu Nja, sehat kan?" tanya Nina.
__ADS_1
"Sehat." jawab Senja dengan singkat, senyuman di bibirnya kini kembali pudar.
Alvin memicingkan matanya, ia menyadari perubahan raut wajah adiknya. Diam-diam Alvin menilik wajah Senja, mencari secercah jawaban lewat sorot matanya. Namun yang dapat Alvin lihat hanyalah kemelut suram yang tak mampu Alvin selami. Ia gagal memahami apa yang sedang difikirkan oleh adiknya.
***
Jarum jam sudah menujukkan pukul 02.00 siang. Namun Alvin, dan Nina masih berada di apartemennya Senja. Senja dan Nina sedang menonton tv bersama di ruang tengah. Sedangkan Alvin, ia duduk di ruang tamu sambil merokok. Alvin sengaja berlama-lama di sini guna menunggu Fajar. Ia sudah sangat lama tidak bertemu dengan sahabatnya itu. Dan selain itu, ia juga ingin tahu bagaimana hubungannya dengan adiknya. Alvin yakin jika ada beban yang Senja pendam.
Dan tak berapa lama kemudian, pintu apartemen terbuka. Alvin mengangkat wajahnya, dan menatap tajam ke arah pintu. Tampak di sana Fajar sedang melangkah masuk sambil menenteng tas kerjanya.
"Hai Fajar!" sapa Alvin.
Fajar menoleh, ia tersenyum seraya melangkahkan kakinya mendekati Alvin.
"Hai Vin, sudah lama?" tanya Fajar sambil menjabat tangan Alvin.
Alvin sedikit kaget saat bertatap muka dengan Fajar. Wajah lelaki itu pucat, dan tubuhnya jauh lebih kurus dari terakhir kali mereka bertemu. Fajar terlihat seperti orang yang mengidap penyakit kronis. Apa dia baru saja sakit, atau dia sedang sakit, tapi kenapa Senja tidak mengabarinya?
"Aku sudah cukup lama, sejak pagi tadi." jawab Alvin sambil tetap menilik wajah Fajar.
"Kau sendirian?" tanya Fajar sambil duduk di depan Alvin.
"Tidak, aku datang bersama Nina. Sekarang dia sedang di ruang tengah bersama Senja. Kau terlihat pucat, apa kau sedang sakit?"
"Hanya sedikit flu." jawab Fajar sambil tersenyum hambar.
"Oh begitu." ucap Alvin sambil menggaruk kepalanya. Ia sedikit ragu dengan jawaban yang Fajar lontarkan.
"Fajar selamat ya, aku sangat senang saat mendengar kabar bahwa Senja hamil. Di antara kita berlima ternyata kau yang paling cepat menjadi ayah. Kau sangat beruntung kawan!" sambung Alvin sambil menepuk bahu Fajar.
"Kau berlebihan, kalian pasti jauh lebih beruntung daripada aku." jawab Fajar.
"Tapi untuk saat ini tidak, jangankan menjadi ayah, menikah saja kami belum." kata Alvin sambil tertawa.
Fajar terdiam, ia tidak mengulas senyum sedikitpun, meski saat itu Alvin sedang tertawa.
"Meskipun belum, tapi kalian masih punya harapan untuk menjadi ayah, sementara aku, semua itu hanya mimpi yang tidak akan pernah terjadi. Kau tidak tahu betapa sulitnya jalan hidupku Vin." batin Fajar sambil menghela nafas panjang.
Alvin mengernyit heran, ia melihat jelas raut wajah Fajar yang tiba-tiba muram. Ada apa ini?
"Tadi Senja, sekarang Alvin. Setiap kali membahas tentang kehamilan, raut wajah mereka langsung berubah. Sebenarnya kenapa? Apa ini ada hubungannya dengan wajah pucatnya Fajar?" batin Alvin sambil menyesap rokoknya.
"Aku harus mencari tahu, melihat tingkah mereka yang sepertinya ini, rasanya ini tidak sederhana." ucap Alvin dalam hatinya.
Bersambung...
__ADS_1